My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Bersamamu


__ADS_3

Sore itu aku memilih untuk makan pizza saja dengan memesan melalui delivery ke kamar itu, tidak ingin macam-macam karena kami hanya ingin banyak bercakap-cakap dan berbagi cerita satu sama lain dan kini aku paham kenapa kak Brian tidak memiliki rumah pribadi.


Dengan alasan sederhana dia memang belum bisa punya rumah, dan harus kesana kemari melakukan penelitian, sedangkan dari sudut pandangku sendiri bagaimana bisa orang yang tinggal berpindah-pindah hotel hanya sebagai tempat tinggal sementara, tapi pilihannya dengan kamar sekelas VVIP dan hotel bintang 5 selama berbulan-bulan, kurasa 1 hari untuk kamar semewah ini cukup untuk bayar kos-kosan selama 2 bulan, meski sedikit tidak masuk akal tapi ku abaikan pikiran terjauh itu.


“Kamu makan pizza dengan saus sebanyak itu?” Brian terlihat takut melihat tingkat kepedasan saus sambal yang dituang Susan saat itu. ia terlihat bergidik.


“Iya ! Hehe ... kalau tidak pedas, mana enak ... Kakak tidak suka pedas ... ?” Susan menggigit potongan pizza ditangannya. hingga saus itu menempel disudut bibirnya.


“Nope, Not at all ... wait ... “ mengambil tissue menawarkan ke Susan. “Lihat, sausnya menempel dimana-mana ... tissue ... ?”


“Mana?” Susan malah mencari letak sausnya dengan jari.


“Ah ... kamu ... lihat jadi semakin kotor, sorry ... let me ... “


“Hm??” Susan masih asik dengan kedua tangannya yang memegang pizza dan saus bungkus.


Brian menghapus bekas saus di ujung bibir perempuan itu perlahan.


Seketika suasana menjadi canggung ...


“Ehm ... “ Brian berdehem melepas kecanggungan yang membuat suasana senyap sesaat tadi. mengusap tengkuk lehernya sendiri. “Baiklah, kau tunggu sebentar ... jangan kemana-mana ... aku akan bersiap dulu untuk mengantarmu ... “ Brian bangun dari duduknya.


“Kakak mau kemana? tidak apa-apa ... aku sudah selesai ... “


“Aku ingin mandi sebentar, tunggu ya!”


“Hmm ... ya kak, tapi ... kalau agak lama aku pulang sendiri tak apa ... “


“Dengar tadi kubilang? kau tanggung jawabku hari ini ... “


“Oh ... ya okay Kak, maaf ... ups! Hehe”


“Hmmm kamu ini, ih! “menunjukan kedua tangannya berlagak ingin menerkam. “Mau ikut??”


“Iiiiih ... “ Susan mendelik malas ke arah Brian.


“Hahaha ... takut lagi dia, kidding ... wait ok!” berjalan menuju ruangan sebelahnya yang terdapat kamar.


Susan memperhatikan Brian berjalan masuk.


‘Kenapa sih dia tidak suka aku bilang maaf ... aneh’ Susan acuh, menaruh potongan pizza, dan mengambil secarik tissue. berjalan kearah jendela kamar yang nyaris sekelilingnya adalah kaca, ingin melihat indahnya suasana menjelang malam dari atas ketinggian hotel itu.


Sepintas ia menoleh tanpa sengaja melihat dari balik pintu kamar yang terbuka sepertiganya. terlihat Brian yang sedang membuka kemeja hitamnya.


‘Astaga roti sobek!’ sigap memalingkan wajah dan minggir berjalan menjauhi posisi, berjalan miring ala kepiting.


Sudah berjalan pukul 19.00 lebih, setelah menunggu cukup lama akhirnya Brian keluar dengan menggunakan kaus putih dan celana jeans, terlihat casual dan lebih manusia kali ini, maksudnya tidak kaku seperti biasanya, barulah terlihat sosok mudanya yang kurang lebih seumuran kakaknya itu.

__ADS_1


‘lama sekali dia ... luluran dulu apa ... jangan-jangan dia amnesia didalam tadi’


“Lama ya?” Brian datang menghampiri.


‘Nah itu tau’ Susan bermonolog


“Heee gak apa-apa ... “ Iya saja biar cepat gitu maksudnya. Susan mengambil tas dan beberapa benda miliknya, memasukan dalam tas.


****


Menuju parkiran, ia menekan alarm mobil dan kulihat ini bukan mobil yang biasa ia pakai, Camr* terbaru miliknya itu. Mobil Range Rov*r hitam kali ini memang lebih besar seperti pemiliknya, tubuhnya maksudku ... Susan seketika merasa jadi liliput jika berada di sebelahnya.


Dalam perjalanan malam itu Susan tiada hentinya meremas jarinya sendiri. dan sesaat itu disadari oleh Brian.


“Tidak perlu takut, mereka tidak akan berani mengganggumu malam ini”


‘Memang kau berharap aku hanya hidup semalam, memangnya laron apa’


“Tolonglah Kak, jangan sampai mereka menaruh kecurigaan dengan bicara macam-macam”


“Memangnya aku mau bilang apa, aku hanya ingin memperkenalkan diriku saja, supaya besok-besok kau diperbolehkan bertemu denganku lagi”


‘ Hiih ... tidak semudah itu Inspektur vijay’


“Yaa ... selama masih dalam lingkup edukasi mungkin tak apa, tapi hari ini kan aku sampai pulang telat Kak”


Mobil memasuki kawasan estate itu, berjalan mendekat menuju rumah saja, dan sesuai perkiraan... kali ini 6 orang sedang berada diluar rumah, berkumpul bak TKP saja rumah itu.


Brian menghentikan mobilnya tepat di jalan depan rumah Susan dan serentak semua pandangan orang-orang itu tertuju ke arahnya.


“Ambil napas ... lepaskan ... “ Brian mencoba menenangkan.


Tanpa berlama-lama Brian keluar dari mobil diikuti dengan Susan. semua wajah cemas orang-orang itu berubah menjadi wajah yang tegang, melihat siapa sosok yang mengantarnya.


“Susan? Kenapa ponsel dimatikan!” Kak Edo menyambut kesal ke arah Susan dan melirik sepintas ke arah Brian.


“Aku takut di TRACK!” melirik Dicky yang tiba-tiba pura-pura bersiul.


Brian maju selangkah mensejajarkan Susan.


“Perkenalkan, Brian!” mengulurkan tangan kepada Papa.


Bersalaman


“Ya, saya Papanya, Anda ini siapa?”


“Saya Konselor di kampus Pak, maaf sudah membuat Susan telat pulang”

__ADS_1


“Tidak apa-apa asalkan jelas, kalau tadi kan ... Kami bingung anak kami pergi kemana, kakaknya ini panik dari tadi siang.”


“Iya” Kak Edo menyambut ketus. “Harusnya komitmen dari awal dikampus ya dikampus kan, memangnya tadi kemana?


“Oh kami di kediaman Dosen pendamping tadi, agak jauh makanya saya dia saya antar pulang” menepuk pundak Susan.



‘Ehhh orang ini ... dia pegang-pegang istriku’ Dicky bermonolog.


Eli sigap berbalik dan berjalan masuk kedalam rumahnya, entah apa yang dia rasakan saat itu, tapi sepertinya dia sudah menghilangkan rasa penasarannya, diikuti Kak Zac yang akhirnya juga masuk ke dalam rumah.


“ Ya Sudah, terima kasih ya Pak Briansudah mengantar anak saya dengan selamat sampai dirumah”


“Sama-sama Pak, maaf telah membuat khawatir keluarga anda”


Susan berdiri di samping mama, sambil tersenyum berbalik ke arah Brian,


“Lain kali, beri info yang jelas ya, kalau tidak Susan tidak diperbolehkan lagi untuk melakukan konseling” Kak Edo ikut bicara bernada ketus, Mama menyenggol lengan Kak Edo untuk bersikap lebih sopan.


“Jangan khawatir, saya sangat yakin... mulai nanti kita akan lebih sering bertemu ... ehh ... , Saudara Edo?”


Kak Edo mengernyitkan dahi, agak kaget Brian mengetahui namanya padahal dari awal dia tidak memperkenalkan diri.


“Baiklah, sudah mulai malam, saya mohon permisi Pak, Ibu, Saudara Edo, Susan ... dan Ehh ... “ menoleh ke arah Dicky.


“Ini Dicky sahabatnya Susan Pak” sambut mama.


“Mmm ... Ow-kay!” Brian melirik malas dan tajam ke arah Dicky, kembali senyum ke arah orangtua Susan.”Baik, saya permisi kalau begitu” menangkup kedua tangannya dengan sopan memohon pamit.


“Tidak mampir dulu Pak” mama welcome sekali nampaknya.


“Terima kasih, mungkin lain waktu Ibu”


“Hati-hati ya Kak, terima kasih”


“Ya ... Sleep well! sampai ketemu dikampus” Brian berjalan ke arah mobilnya tanpa menoleh ke arah Dicky.


Sesaat di dalam mobil sebelum Brian memutarkan mobilnya, ia melirik ke arah 5 orang tadi, Dicky sepertinya menarik tangan Susan untuk bicara, spontan Brian mengklakson mobilnya hingga Dicky dan Susan tersentak. Dicky melepas tangannya. Brian membuka kaca mobil.


“Hati-hati ya!” melambaikan tangan, nampaknya Susan tau maksud Brian.


Dicky masih melongo ke arah mobil itu.


Brian memutarkan arah mobilnya dan melaju dengan cepat.


‘Jangan coba macam-macam dia dengan MisSorry ku, dua orang itu tak akan lolos dariku, lihat saja!’

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2