My Complicated Love : Triangle Love + You

My Complicated Love : Triangle Love + You
Hotel 2


__ADS_3

“Terserah apa katamu!! Mana ... mana dia!! ... tidak usah berbasa-basi, mana orang sok berkuasa itu!! beraninya cuma dengan orang suruhan. Atau jangan-jangan ... Bapak yang tadi datang kerumah saya hingga membuat Ibu saya stres, dan panik?!”


“Saya hanya menjalankan tugas agar proses hukum anda berjalan semestinya, dan BAP yang sudah kami proses. Jika anda ingin melakukan pembelaan saya sarankan anda mencari pengacara terbaik yang anda miliki, karena ... mungkin kemenangan anda sangat tipis, Saudara Dicky! bagaimana? sudah siap berada di balik jeruji besi. Itu mudah, tidak perlu mengeluarkan uang banyak, bukan?” ucap Adam dengan nada mengejek.


“Sombong sekali kau!!,” ucap Dicky yang terpancing emosi karena provokasi kata-kata Adam.


Dicky mendorong Adam dengan satu tangannya, dan cepat ditangkap oleh Adam. Tiba-tiba terdengar suara Brian dari kejauhan, bergema dalam area loby.


“Adam!” panggil Brian yang baru saja keluar dari lift dan melihat kejadian itu.


Brian melangkah ringan, selalu menampilkan sikap tenang juga kharisma tersendiri dengan tubuh tinggi serta ketampanannya. Langkahnya yang berwibawa, dan elegan menunjukkan Intelektual karena sikapnya yang tidak mudah terpancing situasi.


“Ah. Muncul juga dari persembunyian! badanmu saja besar ternyata nyalimu tidak tidak sesuai, ya! bertemu saja harus diwakili bodyguard kacangan!”


Sorot mata Adam kembali tajam ke arah Dicky yang mulai memprovokasi dengan kata-kata. Mungkin saja satu kata lagi terlontar mampu membuat Adam mematahkan hidung pemuda itu dalam satu kali pukulan.


“Jaga bicaramu!” ancam Adam kepada Dicky. Dia baru terhenti saat Brian sudah mendekat pada posisi mereka berdua.


“Saya sudah katakan,  jaga sikap untuk harga dirimu juga, Adam. Jangan buang energi untuk menjawab perkataan yang tidak penting.” Brian memandang Adam, lalu menggeser pandangannya ke arah Dicky sambil memasukan tangannya dalam saku celana “jangan bersikap seperti preman jika merasa anda orang berpendidikan, ini bukan kampus, kalau suka berkelahi baiknya anda salurkan bakat anda ditempat lain .... Hhmm ... kita bertemu lagi saudara Dicky, apa kabar?” ucap Brian tenang sambil berusaha tersenyum dalam tatapan tajam.


“Tidak perlu basa-basi, Pak! kita sama-sama tau sedang terlibat dalam urusan apa, dan yang Bapak lakukan itu sudah kelewat batas!” tegas Dicky mulai meninggi


“Hmm ... Adam!” Brian menoleh, dan memerintahkan Adam “Private room!.” Memberi kode meminta ruangan khusus apabila bisa saja Dicky mulai terlihat tidak terkendali.


“Baik!” Adam berjalan cepat ke arah Front Office untuk meminta satu ruangan khusus, yang biasa dijadikan tempat diskusi oleh Brian, dan para Dosen saat berada di luar kampus.


“Tidak perlu!! kedatanganku hanya ingin memastikan agar Bapak tidak lagi mengganggu keluargaku! silakan saja  kalau mau memperkarakan masalah ini, tapi setelahnya jangan lupa bawa wanitamu itu jauh-jauh dariku. Lakukan apa yang Anda inginkan dari Susan selama ini, aku sudah melepaskan dia!”


“Tuan!!” Adam memutar tubuhnya, dan cepat menghampiri Brian, karena dilihatnya Dicky mulai terpancing emosi, dan bisa saja bertindak kasar. Adam yang hendak menyalip memasang badan di antara keduanya, dihalangi Brian  yang mengangkat sebelah tangannya agar tidak mulai terpancing emosi.


“Wanita apa? maksudmu Susan? Hahaha ... lucu sekali. Kecemburuan Anda membabi buta begini, menyimpulkan hal sesederhana itu?“


“Yaa ... siapa lagi yang punya panggilan khusus bagi anda, Miss apa pak? Missorry ya?” ejek Dicky.


Brian terhenyak mendengar ejekan Dicky, yang ternyata tahu tentang panggilan khususnya untuk Susan. Wajah yang tadinya tenang seketika berubah menegang, hingga merapatkan rahangnya, lalu membalas dengan tatapan dalam.

__ADS_1


‘Sial, anak ini cepat sekali banyak tau. Apa aku pernah sekali terlepas menyebut nama itu di depannya!’


“Hmm ... tidak penting apa julukan saya untuk Susan, sayangnya yang Anda tidak tau, semua peserta konseling sengaja saya buat panggilan khusus bagi saya sendiri, sesuai problem psikologis subjek. Tidak saya sangka anda se detail itu, ya.”


“Terserah lah apa kata, Bapak! memang Anda pandai bicara, sampai-sampai untuk seorang gadis seperti Susan bisa berani mendatangi kamar hotel Bapak berkali-kali, menang banyak ya, Pak? sudah berapa mahasiswi yang datang kesini? hebat. Di balik penampilan Anda ternyata diam-diam predator juga,” tukas Dicky yang tidak henti menyerocos memancing emosi.


“Jaga mulut anda!!” Bentak Brian. ‘Kurang ajar dia menghina ku sembarangan!' gumam Brian dalam hati. “Jika sudah tidak ada urusan lagi sebaiknya Anda segera pergi dari sini. Saya tidak harus memberi laporan ke pihak keamanan Hotel, karena Anda bertujuan melakukan keonaran, kan?”


Adam yang sedari geram dengan wajah memerah, dan menahan diri memulai tindak kekerasan. Merasa akhirnya mendapat kesempatan untuk menarik Dicky keluar dari hotel.


Adam memegang keras lengan Dicky, dan menariknya mundur untuk dihempaskan keluar area.


“Lepas!!” bentak Dicky seraya memberontak dari genggaman kuat Adam. “Saya bisa jalan sendiri!! Ingat, Pak. Kalau sekali lagi bapak mengganggu ketenangan keluarga saya, saya jamin Bapak akan menyesal!”


Baru saja Dicky hendak melangkahkan kaki, Brian memanggilnya kembali.


“Hey, saudara Dicky!”


Dicky setengah membalikan tubuhnya dan memandang Brian dengan sinis.


“Tidak. Hanya sedikit pesan. Perbanyak menonton, dan membaca sesuatu yang edukatif, itu tugas mahasiswa. Jangan membiasakan diri dengan hal negatif, akibat terlalu banyak nonton drama, konsumsi film dewasa. Saya tidak aneh, karena nampaknya ... itu sudah merusak otak Anda.” ejek Brian dengan ekspresi dingin sambil mengetuk bagian pelipisnya sendiri dengan jari telunjuk, lalu berbalik dan berjalan tanpa beban.


Sekali lagi Dicky berusaha mengejar dan ingin sekali memukul Brian. Akan tetapi pihak security cepat mencegah situasi itu, karena mereka telah mengawasi dari jauh, dan siap berjaga-jaga jika terjadi tindak kekerasan.


****


Brian masuk ke dalam kamarnya sambil mendorong pintu dengan keras, hingga membentur di sisi dinding. Adam yang mengikuti berjalan di belakang, tersentak kaget melihat tuannya yang selalu terlihat tenang, bisa meluapkan kemarahan dengan tenaga besar seperti itu.


‘Tuan ternyata tenaganya besar juga, sekali hempas satu tangan begitu untuk pintu ini yang cukup tebal dan berat, kalau rusak bagaimana itu’ Adam jadi memperhatikan ukuran pintu kamar suite itu dengan seksama saat melewatinya.


Brian menghempaskan dirinya di sofa, menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Adam bergerak maju duduk dengan ragu-ragu menegur Brian yang tengah termakan emosi. Seakan-akan takut Brian akan menghempaskan dirinya juga.


“Ehh ... Tuan. Apaa ... perlu saya ambilkan minum?”

__ADS_1


Brian tidak menjawab pertanyaan Adam, masih menghela napas berat dan perlahan dibalik wajah yang ia tutupi.


‘Jangan terlalu memaksakan obsesi, Tuan.  Tidak semua orang ingin hidupnya anda usik’ Adam bermonolog, Dia bergeming memandang Brian yang lelah bercampur emosi.


“Tuan. Untuk satu kali ini, saya terpaksa lancang mengutarakan pendapat saya terhadap Anda. Maaf, apa tidak sebaiknya Anda tinggalkan ini semua, demi ketenangan. Anda sudah bertahun-tahun memedulikan hidup orang lain. Cobalah jalan lain, pedulikanlah hidup Anda sendiri.”


Hening ... tidak ada satu pun kata, bahkan hanya suara napas halus Brian terdengar di antaranya.


“Tinggalkan saya sendiri, Adam. Kembalilah ke kamarmu, saya ingin sendiri di sini,” ucap Brian dengan nada suara pelan dibalik kedua telapak tangannya.


“Baik, jika Anda butuh--,“ ucapan Adam seketika terpotong.


“Ya!” jawab Brian cepat, tanpa sedikit pun ada menggerakkan tubuhnya.


Adam bangun dari duduknya, memberikan Brian keleluasaan untuk menenangkan diri. Sesaat Adam menutup pintu, Brian bangkit, dan bergegas menuju kamarnya.


Brian mendekati lemari pakaiannya, seperti hendak mengambil sebuah botol berbentuk persegi di balik tumpukan lipatan pakaian. Dia memandangi botol berisi cairan berwarna coklat keemasan, yang beberapa waktu lalu diberikan oleh salah seorang kolega. Tapi keraguan membuatnya menaruh botol itu kembali, dan menutup pintu lemari rapat-rapat.


Dia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, memendam wajahnya di bantal. Brian masih berusaha meredam kemarahan yang hampir tidak bisa diredam..


Tidak berselang lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel di saku celananya. Brian sempat mengabaikan beberapa saat, lalu dia meraih ponsel itu, dan membaca pesan itu dengan seksama.


Missorry [Kak Brian, maafkan sikapku yang berlebihan pagi tadi, aku hanya minta satu hal, dan setelahnya aku gak akan ganggu Kak Brian lagi. Aku sangat berharap kakak bisa mengubah keputusan untuk menuntut Dicky secara Hukum, kumohon bebaskan dia. Sebagai gantinya, aku siap menjadi penebus kesalahan Dicky. Karena kini aku sadar, aku mencintainya dengan sepenuh hati]


Rahangnya mengeras, kemarahan Brian kembali memuncak. Dia melempar ponsel itu ke sudut ruangan, tidak menyangka dengan pesan yang baru saja dia baca. Dia kembali memendam wajahnya pada bantal. namun tak menunggu lama dia malah bangkit dari rebah, dan bergerak menuju lemari utuk mengambil botol minuman Dia memutar perlahan tutup botol itu, dan tanpa keraguan lagi meneguk isi minuman sambil terduduk di sisi tempat tidur.


Pikiran lain malah terlintas sesaat menatap lama cairan di dalam botol itu. Dia terus meminumnya perlahan tanpa henti, hingga nyaris setengah terminum olehnya. Seketika Brian menyadari satu hal penting yang akan menjawab teka-teki hidupnya. Brian mengernyitkan dahi, menggenggam kuat botol di tangannya.


‘Kalau memang selama ini aku sakit ... kenapa aku masih bisa minum ini.’


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2