
“Terima kasih Adam untuk informasinya!” Aku bergegas keluar dari mobil itu membawa paper bag yang diberikan tadi.
Berjalan cepat mengabaikan Adam yang kebingungan ikut keluar dari mobilnya memperhatikan ku dari jauh.
Aku berlari cepat mengambil sweater ku, tas dan membuka laci meja kamarku yang terdapat kunci kendaraan.
Menuruni tangga setengah berlari dan masuk ke area garasi melalui akses pintu dapur. aku membuka helai penutup motor yang sedikit berdebu karena sudah sekian lama tidak digunakan pemiliknya sendiri, ya! motor matic hitamku yang hanya ku gunakan untuk berkeliling komplek saja karena aku takut akan jalan raya, tapi tidak kali ini!!
Aku memasang helm, dengan niat kuat menyalakan motorku dan melaju keluar dari garasi, ternyata Adam masih disitu memantau ku, maka nekat kutambah kecepatan sesaat Adam bergegas masuk ke dalam mobilnya berusaha mengejarku.
Maaf Adam ... aku tidak akan membuat diriku merasa bersalah untuk yang kedua kali.
Kak Brian, tunggu aku ...
****
Aku sengaja masuk melalui jalur jalan pintas yang berada di belakang Hotel itu, menghindari pengejaran Adam sekaligus merasa lebih aman dan lancar bila lebih cepat mengendalikan motorku.
Sampailah disebuah parkir liar terdekat dari hotel, ketimbang masuk ke basement dan memakan banyak waktu. jika sampai Adam lebih dulu maka ia akan berani mencegahku masuk kedalam.
Aku melewati loby lagi tanpa konfirmasi, seandainya aku sudah salah kira setidaknya security tidak tau kalau aku mencoba menerobos masuk.
Tidak ada tanda-tanda Adam, Aman!
Kembali berjalan cepat memasuki lift menuju kamar kak Brian yang aku tau.
Sampailah aku berdiri di depan kamar itu, terengah-engah napasku karena berkejaran dengan waktu, berharap kak Brian memang belum pergi kemana-mana.
Ku ketuk pintu kamar berulang kali namun tidak ada jawaban, kupaksakan masuk dan ternyata tidak terkunci sama sekali. perlahan kubuka dan aku terkejut melihat sekeliling ruangan itu.
Kosong! tidak ada apa-apa lagi, hanya terdapat furniture khusus milik hotel itu sendiri, dan ada seorang pria yang ternyata adalah room service yang sedang sibuk membersihkan kamar itu, aku terlambat! aku lagi-lagi terlambat!
Lagi-lagi aku menangis kebingungan bercampur penyesalan, kenapa aku berpikir jahat kepada orang yang sebenarnya mencoba melindungiku tanpa pamrih, membantuku secara sembunyi.
Sesaat aku berdiri dengan perasaan mengambang, seseorang datang melalui pintu depan, dan aku siap menghadapi Adam yang pasti marah melihat tindakan ku saat ini. Aku memejamkan mata membiarkan airmata mengalir dan mengusap perlahan menunggu Adam menghampiriku dan memaki diriku.
Ia berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan dan berdiri tepat dibelakangku.
“Jauh-jauh kesini mau memarahi saya lagi?”
Aku terhenyak dan cepat berbalik melihat orang dibelakangku,
KAK BRIAN!
Refleks tubuhku memeluknya tanpa permisi, hingga ia nyaris terdorong mundur selangkah dari tempatnya berdiri.
“Kak! kenapa mau pergi! kakak jahat tidak pernah bercerita apapun tentang apa yang kakak alami!” aku menangis histeris dan kak Brian memberi kode kepada room boy yang ikut terkaget melihat kami untuk segera pergi.
“Adam ya? dia cerita apa? hmmm awas dia itu!” kak Brian membalas pelukanku dan mengusap rambutku dengan lembut, sama seperti kala itu.
“Bukan salah Adam, ini salahku kak! aku yang memaksanya, aku yang memaksa kesini!”
“Iyaaa tapi kan tidak kuijinkan dia untuk bilang apa-apa!” Kak Brian mendengus kesal.
“Sudah, kakak! bisa tidak sih jangan marah-marah sama orang terus!!” bentakku sambil melepaskan pelukan dan mendongak memandang wajah kak Brian yang memasang ekspresi kesal.
“Ada apa mencari saya, mau marah atau mau terima kasih?” senyumnya mengembang dengan gaya sombongnya lagi.
__ADS_1
“Terima kasih! aku mau berterima kasih karena selalu berusaha melindungiku meski dengan cara yang salah ... aku sadar niat kakak baik, kakak ingin aku kuat dan bangkit tanpa rasa takut, tapi kenapa kakak memilih untuk pergi kak? memangnya ... eh ... kakak benar-benar sudah lelah dengan sikapku ya”
“Apa? Hahaha ... tidak ada hubungannya dengan itu, kalau cuma kamu saja saya akan biarkan Adam mengurus segalanya, tidak ... ini tentang masa depanku ... memang sudah waktunya aku memperbaiki diri diluar sana”
“Kak, kalau saja kakak mau bertahan disini aku janji ... aku akan berusaha membantu hingga masalah kakak selesai, aku akan membalas segala kebaikan kakak dengan semampuku, aku ber hutang budi dengan kakak”
Kak Brian terdiam menatapku dengan serius, menyimak setiap kata-kata ku yang membujuknya, menginginkannya untuk bertahan di Indonesia.
“Tidak” tangannya kini mengusap sebelah pipiku yang tersisa basah airmata tadi “ini bukan hanya tentang saya, saya ingin sembuh ... dan membahagiakan orang lain, suatu saat saya membutuhkan pasangan hidup, oleh karena itu saya tidak ingin mengecewakannya, dan menjalani hidup se normal-normalnya, lihat saja nanti!”
“Kak ..., apa kita akan bertemu lagi? aku tidak punya akses apapun untuk menghubungi kakak”
“Tanya saja Adam nanti, saat ini saya belum bisa memberitahumu, nanti kamu bawel! marah-marahi saya lagi!”
“Tidak kak, aku janji!”
“Sudahlah, tunggu saja nanti, ehmm ... tadi ... kata kamu ... mau membantu saya kan?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya! apa??? bilang saja!”
“Ehh ... bantu saya ... meneliti tentang diri saya? sekali saja!”
“Ya, apa itu!”
“Hm ... hanya untuk melihat progress, tapi tidak boleh marah, janji ya!”
“Iya janji, duh ... apa sih!”
“Pejamkan mata kamu!”
“Mau membantu saya kan? ini eksperimen saya! saya hanya ingin tau!”
“Oh, oke, tapi ... “
“Ah, sudah jangan banyak tanya, pejamkan sekarang!”
“Eh ya, baiklah ... “
“Jangan membuka sampai saya bilang sudah”
“Iyaa tapi jangan lama-lama ya, eksperimen kok kaya kejutan gini!”
Aku memejamkan mataku, menunggu hingga beberapa detik kemudian ...
Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang halus menempel dibibirku, dia menciumku!
“Kak ... “ kembali mulutku terbungkam dengannya
“Ini eksperimen ... kita lihat berhasil atau tidak ... “ ia berbisik
Ia melanjutkan kembali dengan perlahan tanpa kubalas sama sekali, eksperimen bukan? meski jatuh harga diri tapi kubiarkan ia melakukannya, jika niatnya memang begitu.
Kalau saja Adam tidak cerita tentang masalah kak Brian tentang wanita sudah pasti aku marah dan bisa saja memukulnya. Ini saja sudah kutahan kuat emosi ku sesaat.
Hingga akhirnya ia menghentikan ciumannya dan mundur kembali berdiri dari posisinya merunduk tadi.
__ADS_1
“Buka matamu”
Aku masih kaget dan tertegun malu, apa yang baru saja ia lakukan diluar ekspektasiku.
"Kak, ini eksperimen? atau mencoba memanfaatkan saya!"
"Ti—tidak sama sekali!" jelasnya sedikit gugup karena mataku menatapnya tajam.
“Kenapa harus mencium ... eksperimen macam apa itu, saya bahan eksperimen lagi begitu!” ucapku mulai kesal jadi merasa rendah tiba-tiba
“Bahwa aku bisa menyentuh wanita, berterima kasihlah ... “
“Berterima kasih?? kan aku yang rugi kak!” jawabku polos
“Haha ... “ ia mengusap pipiku kembali “Beruntunglah ... itu ciuman pertamaku!”
“What??”
"Saya ... ah, sudahlah" mengacak-acak rambut di atas kepalaku.
Aku nyaris ingin tertawa saking kagetnya, bagaimana bisa seorang kak Brian mau saja memberikan first kiss nya pada mahasiswa aneh sekaligus janda instan macam aku begini. dia berbohong atau bagaimana akupun tidak mau berpikir macam-macam dengan membawanya jauh ke dalam perasaan, padahal bisa saja dia mencobanya dengan wanita lain, entah pikiranku salah atau tidak.
Jangan-jangan selama ini dia ...
Pikiranku terhenti seketika saat seseorang datang memanggil nama Kak Brian.
“Tuan!”
Kami berdua serempak menoleh ke arah pintu, terlihat Adam bersandar di daun pintu sambil tersenyum-senyum malu atau lebih tepatnya mirip menahan tawa kecil.
“Hei! sejak kapan kamu disitu!” bentak kak Brian mulai marah lagi
“Hehehe ... sejak 5 menit barusan tuan, lama juga ya”
“Apanya yang lama?!”
“Eksperimennya tuan! maap!”
“Gak sopan kamu, sini!”
Brian menghampiri Adam dengan kesal tapi kubiarkan dia kali ini karena si asisten kepo itu sudah lancang menonton sedari tadi.
****
Pov Author
Brian menarik Adam keluar ruangan
“Tidak sopan kamu! apa-apaan mengejek saya begitu, malu saya, tau!”
“Tapi EKSPERIMEN berhasil dong tuan!” Ejek Adam sambil menguatkan penekanan pada kata eksperimen itu.
Brian yang sedang kesal menahan senyum malu.
“Awas kamu, saya pecat baru tau rasa!”
“Maap, jangan .... silahkan lanjutkan lagi EKSPERIMEN nya!” lagi-lagi Adam mengejek sambil menahan tawa menekankan kata utama.
__ADS_1
“Sial kamu Adam” Brian mendorong Adam sambil menahan tawa, dan kembali masuk ke ruangan tadi.
Bersambung