My Devil Possessive

My Devil Possessive
Bonus part 4: Keinginan Rara


__ADS_3

"Aku hanya tidak mau kau kenapa-napa, lebih baik kau memakai sendal saja. Itu sesuai dengan ukuran tubuh mu yang pendek."


Rara membulatkan matanya menatap Kenzo, apa katanya? dirinya pendek? asal tau saja Rara itu tidak pendek namun hanya saja pria ini yang ketinggian.


"Aku bukan jatuh karna itu, lagian juga aku pakai sepatu hari ini Mas." Rara menatap sepatu yang terletak dibawahnya.


"Lalu?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya penuh tanya.


"Papah." Rara menunduk, ia menghela nafasnya pelan. Itu benar sang Papah-David tapi kenapa dia pergi begitu saja?


"Pria itu yang menyebabkan mu terjatuh? ck! liat saja akan aku beri pelajaran pada pria tua itu."


"Yang sopan sedikit! itu Papah ku yang artinya Papah mu juga!" Rara menatap Kenzo tajam.


"Aku tidak peduli yang jelas aku akan membalas Papahmu itu karna membuat kau dan anakku hampir terluka!" Kenzo mengepalkan tangannya erat, Rara yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Bukan karna Papah, aku terjatuh sendiri tadi." jawab Rara.


"Lalu kenapa kau menyebut Papah mu itu?"


Rara menceritakan kejadian di taman tadi, ia bercerita dari awal pertemuan sampai David yang tiba-tiba meninggalkannya membuat Kenzo mengangguk paham.


Setelah menceritakannya Rara menunduk, ia ingin sekali bertemu dengan sang Ayah namun sayangnya David sepertinya tidak mengakuinya lagi sebagai anak.


Kenzo yang melihat wajah sedih dari istrinya langsung memegang dagu Rara membuat wanita itu sekarang menatap kearah wajahnya.


"Kau tenang saja, aku akan membawa Pria itu kehadapanmu nanti jadi sekarang kau jangan bersedih lagi, aku tidak mau anakku ikut bersedih melihat kau seperti ini." ucap Kenzo tersenyum hangat dengan sesekali menatap perut buncit wanitanya.


"Terimakasih." Rara pun ikut tersenyum manis.


"Aku jadi merindukanmu."


Mendengar hal yang tak asing lagi ditelinganya membuat Rara segera menepis tangan Kenzo dari dagunya, ia perlahan turun dari brankar rumah sakit dan berjalan menuju kearah pintu luar.


"Hey! kau mau kemana?" ucap sekali lagi Kenzo menatap wanita hamil didepannya yang sudah mendekat kearah pintu.


"Pulang, aku sudah selesai cek-up jadi aku ingin pulang." jawab Rara tanpa menatap Kenzo. Ia lebih memilih fokus pada jalannya daripada berbalik menatap suaminya itu.


Sampai diluar ruangan Rara terkejut melihat beberapa orang bertubuh besar yang menghadang jalannya untuk berjalan keluar dari rumah sakit ini.


Rara menghela nafasnya pelan lalu menatap satu-satu orang dihadapannya, ia sudah lelah dengan sikap Kenzo dan sekarang ia harus berhadapan lagi dengan para bawahan pria itu?


"Aku ingin pulang, kalian bisa minggir tidak?" pelan Rara dengan penekanan disetiap katanya. Hari ini dirinya menjadi tidak mood karna sang Papah dibuat lagi oleh sikap Kenzo dan sekarang ditambah lagi oleh beberapa Bodyguard yang menghalangi langkahnya membuat Rara bertambah kesal.


"Maaf Nona kami hanya menjalankan tugas, Nona tidak boleh pergi dari rumah sakit ini tanpa didampingi Tuan Kenzo." ucap salah satu pria bertubuh besar.


"Aku tidak mengizinkan mu pulang, kau masih sakit, lebih baik kau dirawat disini sampai tubuhmu pulih kembali." sahut seseorang dari belakang Rara. Ya, siapa lagi jika bukan Kenzo?


"Aku gak sakit!"


"Kau sakit." Kenzo menatap Rara. Posisi mereka saling berhadapan sekarang.


"Gak!"


"Sakit."


Rara menajamkan matanya menatap Kenzo, apa-apaan pria ini? padahal Rara yang tau bagaimana kondisi tubuhnya sendiri tapi malah pria ini yang- ah sudahlah, emosi Rara menjadi tidak stabil jika seperti ini terus. Apa perlu Rara mengeluarkan jurus hormon ibu hamil? agar pria-pria ini pergi jauh dari hadapannya.


"Aku tetap ingin pulang." ucap Rara kembali, ia ingin pulang ke rumah. Dirinya sudah lelah berdiri disini apalagi dengan perut yang sebesar ini.


"Kau lebih baik dirawat saja disini, aku takut terjadi sesuatu nanti padamu." Kenzo tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


Rara memajukan bibirnya dengan mata yang sudah memerah. "Hiks hiks."


"Hey? kenapa kau menangis?!" Kenzo terkejut ketika melihat wanitanya yang menangis, ada apa dengan istrinya? mengapa tiba-tiba menangis sepeti ini?


"Hiks aku ingin pulang!" Rara berbicara dengan sesegukan, air matanya perlahan mulai turun membasahi pipinya.


"Ck! kau dirawat saja disini, aku akan menemanimu nanti."


"Aku tidak mau hiks! aku ingin pulang!" jawab Rara dengan mengelus perutnya.


Para bodyguard disana hanya diam. Mereka lebih baik diam saja daripada berbicara karna mereka juga tidak tau akan berbicara apa.


"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Kenzo untuk memastikan.


"Hiks yakin Mas." Rara mengucek-ngucekan matanya pelan. Ia sudah pastikan pasti wajahnya memerah.


Karna tak tega akhirnya Kenzo pun mengalah. "Yasudah, kita pulang sekarang."


Mendengar hal itu Rara pun menghapus airmatanya dan tersenyum. Perjuangannya ber-akting akhirnya tidak sia-sia. Ya! Rara hanya berpura-pura menangis karna itu adalah senjata andalannya agar Kenzo menuruti keinginannya.


"Huh! dari tadi dong Mas, aku kan cape berdiri terus jadinya," setelah mengucap itu Rara pun menyuruh para Bodyguard untuk tidak menghalanginya dengan kode gerakan tangan. Dengan segera Bodyguard itu menepi memberikan jalan bagi Nonanya.


Semuanya menganga. Setelah menangis wanita itu kembali memasang wajah kesal dengan berjalan menuju kearah luar rumah sakit. Kenzo menatap Rara dengan pandangan binggung, ia pernah mencari artikel tentang hormon hamil, apa wanitanya itu juga mengalami hormon kehamilan?


Tak lama Kenzo pun ikut berjalan menuju kearah wanitanya. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit untuk menuju mobil Kenzo.


Rara menatap mobil yang sudah terparkir disamping lobil rumah sakit. Kenzo pun segera masuk kedalam mobil dibagian pengemudi, Rara yang melihat itu ikut masuk dan duduk disamping kursi Kenzo.


Tiba-tiba saja Rara teringat pada seseorang. Ia mengedarkan pandangan kesegala arah namun tidak menemukan seseorang itu.


"Sekertaris Hans kemana Mas?" Rara menatap Kenzo disampingnya.


Mendapat tatapan seperti itu membuat Rara tau apa yang ada dipikiran pria dihadapannya. "Aku cuman heran aja, biasanya Sekertaris Hans ngikutin Mas terus."


"Biarkan saja dia, kau jangan memikirkan sekertaris itu aku tidak suka," Kenzo pun masuk kedalam bagian kemudi mobilnya.


Rara yang melihat itu hanya menaikkan kedua bahunya acuh, ia pun diam dengan menatap kearah jendela luar.


Kenzo mulai memajukan mobilnya, ia memang jarang membawa mobil sendiri namun ia cukup mahir mengemudi.


Sepanjang jalan keduanya memilih diam, Rara fokus pada jalan disampingnya sama dengan Kenzo yang juga fokus pada jalan didepannya.


Sampai mobil masuk kedalam perkarangan rumah besar. Ya, mereka sudah sampai dirumah Kenzo.


Dengan segera Kenzo memarkirkan mobilnya dan mematikan mesinnya. Kenzo menatap Rara yang masih terdiam disampingnya. "Kau masih kuat berjalan?" tanyanya.


Rara hanya tersenyum tipis. "Masih kok Mas."


Keduanya pun turun namun Kenzo yang terlebih dahulu, pria itu segera turun dan berjalan menuju Rara untuk membantu wanitanya turun.


"Kau istirahat sekarang, jangan melakukan apapun." titah Kenzo yang langsung diangguki Rara.


Keduanya berjalan masuk kedalam rumah besar ini. Seperti biasanya sekarang terlihat beberapa maid berbaris rapih menyambut kepulangannya.


"Papah!" seorang anak kecil perempuan berlari mendekati Kenzo. Semuanya yang melihat itu dibuat gemas, bagaimana tidak? kakinya yang kecil terlihat imut jika sedang berlari apalagi rambutnya yang diikat dua keatas membuat anak kecil itu semakin lucu.


"Endong!" Keyla merentangkan tangannya pada Kenzo.


Kenzo yang melihat itu pun tersenyum dan membawa Keyla dalam gendongannya.


"Papah lama pulang na!" Keyla memeluk leher Kenzo dan menyembunyikan wajah manisnya didada pria itu.

__ADS_1


Kenzo hanya mengelus pelan rambut Keyla dan mencium kening puncuk sang anak. "Kau hanya sendiri? kakak mu itu mana?"


Para pelayan mulai bubar, setelah menyambut mereka pun segera berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Ndak tau." singkat Keyla masih dengan memeluk sang ayah.


Rara hanya menggelengkan kepalanya. Semakin hari Keyla semakin manja pada Kenzo.


Mereka pun melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah. Nampak rumah terlihat sepi hanya ada beberapa maid yang melintas disini, entah pada kemana yang lainnya.


Setelah lama memeluk sang Ayah, Keyla pun melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangan kesegala arah seperti mencari seseorang.


"Om Anteng mana Pah?" tanya Keyla.


"Om Anteng?"


"Iya, Om Anteng yang suka ngikutin Papah pulang." ucapnya lugu.


Seakan paham Rara pun menatap Keyla dengan mengelus puncuk anak itu. "Om Hans nya lagi kerja sayang."


"Kelja mulu," ucap Keyla dengan merengek minta turun dari gendongan Kenzo. "Padahal Keyla nungguin Papah pulang supaya bisa liat Om Anteng." Setelah mengucapkan itu Keyla berbalik dan berjalan kelantai atas. Mungkin anak itu kembali ke kamarnya.


Kenzo menatap kepergian anaknya itu dengan pandangan sedikit aneh, makin hari anak keduanya itu makin menunjukan sesuatu hal yang membuatnya sedikit berpikiran kesana namun ia tetap positif thingking, Keyla masih terbilang anak-anak jadi Kenzo memaklumi itu.


"Mas." Rara menatap Kenzo dengan sedikit ragu.


"Kenapa?"


Sekarang mereka masih ada diruang tamu, keduanya saling berhadapan sekarang.


"Aku-"


Kenzo mulai penasaran dengan istrinya ini. "Kenapa? katakan saja."


"Aku pengin sesuatu." Rara menatap Kenzo penuh harap.


Sepertinya istrinya ini sedang mengidam jadi Kenzo dengan senang hati akan menuruti keinginan wanitanya itu. "Kau ingin apa? katakan saja, aku akan membelikannya untukmu."


Melihat Kenzo yang ingin menurutinya membuat Rara tersenyum. Ia tadinya tidak enak namun melihat Kenzo yang seperti ini akhirnya Rara pun mengatakan keinginannya.


"Aku ingin nasi goreng buatanmu, Mas mau kan bikinin?"


Mendengar nama nasi goreng membuat Kenzo menatap Rara dengan pandangan terkejut. "Nasi goreng? kau mengidam seperti dulu? aku tidak mau. Kau tau aku tidak mau berurusan dengan alat-alat didapur itu lagi. Lebih baik kau meminta yang lain saja."


"Aku mau nasi goreng."


"Ck! yang lain saja."


"Gak mau yang lain."


"Yasudah aku suruh maid memasak nasi goreng untukmu."


"Aku ingin buatanmu!"


"Aku tidak bisa memasak."


Rara menekkukan wajahnya membuat Kenzo paham, sebentar lagi pasti wanita itu akan menangis lagi.


"Huh! yasudah, aku buatkan nasi goreng untukmu." Kenzo menyerah, jika wanitanya itu sudah memiliki keinginan artinya ia harus mewujudkan itu semua.


Rara tersenyum manis, suaminya ini memang terbaik menurutnya. "Terimakasih sayang." ucap Rara membuat Kenzo yang mendengarnya ikut tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2