My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
S2 : Kejutan Weekend


__ADS_3

Weekend pun tiba, pukul sepuluh pagi Brian datang menjemput Susan ke rumahnya. Sesuai dengan keinginan Papa, Brian meminta izin pada kedua orangtua Susan untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat. Dengan ketentuan tidak lebih dari pukul sembilan malam.


Selama perjalanan Brian tidak mengatakan apa-apa, meski berulang kali Susan bertanya tapi Brian tetap menggelengkan kepala menutupi tujuan mereka.


Sampailah mereka pada kawasan Estate di daerah Cibubur, tidak jauh dari kediaman Susan.


"Bri, kita mau kerumah siapa?"


"Banyak tanya kamu 'ah. Hahaha"


"Yeeeee ... Mau kubilang penculik?"


"Emangnya aku mafia apa"


"Hhhhh ... Awas ya kalau aneh-aneh"


Brian tersenyum tanpa memberi jawaban.


Sampailah mereka pada sebuah rumah besar di posisi Hook kedua sisinya, rumah itu terlihat semakin besar dengan ukuran dua rumah jadi satu di kawasan Estate itu.



"Bri, serius. Aku gak mau salah kostum nih kalau ini rumah kolega atau pamanmu itu"


"Tenang aja, gak ada siapa-siapa kok"


"Maksudnya?"


"Ssssttt"


Gerbang terbuka otomatis disambut security personal yang berdiri di depan pos penjagaan. Ia menyapa Brian dengan membungkukkan tubuh sedikit saat kendaraan kami masuk memutar dan Brian memarkirkan mobilnya tepat di pelataran garasi yang mungkin saja luasnya cukup untuk empat kendaraan di luar garasi. Sebuah taman segaris mengelilingi rumah itu


Brian dan Susan keluar dari mobil. Dan Susan cukup terperangah dengan keindahan rumah bergaya klasik Eropa dengan cat serba putih itu.


"Rumah ini belum selesai pembangunan ya 'Bri?"


"Belum, baru eksterior sebagian ruangan belum"


"Lho, ini ... Proyek Uncle kamu?"


"Dulu kamu sering tanya dimana aku tinggal, rumah ini tidak besar dibanding rumah Uncle. Tapi, nanti aku akan tinggal disini, ini hasil jerih payahku"


"Ha? Serius? Ini ... Ini ... Punya kamu!"


"Biasa aja dong, hahaha. Iya, punyamu juga nanti, gak apa-apa ya segini aja. come on dear ... "


"Segini—aja?!"


'Jawaban apa itu! bahkan rumahku lebih kecil empat kali lipat dari ini, segini aku bisa bawa keluarga besar, tau!' gumam Susan dalam hati.


Brian menggandeng tangan Susan dan mengajaknya masuk ke dalam rumah itu. Masih tercium bau cat yang kuat saat memasuki ruangan pertama.


"Tadinya aku gak mau kasih tau kamu sekarang, tapi ... Karena kamu gak sabaran jadi segera aku ajak kamu kesini"


"Eh, aku gak nanya kamu beli rumah atau enggak 'Bri, dulu kan kamu seringnya tinggal di hotel, terus di rumah Uncle, ya aku gak tanya-tanya lagi 'kan?"


"Iyaaa iyaa ... Cerewet" jawab Brian sambil mencubit ujung hidung Susan.


"Bri, kamu gak bercanda 'kan? Ini uang hasil halal 'kan?"


"Hahaha ... Pertanyaan macam apa sih? Kamu itu negatif thinking aja sama aku. Ya halal lah, kamu pikir aku jual narkoba apa"


"Hmmm ... Gak ada tampang sih, tapi kalau di film-film orang kalem kayak kamu itu dibelakang taunya mafia"


"Kebanyakan nonton, otakmu jadi kotor. Hahaha" Brian merangkul punggung Susan.


Mereka memasuki bagian ruang utama dari rumah tersebut. Melihat beberapa furniture yang sudah terpasang seperti permintaan Brian pada Adam untuk mempersiapkan segalanya sebelum kedatangan Susan.



"Sorry dear, tidak ada putih lagi. Suasana ini sengaja dibuat simpel untuk aku menerima klien dan kolega-kolega ku nanti"


"Oh, gitu ya. Hmmm ... Jadi spesial untuk kolega mu itu?"


"Tentulah, mereka kan tamu. Kita juga harus netral dengan selera, kebanyakan mereka juga laki-laki kok, tenang saja"

__ADS_1


"Jadi aku gak boleh muncul kalau kolega mu datang?"


"Gak, nanti kamu ajak ngobrol jadi kemana-mana urusannya"


"Eh, jangan mentang-mentang aku gak tau urusan kamu apa ya, jadi aku bodoh begitu"


"Jangan, kamu jangan ajak mereka ngobrol, nanti mereka nyaman sama kamu gimana?"


"Loh, bagus dong"


"Gak ah, nanti mereka seneng sama kamu, repot aku"


"Yeeeeeh ni orang, apa sih. Hahaha"


"Bercanda, ya kamu aku perkenalkan nanti sebagai ..., Nyonya William."


Brian berbalik badan menghadap ke arah Susan sambil memegang kedua bahunya.


Mereka berdua saling memandang dan tersenyum.


'Setaaaan, kuharap kau tidak mengganggu kami berdua' gumam Brian dalam hati saat menatap Susan.


Brian menghela napas kasar.


"Huhh! Okey, next room"


"Kena—pa kamu?"


"Gak apa-apa"


Setelah berbincang-bincang, mereka 'pun kembali berjalan menuju ruang keluarga.



"Ini baru suasana yang calm khusus buat keluarga kita, yaaah kalau kamu masih tidak suka, kita bisa ganti furniture dan interiornya"


"Gak harus aku kok 'Bri, ini selera kamu. Harusnya aku ikut aja asal gak aneh banget. Macam selera vampire atau mafia. Hahaha"


"Sini, duduk disebelahku" Brian duduk di salah satu sofa dan mengajak Susan duduk di sebelahnya.


"Aku ikut aja 'Bri. Tapi apa kamu gak terpikirkan saat melihat desain rumah ini? Ini terlalu besar gak sih buat aku"


"kebayang gak, kalau aku lagi sendirian disini"


"Memangnyaaaa kamu mau kita cuma berdua disini?" ucap Brian sambil memainkan ujung rambut Susan, "kamu akan ditemaniii ... Anak-anak kita nanti, ya 'kan?" tambahnya sambil berbisik di telinga Susan.


Susan menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.


"Betul juga, kamu ... Sudah berpikir sampai kesitu, kita nikah aja belum, 'Bri"


"Ya nanti, semoga segera. Jangan menunda lagi. Kamu gak pernah memberi jawaban yang jelas ke aku soal itu" Brian menatap Susan penuh tanya.


Mereka saling menatap mencoba saling membaca hati, apakah hubungan ini akan berjalan serius atau kah hanya kesenangan sementara.


"Aku bukan tidak pernah kasih jawaban ke kamu, kamu baca hati kamu sendiri, apa aku pernah menolakmu. Masalah pernikahan, banyak syarat yang harus kau lalui, dan akuu ... Ragu kamu mau menerima persyaratan itu"


"Beri aku syaratnya! aku akan segera lakukan apapun itu"


"Kau yakin?"


"Totally ... " Brian mendekatkan wajahnya perlahan, seakan tak ada yang bisa mencegah perasaan itu, Susan pun tidak mencoba mundur saat wajah mereka semakin dekat ... Dan semakin dekat lagi hingga kedua bibir itu bersentuhan dengan sempurna.


Sulit mencegah kala situasi kembali mendukung seperti ini. Tidak ada siapapun yang menghentikan kemesraan mereka berdua.


'Aku salah! Aku lupa lagi!'


"Bri! Sudah!" Susan melepaskan ciuman itu seketika, "ingat janji kita waktu itu, jangan ada situasi lagi!"


Brian menghela napas kasar.


"Huuff! Ya. Sorry" Ia membalikan badan membelakangi Susan.


"Kita ngobrol yang lain aja, Ya" pinta Susan.


"Oke!" Brian terdengar sedikit kecewa menahan diri.

__ADS_1


Susan melirik kecil melihat kekasihnya agak canggung dan gusar. Susan pun mengalihkan pembicaraan agar Brian sedikit lebih tenang.


Cukup lama mereka bercakap-cakap diruangan itu, kini mereka berjalan lagi menuju lokasi lainnya. Halaman belakang yang belum tertata sempurna masih banyak gundukan tanah, peralatan dan bahan-bahan bangunan yang ditinggalkan pekerjanya kala weekend. Dan akan dilanjutkan lagi di hari biasa.


Menuju lokasi dapur dan ruang makan, dapur bergaya klasik dengan furniture berwarna putih turut menjadi ide Brian agar Susan lebih nyaman berada di rumah nantinya, meski Susan tidak berharap untuk menjadi Ibu Rumah Tangga seutuhnya, tapi Susan meyakinkan bahwa ia akan tetap memasak untuk suaminya nanti, tanpa turun tangan para pembantu dalam meracik masakan itu sendiri.


Kemudian tidak ada lokasi lain lagi, Sisanya adalah ruang kerja dan kamar yang berada di lantai dua Rumah tersebut.


"Dear, are you ready?"


"Apa?"


"This is our bedroom"


"Sorry. It's yoooouur bedroom honey, not me"


"Iya, nanti. Coba kamu masuk duluan. Ini kejutan dari Adam"


"Okay" Susan membuka pintu kamar itu perlahan. Sedangkan Brian menunggu diluar berharap Susan terkejut dengan persembahan ide dari Adam.


Cekrekk ...


"Whattttt theeee ... " Susan nyaris berteriak meninggikan suara.


"Hmm. Kamu suka?" Brian tersenyum-senyum diluar berharap Susan terkejut karena keindahan ruangan itu.


"Hahaha ... Hahaha kubilang juga apa, kukira kamu benar-benar memang mafia atau drakula! Hahaha"


"WHATTT!" Brian membalikan badan dan mengikuti Susan masuk.


Dilihatnya satu tempat tidur bergaya gothic. Sesuai dengan isi ruangannya. Beserta tirai hitam yang jauh sekali dari selera Brian dan Susan.



"Eh, benar ya 'kan? kamu ..., Mafia! Hahaha" Susan tertawa terpingkal-pingkal akibat kejutan selera Adam.


"Sial!!" baru kali ini Brian terdengar mengumpat kasar. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Adam, "Hei! Kamu buat kamarku seperti apa ini!! Kamu punya selera romantis atau tidak 'sih!"


Terdengar jawaban Adam yang sengaja di loud speaker oleh Brian.


Adam [ Ya kan, tuan mintanya romantis. Kan seru ada misteriusnya gitu tuan ]


Brian [ Sudah gila kamu ya! Tau tidak, Susan saja sampai tertawa begitu! Ini gaya apa?! ]


Adam [ Gothic tuan ]


Brian [ Selama ini yang kamu liat saya seperti apa?! kamu pikir saya Drakula atau mafia, bodoh kamu! Besok kuminta kamu ganti ini semua dengan warna yang normal, tanya saya! ]


Brian mematikan ponselnya dengan geram, semakin emosi mendengar Susan yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


Baru kali ini Brian terdengar membentak Asistennya dengan nada keras seperti itu. Tanpa menghiraukan kekasihnya yang sedang marah besar, Susan masih saja tertawa-tawa dengan puasnya.


"Kupikir, memang seleramu begini Bri. Hahaha kamu berbeda sekali, sumpah. Hahaha ... Hahaha"


"Dia pikir aku drakula apa!" Brian mengumpat kecil sambil menarik semua tirai hitam di sekeliling tempat tidur itu. Dan itu semakin membuat Susan tertawa.


"Hahaha, Drakulaaaaaa ... Omaygaaaat. Hahaha"


Brian melirik kesal ke arah Susan dan menghentikan aksinya mencopot tirai-tirai itu. Kemudian berjalan cepat menghampiri Susan.


"Apa? Sini kamu! Bilang apa tadi! Drakula, mafia. Sini, kugigit kamu nanti"


"Hahaha. Eh, apa sih. Hahaha"


Brian menghampiri Susan dan mulai bercanda ala-ala Drakula yang hendak memangsa. Canda itu terlarut hingga keduanya akhirnya tertawa bersama. Tanpa sengaja Brian menjatuhkan Susan yang masih tertawa ke tempat tidur itu. Tapi seketika tawa mereka terhenti saat kini Brian memenjarakan kedua tangan kekasihnya yang dalam posisi terjatuh ditempat tidur tadi.


Brian dan Susan yang wajahnya memerah akibat kesal bercampur tawa tadi menghela napas dalam dan mendekati tubuh kekasihnya itu. Mereka saling menatap dalam dan mulai terasa canggung.


Napas mereka berdua yang lelah tertawa kini berubah menjadi gejolak yang lain.


Brian menunduk mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi hingga nyaris tubuh mereka bersentuhan. Kemudian membisikan ...


"I—wan't—you ... I really wan't you ... "


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2