My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Pendekatan 2


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan sejenak membeli cake sebagai Dessert dirumah nanti. makan malam ini pun sepertinya cukup tersaji dengan baik karena mungkin ‘mama memesan beberapa masakan dari cathering temannya’, yah ... aku bisa pahami mama memang jarang sekali masak. tapi untukku nanti setelah menikah sebisa mungkin aku memasak untuk suamiku sendiri, itu keharusan ketimbang suami makan masakan orang lain, nanti cinta nya sama orang!


Brian duduk persis di sebelahku, kami berseberangan dengan Mama Papa, dan untungnya si Kakak yang sedang kasmaran sedang tugas keluar kota hingga dia tidak tau menahu soal makan malam ini, entah kapan dia pulang semoga tidak saat ini.


Dan oh ya, dia bersama Eli, mereka bekerja dalam satu perusahaan kontraktor yang sama, karena pada akhirnya Eli melepas egonya dalam dunia DJ untuk bisa mencari pengalaman di Indonesia agar bisa meneruskan perusahaan kontraktor ayahnya sendiri di LA.


Dan kembali lagi saat ini, dengan baik hati aku menyajikan beberapa sendok makanan yang tersaji ke piring Brian, oh so sweet ... sedang apa aku ini. formalitas saja sepertinya.


“Jadi, kamu sekarang sudah tidak mengajar di kampus lagi ya, Brian?” tanya mama sambil menyajikan makanan ke piring Papa.


“Yaa ... saya bukan mengajar lebih tepatnya, sesekali ... ya dan untuk saat ini belum aktif juga, karena pihak kampus sepertinya belum tau perihal kedatangan saya.”


“Ooh ... tante kira sedang bersiap-siap untuk menikah jadi stop mengajar”


Aku mendelik kaget dan menyenggol kaki Mama dibawah meja.


‘Ya ampun mama ... itu personal sekali’


“Hahaha ... belum tante, tapi saya harap segera” Brian tertawa kecil karena sepertinya dia tau gerakan kakiku menyenggol mama tadi.


“Loh, memangnya sudah usia berapa kamu sekarang, Brian?”


“Tiga puluh dua tante sebentar lagi”


“Wah, sudah usia matang lho itu, sudah ada calonnya tapi ya?” tanya mama tanpa dosa, aku menyenggol kakinya sekali lagi “Apa sih saann kakimu itu gak bisa diam”


‘Yaaa Tuhan ... Mamaa ... disebut pula’


“Hmm ... gimana ya, calon ... yaa ... mungkin ada, tapi ... saya belum tau apa dia mau diajak menikah atau tidak.” Brian tersenyum dan melirik sesaat kearahku.


‘Nah, apa coba ini’


“Jangan lama-lama lho, sekarang lagi musim tikung menikung pasangan, kurang cepat dikit diambil orang nanti hahaha.” lagi-lagi mama seperti tanpa beban mengucapkan pernyataan.


“Maaam” terlepas mendadak dari mulutku dan kualihkan dengan hal lain “eh ... ituu ... ituu minta sayurnya mam”


Ekspresi Brian seketika mulai canggung namun tetap berusaha tersenyum menjawab pernyataan mama.


“Ya ... saya akan usahakan agar dia tidak diambil orang, segera nanti saya kasih tau tante deh hehe.” Brian menyuap sesendok makanan agak lebih cepat, sepertinya mulai risih.


“Iya, nihh kakaknya Susan juga mau menikah tahun depan, nanti datang ya?”


“Saya usahakan pasti datang tante.”


“Mam, Brian lagi makan lho, gak selesai selesai kalau ditanya terus.”


“Gak apa-apa, namanya orangtua memberi nasehat itu kan wajar, Sue.” Brian berusaha membela mama. Oh my god ... dia mulai cari muka.


“Iya, memangnya kamu ... dari dulu pacaran gak jelas sama siapa, sekarang juga gak tau sama siapa, kan perempuan seharusnya usia segini sudah ada kepastian pacarnya siapa, calon nya siapa, cari yang dewasa gitu kaya nak Brian Susan ... , jangan kaya Eli anak tetangga sebelah”


“Uhuk” (“uhuk”) serentak aku dan Brian seperti tersedak mendengar ucapan mama.


‘Benar benar si Mama ini, sekarang Eli dibawa-bawa pula namanya’


Brian segera mengambil gelas berisi air putih disebelah piringnya. sedangkan aku menutup mulutku dan mengusap dada sendiri. Brian sigap mengusap punggungku dua kali, hingga Papa melirik Brian yang segera menarik tangannya lagi dari punggungku.


“Mam, habiskan makananmu dulu, orang sampai tersedak begitu kamu tanya-tanya dari tadi” tegur Papa.


Seketika mama diam, dan percakapan dinyatakan selesai karena Papa kini sudah angkat bicara.


****


Makan malam berjalan sempurna dengan dengan banyak percakapan normal di dalamnya, Papa nampaknya sedikit meraba maksud Brian yang tiba-tiba muncul lagi dan begitu tertarik tentang segala hal mengenai keluarga kami. Papa lebih paham mungkin karena dia laki-laki.

__ADS_1


Selesai makan malam kami pun duduk berdua di teras, karena Brian nampaknya masih nyaman berada disini meskipun sudah mulai menjelang pukul sembilan malam.


“Maaf ya, mama tadi banyak bertanya-tanya masalah pribadi, aku jadi gak enak takut kamu risih”


“No, i’m okay ... kenapa sungkan?”


“Gak apa-apa, cuma jadi gak etis saja kan kamu juga baru kenal”


“Aku bisa memahami orangtua mu, mereka harus tau siapa orang yang sedang dekat dengan anaknya”


“Iya sih, tapi kaan ... “


“Tapi kan apa? mungkin mereka menginginkan kamu punya kekasih yang sebenarnya kan? bukan cuma teman laki-laki yang datang dan ngobrol saja tanpa kepastian”


“Yahh ... itu kan berjalan dengan waktu, untuk apa buru-buru”


“Berjalan dengan waktu? haha mau berapa lama lagi, usiamu sudah cukup dan sudah waktunya tidak terjebak masa lalu”


“Entahlah ... aku ... aku tidak tau”


“Dimana dia sekarang?”


“Siapa?”


“Mantan suamimu”


“Tidak tau, dia menghilang sejak lima tahun lalu, maaf aku baru cerita”


“Menghilang??”


“Sudahlah aku mohon jangan diperpanjang lagi, kamu sudah benar-benar menarik tuntutan itu, biarlah dia pergi”


“Bagus, hanya saja ... sebenarnya aku tidak suka dia memperlakukanmu seperti itu tanpa jera”


“Bri ... sudahlah ... aku pun sudah melupakannya”


Aku mengangguk pelan, tiba-tiba Brian bangun dari duduknya dan berdiri dihadapanku. Aku mendongakan kepala memandangnya.


“Ada apa?”


“Dengar, dari segala yang kau alami bertahun-tahun lalu mungkin tidaklah mudah untuk berjalan sendiri”


“Lalu? bukankah aku sudah berhasil”


“Berhasil ya, tapi sepertinya kamu sudah mulai terbiasa menutup perasaanmu sendiri, ‘kan?”


“Aku tidak tau, belum mencoba lagi”


“Kenapa belum mencoba? bukalah sedikit perasaanmu dengan orang lain”


“Yaaaa mungkin akan aku coba, tapi ... entah kapan dan dengan siapa aku belum tau ... belum bertemu yang pas”


“Apakah kamu merasa tidak mengenal mereka?” Brian bersandar pada salah satu pilar rumah sambil melipat kedua tangannya.


“Mengenal, sebatas teman”


“Semua diawali dengan pertemanan, aku mungkin tidak tau rasanya menjalin sebuah hubungan, yang aku tau semuanya berjalan setelah terbentuk sebuah komitmen, saling memahami, saling mencoba membuka diri, yah ... kau pasti lebih tau daripada aku”


“Teoritis sekali, menjalani hubungan itu tidak serumit itu kok Bri, hanya perlu kecocokan, itu saja dulu”


“Lalu, kenapa tidak memulai kecocokan? semua patut dicoba, ‘kan?”


“Hmmm ya” aku menjawab pelan dan tertunduk enggan menjawab lagi,

__ADS_1


“Kenapa tidak mencoba lagi?”


“Haha apa sih kamu ini, memangnya cari pacar tinggal tunjuk saja begitu?”


“Tinggal tunjuk? tidak perlu menunjuk, lihatlah disekitarmu”


“Siapa? teman kantorku? hahaha .”


“Tidak”


“Lalu?”


Brian berjalan kembali berdiri dihadapanku dan duduk setengah berlutut.


“Aku”


Brian meraih tanganku dan menggenggamnya. aku pun sangat terkejut dengan jawabannya.


“A—apa maksudmu?”


“Apakah ... kamuuu ... mau menjalin hubungan denganku?”


“Tapi ... ah, kamu bercanda, ‘kan?”


Brian kembali berdiri dan menarik tanganku untuk mengajakku berdiri.


“Apa kamu tidak pernah merasa aku selama ini memperhatikanmu?


“Dari dulu kamu memang selalu memberi perhatian, ‘kan?”


“Itu karena ... selama ini aku menyukaimu, bahkan sudah sejak dulu. hanya saja ... banyak hal yang harus kubenahi tentang diriku agar kamu tidak kecewa dengan kekuranganku”


“Selama ini? Bri ... tapi aku menganggapmu kakak, sampai detik pertemuan kita dulu aku tetap berpikir memang kamu hanya ingin menguji diri”


Brian melepaskan tanganku dan menatapku dengan wajah kecewa.


“Sudahlah, maaf jika aku terlalu terburu-buru ... mungkin kau masih butuh waktu ... aku ... aku akan berhenti mendekatimu, jangan khawatir ... aku tidak akan marah padamu”


Brian tersenyum paksa, memalingkan wajahnya dan berdiri membelakangiku.


“Bri ... “ Aku kembali meraih tangannya dan ia berbalik menghadapku “aku akan mencobanya denganmu”


“Sue, aku tidak ingin memaksamu”


“Tidak, aku tidak iba ataupun merasa dipaksa, ini kesalahanku terlalu lama menutup diri, dan mungkin tidak peka terhadap perasaanmu”


“Lalu?”


“Ya, kita coba jalani hubungan ini”


Senyumnya mengembang seketika, lalu tanganku yang tadi tergenggam kini diciumnya.


“Terima kasih, akan kupastikan kau bahagia denganku, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu”


Brian menatapku sambil mengusap pipi ku dengan halus ... kemudian memelukku dengan erat, hingga suara terdengar memecah kehangatan suasana kala itu.


“Eheemmmm !”


Aku sigap melepaskan pelukannya. dan kami berdua terkejut dengan kehadiran seseorang.


“Kak Edo, Eli? kalian sudah pulang??”


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2