
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam
Rara menatap ke-enam wanita dihadapannya, terlihat jelas wajahnya sedikit binggung dengan ini semua.
Rara dengan segera mengalihkan pandangannya kearah samping dimana terlihat pria tampan disana. Ia menatap dengan penuh tanya.
"Mereka siapa?" bisik Rara pelan pada suaminya-Kenzo yang setia disampingnya ini.
Kenzo tersenyum manis menatap wanitanya yang tubuhnya terlihat lebih berisi. "Mereka yang akan membantu menjaga Keyla dan Kevin, sayang."
"Kayak babysister begitu?"
"Hm," jawab Kenzo dengan mengangguk menatap wanita-wanita itu.
Rara kembali menatap ke-6 orang dihadapannya. Mereka nampak masih muda dan cantik, apa benar pekerjaan mereka adalah seorang babysister? tapi sepertinya Rara tidak yakin.
"Kalian sudah bisa bekerja mulai sekarang." tegas Kenzo membuat ke-6 wanita itu mengangguk serentak.
"Baik Tuan."
Rara hanya tersenyum tipis walau dipikirannya masih banyak pertanyaan.
Sstelah mengucapkan tadi Kenzo pun menatap kembali wanitanya. "Kau yakin akan mengantarkan-ku sampai depan pintu?" ujarnya dengan menatap perut buncit Rara.
"Iya Mas, sudah ayo, nanti kamu telat lagi," Rara menarik tangan Kenzo dan berjalan menuju kearah luar rumahnya meninggalkan wanita-wanita tadi.
"Hey! pelan-kan jalanmu, kasihan anakku nanti." ucap Kenzo menasehati Rara agar tidak terlalu cepat berjalan.
Rara pun lantas memelankan jalannya, ia mengelus perutnya pelan.
Sampai didepan pintu, Rara pun melepaskan genggamannya lalu menatap Kenzo. Posisi mereka sekarang saling berhadapan.
"Mas ngapain pake babysister segala? lagian juga aku masih bisa jaga Keyla dan Kevin, banyak maid juga disini yang bisa membantu." Rara menatap Kenzo kesal, kenapa pria ini langsung memutuskan untuk mempekerjakan babysister tanpa persetujuannya?
"Wajah kesal mu itu membuatku gemas," Kenzo terkekeh lalu mencubit pelan pipi tembam Rara.
Rara segera melepaskan tangan suaminya itu dari pipinya. "Aku serius."
Helaan nafas terdengar dari Kenzo, ia menatap wanitanya itu penuh cinta. "Aku hanya tidak ingin kau kelelahan mengurus kedua anak itu, jadi aku memperkerjakan babysister untuk membantumu dan kau hanya tinggal diam saja duduk melihat mereka bekerja."
"Tapi kan masih ada Maid, Mas."
"Ck! mereka itu memiliki tugas masing-masing."
Rara memanyunkan bibirnya. "Tapi anak kita kan cuma dua? ngapain kamu sampe nyewa enam babysister buat ngurus mereka?" kesalnya.
Kenzo terkekeh, entah lah ia hanya lucu saja melihat wajah kesal dari wanitanya ini. Dengan segera Kenzo mendekat kearah Rara dan mendekatkan wajahnya pada telinga wanita itu.
"Kau tidak ingat jika kita akan memiliki lebih dari dua anak, hm?" bisik Kenzo dengan mengelus pelan perut Rara.
Merasa suaminya ini mulai meraba kemana-mana, Rara pun segera menyingkirkan tangan Kenzo dari tubuhnya.
Ya! Rara dinyatakan positif hamil dan sekarang usia kandungan sudah memasuki 7 bulan yang artinya 2 bulan lagi anak yang dikandungnya akan lahir. Saat Rara dinyatakan hamil, Kenzo nampak antusias dan bahagia. Pria itu bilang akan menjaga Rara dan calon anak ketiganya ini.
Kenzo ingin menebus kesalahannya, saat hamil anak pertama dan keduanya itu Kenzo tidak ada disamping Rara dan sekarang adalah waktunya Kenzo menebus kesalahan dimasa lalunya itu. Rara hanya ikut senang mendengarnya. Ia sebenarnya ingin memiliki anak lagi ketika usia Keyla dan Kevin sudah berumur 7 atau 8 tahunan tapi sayangnya ia sudah lebih dulu hamil, tapi Rara tetap bahagia mendengar kehamilan ketiganya ini.
"Tapi apa gak berlebihan?" Rara hanya tidak ingin Kenzo mengeluarkan banyak uang lagi untuk membayar babysister.
"Tidak," singkat Kenzo dengan memainkan rambut Rara.
__ADS_1
Rara mulai jengah dengan sikap Kenzo yang makin kesini makin aneh, pria itu kadang baik, romantis, atau sadis padanya. Ada apa dengannya? apa hormon kehamilan sudah masuk ke jiwa Kenzo?
"Mas!" Rara menurunkan tangan Kenzo dari rambutnya. "Huh! aku cuma gak mau kamu ngeluarin uang lagi buat bayar babysister itu. Sayang duitnya tau!"
"Keputusanku sudah bulat, jika aku memperkerjakan babysister, boleh tak boleh kau harus tetap memperbolehkannya!"
Nah kan baru saja dibilang pria itu sudah menunjukan titik kesadisannya, Rara menekkukan wajahnya mendengar itu. "Sesuka hatimu sajalah!" kesalnya.
"Pipimu sekarang menjadi besar ya jika ditekukkan seperti itu, aku jadi ingin menggigitnya."
Rara membulatkan matanya ketika Kenzo mendekat, ia langsung menjauhkan tubuhnya sebelum Kenzo melakukan sesuatu.
"Sudah mulai siang lebih baik Mas berangkat kerja sana, keburu telat." alih Rara. Walau sebenarnya ia tau jika Kenzo telat pun tidak akan ada yang memarahi pria itu.
"Kau tau siapa aku bukan? tidak mungkin ada yang akan memarahiku jika aku telat ke kantor." ujar Kenzo dengan tersenyum manis.
"Iya-iya aku tau! tapi aku yang akan memarahimu jika Mas telat masuk kantor nanti! aku tadi sudah bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian kerja untukmu jika kau telat berarti sia-" Rara menghentikan bicaranya ketika ada sesuatu yang menempel dibibirnya.
Cup!
"Kau ini bawel sekali, yasudah aku berangkat sekarang. Kau hati-hati ya dirumah." ucap Kenzo dengan menjauhkan wajahnya dari Rara setelah memberikan kecupan.
Kenzo segera menurunkan tubuhnya untuk memberikan kecupan pada perut Rara yang sudah terlihat membesar dan setelahnya ia mengelus pelan perut itu.
"Kau baik-baik ya disana, jangan membuat Mamahmu itu kesakitan, jika kau melakukan itu kau akan berhadapan denganku nanti." bisik Kenzo pelan membuat Rara sedikit geli.
"Iya Papah." jawan Rara dengan menirukan suara anak kecil.
Kenzo pun menaikkan tubuhnya kembali mensejajarkan tubuhnya dengan Rara. Ia lantas mengecup kembali kening Rara sebagai tanda perpisahan.
"Jika kau menginginkan sesuatu, kau hubungi saja aku."
Rara segera mengangguk. "Iya."
"Selamat pagi Tuan." sapa Hans membukakan pintu untuk Kenzo masuk.
Kenzo menatap Hans dari atas sampai bawah tubuh sekertarisnya itu.
Hans yang merasakan ditatap itu pun ikut menatap arah pandang Tuannya. "Ada apa Tuan?"
"Kau sepertinya perlu perubahan, rambut mu itu sudah panjang, lebih baik kau botakkan saja rambutmu itu agar kau terlihat lebih fresh." kekeh Kenzo dengan masuk kedalam mobil dan menutup pintu tempat duduknya.
Hans hanya diam, padahal rambutnya cukup rapih dan pendek tapi kenapa Tuannya itu mengatakan panjang? menyuruh rambutnya dibotakkan saja lagi. Sekarang mungkin Hans tidak akan menuruti perintah Tuannya karna ia tidak mau botak.
Hans menatap Nona mudanya yang tersenyum padanya, ia pun lantas ikut tersenyum menatap Maura yang terlihat semakin hari semakin menawan.
"Hans! berani sekali kau tersenyum seperti itu pada istriku! Kau mau tebar pesona hah? ck! wanitaku itu hanya terpesona padaku jadi lebih baik turunkan senyumanmu sebelum aku merobek bibirmu itu." kejam Kenzo menatap sekertaris melewati kaca mobil yang ia buka sedikit.
Hans dengan cepat menurunkan senyumanya dan segera memutari mobil ini untuk masuk kedalam bagian kemudi.
__
Rara menatap mobil Kenzo yang sudah mulai melaju keluar dari rumah ini, ia masih diam disana sampai mobil Kenzo sudah hilang dari pandangannya.
Rara pun berbalik dan berjalan masuk kedalam rumah ini, ia berjalan dengan perlahan. Entah kenapa kehamilan ke-3 nya ini membuatnya sering kecapean. Berjalan beberapa langkah saja sudah melelahkan baginya.
Padahal saat hamil Keyla dan Kenzo, ia merasa seperti biasa saja malah Rara lebih agresif. Ia sering berkekeliling tidak ingin diam tapi sekarang ia merasakan sebaliknya. Ingin bangun saja rasanya Rara malas, entahlah.
Saat awal kehamilan Rara tidak merasakan mual atau pusing, ya karna semua itu Kenzo yang merasakan. Saat itu Kenzo muntah-muntah dengan mengeluh sakit padanya. Rara menjelaskan itu semua adalah efek kehamilannya, Kenzo masih binggung pada waktu itu alhasil pria itu mulai mencari-cari bagaimana tentang kehamilan diinternet dan pria itu pun akhirnya paham.
__ADS_1
"Moh!!! Huwaaa! ndak mau ama antee mau na ama Mamah!"
"Belisik Keyla! kuping Kepin atit!"
"Aduh Non Keyla,Tuan Kevin.""
PRANGG!!
"Huwaaa pecah!!"
Telinga Rara seketika mendengar suara keributan dari arah dapur. Rara segera berjalan menuju kearah sana untuk melihat apa yang terjadi.
Mata Rara membulat, ia menghela nafasnya kasar menatap piring-piring yang pecah didepannya. Ia menatap tajam Keyla dan Kevin yang namoak terdiam disamping kepala maid.
"Siapa yang ngelakuin ini?" ucap Rara membuat keadaan hening seketika.
Keyla menatap Kenzo, begitu pun sebaliknya.
"Keyla!"
"Kepin!" ucap mereka berdua kompak menyalahkan kembarannya.
"Keyla, Kevin, ayo kalian minta maaf sama Bibi. Tuh gara-gara kalian piring yang dibawa Bibi jadi pecah semua." ujar Keyla menatap kedua ananya yang makin hari makin nakal.
Keyla dan Kevin menunduk tapi tak lama mereka menatap kepala maid dengan mengangkat jari kelingking mereka.
"Minta maap." ucap Kepin mengacungkan jari kelingkingnya.
"Keyla juga minta maap sama Bibi." lanjut Keyla.
Kepala maid itu pun mengangguk dan menerima tangan kedua anak majikannya. Ia cukup maklum karna usia-usia mereka emang seperti ini, tidak bisa diam.
"Yasudah Keyla sama Kevin jangan injek pecahannya nanti terluka, kalian balik lagi sana kekamar. Belum mandi udah keluyuran." titah Rara.
Keyla mengangguk lain dengan Kevin yang menekkukan wajahnya dingin.
"Kepin ayo." ajak Keyla menatap sang kakak.
Kepin segera mengangguk dan mengikuti adiknya yang mulai lari kelantai atas diikuti beberapa Maid dan babysister baru.
Melihat kedua anaknya yang sudah keatas, Rara pun tersenyum tapi ia tiba-tiba merasakan sesuatu diperutnya.
"Aduh." Keluh Rara, ia tiba-tiba merasakan sakit diperutnya.
Maid-maid yang berada disana langsung panik, mereka mendekat kearah Rara lalu menuntun Nonanya itu untuk duduk disofa yang berada didapur dekat ruang makan.
"Nona kenapa? saya panggilkan dokter kesini ya Nona?" ucap salah satu maid.
Rara dengan segera menggeleng. "Gak usah Bi."
"Saya takut Nona kenapa-napa." panik maid disana.
"Gak usah Bi, ini udah biasa kok nanti juga biasa lagi hehe." kekeh Rara masih dengan menahan rasa sakitnya.
Tak lama Rara merasakan perutnya kembali normal, mungkin ia kelelahan jadi menyebabkan perutnya sakit. "Aku gapapa kok Bi, Bibi-bibi semua gak usah khawatir."
Maid disana sedikit lega mendengar itu namun mereka masih menghawatirkan Nonanya ini.
Rara mengelus perutnya pelan.
__ADS_1
Ini bayinya udah gak sabar keluar apa ya?
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ya, hari ini adalah jadwal ia cek-up kandungan, mungkin setelah ini ia akan kerumah sakit untuk mengecek kondisi bayinya.