My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Nostalgia


__ADS_3

Flash back off


Beberapa hari ini segalanya terasa seperti menjalani sebagai tokoh dalam sebuah novel roman yang sering kubaca. Sikap Brian yang penuh kehangatan juga banyaknya kejutan yang ia berikan setiap hari membuatku semakin merasa bahwa kini aku benar-benar diperlakukan seperti layaknya seorang wanita dewasa.


Hingga suatu hari aku menerima pesan singkat dari kekasihku kini, mirip sekali pada kejadian beberapa tahun lalu saat ia memanggilku dalam wawancara konseling.


*Selamat sore, Saudari Susan Adriana, diwajibkan kehadirannya perihal Pendekatan Personal, sabtu pukul 13.00 di kediaman saya saat ini, MC Hotel, Executive Suite Room no ***, atas nama Brian Adney W. status : Wajib.


Aku tertawa melihat pesan singkatnya, karena setelah selesai tugas mentoringnya pada kantor itu, kami berdua hanya sempat bertemu beberapa kali dalam seminggu.


Untunglah minggu ini pada akhirnya rekan kerja ku Haya yang tiba-tiba saja harus menggantikan posisi ku lembur saat weekend. Seharusnya, kali ini aku ditugaskan untuk melakukan Training tambahan kelas bahasa Inggris para karyawan perusahaan PT. Kereta Api Nasional pada kantor cabang kami di kawasan Sudirman nanti.


Entah kenapa tiba-tiba Pak Anton yang notabene adalah teman se-angkatan kuliahku dulu memberikan libur di lembur weekend ku seharusnya.


Sempat aku berpikir ‘Ini ulah Brian lagi’ mengingat Anton juga kenal siapa Brian ketika kami kuliah dulu. Dia Dosen viral yang membopong mahasiswinya dari kerumunan konser musik kampus.


****


Pagi ini, aku bersiap menuju kediaman Brian. Kini aku harus datang kembali ke hotel dan kamar yang sama seperti lima tahun yang lalu. Padahal, Brian sudah menyatakan tidak pernah lagi berpindah-pindah tempat dengan alasan penelitian, ia benar-benar sudah punya rumah tetap yang masih ia rahasiakan padaku.


Tapi, itu bukan masalah besar bagi hubungan kami yang sudah berjalan beberapa minggu.


‘Dasar Brian ... kejutan apa lagi ini’ pikirku yang sudah mulai sering mendapatkan kejutan-kejutan kecil dari nya.


Sebuah lelucon terlintas dikepala, aku mengurungkan niat menggunakan pakaian yang lebih feminin seperti hari-hari ku sebagai pekerja kantor. Aku berniat kembali menggunakan gaya pakaianku saat kuliah dan mendatangi undangan wawancara konseling oleh Brian kala itu. Kaus besar, jaket ber-hoodie, celana jeans dan sepatu kets. Perfect!


‘Aku ingin melihat reaksinya nanti, hahaha’


Kali ini sedikit berbeda. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar rumah, kulihat seorang supir pribadi beserta mobilnya berdiri disamping mobilnya untuk mengantarku ke tempat tujuan. Siapa lagi kalau bukan orang suruhan Brian.


Tapi kali ini bukan Adam yang sudah mulai jadi teman dekatku juga. Dia adalah Leo, Asisten baru Brian yang disebut-sebut impor oleh Adam. Semakin yakin kenapa Adam sering kali mengeluh bekerja sama dengan Leo yang lebih pendiam, tapi juga aksen British nya yang kental menyulitkan kami untuk berkomunikasi dengan baik meski sudah mulai bisa berbahasa Indonesia. Okay, aku percaya dan ikut.


Sesampainya di hotel dan menuju kamar yang sama, aku mengetuk pintu berukuran besar itu kemudian pintu pun terbuka dari dalam secara perlahan. Munculah wajah kekasihku yang tampan.


“Anda tidak telat sama sekali Saudari Susan.” Brian tersenyum menyambutku sembari mengulurkan tangan. Menuntunku masuk kedalam ruangan.


Aku dikejutkan dengan suasana kamar itu. Ini adalah desain yang persis sama dengan situasi terdahulu.


Padahal, sudah lima tahun berlalu dan aku yakin sekali pihak Hotel sudah mengganti model beberapa furniture didalamnya seiring dengan perubahan waktu.


Hanya saja kini TV berukuran lebih besar kini diposisikan persis berhadapan tidak jauh dari sofa panjang disitu.


“Heiii ... , Bri. situasi ini sangat tidak berubah sama sekali! apa hotel ini tidak pernah mengganti suasananya?”


“Hahaha ... kamu masih ingat ya. Benar, dua minggu kami memberi waktu untuk pihak hotel menyiapkan ulang sama persis seperti situasi terdahulu. Adam bekerja baik, mereka bekerja dengan sempurna. Hmm ... Jadi kita bisa sedikit bernostalgia, kemarilah Dear”


Brian duduk pada lengan sofa dan meraih pinggangku yang kini berdiri di hadapannya. Posisi kami terlihat sejajar kala ia duduk, karena jika Brian berdiri di hadapanku sudah pasti tinggi tubuhku hanya sebatas dadanya.

__ADS_1


“Eh, ada apa dengan pakaian ini? hahaha, kamu mau memberi ku kejutan?” tertawa kecil melihatku berpenampilan seperti mahasiswi tomboy lagi “kamu naik apa kesini, apa Leo tidak menjemputmu!”


“Jangan khawatir. Ia menjemputku kerumah tadi, meski agak sedikit bingung mungkin kenapa pacarmu modelnya begini hahaha.”


“Pintar kamu ya,” mencubit kecil hidungku “Ya sudah, lepas lah jaketmu ... nanti kamu kepanasan.”


“Tidak Kak, aku nyaman menggunakan ini” aku tersenyum membalas kata yang sama persis seperti yang kuucapkan dulu.


“Kak? hahaha ... okey, sedang bermain peran ya hmmm ... “


“Hahaha memangnya kenapa?”


“Tidak, terserah kamu saja ... ah, kamu sudah makan siang? mau minum apa, beers?” canda Brian yang juga mengucapkan kata yang sama seperti dulu.


“Sudah kak, aku juga membawa air mineral sendiri” lagi-lagi aku mencandainya dengan panggilan ‘kak’.


“Hahaha dear. Come on ... this is awkward! jangan panggil kakak lagi meski sedang bernostalgia” Brian menggenggam kedua tanganku “just call me Bri, deal?”


“Ah, gak seru kamu” jawabku manja.


“Hahaha, aku hanya merasa seperti memacari mahasiswi ku saat itu, Sue ayolah ... ,Deal?”


“Okay deal. aaahh padahal kan memang aku bekas mahasiswi mu kan, aneh saja kalau kita akhirnya begini, nggak tau nya diam-diam suka.”


“Pandanganku padamu sudah sangat jauh berbeda seperti dulu, ikuti saja permainan ini kecuali itu, ya?”


Brian mencium tanganku.


”Okay, sekarang ... bagaimana kalau kita nonton ... atau main game?”


“Game apa? nontonnya nanti saja”


“Ahh apa ya, Uno?”


“Terserah kamu”


“Kita kan jarang punya waktu luang begini. Okay, duduklah disofa aku akan ambilkan mainan nya”


Brian bangun dari duduknya, meraih remote yang tergeletak di meja, seketika muncul musik yang sama seperti kala itu.


...Alunan saxophone Dave koz ‘Careless whisper’....


Aku duduk di sofa panjang dan sesaat kemudian Brian membawa game yang dimaksudkan, beserta dua gelas minuman Jus strawbery dan sekotak cherry rum truffle.


“Jus strawbery? cokelat? ini valentine? hahaha”


“Orang bilang cokelat membuat relaks, jus strawbery untuk mengimbangi rasa manisnya saja, dan terlihat perfect ku rasa”

__ADS_1



“Kamu kaya Abege Bri”


“Jangan protes, aku cuma tau ini. ayolaah ... jangan mengejekku terus, aku sudah berusaha Sue”


“Iya, aku hanya bercanda honey, terima kasih karena mau belajar, kamu pacar yang hebat.”


“Hahaha, stop merayuku, bahaya”


“Oh, janganlah ... hahaha”


Kami berdua sangat asik dengan keseruan bermain game kala itu. Selesai bermain game, kami masih duduk bersama di sofa. Ku sandarkan kepalaku di lengannya sambil menonton film yang mengangkat cerita tentang penyakit mental OCD berjudul ‘As Good As It Gets’.


Ia sambil mencoba menjelaskan perbandingan gejala yang muncul dengan dirinya, memanglah cukup jauh beberapa indikatornya. Juga bercerita sedikit hal yang dialaminya saat di London. Dan selama berlangsungnya kebersamaan itu, tangan kami selalu saling tergenggam.


Setelahnya, kami pun memesan makanan untuk diantar ke kamar, kemudian Brian membiarkanku beristirahat setelah beberapa keseruan aktifitas kami sedari tadi.


Aku menolak untuk beristirahat di tempat tidur setidaknya berusaha menghindari segala kemungkinan yang tidak baik pada kami. Memilih merebahkan diri di sofa, kala ia sempat mengajak ku melakukan hypnotherapy sama seperti yang ia lakukan dulu.


Saat dulu memang kugagalkan, kali inipun aku menolak konsentrasi tapi malah tertidur pulas. Mungkin akhir-akhir ini terlalu lelah bekerja dan selalu sulit mendapatkan tidur siang.


Nyaris dua jam kemudian aku terbangun dan menemui diriku yang terlelap dengan posisi kepala di pangkuan Brian. Ia yang juga turut memejamkan mata hingga kepalanya sedikit mendongak tersandar di sofa, sepertinya ia juga tertidur.


Aku memandanginya wajahnya yang tertidur saat ini dan refleks tanganku memegang pipinya yang terlihat merona untuk takaran pria dewasa ia seperti anak kecil yang manis, ketampanannya nampak sempurna dengan dagunya yang terbelah, bibirnya yang tipis dan merah karena tidak pernah merokok.


Pria ini lebih terawat karena hidupnya yang sehat dan bersih. Seketika merasa jauh berbeda dengan diriku yang tidak pernah merawat wajah kesalon hanya mengandalkan sabun cuci muka dan krim siang.


Aku menyentuh pipinya perlahan kemudian ia terbangun membelalakan mata. Terkejut seketika aku menarik tanganku kembali.


“Eh, maaf ... aku tertidur juga”


“Hmmm ... kamu lucu kalau tidur, seperti anak kecil”


“Apa ... kamu sudah bangun dari tadi?” ia memijat-mijat tengkuk lehernya.


“Iya, belum lama tapi, kenapa aku juga tertidur ya?”


“Hmm ... habis makan kamu lelah, atau mungkin karena cokelat itu. Kamu jarang tidur siang makanya sekali dapat peluang weekend aku minta waktumu, tidak apa-apa kan? lagipula aku senang kamu bisa beristirahat di pangkuanku”


“Aku juga senang berada di sampingmu, terima kasih telah menyiapkan semua ini Bri.”


“You’re welcome, aku yang lebih senang lagi melihatmu bahagia seperti ini” ia mengusap pipiku.Lagi lagi ia menatapku dengan cara seperti ini, aku nyaris tidak mampu beranjak dari pangkuannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2