
Aku mengangkat kepalaku karena terhenyak oleh suara yang kudengar barusan. Sepasang mata cokelat itu sedang menatapku kini, entah bagaimana dan kapan ia masuk tanpa permisi ke ruanganku. Nyatanya kedua temanku sedang sibuk mengerjakan laporan dan menggunakan headset didepan mejanya masing-masing.
'Pantas saja maling bisa masuk' batinku berbicara.
"Ngapain kamu disini? mana Eva?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi, berusaha memfokuskan pandangan kembali menoleh ke arahnya.
"Jangan kebiasaan tidur di kantor, kalau lelah ya pulang saja" ucap Dicky sambil menatapku iba.
"Memangnya ini kantor punyaku apa" ucapku sambil melihat ke arah jam yang terdapat di tampilan monitor.
'Nyatanya ini sudah jam setengah sebelas! aku tertidur selama satu jam, sedang apa aku tadi' mengingat ada tugas penting yang harus kulakukan tentang masalah pencurian ini.
"Aku belikan minum, anggap saja ini balasan kopi tadi pagi"
"Eva mana?!" tegasku sambil merendahkan volume suara dan menegakan tubuhku kembali dikursi.
"Dia di kelas Training. Aku mau pulang ... "
"Ya sudah pulang, apa lagi?"
"Jangan galak-galak, aku mau kasih ini saja, biar kamu gak tidur dikantor kayak gini"
"Oh ya, makasih. So sweet lah" jawabku datar
"Huh, jangan ge-er. Aku kasian saja liat kamu begini takut kamu cemburu buta nanti nggak bisa kerja, hahaha" ejek Dicky sambil tertawa kecil.
"Hmm ... kasian ya, gaya betul kamu. Ya sudah kalau mau pulang, ya pulang 'lah" jawabku ketus.
"Iyaa ... aku pulang ... " ucap Dicky sambil mengacak rambut diatas kepalaku.
"Iiiishhh ... apa sih!" ucapku sambil menepis tangannya dan merapikan rambutku lagi.
Dicky menatapku serius sambil menggelengkan kepala. Entah apa yang ada dalam pikirannya kini.
"Oke kalau begitu" Dicky berjalan pelan menjauhi kursiku, kemudian berhenti sesaat "Oh, ya. Kopi buatanmu enak, tiap jam delapan bawakan ke ruanganku ya"
"Emangnya aku pembantumu apa! sudah sana! kamu datang ruanganku bau menyan!"
"Parfumku belum berganti merek kok 'San, dulu saja suka, Hahaha ... " tawa Dicky sambil berjalan kembali meninggalkan ruangan.
"Ih!!" aku menunjukkan kepalan tanganku.
Aku menghela napas dalam-dalam. Benar-benar campur aduk perasaan ini, ada sedih, senang dan bingung sekaligus. Terlintas sesuatu dalam pikiranku pagi ini, kuraih ponsel dalam saku blazer yang kutaruh disandaran kursi.
'Calling my Bri ... '
Panggilan pertama masuk tanpa diangkat, kucoba kembali panggilan kedua tetap tidak terjawab. Ku urungkan niatku menghubunginya. Lalu saat aku berpikir untuk mengirimkan pesan padanya, ada pesan masuk lebih dahulu ke ponselku.
Brian [ Ada apa Dear ]
'Ada apa?! kuhubungi kemarin tanpa jawaban dia malah tanya ada apa!' pikirku kesal
Susan [ Kenapa ponselmu? kenapa tidak diangkat teleponku? ]
Brian [ Tidak apa-apa, sebaiknya jangan dulu ]
Susan [ Ada apa Bri? ada masalah apa ]
Brian [ Semuanya baik-baik saja, aku hanya butuh waktu ]
Susan [ Tapi kenapa? ]
percakapan kami terhenti sesaat, dia tidak membalas. Setelah satu menit kemudian pesan masuk kembali.
Brian [ Aku belum bisa melihatmu atau mendengarmu dulu, nanti aku terganggu ]
Susan [ Jadi aku mengganggumu? ]
Brian [ Ya ]
__ADS_1
Susan [ Maaf kalau begitu, terima kasih ]
Kuabaikan ponselku lagi sambil meletakkannya secara kasar di mejaku.
'Ya Tuhan ... aku ingin menangis. Bri ... kamu kenapa ... aku berharap bisa mendengar atau melihatmu saat ini, segala yang terjadi pagi ini juga sangat mengganggu pikiranku' batinku sesak menerima segala hal yang kuhadapi saat ini.
****
Seharian dikantor perasaanku hancur bukan main, disaat aku harus tetap profesional menghadapi permasalahan dalam pekerjaanku juga.
Aku berusaha menenangkan diri saat aku menghadapi Eva yang turut makan siang bersamaku dan Haya, bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun Haya menyadari setiap dukungan yang kuberikan saat Eva bercerita banyak tentang hubungannya dengan Dicky.
Entah apa yang dimaksud Eva, nampak dari ceritanya Dicky seperti orang yang kurang romantis, sehingga Eva harus berusaha memberikan perhatian lebih pada kekasih barunya itu.
'Dicky, maksudmu apa mempermainkan perasaan temanku seperti ini'
Kukatakan bahwa sebagai seorang SPV IT di cabang kami sangat melelahkan, karena disini adalah layanan utama dari produk jasa perusahaan kami. Sekedar menenangkan hati Eva yang menurutnya Dicky jarang sekali bisa ditemui atau bahkan berkomunikasi dalam hubungannya yang terbilang baru.
Bahkan pada masa pendekatan dengan Eva, Dicky terlihat sangat intens mendekatinya dengan banyak cara, tapi seketika berubah setelah mereka menjalin hubungan.
'Kelakuannya aneh-aneh saja orang ini, sudah jadian dia malah berubah'
Aku mencoba tidak mempedulikan pikiranku ini, karena harus kembali fokus pada pekerjaanku lagi. Beberapa meeting dengan pihak layanan hingga diskusi dan menelaah perilaku Agent yang memiliki gangguan kepribadian turut ku analisa, saat sedikit waktu kuminta untuk berhadapan empat mata dengannya langsung dalam sebuah ruangan khusus wawancara.
Keputusan diambil, sang Agent menyatakan bahwa dirinya hanya meminjam barang-barang yang diambilnya. Itu hanya alasan semata, memang ditemukan barang-barang yang hilang berada dalam lokernya. Meski tidak digunakannya sama sekali, itulah perilaku seorang Kleptomania.
Pihak layanan membuat surat peringatan ketiga, karena nyaris saja Agent ini terancam dipecat dari pekerjaannya, sedangkan ia hanya seorang single parent. Aku meng-iba mendengar ceritanya yang sambil memohon untuk dimaafkan atas perilakunya. Aku membaca ekspresi jujur dalam matanya yang tidak henti mengeluarkan air mata.
Kuberikan support sekaligus motivasi untuk kembali memperbaiki keinginannya berperilaku baik dalam perusahaan demi keluarga yang dimilikinya. Kuberikan kesempatan jika ia ingin sesekali mencurahkan isi hatinya jika suatu waktu keinginan itu muncul kembali.
Sore ini waktunya jam pulang kantor, aku berdiri di depan jalan raya sembari menunggu kendaraan umum yang mulai terlihat padat di jalan raya depan kantor, sesaat kemudian sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depanku. Aku terkejut saat kaca mobil itu terbuka.
'Dia lagi!'
"Ayo masuk!" ucap Pria yang berada dalam mobil itu, sambil membuka pintu samping dari dalam mobilnya.
"Ngapain? pacarmu tadi pulang sendiri tau!"
"Emang macet! gak ah, bahaya ikut kamu"
"Ih, wanita ini!" Dicky bergegas keluar dari dalam mobilnya dan menghampiriku.
Ia melihat ke arah kiri kanan khawatir ada orang yang ia kenali, ia menutupi dirinya dengan hoodie dan sebuah masker berwarna hitam. Sudah macam penculik saja.
Dicky menggenggam pergelangan tanganku dan menuntunku masuk ke dalam mobilnya, terpaksa aku menurut, ketimbang orang yang mulai memperhatikan beberapa meter dari kami menganggap ini seperti penculikan pegawai kantor.
Kami berdua masuk ke dalam mobil, dan ia kembali melajukan kendaraannya.
"Kamu ngapain lagi kesini? Eva tadi pulang sendiri kenapa nggak kamu jemput?!"
"Dia bawa mobil sendiri, ngapain aku repot-repot. Harus ku derek mobilnya di belakang? jangan ngaco."
"Nah, kan tau dia bawa mobil. Lewat-lewat sini ngapain?"
"A—aku, tadi dari BSD kerumah tanteku, sekalian lewat arah pulang"
"BSD jalur tol tembus gak lewat sini! keluar tol Simatupang kan jauh banget ke jalur Gatot Subroto, emangnya aku gak tau jalan apa"
"Heh, udah numpang protes lagi"
"Dih, siapa yang mau numpang. Kan kamu yang maksa!"
"Ckkk ... , masih cerewet mau kubungkam sekalian?"
Aku sontak terdiam dan mengerucut dikursi mobil itu. Mengingat apa yang dia katakan bisa saja ia lakukan, tetap saja bertahun-tahun ia membuatku trauma.
"Arahmu pulang kemana memang?" aku coba kembali sedikit tenang berbicara dengannya.
"Ada, nanti juga kau tau"
__ADS_1
Aku melirik ke arahnya, kami terdiam beberapa saat, ia masih fokus dibalik kemudinya.
"Eva tadi cerita banyak padaku"
"Hm, apa?" nadanya datar tak tertarik dengan pembicaraan.
"Kalian itu gimana sih, kalau kamu memperlakukan wanita acuh tak acuh begitu ngapain jadian?"
"Tau apa kamu, jangan sok tau. Dia cuma drama"
"Gak usah bohong, sedikit perhatian sama pacar kan perlu 'Dic"
"Kalau masih bahas Eva lagi jangan salahkan kalau aku culik kamu ya, aku nggak usil dengan hubunganmu sama si mesum, jangan berlagak jadi komentator. Emangnya aku Agent-agentmu yang makan motivasi harian"
"Heh, jaga mulutmu ya! sekali lagi awas kamu sebut dia mesum!"
"Cyeeee dibelain, emangnyaaa kalian sudah ngapain saja sih sampe segitu cintanya kamu" Dicky menyeringai sinis.
"Sama, mau jungkir balik kayak apa hubunganku, bukan urusanmu juga 'kan?"
"Hahaha, jungkir balik. Sampai begitu?"
"Bukan itu maksudnya!! Uuugh!" aku meninju lengan kirinya. "dasar, otak kotor. Pantas saja kamu takut kubuka file lain, jangan-jangan isinya gak jelas sama kayak pikiranmu"
"Hahaha, sok tau. Ngapain aku nyimpan yang aneh-aneh di komputerku, kalau mau banyak tuh dilaptop!"
"Nah, kan!"
"Ya enggak lah, memangnya aku abege. Kalau sudsn besar ngapain cuma lihat, praktek!"
"Uh, total bar-bar. Makin mengerikan saja kamu, awas ya kalau kau rusak temanku itu!"
"Yaaa ampun Susaan ... , segitu buruknya penilaianmu tentangku selama ini ya, aku memang bren*ek 'San. Tapi aku gak akan menyentuh wanita yang tidak aku cintai semata-mata hasratku saja, apa bedanya kalau begitu, wanita malam banyak yang lebih cantik"
"Sudah hentikan, aku jijik dengarnya"
"Ya kamu pake tanya, bikin aku pengen saja. Gimana? lanjut ke hotel apa kita?"
"Jangan gila kamu ya!! turunin aku kalau begitu!"
"Hahaha, sepertinya kamu memang gak mau mengerti tentang aku, ya sudahlah" Dicky tertawa dalam ekspresi yang terlihat sedih dalam pancaran matanya.
Aku pun terdiam kembali mencerna maksud dari kata-katanya. Selama perjalanan Dicky yang memutar lagu kesukaannya dalam mobil sambil bersenandung pelan. Dia tidak terlihat ceria, kami sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Waktu menunjukan pukul tujuh, akibat kemacetan selama perjalanan. Kini sampailah kami di kawasan perumahanku, laju mobil melambat sesaat mendekati jalan depan rumah.
Aku terkejut bukan main, jantungku berdebar sangat kencang seketika. Kulihat dua buah mobil sedan mewah terparkir depan jalan depan rumah.
'Itu ... itu kan Mobil Brian dan Asistennya! Bagaimana ini!!'
Aku panik dan melirik ke arah Dicky yang tetap tenang.
"Show timeee ... "
*S*enyum kecil tersungging dari sudut bibirnya.
.
.
#Bersambung
Nah, kan. Stres kalau ketawan pulang sama mantan.
...Yah, begitulah suasana kantor. Terkadang mengesampingkan masalah pribadi dan kepentingan perusahaan sangatlah memusingkan. Disaat sibuk memotivasi dan mengamati perkembangan karyawan, tapi harus objektif dan menekan perasaan untuk menjaga agar diri tetap profesional....
...Tugas Susan bukan dilebih-lebihkan, karena segala hal terkait kesejahteraan karyawan turut menjadi tanggung jawabnya di posisi tersebut....
...Author hanya menceritakan situasi nyata dari narasumber....
__ADS_1
...Tanya aja kalo gak percaya. Hehehe...