My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Big Plan


__ADS_3

Setelah aku menunaikan kewajibanku sebagai manusia kepada Sang Pencipta, nyatanya ada sedikit kelegaan dalam hati yang sejak tadi menggerogoti pikiran, terus berpikir harus bersikap bagaimana saat ini.


Brian yang kupanggil kini adalah pria dari masa lalu yang hanya kuanggap sepintas lalu sebagai seorang ... Dosen? Kakak? Pelindung? yang suka sekali ikut campur dalam kehidupan masa lalu ku serta nyaris menghancurkan hidup mantan suamiku saat itu.


Kala itu ia hanya berniat baik, menentang jika hanya aku yang jadi korban disini secara bertubi-tubi, sudah dilecehkan dipaksa menikah dengan sahabat sendiri, dia merasa mentalku jatuh atas segala intimidasi, menurut Brian yang kuat menjunjung tinggi profesi.


Meski pada akhirnya aku yang tidak bisa melupakan Dicky, dan tidak tau harus mengalihkan kemana lagi pikiran ini, dia hanya salah bertindak diatas segala yang kuketahui tentang dirinya bertahun-tahun, kebaikan yang terlupakan akibat kekhilafan dirinya sendiri.


Ah sudahlah ... tidak adil rasanya terus merenungkan diri yang terjebak pada masa lalu, aku kini bangkit setelah lima tahun berjuang sendiri, tidak ada yang boleh mengatur kehidupanku lagi, cukup!


****


Makan malam


Aku memilih salah satu restoran terdekat dari arah kantor tadi, karena tidak ingin terlalu lelah terjebak kemacetan dan agar lebih mudah melanjutkan perjalanan pulang kami dari jalur Jalan Gatot Subroto untuk segera masuk ke arah pintu tol Cawang setelahnya.


Restoran L**** , cukup santai untuk menghindari rasa formal setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, kurasa ... Brian pun belum banyak tau lokasi-lokasi resto seperti ini, dia tidak biasa makan sembarangan diluar setahuku.


“Bri ... eh ... kamu nyaman untuk makan diluar begini? gak apa-apa?”


“Hmh? memangnya kenapa? Ah ya jelas kamu belum tau apa-apa tentangku sekarang, ‘kan?” tersungging senyum kecil disalah satu sudut bibirnya yang tipis.


“Cerita dong ... kan aku tidak tau apa-apa tentang ka—mu ... selama lima tahun ini, dan aneh sekali rasanya bisa secara kebetulan kita bertemu dikantor yang sama, bukankah begitu?”


“Mungkin sudah jalannya begitu, percaya takdir?” Memandang hangat dan tersenyum.


“Yahhh percaya lah ... hanya merasa jadi seperti di film-film kalau segalanya serba kebetulan hahaha”


“Then, God is the best director ... “


“Definitely, yes! well ... sejak kapan kamu di Indonesia? tau tidak, aku dan Adam bahkan sama sekali tidak ada contact, apa kabar dia juga?”


“Adam ... baik, sangat baik, dan ... sebenarnya aku sudah kembali enam bulan yang lalu, mengurus segala yang sudah kutinggalkan bertahun-tahun, tidak bisa kubayangkan kalau tidak ada Adam, aku yakin semuanya kacau. oh ya, aku ada satu Asisten lagi namanya Leo, tapi dia untuk sementara ini menggantikan posisi Adam untuk standby pada beberapa bisnisku, sudah waktunya Adam istirahat ... dia hanya menjadi Asisten pribadi ku saja sekarang.”


“Wah ... kalian sibuk sekali ya pasti, tapi bagaimana bisa kamu jadi Mentor tim HR perusahaan kami?”


“Eh ... yaa ... yaa seperti kubilang tadi, kebetulan hehe, come on ... bicara yang lain saja, bagaimana kamu sekarang?” tersenyum kembali dengan menunjukan deretan giginya yang kecil-kecil.


“Aku? ah, biasa saja, kerja ... pulang ... tidur ... besok kerja lagi, apa?”


“Something else?”


“What?” jawabku berusaha santai dibalik rasa gugup.

__ADS_1


“More personal?” merendahkan suara, tatapannya menelisik ekspresiku.


“I don’t get it, please hahaha”


“Nothing, forget it ... “ seketika wajahnya berubah seperti tidak tertarik melanjutkan pertanyaan tadi.


“Masih moody? apa kamu ... yakin segalanya sudah lebih baik, Bri?”


“Apa? penyakit OCD itu? hahaha ... hahaha dengar Sue’ ... aku pikir Adam sudah cerita ya semua tentang itu?”


“Itu dulu, aku ingin tau perkembanganmu sekarang?”


“Ya ampun, masalah itu sudah tuntas dua tahun lalu, nyatanya memang aku baik-baik saja, sugesti kuat yang aku dapatkan selama ini datang dari orang-orang tidak bertanggung jawab yang mengatas namakan dirinya sebagai Psikiater, mereka hanya orang bayaran, entah muncul darimana tapi mereka sudah gagal menipuku hingga terakhir kali lima tahun yang lalu”


“Lagipula, kenapa kamu tidak bisa meng observasi sendiri sih, aku heran ... hingga kamu benar-benar dibuat sebagai orang yang mengidap penyakit OCD, eventhough there’s nothing happened with you”


“It’s a real big impact, kamu tau apa saja yang aku lakukan hingga sedikit saja mudah panik? takut dengan kotor, hingga tidak mampu memulai hubungan dengan wanita manapun, sampai hari terakhir ... sudah kupastikan ... aku mampu menyentuh wanita, terima kasih ... “ Brian menaruh tangannya diatas tanganku yang berada diatas meja dan mengusapnya halus.


‘Ternyata memang benar saat itu, dia tidak berbohong tentang ciuman pertamanya’


Aku membuang tatapan mataku, menunduk malu bercampur heran dengan sikapnya yang jadi lebih agresif seperti ini.


‘apa saja yang dilakukannya di London, apa pada akhirnya dia membabi buta terhadap wanita setelah ia merasa mampu?’


Suasana hening sesaat itu buyar kala pelayan restoran itu datang menyajikan makanan yang kami pesan. Selama makan malam itu sepertinya banyak hal yang akhirnya dapat kusimpulkan sendiri, ini adalah waktu yang berbeda, kala pria dewasa berbicara dengan lawan jenis yang berada di fase kedewasaan yang sama, rasa dan cara yang jauh berbeda saat aku masih seorang mahasiswi tingkat awal dengan Dosennya.


****


Aku melambaikan tangan saat ia berlalu dengan kendaraannya malam itu, entah apa besok kami pasti bertemu kembali dikantor, tapi kuurungkan rasa ingin menawarinya untuk mampir karena sudah cukup malam, dan aku belajar menjaga etika menerima tamu malam-malam kerumah orang tuaku.


****


POV Author


Sesaat setelah Brian sampai di kediamannya, ia menghubungi seseorang.


Brian [ Adam, dimana kamu ]


Adam [ Sedang dalam perjalanan dari LSM menuju rumah, bagaimana hari ini, Tuan? ]


Brian [ Sukses, terima kasih Adam, sekarang ... dia terlihat cantik, syukurlah aku masih bisa mengendalikan diri untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan, akan aneh pasti untuknya ]


Adam [ Sama-sama tuan, bersabarlah ... semua wanita butuh waktu untuk penyesuaian, jangan terlalu ingin tau tentang kehidupannya meskipun kita sudah tau hahaha ]

__ADS_1


Brian [ Ya itulah, aku nyaris banyak bertanya hanya ingin tau responnya seperti apa, tapi memang segala hal tentang dirinya sudah banyak yang berubah, penampilan, cara bicara, segala sikapnya nyaris membuatku tercengang, ia sangat berhasil memperjuangkan dirinya ]


Adam [ Jadi bagaimana? anda senang hari ini? ]


Brian [ Bukan hanya senang ... kerja mu sangat memuaskan ... aku heran dari mana kau bisa tau segala tentangnya ]


Adam [ Ya ampun itu mudah saja, apa aku perlu memberi akun sosial media nya juga pada tuan, bahkan passwordnya kalau perlu hahaha ]


Brian [ Dasar ceroboh, hahaha ... dia pasti salah mengkonfirmasi pertemanan dengan orang sepertimu ya, eh hey ... jangan macam-macam dengannya ya, awas kamu ]


Adam [ Hahaha tidak lah, mana berani aku ... bahkan tidak perlu anda beritahu tentang banyak perubahan penampilannya, aku sudah tau lebih dulu ]


Brian [ Bro, serius kamu jangan macam-macam! jangan iseng chatting dengannya dibelakangku ya ]


Adam [ Tenang ... tenang ... kami berteman dalam satu komunitas game, dia tidak mengenaliku dengan akun palsu itu, tapi dia tetap orang yang sama saat berada di dunia maya, nyaris tidak berubah cerewetnya hahaha ]


Brian [ Oya? wah ... sungguh beda dengan yang kulihat tadi, dia lebih dewasa dan berwibawa, bahkan ... dia cenderung menutupi kehidupan personalnya, hingga aku bingung harus mendekati nya dengan cara apa ]


Adam [ Buatlah kejutan kecil tuan, dia suka kejutan ]


Brian [ Begitu? hmm ... okay, bagaimana jika ... kau carikan tempat untuk kami meluangkan waktu agar bersama lebih lama, jadi jangan Dinner ]


Adam [ Saya akan siapkan sedikit nostalgia tuan, tunggu saja ]


Brian [ Bro, kau sudah mempersiapkan rencana matang rupanya hahaha ]


Adam [ Apa yang aku tidak tau tentang anda coba? tuan yang tidak sabaran hahaha tinggal aku perintahkan mereka, tunggu kabar saja ]


Brian [ Ah, penasaran ... curang kamu! hahaha Nostalgia ... bagaimana itu nanti ... ]


Adam [ Sabaaar ... sabaaar ... tuan yang tidak sabaran hahaha ]


Brian [ Makin hari makin lancang saja kamu hahaha ... eh, bagaimana hubunganmu dengan Leo? ]


Adam [ Hubungan apa? memangnya aku gay! lain kali jangan bawa yang impor tuan, susah kan komunikasinya! ]


Brian [ Rasakan itu, Adam! hahaha ]


.


.


Bersambung

__ADS_1



Visual Leo


__ADS_2