My Devil Possessive

My Devil Possessive
Kencan (part2)


__ADS_3

Sekarang Kenzo dan juga Rara sudah berada di dalam pasar malam ini. Terlihat keadaannya cukup ramai ternyata banyak sekali orang-orang yang berkunjung kesini, untung saja tidak ada yang mengenali Kenzo jadi keadaan masih terkendali.


Tadi sebelum berangkat Rara sudah bilang jika tidak ingin ada bodyguard yang menjaga mereka saat ini, Kenzo pun hanya menuruti kemauan wanitanya dia juga tidak ingin jika ada bodyguard yang mengganggu kencannya ini.


Rara antusias sekali ketika berada disini, banyak sekali wahana dan juga makanan disini ternyata ini lebih indah daripada yang ia bayangkan sebelumnya.


"Tuan, aku ingin naik sepeda" disepanjang jalan tadi Rara melihat banyak yang menaiki sepada dari yang tempat duduknya hanya satu ataupun 2.


Kenzo menatap wanita yang setia berada disampingnya ini. "Kita tidak bawa sepeda bukan?"


Maklumi saja tuannya ini karna Rara tau bahwa tuannya pasti baru pertama kali kesini sama seperti dirinya, tapi walau Rara belum pernah kesini ia sudah banyak tau tentang dunia pasar malam. "Kita menyewa saja tuan, disini pasti banyak yang menyewakan sepeda"


Kenzo hanya mengangguk dan mengikuti arah jalan yang ditunjukan Rara.


"Nah itu tukang sepedanya" sahut Rara, dia langsung megajak tuannya ini menghampiri tukang sepeda yang sedang duduk sembari melihat-lihat sepeda yang berjejeran di sampingnya.


"Pak berapa ya sejam nya?" tanya Rara pada yang menyewakan. Kenzo hanya diam sembari menatap wanitanya dan juga si penyewa.


"Setengah jam nya 10 ribu neng" jawab bapak-bapak ini dengan tersenyum manis.


"Semua harga nya sama?" Rara melihat jika disini ada berbagai sepeda, dari mulai yang hanya satu goesan sampai 3 goesan.


"Sama neng"


Rara kembali menatap tuannya. "Tuan bisa naik sepeda?"


"Bisa" jawab singkat Kenzo.


Rara nampak menatap selidik Kenzo. Yang ditatap pun menghela nafas kasarnya. "Kau meragukanku? asal kau tau saja aku bisa naik kendaraan apapun" pede Kenzo yang membuat Rara jenggah.


Bisa, tapi masih pake supir gimana sih!


"Yasudah tuan yang menaiki sepedanya aku bonceng dibelakang, bagaimana?" Rara padahal bisa menggoes sepeda namun ia terlalu malas sekarang jadi lebih baik tuannya ini yang memboncengnya dibelakang.


Kenzo mengangguk meng-iyakan ucapan wanitanya. Sebenarnya ia sedikit lupa bagaimana menaiki sepeda karna terakhir ia naik sepeda ketika umur 10 tahun sedangkan umurnya sekarang sudah kepala dua, apa dia masih bisa?


"Sepeda yang tempat duduknya satu aja deh pak" sahut Rara. Bapak-bapak itu pun tersenyum dan mencarikan sepeda yang cocok untuk Rara.


Sampai pada sepeda yang memiliki keranjang didepannya berwarna biru muda yang mememberikan kesan lucu pada sepedanya dan juga tempat duduk dibelakang. "Silakan neng, kayaknya cocok buat neng sama pacarnya"


Mendengar ucapan dari bapak-bapak itu langsung membuat wajah Rara malu. "Bukan pa..car pak"


"Lah terus?"


"Suami" jawaban kali ini yang menjawab adalah Kenzo membuat wajah Rara memerah, untung saja sekarang sudah malam jadi tidak ada yang menyadari perubahan wajahnya.


"Oalah pantes aja dari tadi tangannya gak mau lepas-lepas, sudah nikah toh" ucap si bapak-bapak dengan terkekeh, awalnya cukup kaget karna kelihatan dari kedua orang ini masih seperti remaja abg begitu tapi ternyata sudah menikah.


"Hehe iya, makasih ya pak" jawab Rara dengan menerima sepeda tersebut dan Kenzo yang memberikan uang untuk menyewa sepeda ini.


Setelah transaksi selesai Rara pun memberikan sepeda ini pada Kenzo. "Ini tuan"


Kenzo mencoba menetralkan kegugupannya, entah kenapa ia jadi gugup seperti ini. "Kau duduk dibelakang?" tanya Kenzo.

__ADS_1


Rara mengangguk. "iya"


Kenzo akhirnya menaiki sepeda ini dengan Rara yang sudah duduk miring dibelakagnya, ia ingin duduk biasa saja sebenarnya tapi sekarang Rara mengenakan dress yang menyusahkan jika harus duduk mengangkang.


Sepeda itu mulai berjalan dengan tidak beraturan. Rara sedikit memegangi pinggang Kenzo agar ia tidak terjatuh. "Tuan sebenarnya bisa tidak? jika tidak bisa biar aku saja yang menggoes"


"Terus aku duduk begitu dibelakangmu? tidak aku tidak mau sudah kau diam saja, aku bisa menggerakan kendaraan ini kau tenang saja" ucap tak meyakinkan Kenzo.


Lama mencoba akhirnya mereka bisa berjalan dengan seimbang, disana Rara duduk dengan tersenyum dengan menatap setiap jalanan yang ia lewati berdua.


"Kau kenapa berat sekali sih" ucap Kenzo yang membuat Rara membulatkan matanya.


"Berat badanku hanya 38 saja tuan, tidak beratt" enak saja tuannya ini mengatakan jika dirinya berat, padahal berat badannya dan juga berat tuannya pasti masih beratan Kenzo.


"Ck! mengapa sepeda ini berat sekali jalannya"


"Tuannya saja yang lemah" gumam Rara yang masih bisa terdengar oleh Kenzo.


"Heh! kau bilang apa?"


Rara langsung menutup mulutnya ketika sadar dengan ucapannya. "Tida..k tuan"


Kenzo berdecih ia langsung menggoes kan kembali sepedanya degan cepat. Rara langsung mempererat pegangannya pada pinggang Kenzo.


"Tuann pelankan" teriak Rara, apa tuannya marah? padahalkan ia bersuara kecil tadii apalagi keadaan pasar yang kelihatan ramai yang membuat keadaan berisik tapi kenapa tuannya malah masih mendengar ucapanya.


"Aku tidak lemah jadi kau lihat ini"


Benar bukan jika Kenzo mendengar ucapanya tadi. "Tuan jangan ngebut-ngebutt"


Tiba-tiba Kenzo mengerem mendadak yang membuat Rara langsung mengalungkan tangannya pada pinggang Kenzo.


"Untung ga nabrak orang tadi, kalo nabrak gimana coba?" ucap Rara bangkit dari tempat duduk nya dibelakang dan berdiri disamping Kenzo.


Kenzo sedikit terkekeh ketika melihat wajah lucu Rara yang seperti orang ketakutan. "Kau takut huh?"


"Tidak" Rara memanyunkan bibirnya kedepan pertanda kesal.


Mereka berdua sudah persis seperti kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara. Rara sedikit bersikap biasa pada tuannya, entahlah tidak ada rasa takut lagi pada dirinya sekarang yang ada hanyalah detakan jantung yang tidak karuan ketika berada disamping tuannya malam ini.



"Tuh kan om Hans, kita jadi ditinggalin deh sama kaka ipar" kesal Hazel. Mereka baru saja sampai diparkiran mobil, dilihatnya sudah kosong mobil Kenzo dan juga Rara mungkin mereka sudah masuk terlebih dahulu.


Jalanan tadi sedikit padat jadi Hans sedikit susah untuk mengikuti mobil tuannya dari belakang, alhasil mereka ketinggalan jauh. "Maaf nona"


"Yaudah yuk om, kita masuk" sahut Hazel dengan gembira. Tidak apa-apalah berjalan dengan sekertaris kakanya ini lagian mukanya juga lumayan jadi Hazel cukup pede berjalan dengan Hans.



Setelah memutari pasar malam akhirnya Rara dan juga Kenzo selesai mengendarai sepedanya itu.


"Sudah cukup kau menurunkan harga diriku?" ucap Kenzo. Entah kenapa ia jadi penurut seperti ini apalagi menuruti kemauan perempuan yang disebelahnya.

__ADS_1


Rara terkekeh mendengar ucapan Kenzo. Tuannya ini sepertinya marah karna dirinya mengajak menaiki sepeda tadi, Tapi kan lagian tidak ada yang mengetahui jika dirinya adalah Kenzo? jadi menurutnya tidak apa-apa selagi tidak ada yang mengetahui keberadaannya disini.


"Gulalii Gulalii ayo gulali nya kaka"


Dari kejauhan Rara mendengar suara yang membuatnya ingin memakan yang disebutkan tadi. "Tuan dengar tidak?"


Rara mencoba mengedarkan pandangannya sampai pada tukang diujung sana yang sepertinya sedang membuat gulali.


"Mendengar apa?" tanya Kenzo. Rara langsung memegang tangan Kenzo agar mengikutinya. Kenzo hanya pasrah mengikuti wanitanya.


"Tuan aku ingin gulali" ucap Rara dengan melihat tukang gulali yang nampak sedang memutarkan tangannya di mesin gulali.


"Ck! seperti anak kecil saja" sahut Kenzo.


Rara hanya acuh, ia ingin segera memakan gulali itu. "Mas, 1 ya gulalinya rasa melon" ucap Rara.


"Siap neng" tukang gulali itu langsung mengambil serbuk hijau dan meletakannya pada mesin yang bulet itu entah apa namanya tapi yang ia tau setelah mesin itu berputar muncul seperti benang kecil berwarna hijau dengan sigap tukangnya itu langsung menggulinya pakai kertas.


Rara nampak antusias melihat itu, terakhir ia memakan gulali saat umurnya menginjak 6 tahun apalagi saat itu ayahnya yang memberikan gulali untuknya. "Tuan kau ingin?" tanya Rara.


"Tidak, kau saja" Kenzo dapat melihat wajah bahagia dari istrinya ini. Seketika hatinya menghangat melihat wajah senang wanitanya. Apa dia sudah mulai menyukai wanita ini?


Setelah mendapatkan gulali tersebut Rara dan Kenzo berjalan mencari tempat duduk untuk beristirahat karna sudah lelah memutari pasar ini.


Rara sibuk memakan gulali sedangkan Kenzo sibuk menatap wanitanya. Entah mengapa menatap Rara membuat hatinya nyaman, jika saja ini dikamar mungkin ia sudah menerkam wanita ini dari tadi.


"Tuan mau?" ucap Rara mengalihkan pandangannya pada Kenzo.


"Kau saja"


Sebenarnya Rara merasa tidak nyaman karna tuannya ini menatap intens dirinya, sedari tadi ia diam karna binggung akan berbicara apa lagi pada tuannya.


"Kau tau aku baru pertama kali kesini, aku juga tidak suka tempat ramai seperti ini" Kenzo menatap Rara dengan pandangan tenang.


"Tuan keberatan kita kesini?" Rara ikut menatap tuannya ini. Padahal Kenzo sendiri yang ingin ikut, tapi kenapa sekarang ia malah nyesel?


"Tidak, aku hanya berbicara saja. Jika bukan karna kau mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki disini" jelas Kenzo yang membuat Rara kebingungan.


Jadi tuan mau kesini karna aku? kenapa jantung aku tiba-tiba berdetak kencang begini


"Maksud tuan jadi tuan kesini karna aku?" ada rasa senang tersendiri dihatinya karna tuannya pergi kesini karna dirinya.


Kenzo menatap dalam Rara dihadapannya. "Mulai sekarang aku rasa kau harus belajar mencintai ku"


Rara membulatkan matanya ketika mendengar ucapan tuannya tadi. "Maksudnya tuan?"


Kenzo mengalihkan pandangannya menatap sekeliling pasar malam ini. Dirasa aman Kenzo mulai menatap kembali Rara.


"Aku rasa aku sudah mulai ada rasa padamu jadi aku harap kau mulai mencintaiku, karna aku tidak akan pernah melepaskan orang yang ku cinta"


Cup


▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Trimksih sudah membaca❤


Salam manis dari aku kembaran katty pery><


__ADS_2