My Devil Possessive

My Devil Possessive
Jujur


__ADS_3

Kenzo masuk kedalam gedung besar yang ada dipusat kota ini, ia berjalan dengan diikuti Hans dibelakangnya. banyak yang pasang mata yang menatap nya penuh kekaguman khususnya para kaum hawa. yang ditatapun hanya mengacuhkan dengan pandangan dingin.


"selamat pagi tuan"


"Pagi tuan"


"Pagi tuan muda"


tak sedikit karyawan yang menyapa tuan mudanya ini tapi hanya dibalas dengan tatapan sekilas dengan kaki yang masih berjalan.


Semua karyawan sudah biasa diperlakukan seperti itu namun mereka masih menyapanya karna bentuk hormat dari bawahan kepada atasan.


Kenzo memasuki lift yang hanya diperuntukan untuknya dan Hans pasti nya, Setelah menekan tombol lantai 10 ia pun terdiam di lift tersebut sampai menunggu sampai di lantai tujuannya, seketika ia mengingat bagaimana wajah kebingungan dari Rara ketika ia terbangun ditempat tidur tadi. Kenzo tersenyum kecil mengingat ekspresi yang sering ditunjukan Rara padanya.


Hans yang melihat itu sedikit kebingungan yaa walaupun senyuman itu kecil namun Hans tau jika tuan mudanya ini tersenyum.


Apa karna nona Rara?


Ting!


Kenzo keluar dari lift yang sudah terbuka, dilantai ini tak banyak karyawan yang bekerja disini mungkin hanya beberapa saja.


Hans membukakan pintu ruangannya Kenzo dan ia pun ikut masuk ketika tuan mudanya itu sudah masuk.


Kenzo duduk dan menatap berkas-berkas yang ada dimeja kerjanya, ia menarik nafas gusar. karna pernikahannya kemarin menghabiskan waktu banyak sehingga pekerjaan nya dikantor numpuk.


Huh


"Hans kau silakan keluar" ucap Kenzo ketika melihat Hans yang masih setia berdiri di depannya.


"Baik tuan" setelah mengucapkan itu Hans pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Kenzo sendiri.


Drt!


Kenzo menatap ponselnya yang berdering disitu tertera nama salah satu bodyguard nya yang ia perintahkan untuk mengawasi Rara.


"Nona maura pergi bersama laki-laki menggunakan motor tuan" Mendengar bawahannya itu berbicara seperti itu membuat Kenzo meradang.


Sialan! benar-benar ya wanita itu!


"Ikuti dia jangan sampai kehilanganya!"


"Baik"


Sambungan itu pun terputus, Kenzo menatap jendela besar yang ada di samping mejanya, Ia menyeringai kejam.


Aku akan membiarkan mu pergi kali ini namun mungkin aku akan memberi pelajaran sedikit untukmu ketika pulang nanti


Kenzo sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada wanita jaminan David itu.



"Kembalian nya ambil aja ya pak" ucap Rara ketika turun dari motor itu dan memberikan uang berwarna merah dari dalam tasnya.


"Duh neng banyak banget kembaliannya"


ucap laki-laki yang mungkin umurnya seperti ayahnya.


"Gapapa pak, mkasih ya" Rara berjalan memasuki Bangunan Butiq besar yang ada dihadapannya.


"Eh ada Mbak Rara" ucap salah satu pegawai yang ber-tag Mawar ketika melihat Rara masuk kedalam Butiq ini.


Rara mengedarkan pandangan nya ke sekeliling Bangunan ini "Iya War yang lain pada kemana ko sepi?"


"Ada dibelakang Mbak biasa masih bersih-bersih"

__ADS_1


"Oh, yaudah War aku keatas dulu ya"


"iya mbak"


Rara berjalan kearah ruangannya yang terletak di lantai 2 gedung ini. sembari berjalan ia menatap hasil dari jerih payahnya selama ini, jika ayahnya tau apa ayahnya akan senang karna anak kandungnya berhasil tanpa bantuannya? atau malah masih sama seperti sekarang, tidak peduli? entahlah Rara tak ingin memikirkan yang tak mungkin dihidupnya.


Ceklek


Ia masuk kedalam ruangan yang sudah lama ia tak masuki namun terlihat jelas jika ruangan ini masih terawat dengan baik.


Rara duduk di kursi meja kerjanya dan melihat karya gambar yang belum diselesaikan waktu itu karna jaminan konyol ayahnya itu.


"Huh"


Ting!


Rara mendengar suara notif pesan dari hpnya, ia pun segera mengecek telepon nya tersebut siapa yang mengirimnya pesan.


From:Tuan kejam


Tunggu hukuman mu saat aku pulang my angel.


Deg!


Rara menatap horor pesan itu, apa tuan nya ini tau? tapi bagaimana Kenzo tau? Rara berjalan menuju jendela dan membukanya, ia menghirup udara segar dari luar ruangannya.


Aaaaa! apa yang bakal dilakuin tuan muda ya? apa aku gak usah pulang aja? duh seharusnya aku izin tadi


Rara menatap jalanan yang berada didepannya, tanpa sengaja ia melihat laki-laki berbadan tegap yang berdiri di samping pohon yang tak jauh dari toko ini.


"Hm Kayaknya orang itu mencurigakan" gumam Rara sembari menatap Laki-laki itu, tiba-tiba pria itu menatap kearahnya Rara langsung menjauh dari jendelanya ia kaget ketika ternyata laki-laki itu mengawasi tokonya dan ruangannya.


Apa aku telpon polisi?


Sebelum Rara menekan nomor polisi ia terlebih dahulu dikagetkan dengan Aisyah yang membuka pintu ruangannya dengan nafas terengah-engah, karna saking panik bercampur kaget hp itu pun terlepas dari genggaman Rara.


"Eh maaf Ra gapapakan hp kamu?" ucap sahabatnya dengan rasa bersalah.


Rara mencoba menghidup hp tersebut dan akhirnya hp itu masih bisa nyala. "Gapapa kok Syah masih bisa dinyalain ko"


"Bagus deh berarti aku gak perlu ganti hehe"


Rara yang mendengar kekehan dari sahabatnya hanya memasang wajah sebal bisa-bisa nya sahabatnya ini perhitungan.


"Kamu ngapain sih buru-buru kayak gitu" lanjut Rara dengan pandangan yang masih tertuju pada hp malangnya.


"Eh anu itu dibawah ada Ibu-ibu berantem" ucap Aisyah ketika sadar tujuannya keruangan Rara.


Rara yang mendengar itu pun hanya menatap Aisyah dengan pandangan tanya.


"Berantem? ngapain berantem disini?"


"Itu Ra gara-gara gaun pesanan nyonya kayla yang kita pajang karna gajadi"


Bruk!dug!bruk!


Rara dan Aisyah membulatkan matanya ketika mendengar suara berisik dari bawah.


"Ra ayo keburu toko ini rata sama tanah"


Rara yang mendengar ucapan Aisyah itu buru-buru melangkahkan kakinya menuju arah bawah.


Ketika sampai dibawah ia melihat karyawan-karyawannya sudah memisahkan kedua ibu-ibu itu, namun sepertinya kedua ibu-ibu itu masih beradu mulut walau sekarang mereka sudah dijauhkan satu sama lain.


Untung saja tokonya masih berdiri dengan kokoh, akhirnya Rara berjalan mendekat kearah ibu-ibu itu yang sudah duduk disofa tunggu yang disediakan.

__ADS_1


"Maaf nyonya ini ada apa ya?" tanya Rara, yang ditanya pun mengalihkan pandanganya kearah suara yang tak lain adalah suara Rara.


"Saya mau ketemu dengan pemilik Butiq ini, mana pemiliknya?" jawab salah satu ibu-ibu yang memakai pakaian hijau muda.


Rara menatap kedua orang ini, sepertinya mereka ibu-ibu sosialita karna dilihat dari pakaian dan emas-emas yang ada di tubuh ibu-ibu ini.


"Kebetulan say..a pemilik nya nyonya ada perlu apa ya sama saya?" Rara mengucapkan itu karna sudah berpikir matang-matang, kayaknya ia memang tak perlu menutupi semua ini pasti jika rahasia ditutupi serapat mungkin juga semuanya akan terbongkar pada waktunya.


Seketika kedua wanita ini menatap kaget kearah Rara, Biasanya mereka berdua jika ingin bertemu dengan pemilik Butiq ini pasti ada aja alasannya yang membuat mereka tidak bisa bertemu, Namun kali ini akhirnya mereka bisa bertemu dengan pemilik dari karya-karya yang banyak dikagumi semua orang.


"Jadi kamu pemiliknya?!" ucap wanita satunya yang memakai dress merah maroon yang ia tau jika ini adalah salah satu hasil karyanya.


Rara tersentak ketika kedua wanita ini berdiri dari duduknya dan mengampiri Rara dengan pandangan yang sulit di jelaskan.


Ini keputusan baik kan?


"Iy..a"


Karyawan nya pun menatapnya penuh tanya, biasanya Bu Bos muda nya ini tidak mau berbicara jati dirinya namun sepertinya Rara memiliki alasan tersendiri membongkar semua yang ia tutup-tutupi selama ini.


"Wahhh ternyata gosip yang bilang pemilik Butiq ini buruk rupa hoax yaa Lin"


"Iya Fa buktinya pemilik nya cantik begini masih muda lagi"


Semua yang ada di ruangan ini hanya menatap heran bukannya mereka tadi berantem? mengapa sekarang malah akur? terutama Rara yang menatap ini, ia kaget ternyata kedua orang ini saling kenal dan tadi bilang buruk rupa? jahat sekali yang membuat hoax tersebut.


"Mari duduk dulu nyonya" ucap Rara ketika merasa pegal karna berdiri terus.


Mereka bertiga pun duduk dan karyawan lainnya mulai melanjutkan aktivitasnya tadi yang sempat terganggu karna keributan kedua wanita ini. Aisyah pun sama ia melanjutkan kegiatannya di belakang.


"Maaf nyonya tadi ada keributan apa ya?" tanya Rara karna ia mendengar Aisyah menyebutkan gaun milik nyonya Kayla tadi.


"Kenalin nama saya Merlin Adistira" ucap wanita berbaju merah maroon


"Kenalin juga nama saya Farida Alatas, nama kamu siapa?" ucap wanita berbaju hijau muda.


Rara bingung ia harus menjawab apa? jika ia bilang apa ibu-ibu ini akan menceritakan nya pada semua orang? jujur saja ia belum siap jika harus melihat wajah munafik dari orang-orang yang dulu selalu menatap ia rendah, Rara nyaman dengan ini karna ia tau mana orang yang benar-benar tulus padanya dan mana orang yang memang benar-benar tak suka padanya.


Duh aku harus jujur atau apa?


Drt!drt!


Handpone salah satu dari kedua wanita ini berdering, Farida yang menerima telepon itu segera menjawab sambungan telepon tersebut.


"Halo, iya kenapa?"


"......"


"Yaudah mamah sekarang kesana"


"...."


"Iya tunggu aja"


Farida pun mematikan sambungan itu lalu berdiri dari tempat duduknya dikuti Merlin. Rara yang melihat itu pun ikut berdiri.


"Lin ayo udah ditunggu anak-anak tuh di sana" ucap Farida kepada teman sosialitanya.


"Ditungguin ya? yaudah ayo, hm Mbak nanti kami kesini lagi ya, maaf tadi menganggu permisi" mereka berdua pun berjalan keluar dari toko ini.


Rara yang melihat itu hanya melongo.


Udah berantem? terus pergi gitu aja? dasar emak-emak mah bebas, mau marahin juga takut di azab ah sudahlah.


▫▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Kira kira keputusan Rara jujur baik enggak ya? atau malah bakal bikin ia tambah masalah. tunggu kelanjutannya ya!


Like koment nya ditunggu❤


__ADS_2