My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kejutan Rumah sakit


__ADS_3

...'Pesankan tiket penerbangan pertama ke Jakarta, Adam.'...


...'Jaga dia baik-baik untuk saya'...


Malam itu Papa berjaga di ruang rawat inap, sementara Mama kembali kerumah menyiapkan beberapa pakaianku untuk dikirimkan ke Rumah Sakit, Adam mengurus segalanya keperluan hingga selesai dan benar-benar aman untuk ditinggalkan di Rumah Sakit tanpa kekurangan apapun.



Selama Papa menemaniku, aku berusaha menghindari banyak interaksi dengan Papa. Kekhawatiran tentang kondisiku saat ini bisa menjadi pertanyaan besar tentang apa saja yang sudah kulakukan selama ini.


Meski masih dalam observasi lanjut, hal mengerikan terus berkutat dalam pikiranku, mencoba menganalisa sendiri atas informasi yang terakhir kudapatkan dari pihak dokter. Apakah semua pertanda itu mengarah pada satu masalah besar, kehamilan.


Lalu, jika itu benar terjadi, bagaimana aku menjelaskan situasi ini pada keluargaku? sedangkan Brian hingga kini belum ada kejelasan sikap sama sekali.


Cairan infus yang terus mengalir ketubuhku saat ini mulai membuatku jauh lebih baik, setelah mendapat penanganan transfusi darah beberapa jam lalu. Hasil observasi seharusnya sudah ada di hari kedua saat ini, bahkan Papa semakin gusar dengan menanyakan hal itu pada tim perawat, kenapa dokter sulit sekali ditemui untuk mendapatkan hasil.


Sudah hampir 20 jam berada di ruang rawat inap, tidak satupun kabar atau kunjungan dari siapapun, hanya Mama yang kali ini menggantikan posisi Papa menemaniku di kamar itu. Selepas pukul 6 sore, seseorang datang ke ruang rawat itu.


"Sore. Tante ... "ucap Pria bermata biru kala memasuki ruangan, tentunya mantan kekasihku Eli.


"Eh. Eli ... sama Edo?" tanya Mama yang turut menanyakan kehadiran kakakku yang satu kantor dengan Eli saat ini.


"Dia menyusul, Tante. Mau ambil pakaian, katanya besok dia ambil cuti mau temani Susan, kasian sama Om dan Tante"


"Oh, ya dia gak bilang Tante sih ..., ya gak apa-apa, Susan juga sudah baik-an."


Eli berjalan menghampiri ranjang rawatku.


"Hi, how are you ..." Eli tersenyum, mengusap keningku.


"Feels better. Kamu langsung dari kantor, El?"


"Ya, gak terlalu jauh, kan Jakarta."


"Maap ya merepotkan, padahal mungkin aku besok sudah bisa pulang kok, aku jauh lebih baik."


Eli mengambil kursi dan didekatkan ke arah ranjangku, ia duduk kemudian meraih tanganku.


"Kenapa kamu, San?" tanya nya pelan. Menatapku iba.


"Gak, aku kurang istirahat, El."


"Pacarmu mana?" bisiknya.


"Brian, ... mmm ..., ada." jawabku datar


Eli mengernyitkan dahi, memandangku dengan seksama, entah kebodohanku tidak mampu menutupi diri dari kesedihan, hingga terlihat mataku kembali berkaca-kaca. Aku berusaha mengalihkan pandangan dari tatapan Eli yang menelisik ekspresiku.

__ADS_1


"What's wrong?"


"Nothing's wrong ...," salahku lagi, kenapa aku harus menjawab pertanyaannya, nada suaraku bergetar menahan tangis.


"Hhh ..., tell me. E—very—thing, Sue." ucap Eli bernada paksa. Ia menatapku semakin dalam.


"Sorry, El. Aku rasa hal ini gak perlu semua orang tau."


"Dari awal kukatakan, jangan berjalan sendiri."


Aku kembali memandang wajah Eli yang tidak melepaskan pandangannya ke arahku, dia benar-benar ingin aku membuka masalah yang hingga detik ini tidak kupahami.


"Aku sendiri gak ngerti, El." aku nyaris meninggikan suaraku yang terdengar putus asa, "tiba-tiba dia sama sekali tidak ingin kuhubungi, hingga detik ini pun aku gak tau kabarnya."


Eli menghela napas, seperti enggan berkomentar.


"Hubungan kalian belum lama, kan? bagaimana kamu bisa yakin dengan perasaannya, juga sifatnya."


"Tapi aku yakin, ada kesalahpahaman yang ia tutupi. Sesibuk apapun, dia selalu mencoba menghubungiku."


"Bukan aku— ... berusaha menggoyahkan keputusanmu. Tapi, apa keputusan untuk menikah tidak terlalu cepat? "


"Sudah kupikirkan. Aku akan pergi jika dia benar-benar tidak ingin berhubungan denganku lagi."


"Tidak perlu tergesa-gesa, bersabarlah. ... Hmm ... tapi jangan ragu untuk mencariku, kamu tau aku selalu ada meski kamu benar-benar melupakanku." Eli menggenggam tanganku lebih erat.


Sebenarnya aku ingin sekali melepaskan tangannya kini, tapi aku tidak ingin terlihat canggung, aku harap genggamannya saat ini tidak lebih dari kepedulian seorang sahabat.


"Ya, kita memang bersahabat. Tapi selalu ada tempat kosong di hatiku jika kamu ingin mengisinya kembali."


"El, sudahlah ..."


Tiba-tiba seseorang datang kembali mengetuk pintu, Mama membukakan pintu itu, terdengar samar suara orang berbisik-bisik dari arah itu. Kemudian menerobos ke arah ranjang rawatku.


"Taraaaaa ...! hai tulang rusuk."


Aku dan Eli terkesiap melihat kedatangan Pria ini, siapa lagi kalau bukan Dicky si pembuat masalah. Ia menyodorkan buket bunga, sambil tersenyum lebar.


Ia meletakkannya diatas selimutku.


Seketika ada rasa canggung diantara kami bertiga. Tapi rupanya Dicky yang entah otaknya mungkin lupa ditaruh dimana, sama sekali tidak terlihat takut bahkan terus menggoda.



"Owww, sebentar. Ada yang perlu kita abadikan." Dicky cepat meraih ponselnya dan mengabadikan situasi ini.


CEKREKK

__ADS_1


"Apa-apaan sih! ngapain kamu disini! ngapain foto-foto!" ucapku ketus.


"Loh, emang gak boleh mengabadikan kebersamaan kedua sahabat ini." Dicky mengerdipkan sebelah matanya ke arahku dan menyeringai.


Aku sigap tersadar jika sedari tadi Eli belum juga melepaskan genggaman tangannya, dengan cepat kutarik tanganku kembali hingga nyaris saja selang infus tertarik dari tanganku.


"Jangan macam-macam kamu ya! siapa yang kasih kamu izin untuk datang kesini! siapa yang kasih tau kamu keberadaanku disini."


"Sue, ... calm down." ucap Eli menenangkan, "Dic, Susan baru saja pulih, jangan bertingkah."


'Ini lagi, si Eli. Kok gak peka sama sekali kalau setiap momen itu bisa saja jadi hal baru buat Dicky menjahili aku'. batinku, kulirik Eli dengan kesal meski dia sedang fokus memandangi sikap Dicky yang berlebihan.


"Salahku dimana? kok kalian marah? terganggu ya?" sindirnya.


Mama menghampiri.


"Ada apa sih kok teriak begitu, San. Ini Dicky dateng kok marah-marah." tegur Mama mendengar nada bicaraku yang tidak ramah sama sekali.


"Gak apa-apa, Tante. Maap ya, mungkin Dicky ganggu Susan nya nih." ucap Dicky dengan nada seakan-akan merasa bersalah.


"Eh, ya nggak gitu. Kamu kan datang mau jenguk, biasa lah ... lagi ngambek kayaknya belum didatangi pacar" bisik Mama.


"Ma— ..., Huff! " aku menghela napas kesal, Mama memang tidak sama sekali tahu tentang masalah kami, dengan ringan ia memberitahu ketidakhadiran Brian.


"Sini duduk, biar gak berpikir macam-macam ." ucap Eli malas.


Eli bangun dari duduknya, dan berjalan ke arah sofa yang tidak jauh dari situ. Disusul Mama yang mencoba mengajaknya bicara.


"Ok, santai aja, El. Aku cuma mau jenguk dia, karena teman-teman kantornya khawatir tapi sedang sibuk jadi gak bisa jenguk. Aku sudah bilang kalau mau mampir kesini." ucap Dicky yang masih berdiri d dekatku, seakan segalanya normal-normal saja, menjenguk memang cara orang memberi simpati, tapi mungkin lain hal dengan maksud Dicky.


Eli mengacungkan Ibu jarinya ke arah Dicky, tapi nampak sekali tatapannya agak malas menanggapi.


Dicky duduk disebelahku kini, kembali memegang buket bunga yang dibawanya tadi.


"Ngapain bawa-bawa bunga?? aku belum mati ya!"


"Ini kan tanda sayang. Aku perhatian lho dengar kamu sakit, memangnya gak boleh ..." ucap Dicky santai sambil mengusap salah satu kelopak bunga pada buket di tangannya. "Tulang rusuk ku ..." bisiknya merendahkan suara.


"Sekali lagi kamu bilang tulang rusuk! kuminta Leo menendang tulang kering mu, ya!" ucapku meninggikan suara, dan mendelikkan mata.


"Mana tuh bodyguard-bodyguard pacarmu? gak jagain?? pacarmu aja mana?"


"Mereka Personal Assistant! bukan bodyguard! Brian— " aku hendak melanjutkan bicara, namun tiba-tiba jantungku terasa diremas kuat melihat sosok Pria yang saat ini hadir di hadapan kami.


..."Saya disini. Bukankah penjenguk pasien maksimal dua orang?! Pilih Saya atau Dia yang keluar, Sue."...


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2