My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Pertemuan Dadakan 1


__ADS_3

...Tidak ada kesempatan lagi, Brian harus segera melamarku ......


Aku terbangun dini hari dan duduk kembali di sisi tempat tidurku, rasanya sangat mengganggu jika aku menghubungi kekasihku lagi di saat jam istirahatnya, padahal bisa saja ia sedang membaca buku karena seringkali juga terbangun di malam hari, tapi ... kuurungkan karena mungkin saja ia sudah lelah pikiran dan tenaga selama ini akibat permasalahan kami.


****


Hingga pagi ini perasaanku masih terasa tidak nyaman, rasa lelah memang belum sepenuhnya memulihkan tenaga, jelas saja ... mungkin terlalu banyak pikiran dan aku memutuskan izin kerja hari ini dengan alasan sakit, benar-benar sulit konsentrasi melakukan Training hari ini.


...Bagaimana bisa memotivasi orang lain jika aku sendiri dalam titik keterpurukan. Aku merasa tidak profesional kali ini'...


Aku mengirimkan pesan untuk bertemu dengan Brian, pesan itu sempat tidak dibalasnya selama beberapa jam, sedangkan ia sempat membaca pesanku pada jam setengah enam pagi tadi. Ada apa dengan kekasihku ...


Pesan masuk pada jam sembilan, apakah berpikir bertemu membutuhkan waktu begitu lama? dan ia hanya membalas 'YA' dalam pesannya. Semakin kacau pikiranku ... jawaban dingin macam apa itu.


Aku coba menghubungi Adam, semoga ia tidak sebelah pihak menanggapiku kali ini.


Susan [ Halo Adam, kamu sedang bersama Brian? ]


Adam [ ... Saya sedang di luar, tidak bersama Tuan ]


Susan [ Hm ... saya ingin bertemu, cuma takut dia sedang sibuk ... ]


Adam [ Tuan sedang di rumah, biarkan dia ... sedang istirahat ]


Susan [ Kok tumben, dia gak balas pesan saya lagi ... ]


Adam [ Sebaiknya Nona tahan diri dulu untuk menghubungi berkali-kali, sepertinya dia sedang benar-benar butuh waktu untuk istirahat ]


Susan [ Antarkan saya ke rumah Uncle, Brian disana kan? ]


Adam [ Maaf, tidak bisa, Nona. Tempat tinggal Tuan Dave tidak boleh sembarang dikunjungi orang asing ]


Susan [ Kepentingan saya hanya untuk bertemu dengan Brian. Dari mana saya tau kalau Brian baik-baik saja, dia bilang hari ini akan ada meeting pagi, kenapa tiba-tiba istirahat dirumah? ]


Adam [ Karena anda se-berisik ini makanya saya larang ]


Susan [ Adam ... saya janji membatasi perkataan saya, saya hanya ingin melihat tunangan saya dan memastikan dia dalam kondisi baik, dan saya ingin menyampaikan berita baik sama dia ]


Adam [ Saya heran Tuan tahan menghadapi orang tidak sabaran semacam anda, Nona. Gak kasian sama tunangan anda? ]


Susan [ Yah, teruslah mengejek. Tapi, jangan buat saya nekat cari tau sendiri ]


Adam [ Terserah, kalau anda bisa. Selamat pagi ]


Call ended


'Asisten kurang ajar itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi, tapi memang benar sebaiknya Adam sangat menjaga privasi atasannya, tinggal aku yang tidak tau harus bertindak apa'


Kucoba menghubungi Brian kembali, kali ini sebaiknya ku telepon langsung. Dan akhirnya teleponku terjawab dipanggilan kedua kalinya.


Susan [ Ah, syukurlah kamu menjawab teleponku ... ]


Brian [ Ya, pak! mungkin hari ini saya bisa punya waktu pukul dua siang, dimana? ]


Susan [ Bri?? ] tanyaku dengan sedikit bingung.

__ADS_1


'Apa maksudnya ini, apa semacam kode?' batinku


Brian [ Hmm ... baik, nanti biar saya tentukan tempatnya, Bapak tunggu konfirmasi dari saya ]


Susan [ Eh, ada apa sih? ]


Brian [ Terima kasih Pak, Selamat siang ]


'Apa? dia sedang pura-pura menelepon klien?'


Call ended


Tidak butuh waktu lama, saat aku hendak mengetik pesan untuknya, pesan masuk ke ponselku terlebih dahulu.


Brian [ Maaf dear, nanti aku jelaskan, aku ke kantormu nanti siang ]


Susan [ Aku izin hari ini ]


Brian [ Kamu masih sakit?? ]


Susan [ Jauh lebih baik, cuma lagi gak fokus untuk kerja, makanya aku mau ketemu kamu, aku mau bicara ]


Brian [ Harusnya hari ini ada beberapa jadwal penting tapi sudah kuundur besok, ku jemput dirumah nanti oke, tunggu aku ]


Susan [ Iya sampai ketemu, sayang ]


***


Sedan mewah berwarna hitam menepi dan berhenti didepan jalan rumahku, Brian terlihat keluar dari dalam mobilnya dan berpakaian sangat rapi dengan setelan jas kerja. Aku melambaikan tangan saat ia mendongak ke arah balkonku, ia tersenyum sambil berjalan menuju pintu depan rumahku.


Tidak berapa lama panggilan datang dari lantai bawah, pertanda Brian sudah bertemu dengan salah satu penghuni rumahku, kali ini mama lagi yang memanggilku, pantas saja panggilan itu terdengar bahagia sekali ... Brian si calon menantu kesukaan mama.


"Rapi banget, Bri. Mau meeting klien?" aku menyungging senyum mengingat ia menyebutku 'Pak' ditelepon tadi.


"Klien seumur hidup ... " Brian balik tersenyum.


"Oh ya, aku punya masalah apa, pak konselor ... " Aku mendekat manja dan ia meraih tanganku serta menggenggamnya.


"Masalah ... mengganggu tidur orang tiap malam"


"Loh, hahaha ... salahku dimana ... "


Brian melirik ke arah belakangku saat mama berlalu pergi kembali masuk kedalam, ia mengecup keningku dan tersenyum.


"Salah, karena ada dipikiranku dan selalu buatku penasaran"


"Hahaha ... geli, gombal banget!"


"Sekali-sekali, apa salahnya menggoda tunangan sendiri, mau aku goda orang lain?"


"Emang kamu bisa?"


"Jangan tanya, aku 'kan belajar. Meski menggoda wanita tomboy itu mengesalkan memang ... ditolak terus, jaga image"


"Gak lah, masa sih jaga image. Kan aku juga ingin dipuji, bagaimanapun juga aku wanita tulen kali, Bri ... "

__ADS_1


"Gimana aku tau, diajak nikah aja alasan terus, mau aku nikahi paksa-paksa?" Bisik Brian sambil mendekat ke arah telingaku.


"Kamuuu ... kebanyakan baca novel, ih!"


"Hahaha ... sedikit belajar gombal dari sana, tapi makin kesini semakin aneh, aku baca buku lain saja"


"Udah lah, apaan sih." ucapku sambil menarik kerah jas nya.


UHUUKK


Suara batuk pura-pura dari ruang sebelah dan itu suara Papa.


"Saan ... tamu nya gak disuruh duduk ... " suara Papa terdengar dari arah ruang tv, tapi Papa tidak muncul sama sekali. Nyatanya ia menyimak sedari tadi.


"Oh, eh, yaaa ... Susan mau berangkat 'Pa ... "


Aku menarik tangan Brian mengajaknya untuk berpamitan dengan orangtua ku, dan berangkat menuju lokasi yang aku tidak tau kemana arah tujuannya.


Brian terlihat tenang dalam perjalanan, tapi di sisi lain sesekali matanya nampak menerawang, seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun tetap ingin membuatku tidak khawatir, sebatas itu lah kemampuan analisaku terhadap sikapnya kali ini.


"Bri, i—ini kita ke arah rumahmu lagi?"


"Ada persiapan mendadak, Dear"


"Persiapan apa? Duh, jangan bikin kaget gini dong, Bri ..."


"Maaf kalau terlalu mendadak, semalaman aku tidak tidur gara-gara hal ini, sekalian temani aku istirahat ya?" Brian mengulurkan satu tangannya dari balik kemudi dan mengusap pelan lenganku sambil tersenyum.


"Kenapa kamu gak telepon aku, aku juga tiba-tiba terbangun semalam lho!" aku sigap merubah posisi duduk lebih condong ke arahnya.


"Kamu kan lagi sakit, aku gak mau ganggu kamu, nanti kamu istirahat juga, kita di ruang baca ... e—eh ruang keluarga juga bisa ... hahaha ..."


Aku mendelik membulatkan mata dan mencubit kecil lengannya.


"Ruang baca! huh ... gak mau, banyak setannya!"


"Hahaha ... ssstt aduh, sakit cubitannya ..., sudah hampir selesai semuanya kok, kita bisa ke ruangan lain"


"Benar-benar harus istirahat lho ya! e—eh kayaknya aku belum bisa cerita kalau kamu lelah begini..."


"Cerita apa?"


"Gak, gak apa-apa, liat situasi nanti aja kalau memungkinkan"


"Cerita ya, sambil istirahat ... aku aman ..."


"Terakhir kamu bilang aman itu gak menjamin lho ya!" sindirku mengingat kami berdua terakhir kali berada di rumahnya.


"Hahaha ... apa sih, tenang Dear ..."


"Jadi, persiapan apa yang kamu maksudkan ini kok aku jadi deg-deg an ya"


"Seseorang ingin bertemu denganmu malam ini ..."


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2