My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Sang Pengganggu


__ADS_3

...Hari itu memang tidak terlalu baik untuk kami berdua, hingga saat perjalanan pulang Brian masih terlihat gusar karena Uncle nya. Tapi ia terpaksa kembali ke rumah Uncle hingga tiba saatnya siap untuk segera pindah kerumah miliknya sendiri....


****


Minggu pagi ini kulihat seberang rumahku sudah kembali ditempati orang baru, beberapa furniture masuk tanpa terlihat siapa penghuni kali ini.


Semenjak ditinggalkan oleh keluarga Dicky, aku sama sekali tidak ingin akrab dengan siapapun yang menyewa rumahnya, hanya meninggalkan bekas lama yang sulit kulupakan. Ditambah Dicky yang bukan lagi bersikap seperti yang kukenal, akibat banyaknya kejadian yang menghancurkan hubungan baik kami.


Hari ini aku dan Brian nyaris tidak ada komunikasi, beberapa pesan yang kukirim berhasil masuk tanpa dibaca olehnya. Sedikit khawatir dengan dirinya disana tapi aku mengembalikan pikiran positif setelah Adam mengabarkan Brian baik-baik saja, ia hanya butuh sendiri dikamarnya.


...'Semoga ia tidak marah atau apapun. Lagipula kemarin aku hanya bercanda membuat permainan. Dimana ia tidak boleh berkutik, atau menyentuhku sama sekali saat aku mengganti kemeja dan celana panjangnya. sedangkan ia harus berbalik tanpa mengintip saat aku berganti dress, kasian.'...


Tapi ini latihan menahan diri meski kami sudah nyaris tau bagaimana bentuk fisik masing-masing dengan balutan pakaian dalam. Itupun batas maksimal karena kebablasan.


Sudah cukup permainan kami, aku memutuskan untuk tetap menahan diri agar semuanya baru bisa ia dapatkan setelah kita menikah nanti.


***


Kantor


Senin pagi ini kekosongan perasaan kuabaikan demi memahami situasi hubunganku dan Brian yang akhir-akhir ini  terlibat masalah baru, aku tidak ingin membuat masalah lebih buruk lagi apalagi melibatkan Dicky di dalamnya, oh, tidak akan.


Melihat Brian yang sekali saja berubah mood sempat membuatku terguncang, karena bisa saja sikap dinginnya muncul kembali setelah sekian lama berubah semenjak ia bersamaku.


Pagi kali ini laporan datang dari koordinator layanan yang menghubungi tim HRD atas informasi pencurian yang terjadi di lingkungan antar karyawan. Salah satu agent yang menjadi tersangka akan segera dijatuhi sanksi pemecatan. Dan aku tidak bisa tinggal diam karena tugas tim HRD yang turut merekrut dan memproses perkembangan sang agent.


"Bu Susan, gimana nih. Pak Agung mau bawa anak agent kesini buat di tanya-tanya, bisa bantu interogasi gak, udah bukan Surat Peringatan nih kondisinya" ucap Mba Wulan setelah menutup telepon dari pihak koordinator layanan.


"Yah, gak bisa gitu mbak. Apa buktinya udah kuat kalo dia memang yang mencuri barang-barang Agent lain? Udah konfirmasi saksi mata gak? Ada gak? Berapa orang yang pernah memergoki orang ini, kuat nggak tuduhannya?"


"Agent ini sering ada ketika kondisi sebagian layanan pergantian makan siang, dan barang yang hilang di waktu bersamaan dia ada"


"Cari bukti CCTV udah? Security udah konfirmasi rekaman ke pihak IT belum?"


"Coba nanti tanya deh San, untuk yang tiga hari kebelakang aja"


"Kok aku?"


"Ya nanti Pak Agung nyusul ke lantai 21 kalau memang sudah disiapkan rekamannya, kalian liat bareng. Tapi infokan ke pihak IT untuk file rekamannya"


"Telepon aja ke line nya mbak" jawabku malas.


"Udah dihubungi, gak ada yang angkat. Ini masih pagi banget soalnya, sebelum siang anak itu ganti shift jam 10"


"Loh, kenapa ruang IT dikosongkan begitu"


"Ada pasti, cuma nggak tau mungkin lagi istirahat di dalam. Biasa pada begadangin server kan udah aman, ini kan lain problem"


"Tunggu yang lain dulu deh mbak"


"Kenapa sih, males gitu ke ruang IT?"


"Gak, gak apa-apa mbak" jawabku canggung, padahal hati ku ragu karena takut Dicky sedang berada disini, "tapi mas Dwi ada kan ya?"

__ADS_1


"Mas Dwi sedang ke kantor pusat, tadi aku kirim pesan ke dia, karena ruang IT gak ada yang jawab telepon"


"Jadi, ada siapa?"


"Duh, aku belum tau makanya, aku nih lagi nyiapin berkas untuk Wawancara anak baru loh, bukan mau repotin kamu sih. Haya mana?"


"Haya hari ini gantian ngajar sama aku mbak"


"Nah, kamu free kan berarti? San, layanan 107 tanggung jawabmu loh. Please lah, kamu kan PIC mereka ... "


"Hhhuuufff ... " aku menelan ludah mengingat hal ini adalah tanggung jawab utamaku disini, "Oke mbak, aku coba tanya ke IT!"


Terpaksa pagi ini dengan ragu kuhampiri ruang IT atas tuntutan pekerjaan, aku membutuhkan akses membuka file untuk melihat data rekaman CCTV lengkap.


Aku berjalan dan bergegas memasuki ruangan yang letaknya berhadapan dengan ruangan kami yaitu ruang IT.


Tidak ada tanda siapapun disana, kucoba masuk ke ruang belakang tempat istirahat tim IT yang terdapat kasur hampar dan karpet yang disediakan bagi tim mereka yang terkadang harus menjaga kondisi server semalaman.


"Permisi ... "


Kulihat satu orang tertidur meringkuk di sofa dan satunya berada di kasur hampar. Sudah macam kos-kosan saja, pikirku. Rasa enggan membangunkan mereka, aku memilih kembali ke ruanganku sembari menunggu tim IT lain yang mungkin saja sedang keluar ruangan.


Baru saja aku berbalik ingin kembali keluar ruangan, langkahku terhenti oleh suara yang tidak asing lagi.


"Hei mantan! Kalau ada perlu hampiri orangnya langsung dong ... "


Sosok Pria yang tertidur di sofa tadi itu bangun terduduk kini memandang ke arahku. Aku berbalik perlahan dengan rasa enggan karena kukenal sekali suara itu. Dicky!


"Gak jadi!" jawabku ketus sambil mencoba mengabaikan perkataannya.


"Kamu juga ngapain lagi disini! betah ya main-main ke kantor cabang, pulang sana ke pusat!"


"Hahaha, jadi belum tau ya. Kantorku disini sekarang?" Dicky bangun perlahan dan menghampiriku yang mulai merasa sedikit terancam entah kenapa.


'Jadi benar rupanya, dia sudah mutasi kerja ke kantor cabang ini'


"Ya, ya, masa bodoh lah, aku mau keluar cari orang lain saja!"


"Eeeeh ... sini!" dengan sigap Dicky menangkap pergelangan tanganku saat aku mencoba kabur dari lokasi, dia menoleh sedikit ke arah rekannya yang masih tertidur pulas, kemudian berbisik tanpa melepaskan tanganku, "sombong ya kamu, aku tau kamu perlu aku. Aku sudah baca infonya tadi dari Mas Dwi melalui pesan, bisa apa kamu kalau aku gak mau bantu?"


"Lepas ah! aku lebih baik cari yang lain daripada berurusan sama kamu!" aku berusaha memutar tanganku agar terlepas dari cengkramannya.


"Heh, ini wewenangku saat Mas Dwi sedang tidak ada disini, mereka semua sekarang bawahanku tau nggak?" Dicky menyeringai.


"Aku gak mau berurusan sama orang yang kelakuannya kayak setan, kalau muncul selalu cari masalah buatku!"


"Hahaha, tapi suka kaaaaan ... " tawa Dicky sambil mencuil ujung hidungku dengan telunjuknya.


"Makasih yaaaa ... sudah kubilang pacarku jauh lebih baik darimu, kamu pikir siapa dirimu itu" aku memicingkan mata sambil memasang ekspresi kesal.


"Itu karena aku spesial kan? kamu saja yang tidak sadar cari-cari aku terus" ejek Dicky dengan santai.


"Jangan ge-er ya! ini masalah genting pekerjaan!"

__ADS_1


Dicky menoleh kembali ke belakang, khawatir rekannya terbangun karena suaraku mulai meninggi.


"Sudah jangan banyak bicara! Buatkan aku kopi sana! berisik! kucium baru tau rasa nanti!" tegas Dicky sambil menarik bagian ujung blazerku hingga aku terdorong maju selangkah ke arahnya.


"Minta sama OB sana, emangnya aku asistenmu apa! coba saja macam-macam, habis kamu Dicky!"


"Ya sudah, kerjasama sedikit lah. Kau butuh bantuanku sekarang kan? Ingat 107 itu tanggung jawabmu ya 'kan?"


"Aku bisa cari orang lain!" tegasku berusaha meninggalkan Dicky.


Tapi langkahku kembali terhenti saat ia mengucapkan kata-kata yang tidak mampu kutolak.


"Terserahlah, kalau kau siap hubunganmu berantakan juga gak apa-apa sih ... , kan aku tinggal temui saja konselor pribadimu itu"


"Apa kamu bilang!"


Tiba-tiba ...


"Rick! siapa yang jaga depan?! hoaaaaamm ... " Mas Ivan bangun dan cepat duduk menyadari keberadaanku, "eh, ada Mbak Susan ... "


Perdebatan kami terhenti sesaat rekannya terbangun tadi karena suara kami. Aku dan Dicky sontak menoleh ke arahnya.


"Eh ya Mas Ivan, iya ... aku minta rekaman CCTV seminggu kemarin bisa?" pintaku pada Mas Ivan, berusaha mengabaikan Dicky.


"Oh, lah itu Mas Dwi yang bisa mengakses file nya mbak, coba mas Erick emang gak dikasih tau?"


"Beres" jawab Dicky kembali menoleh memandangku. menyeringai, "Kopi! Cepat!" tegasnya sambil berbisik nyaris terlihat dengan gerakan bibir saja.


"Setan!" kataku dengan bisik yang cukup terdengar keras.


"Hah? mana setan?? serius mbak!" tanya Mas Ivan sambil panik bangun dari duduknya.


Dicky mendengus malas sambil memutar matanya.


"Hhhuh! Gak ada!" bentak Dicky ke arah Mas Ivan.


"Ada, setannya di ruang IT nih!" jawabku sambil mendorong Dicky dengan ujung telunjukku ke dadanya.


"Hahaha" Dicky tertawa kecil.


Aku berjalan cepat meninggalkan Dicky dan Mas Ivan yang masih setengah linglung karena bangun mendadak tadi.


Aku membuang napas kasar, dengan sangat terpaksa meminta kopi pada salah satu OB untuk kuantarkan kembali pada Dicky diruang IT.


'Dan harus ikut memantau CCTV bersama dia dan pihak layanan? ya Tuhan ... cobaan apa ini'


.


.


Bersambung


...Yaaaahhh Dicky si pria bar-bar muncul lagi, mulai banyak tingkah mengerjai Susan yang sekarang malah satu kantor, sampai kapan Susan bisa merahasiakan keberadaan Dicky dari Brian ya?...

__ADS_1


...Padahal Brian dan Susan lagi pusing minta ampun memikirkan pihak keluarga masing-masing yang nampaknya menjadi penghalang hubungan mereka, sekarang malah datang pengganggu dari masa lalu mereka ......


__ADS_2