
Susan semakin terpojok dan merapatkan tubuhnya ke pintu, menodongkan kap lampu ke arah wajah Dicky yang semakin mendekat, sekarang mungkin setengah meter langkahnya, Dicky meraih bagian guci lampu itu dengan paksa, hingga terlepas dari genggaman tangan Susan yang lemas dan gemetar, kemudian ia meletakkan lampu itu tepat dibawah kakinya.
Melihat tubuh Istrinya semakin menyusutkan dirinya yang terpojok dia bukan mengurungkan niatnya untuk mundur malah semakin melangkah maju.
Sekarang Dicky sudah ada berada tepat didepannya sampai nyaris bisa melihat gerak nafas berat di balik kausnya yang berwarna hitam, wangi parfumnya yang sangat ia kenali menyeruak masuk kedalam penciuman, tepat sekali dan semakin mampu membuat copot jantung kali ini.
Tubuh Susan merosot turun merapat ke bawah pintu hingga ia terduduk memeluk dirinya sendiri, lututnya lemas tidak berdaya, beberapa ingatan tentang kejadian itu terlintas berulang-ulang. kini ia dalam posisi yang hampir sama.
Tidak kuat menahan rasa takut melihat sosok didepannya ia memejamkan mata sekuat-kuatnya.
“Kau mau pisang??!.” bernada datar
“A ... aaa ... pa?? Pi ... pi—sang apa ... “
‘PISANG??!! APALAGI MAKSUDNYA INI!’ Susan masih memejamkan matanya erat-erat.
Bagaimana tidak kalau saja dia membuka matanya, posisi lurus pandangannya sudah pasti bukan pemandangan yang enak, dimana ia terduduk dengan posisi pria itu berdiri tepat di depan wajahnya. dan harus pantang mendongak dalam posisi seperti itu.
‘Aku tidak butuh paket Combo, Bodoh!’ Susan
Rusak sudah semua logika.
Tiba-tiba bak mencium ular berbisa, Dicky menunduk dan mencium pucuk kepala Susan.
CUP!
“Ini! kau mau pisang tidak?” merogoh saku celana trainingnya dan menyodorkan pisang ke depan wajah Susan.
Seketika Susan membuka mata
‘Hhhh ... lega rasanya ... tidak tau bagaimana rasa orang melahirkan tapi mungkin ini mirip orang sedang kontraksi, campur aduk rasa ditubuhku.’ Susan
“Kotor saja pikiranmu itu! Hahaha”
mengacak-acak rambut pendek Susan.
Susan menepisnya sekali lagi.
“Lagian ... siapa suruh datang-datang dengan cara menyeramkan begitu, kalau mau menawarkan pisang ya bilang saja dari awal!!.”
“Jadi ... aku menakutkan ya sekarang!.”
Dicky mengembalikan posisi lampu ketempat semula dan berjalan kearah karpet, mengambil satu bantal diatas tempat tidur Susan dan meletakkannya dibawah.
“Pikir saja sendiri!! kau kan penjahat!” jawab Susan ketus.
“Iyaa yaaa ... sudah, aku sedang malas berdebat! niatku baik, aku lihat kau belum makan malam, kupikir daripada kau lapar lebih baik makan buah, eh adanya pisang, salah?” Dicky merebahkan tubuhnya diatas karpet dan menutupi wajahnya dengan bantal.
“Nih, aku tidak mau! kau taruh pula di saku kan tadi?? tidak mau!”
__ADS_1
“Yakin tidak lapar?? ... Istri??”
“HiIiiih ! Jangan panggil aku dengan panggilan Istri lagi ya! Awas kamu!”
Susan bangkit dan menendang ujung kaki Dicky yang sedang meringkuk dikarpet.
‘Kalau dia memang tidak ada niat apa-apa kenapa napasnya begitu berat, apa dia sakit?’ Susan
“Sudah jangan ganggu, aku bilang kan menumpang tidur, bukan menidurimu!.” masih menutupi wajah dengan bantal.
“Tidur sana sendiri!! penjahat!” Susan melangkah menjauhi Dicky berniat keluar kamar.
“Hei Istriku mau kemana, bukankah ini malam pengantin? Hahaha ... “ Dicky melongok kecil dari balik bantal terus mengejek Susan.
“Nih malam pengantin!!” melempar pisang tadi ke arah Dicky, lalu bergegas keluar untuk mengambil minum.
“Hahaha ... .“ tertawa puas mengerjai Susan.
‘Kalau saja kuteruskan niatku ... tidak mungkin kau bisa keluar kamar dengan cara seperti itu.’ Dicky
Malam itu Susan terpaksa terjaga di depan TV, merasa insecure berada didalam kamarnya sendiri.
‘Aah ... ngapain dia disana sih, aku kan jadi tidak berani tidur dikamar, ide paling gila menggabungkan pelaku dan korban dalam satu kamar, ada-ada saja kakakku ini,
‘oiya ... ponselku!!.’ Susan
Tiba-tiba ia teringat dengan ponsel yang ia tinggal ditempat tidur, tapi masih berpikir bagaimana caranya masuk tanpa membangunkan si pemilik pisang tadi.
Sekian lama Susan dengan bimbang untuk mengambil ponselnya kembali, pada akhirnya ia nekat mengendap-endap pergi ke kamarnya kembali dengan tekad kuat dan mental yang cukup, ketimbang menemui ponselnya tiba-tiba dijawab oleh Dicky pada saat Eli bisa saja menelepon lagi.
CEKK —Klekkk
Susan mengendap-endap masuk dengan langkah perlahan memasuki kamar yang sudah nampak gelap, hanya cahaya lampu dari arah luar yang pias menyorot masuk kedalam ruangan itu.
Melihat mahluk bongsor itu masih tertidur di karpet bawah tempat tidurnya. ia tertidur pulas, nampaknya ia mampu mengikuti peraturan kali ini.
Saat Susan sampai di sisi ujung tempat tidurnya, ia berhasil mendapatkan ponselnya tanpa membangunkan Dicky.
Namun tiba-tiba ...
TAPPP
Pergelangan kakinya ditangkap dengan kuat oleh tangan pria itu. ia mencoba melepaskan diri dengan mengibas-ngibaskan kakinya agar terlepas, namun apa daya tubuhnya malah jatuh ke tempat tidur kehilangan keseimbangan, dan tanpa basa-basi tubuh besar itu bangun dan menimpa berada di atas tubuhnya, memenjarakannya sekali lagi, Dicky menahan berat tubuhnya dengan menekuk kedua siku tangannya disamping, kini wajah mereka persis berhadapan.
DEG
“Kkaauu mau ap—aaa ... “ Susan mulai panik tidak bisa berkutik terlebih saat tangannya mulai tertahan.
“Kenapa kau kembali lagi kesini, mau menyerahkan diri?.” menatap dalam.
__ADS_1
“Aku maa—u mengambil ponsel ...”
“Mau apa dengan ponsel tengah malam begini, mau Video Call lagi??”
“Aa—ku ha—nya mau cek pesan.” jantungnya berdegup kencang. panik.
Kini napas pria itu kembali terdengar berat, ia mengambil ponsel di tangan Susan dan melemparnya jauh lagi ke atas tempat tidur.
“Jangan!”
“Jangan apa ... bukannya menemani suami tidur malah mau bermain ponsel.”
“Iya! Aa—ku akan tidur disini, ta ... tapi aku jangan di apa-apakan ya, aku mohon.”
“Hmm ... di apa-apakan bagaimana maksudnya?.” tertawa kecil, napasnya semakin menderu berat di depan wajah Susan.
Mereka bertatapan.
“Hhhh ... sudahlah jangan banyak bicara!”
Hummppt
Kini Dicky membungkam mulut istrinya dengan mulutnya sendiri, bermain dengan gigitan kecil tanpa balasan sama sekali.
“Lakukan seperti yang kau lakukan kemarin di hadapanku, balas!” berbisik halus menghentikan ciumannya.
Susan menggeleng cepat tanpa berkata-kata.
“Atau ... aku pastikan kau hamil sehingga kau lebih tidak punya harapan?”
Susan mengangguk cepat daripada lebih berbahaya lagi.
‘Harus membalas bagaimana ini’ Susan
Sekali lagi Dicky mencium istrinya dengan lebih dalam lagi seperti menikmati hidangan pembuka, dengan berat hati Susan mengikuti permainan suaminya kali ini, ia kini membalas ciumannya secara perlahan bahkan lebih lagi hingga sesuai dengan perintahnya.
Sebagaimana lama yang diinginkan Dicky saat itu nampaknya durasi kali ini melebihi yang kemarin. Sekalipun itu adalah perasaan kontras yang meluap dari mereka, keduanya enggan berhenti dari permainan saat itu.
Tangan yang terpenjara itu perlahan dilepaskan dan saling menggenggam kuat, kemudian seketika Dicky menarik tubuhnya kembali, berdiri dihadapan Istrinya yang menghela nafas setelah tidak mampu membantah keinginannya tadi.
Dicky segera berjalan menyalakan lampu kamar dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
’Aku tidak perduli apa yang kau lakukan di dalam, cukup kali ini aku terjebak akan keinginanmu lagi, dan maafkan kalau bukan kau yang kubayangkan saat itu’. Susan
Bersambung
Thor pusing .... thor pusing ...,ngebayanginnya aja susah apalagi nulisnya, maap Thor kurang pengalaman🤣
udah ngantuk sambil batuk-batuk jam 3 pagi pusing sendiri🤦🏼♀️
__ADS_1
curhat