My Devil Possessive

My Devil Possessive
Perusahaan Kenzo


__ADS_3

Hutang?


Rara tak menyangka jika Papahnya ternyata memiliki hutang lagi. Padahal dirinya sudah rela menjadi jaminan hutang-hutang dari ayahnya tapi ternyata David memiliki hutang lagi. Sebenarnya Papahnya itu menghutang untuk apa?


"Nona?" tanya kembali bodyguard itu untuk memastikan wanita dari bosnya.


"Eh, em yaudah deh. Makasih ya bantuannya." ucap Rara berterimakasih karna bodyguard ini membantunya.


"Sudah tugas kami nona."


Rara mengangguk dan tersenyum membuat Bodyguard ikut tersenyum. Mereka bersyukur karna memiliki nona yang cukup baik dan ramah.


"Kita ndak jadi ketemu Nenek na Mah?" tanya Kevin pada Rara.


Rara menggeleng. "Nenek-nya gak ada dirumah, kita pulang aja yuk?" tawar Rara karna ia sudah tidak memiliki tujuan lagi.


"Mau alan-alan! ndak mau pulang! Keyla ndak mau ketemu Nenek galak." sahut Keyla merengek.


Para bodyguard menatap kedua anak itu dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Rara, ia hanya tersenyum menatap para bawahan Kenzo. "Hehe namanya juga anak kecil, maaf ya." Rara menatap Keyla. "Yaudah kalo gitu kita ketemu Papah aja gimana?" lanjutnya.


Mata Keyla berbinar. "Mau ketemu om Iki, Mah?"


"Om Iki, Om Iki telus. Papah na Keyla bukan om Iki." sahut Kevin sinis.


Keyla menatap kakaknya dengan menjulurkan lidahnya. "Bialin wle."


"Kita jalan yuk sekarang." ajak Rara keluar dari rumah ini.


Sampai didepan pintu Rara berbalik menatap Bodyguard yang berdiri dibelakangnya. "Em bisa tolongin beresin gak pintunya? kalo diginiin takutnya ada maling yang masuk." ucap Rara dengan menatap pintu yang sudah ambruk oleh tendangan pria berbadan tegap itu.


"Baik, semua akan beres nona." jawab bodyguard itu yang membuat Rara tersenyum.


"Saya duluan ya." Rara dan kedua anaknya pun berjalan kembali menuju mobil yang terparkir di depan rumah ini.


Karna sudah tak ada tujuan akhirnya Rara berpikir untuk ke kantor Kenzo, dirinya hanya pernah sekali kesana jadi tidak apa-apa bukan jika dirinya berkunjung kembali? semoga saja suaminya itu tidak sibuk.


Saat sudah masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang Rara pun menatap supir yang sudah siap melajukan mobil ini.


"Kita kekantor Kenzo ya Pak."


▫▫▫▫

__ADS_1


Hans menatap Kenzo yang nampak malas melihat presentasi dari seseorang dihadapannya. Mereka sedang berada disebuah ruangan meeting.


Hans tau pasti mood dari tuannya sedang down alhasil bosnya itu memperlihatkan wajah seperti itu.


"Ck! mereka sedang membicarakan apa sih?" tanya Kenzo melihat Hans yang duduk disampingnya.


"Mereka sedang menjelaskan proyek Tuan." Hans mencoba untuk sabar mejawab setiap pertanyaan yang dilontar-kan oleh tuannya ini.


"Kau bisa tidak jangan terbelit-belit menjelaskannya? aku jadi sulit untuk mengerti kalo seperti itu." ucap dingin Kenzo membuat orang-orang yang disini takut.


"Ba..ik tuan." jawab orang yang sedang mem-presentasikan pekerjaannya.


Sebenarnya menurut Hans penjelasan karyawan dihadapannya ini cukup jelas dan mudah dimengerti tapi kenapa Kenzo malah tidak mengerti?


Orang dihadapannya itu mulai kembali mem-presentasikan pekerjaannya yang membuat Kenzo malas melihatnya.


"Ck! kau ini bisa menjelaskan tidak sih?" marah Kenzo membuat orang-orang disini gemetar.


Hans hanya berdoa semoga mood tuannya ini kembali baik. Tuannya itu tadinya tidak ingin menghadiri rapat ini tapi Hans memaksa agar Kenzo mau hadir dan hasilnya malah begini. Jika tau akan menjadi seperni ini mungkin Hans tidak akan memaksa tuannya untuk hadir.


"Maa..f Tuan, s..aya akan ulangi lagi."


Kenzo menghela nafas kasarnya. "Jika diulangi terus kapan aku bisa bertemu wanita-ku hah?! kau sudah banyak membuang waktu disini."


"Sa..ya akan mempercepat penjelasannya tuan." ucap kembali orang yag sedang mem-presentasikan diri didepan.


"Kau menjelaskan lama saja aku tidak mengerti apalagi cepat?!"


Hans mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan pikirannya. "Tuan, biarkan dia menjelaskan terlebih dahulu jika tuan masih tidak mengerti biar saya saja yang menjelaskannya nanti." sela Hans mencoba menenangkan keadaan.


"Aku masih cukup pintar untuk mengerti, tapi dia saja yang tidak bisa menjelaskan." tatapan Kenzo menatap tajam pria bertubuh kurus didepan.


Pria itu nampak menelan saliva-nya kasar. Ia takut bosnya itu marah padanya. "Ma..af tuan."


"Aku tidak mau memaafkan mu! kau tau? aku menunggu wanita ku selama bertahun-tahun ketika dia sudah ada disampingku, aku malah harus meninggalkannya karna rapat sialan ini. Huh! pasti wanitaku sedang merindukan ku saat ini." Kenzo merebahkan punggungnya pada kursi dan menatap keatas.


Hans hanya menepuk dahinya, tuannya ini malah bercerita tentang nona mudanya. Jika seperti ini terus kapan rapat ini selesai?


Orang yang berdiri itu sudah binggung akan menjawab apa sekarang.


"Kenapa kau diam? cepat jelaskan! aku harus cepat-cepat pulang karna tak mau wanita-ku menunggu terlalu lama dirumah!" tajam Kenzo melihat kehadapannya.

__ADS_1


"Ba-baik tuan," dia mulai menjelaskan kembali dengan jantung yang berdetak hebat, padahal ini kali ke-3 nya ia menjelaskan tapi dirinya masih merasa gugup.


"Ck! lama sekali kau ini! apa perlu aku yang menjelaskannya didepan?!"


▫▫▫▫


Rara menatap gedung tinggi dihadapannya. Ia tersenyum menatap kehadapannya karna perusahaan ini nampak tidak berubah.


"Ini tempat Papah, Mah?" tanya Kepin menatap Rara disampingnya. Dengan cepat Rara mengangguk.


"Kita masuk yuk sekarang." Rara menggandeng kedua anaknya untuk masuk kedalam perusahaan ini.


Rara melangkahkan kakinya mendekat kemeja resepsyonis kantor ini untuk bertanya.


"Misi mbak." tanya Rara ramah.


Resepsyonis yang sedang menatap layar komputer dihadapannya itu langsung menatap ke asal suara tadi.


"Nona nya pasti ingin melamar pekerjaan ya? maaf nona, disini sedang tidak menerima lowongan." ucap judes mbak-mbak resepsyonis yang membuat Rara beristigfar didalam hati.


Memangnya aku keliatan orang yang mau ngelamar pekerjaan ya?


"Saya bukan mau melamar kerja mbak, tapi-" sebelum Rara melanjutkan ucapannya Mbak Resepsyonis ber-tag Sevi itu langsung bersuara.


"Maaf mbak disini tidak menerima sumbangan." sela wanita itu membuat darah tinggi Rara naik.


Rara menatap Sevi dengan diam, ini bukan Resepsyonis yang dulu pernah ia temui mungkin resepsyonis lamanya sudah pindah kerja atau tidak masuk hari ini? entalah Rara tidak tau.


"Emang wajah saya keliatan kayak orang yang cari sumbangan ya?" ucap Rara tak kalah sinis. Ia mengalihkan pandanganya kebawah.


Loh kedua anak ini kemana?


Perkiraan Rara, Keyla dan Kevin berada disamping-nya dan ternyata tidak. Kedua anak itu sudah pergi entah kemana.


Rara segera berbalik dan menatap sekeliling perusahaan ini untuk menemukan anaknya.


"Keyla! Kevin!" Rara menjauh dari meja resepsyonis dan berlari mencari kedua anaknya yang tidak bisa diam daritadi.


Duh kalo Kenzo tau anaknya ilang lagi bisa tamat aku


▫▫▫▫▫

__ADS_1


Trmkasih sudh mmbaca❤


__ADS_2