My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Permintaan Terakhir


__ADS_3

...'Si konyol berulah lagi'...


Susan terhenyak dengan perkataan pria di hadapannya, ia sangat mengenal cara bicara yang seringkali menjebak ekspresinya. Susan berusaha tetap tenang dalam permainan kata-kata, dari gelagat mencurigakan pria itu.


"Jangan mulai kekonyolan, Dic. Sudah terima undanganku kan?" Susan mengarahkan kembali pada inti masalah, untuk menebak kedatangan utama Dicky yang mendadak.


"Itu makanya aku kesini, belum ijab qabul masih bisa ditikung 'kan?" Dicky berusaha mengalihkan kembali ke tujuan konyolnya sejak awal, tidak menggubris Susan yang mulai paham godaan receh seperti yang diutarakannya.


Terkesan menjebak, Dicky masih sanggup berbicara tanpa beban pada wanita di hadapannya, yang baru saja merubah status permusuhan menjadi damai diantara mereka berdua. Tidak tanggung-tanggung, godaannya kali ini cukup membuat Susan berkali-kali canggung. Entah apa yang dirasakan Susan, tapi Dicky semakin senang menelisik setiap jengkal ekspresi Susan yang tidak biasa.


"Ka-kamu! Ah! sudahlah!" Semakin enggan meladeni candaan Dicky yang menurutnya keterlaluan, sayangnya terlalu mudah Dicky mempermainkan perasaannya kali ini.


Susan tidak ingin berlama-lama duduk diantara suasana yang terlihat bodoh, menanggapi pria yang tiba-tiba hendak mengajukan lamaran dengan membawa Ibunya malam-malam begini, pada detik-detik hari menjelang pernikahannya dengan Brian.


Dicky memang seperti yang semua ketahui, pria yang sulit ditebak. Mempunyai pikiran sendiri dan bertindak tanpa ragu, sepertinya dia sudah terbiasa terlibat dengan masalah, membuatnya kebal dengan situasi apapun.


Sedangkan kali ini menurutnya, Susan 'hanyalah' seorang Susan. Ia kenal betul titik kelemahan wanita yang sudah dikenalnya lama. Setelah bersikap tegas dan seketika itu pula merasa bersalah.


Apalagi Dicky tahu betul sedalam apa perasaan Susan. Setiap kali Dicky tersandung masalah lagi dengannya, tidak mengurangi perlindungan Susan agar Dicky tidak berurusan dengan pihak aparat sekalipun.


"Eh, sini ... sini dulu, ngapain buru-buru. Hahaha ... liat muka kamu 'San. A—da yang ragu—" goda Dicky dengan iris yang tertuju mendalam ke arah gerak-gerik wanita dihadapannya. Tangannya gesit menangkap pergelangan tangan Susan yang hendak meraih tas kecil di atas meja.


"Siapa yang ragu?! aku lagi lelah untuk bercanda konyol kayak gitu! cukup ya! kita udah berdamai, jangan mancing emosi lagi!" Susan menghentakkan langkahnya, sedikit meninggikan nada bicara. Susan mendessah kesal hendak meninggalkan Dicky yang terkekeh pelan.


"Makanya ..., lain kali pastikan hatimu dulu. Dari emosi terlihat kok, kamu gak bisa lepas dari aku. Ngapain nikah sama orang lain?" Terus saja Dicky mencecar kata-kata yang memancing emosi, godaannya kali ini terdengar semakin serius ditanggapi oleh Susan.


"Nikah sana sama pacarmu! Ih!" Susan memutar pergelangan tangannya demi melepas genggaman tangan Dicky. Tidak ingin banyak berbasa-basi karena mereka sudah jelas memiliki pasangan masing-masing saat ini.

__ADS_1


"Baik! benar ya~ aku nikah sama Eva? Hm? gak cemburu? bayangin dong ... bulan maduku nanti kayak apa. Jangan sampai kamu bandingkan kualitasku sama Brian nanti, ya! takutnya kepikiran," Seakan kali ini Dicky tidak menyerah hingga mengingatkan kembali masa itu, ketika pada pernikahan yang salah kala itu, Dicky tidak benar-benar berani menyentuh istrinya sendiri pasca kejadian naas yang sebelumnya pernah terjadi satu kali, dan membekaskan trauma bagi Susan.


Suatu penghinaan untuk Brian dari Dicky benar-benar tidak ingin Susan bahas lebih panjang lagi. Menurutnya, mungkin saja Dicky tidak benar-benar percaya bahwa Susan pernah menghabiskan malam dengan Brian beberapa waktu lalu. Hal yang berbeda jika tanpa paksaan.


"Astaga, hey! kamu tau apa," Susan tersenyum sinis, mendesis cela memandang Dicky untuk menyerang balik dengan sikapnya. "Aku bukan mau sombong. Cuma gak mau buat kamu merasa rendah diri aja, jadi gak tega aku jelaskan. Tapi satu kata kunci aja, Brian ...," Susan mengecilkan suara, berbisik tajam. "Telah membuat aku semakin ingin segera menikah dengannya, sesuatu yang dia mampu yang gak ada di diri kamu, so, sorry."


Sasaran kata itu tepat mengena di hati Dicky hingga membuatnya bergeming, senyumnya hilang seketika. Bukan merasa terhina, ia tahu betul Susan mencoba menyangkal sekuat tenaga demi menjatuhkannya.


"Makanya ... mending kita nikah aja, biar kamu tau nanti. Lagipula— mengandalkan si pria tua itu untuk apa, dia gak akan bertahan lama. Aku kasian kalau suatu saat, muda-muda sudah jadi janda kamu."


Ingin rasanya Susan mengutuk perkataan Dicky yang asal bicara seperti itu. Tangannya mengepal ingin sekali menampar pipi pria dihadapannya itu. Bagaimana Dicky bisa tahu perihal sakit yang diderita Brian? bukankah itu hanya gangguan anxiety yang tidak akan membuat orang meninggal, jika tidak ada faktor lain yang menguatkan.


"Jangan menunggu batas kesopananku hilang ya Dic! Sepandai apapun kamu mencari tahu detail tentang kekurangan Brian dan privasinya, selama ada aku, Brian tidak akan mengalami hal-hal yang buruk. Aku berjanji akan mendampingi dia dari masalah apapun. Lalu, gimana dengan kamu? apa Eva mampu jadi wanita yang hidup mendampingi pria sakit mental kayak kamu!" Susan menegaskan kembali, menitikberatkan posisinya sebagai calon istri Brian. Tentu saja apapun kondisi nanti adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


"Siapa yang sakit mental, Saan— San. Itu cuma pikiranmu aja tentang aku. Bukan mau jahat, cuma menyadarkan antara keputusan dan perasaan kamu yang kurasa bertolak belakang. Hati kamu gak bisa kemana-mana ... cinta sih cinta— sama dia, tapi gak seimbang, tanpa kamu sadari itu lebih besar ke aku." Dicky menunjukkan sikap percaya diri sepenuhnya di hadapan Susan. Termasuk menguji mental wanita itu bertubi-tubi demi kepuasannya sendiri, dengan pernyataan yang membuat naik darah siapa saja yang berada di posisi Susan.


"Dicky, move on please ...! Dari sini aja udah ketahuan siapa yang cinta mati sama aku, masih aja mau proyeksi, hiiss ... kasian kamu! Untung aja aku respek sama mamamu, kalau gak, mungkin aku udah minta kamu keluar saat ini juga!"


Susan terdiam memerhatikan Dicky yang terlihat kecewa. Apakah ia terlalu bersikap keras mendebatkan sesuatu yang ternyata hanya candaan? tapi itu memang tidak pantas dianggap candaan, semua sindiran yang sangat pribadi terlontar begitu saja dalam perdebatan mereka berdua. Susan tidak ingin mengambil risiko bertentangan lagi dengan Dicky, yang jika mulai tidak menyukai sesuatu, dia pasti punya rencana sendiri yang tidak dapat dikira-kira.


"E— eh, kamu sih—," Susan merendahkan suara. "Berhenti merendahkan Brian atau mencari tau lebih jauh tentang dia, sama sekali bukan urusanmu," Sekali lagi Susan dibuat sulit meningkatkan emosi lebih jauh lagi.


"Loh, faktanya kan begitu. Aku heran ya, sejak pacaran sama dia, kamu sekarang terlalu serius, gak asik. Aku kangen diri kamu yang dulu," gumam Dicky.


"Duh, kita udah dewasa. Aku masih Susan yang sama. Yang berbeda adalah posisi kita sekarang. Kita punya pasangan masing-masing, aku harus menghargai pasanganku, sebaliknya juga kamu. Sampai kapan kita kayak gini, Dic—," lirih Susan, menahan diri untuk kembali duduk berhadapan dengan Dicky.


"Ya udah, maaf ... kalau gitu aku pulang aja. Kamu tadi ngusir aku 'kan?" Sekejap nada bicaranya memaksa Susan merasa iba atas sikapnya, sekaligus mungkin tidak akan enak hati jika mama Inka mengetahui soal ini.

__ADS_1


"E-enggak, aku gak maksud begitu. Aku emosi aja dengar kamu bilang gitu, lebih baik hindari percakapan kayak gini. Ini yang terakhir, Dic. Berdamailah dengan keadaan, berdamai deh sama Brian."


"Ya, itu juga kalau dia bisa gak memusuhi aku, dari dulu kan Brian memang gak suka dengan keberadaanku. Aku maklum, mungkin saat itu juga dia sedang ngincar kamu. Tapi kalau lebih baik begini, mungkin aku gak akan datang ke pernikahan kamu," gumam Dicky.


"Bodoh tuh jangan di piara kenapa sih, Dic. Piara ternak sana biar menghasilkan! Brian hanya mencoba menolong aku bukan untuk apa-apa."


"Aku piara pacar orang kok dari kemarin, gak ada artinya juga, malah dibalas emosi terus!" gumam Dicky.


"Jangan gak datang! buktikan kalau kita memang gak punya masalah apa-apa lagi ..., please," Susan tidak menyadari dirinya terlepas kata memohon kehadiran Dicky dalam pernikahannya nanti, peran itu penting demi menghilangkan image buruk yang selama ini tertanam dalam benak Brian tentang Dicky.


" ..., nanti kupertimbangkan." ucap Dicky dengan malas.


"Jangan enggak, biar hubungan kita terjalin baik ke depannya."


"Iya, lihat nanti apa mamaku juga mau hadir." jawab Dicky datar.


"Dicky. Tolonglah ...," Susan merendahkan kata membujuk Dicky.


Dicky terdiam sesaat, menarik napasnya dalam-dalam.


"Satu permintaan terakhir," mata cokelatnya tertuju tepat menatap Susan dengan intens, tidak ingin melewatkan satu detik pun jawaban Susan atas permintaannya.


"Apa? ... kalau bukan permintaan konyol, aku janji akan sanggupi."


"Aku minta ... satu hari, besok atau lusa kita jalan sama-sama, kamu ... dan aku, hanya berdua."


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2