
"Nah kan kalo udah mandi jadi wangi." ucap Rara menatap kedua anaknya yang sekarang memakai handuk ditubuh mereka.
"Ayuk ke Aunty Isyah." sahut Keyla degang gembira.
"Ganti baju dulu dong masa mau pake Handuk aja kesananya," Rara terkekeh dengan berjalan menuju lemari kedua anaknya untuk mengambil pakaian mereka.
Maid yang tadi membantu Rara pun mengeringkan tubuh kedua anak majikannya dan memberikan mereka bedak dan juga minyak badan agar tubuh mereka hangat.
Setelah menemukan pakaian yang cocok Rara pun mendekat kearah kedua anaknya yang berdiri disamping ranjang dan meletakkan pakaian itu diatas ranjang tersebut.
Tiba-tiba ada salah satu Maid yang masuk kedalam kamar ini membuat Rara menatap kearah Maid tersebut.
"Kenapa Bi?" tanya Rara binggung, apa Maid itu diperintahkan Kenzo lagi?
Maid itu menunduk sopan pada Rara. "Maaf Nona, tadi saat saya melintas didepan kamar Nona saya mendengar suara telpon berdering mungkin ada yang menelpon Nona tadi." ucap Maid tersebut.
"Oh ya?" Rara mengingat jika ponselnya memang berada dikamarnya. "Kalo gitu makasih udah dikasih tau ya Bi." lanjutnya berterimakasih.
"Sama-sama Nona," Maid itu pun pergi dari hadapan Rara untuk melanjutkan pekerjaannya, bukan dirinya tidak ingin mengangkat atau membawa ponsel milik Nonanya itu cuma saja memang Maid dilarang masuk kedalam kamar majikan jika tidak disuruh makannya ia memberitahu Rara jika tadi ada yang menelpon.
"Em maaf Bi bisa tolong pakein baju Keyla sama Kevin gak? aku mau kekamar dulu." sahut Rara menatap Maid yang membantu memandikan kedua anaknya tadi.
"Baik Nona." jawab Maid tersebut dengan tersenyum.
Setelah mengatakan itu Rara pun berjalan keluar dari kamar kedua anaknya dan melangkah menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar tadi. Ia binggung siapa yang menelponnya pagi-pagi begini.
Ceklek!
Sampai di depan kamarnya Rara pun segera masuk dan mendekat kearah dimana ponselnya terletak, ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menelpon tadi.
Disana tertera panggilan tak dari seseorang yang cukup ia kenali.
Panggilan tak terjawab..
[10] My Husband❤
Rara membulatkan matanya melihat nama yang tertera disana. Siapa lagi kalo bukan suaminya?
Mau apa pria itu menelpon?
Rara menekan tombol hijau diponselnya berniat menelpon balik pria itu tapi sayangnya telponnya tidak terangkat.
"Tadi nelpon tapi ditelpon balik gak diangkat." gumam Rara menatap layar ponselnya.
Ia pun segera menaruh kembali ponselnya diatas meja lalu berbalik dan melangkah untuk kembali kekamar kedua anaknya tapi sebelum sampai didepan pintu kamarnya tiba-tiba saja ponselnya bergetar.
Drtt..drtt
Mendengar ponselnya bergetar Rara pun kembali mendekat kearah ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon.
Rara segera membawa ponsel itu ditangannya dan melihat nama yang tertera dilayar tersebut.
My Husband❤ is calling..
Dengan segera Rara mengangkat sambungan telpon tersebut dan meletakkan handponenya ditelinga.
"Hallo? kenapa Mas?" ucap Rara bertanya.
"Ck! kau kemana saja? kenapa telpon ku tidak diangkat." jawab seseorang dari ujung telpon sana.
"Dari kamar Keyla sama Kenzo." singkat Rara sedikit heran, ada apa dengan pria ini?
"Mengapa telponku tidak diangkat? kau tau aku menghawatirkanmu!"
Rara menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga nya ketika mendengar ucapan dari Kenzo. "Aku menaruh ponselnya dikamar jadi tidak tau jika Mas menelpon, memang nya ada apa?"
"Aku merindukanmu."
__ADS_1
"Apa? rindu?!" Rara melebarkan bibirnya terkejut, padahal mereka belum genap 1jam berpisah tapi pria ini sudah merindukannya.
"Iya! kau tidak tau apa itu rindu?!"
"Tau tapi-" sebelum Rara berbicara tiba-tiba saja suara dari Kenzo memotongnya.
"Jika kau tau kenapa kau bertanya." sela dari ujung sana membuat Rara tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Aku cuma kaget." ucap Rara dengan malas.
"Sudah dulu ya aku harus rapat, kau hati-hati nanti. Jangan lupa mengabariku lagi."
Bip.
Sambungan telpon terputus sepihak membuat Rara terdiam dengan tangan yang masih memegang ponselnya.
"Jadi pria itu menelpon cuma mau bilang rindu?" gumam Rara dengan menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja pria itu.
Rara menatap sekeliling kamarnya ini. "Sekalian aja kali ya? biar langsung berangkat nanti." lanjutnya dengan berfikir sebentar.
Ketika sudah mendapat jawaban Rara pun segera berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaiannya, ia akan berganti agar nanti mereka langsung pergi ke butik miliknya.
Setelah berganti Rara pun segera mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk kembali kekamar kedua anaknya.
"Mamah!" teriak seorang anak perempuan dengan berlari mendekat kearah Rara yang baru saja sampai didepan kamar Keyla dan Kevin.
"Dah siap ayuk." lanjut Keyla sembari menggandeng tangan Mamahnya itu.
Rara menatap kedua anaknya yang sudah siap sekarang dengan pakaiannya, ia mengalihkan pandangannya pada Bibi yang sekarang berdiri tak jauh darinya. "Bi, Bibi ikut aku ya?"
Maid itu dengan cepat mengangguk karna ia hari ini memang ditugaskan untuk membantu Nona mudanya.
"Oke, Bibi tolong bawa tas yang udah aku siapin disamping lemari ya isinya baju Keyla sama Kevin." lanjut Rara.
"Baik Nona."
"Nama saya Uni Nona." jawabnya Maid tersebut dengan menunduk.
Rara mengangguk singkat dengan senyum tipis, Maid didepannya ini sepertinya berumur tak jauh darinya karna terlihat masih sangat muda.
Mereka pun berjalan menuju lantai bawah untuk menuju keluar rumah, sekarang Rara akan berangkat ke Butiqnya.
Sampai didepan rumah Rara pun segera masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan supir dengan kedua anaknya dan juga Maid yang bernama Uni itu.
"Kita berangkat Nona?" tanya supir itu menatap Rara melewati spion mobilnya.
"Iya Pak."
Mobil pun berjalan keluar dari rumah milik Kenzo ini, mereka sekarang melaju menuju tempat yang sudah ia beri tahu sebelum pada Pak supir.
Rara menatap kedua anaknya yang duduk disampingnya lain dengan Uni yang duduk disamping supir, sekarang adalah hari paling sejarah menurut Rara dan mungkin akan ia kenang selama hidupnya nanti.
Beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi Rara sampai didepan sebuah butiq yang bernamakan AuraButiq diatasnya.
"Makasih ya Pak, Bapaknya pulang aja gak usah nungguin saya soalnya saya bakal lama disini." titah Rara pada sang supir.
Pria berkepala plontos itu dengan cepat mengangguk. "Baik Nona."
Rara pun segera turun dari mobilnya disusul kedua anaknya dan juga Uni. Mereka berjalan masuk kedalam Butiq yang terlihat mulai ramai pagi ini.
Uni menatap Nona mudanya itu, ia sedikit kebinggungan berada disini, untuk apa Nonanya kemari?
"Ayo Bi kita masuk." ucap Rara pada Maid itu dengan tersenyum, Rara cukup tau jika Uni pasti kebingungan sekarang.
Keyla dan Kevin sudah berlarian masuk kedalam Butiq itu, walau baru pertama kali kesini kedua anak itu nampak antusias bertemu sang Aunty.
Ting..
__ADS_1
Dering pintu terbuka membuat beberapa karyawan menatap kearah pintu tersebut untuk melihat siapa yang berkunjung.
"Ra? kamu pagi-pagi udah kesini aja," Aisyah mendekat kearah pintu masuk ketika melihat siapa yang masuk tadi.
"Kenapa? gak boleh?" ucap Rara menatap Aisyah dengan menaikkan salah satu alisnya.
Aisyah yang sedang mencubit pipi gembul kedua anak sahabatnya itu mengalihkan pandangannya pada Rara yang masih berdiri dihadapannya. "Eh bu-bukan gitu tumben aja." gugup Aisyah takut sahabat sekaligus atasannya itu marah.
Kekehan muncul dari bibir Rara ketika melihat wajah gugup Aisyah. "Aku mau ikut persiapan Syah." pandangan Rara teralih pada kedua anaknya. "Lagian juga katanya mereka kangen sama kamu."
"Wah Kevin sama Keyla kangen sama Aunty? aaa Aunty jadi terharu." jawab Aisyah dengan wajah yang seakan-akan terharu.
"Kepin ndak kangen, Keyla tuh." ujar Kevin menunjuk adik perempuannya yang ada disebelahnya.
Mendapat namanya dipanggil Keyla pun menatap sang kaka. "Kok Keyla." setelah itu Keyla menatap Aisyah. "Keyla cuma mau tau kabal Aunty Isyah abisnya Aunty ndak telpon Keyla lagi biasa na pidio call-an sama Mamah." lanjutnya sedih.
"Ulu-ulu, maafin Aunty ya abisnya Aunty kan sibuk kerja akhir-akhir ini biar dapet uang tips." ucap Aisyah dengan menatap Rara tersenyum.
Yang ditatapun hanya menatap malas Aisyah. Rara mengedarkan pandangan pada sekeliling Butik ini. "Aula-nya udah siap Ra?"
Ya! Rara mengadakan acara di Butiknya ini untuk memperingati beberapa tahun kesuksesannya sekaligus mengeluarkan desain baju miliknya yang akan segera ia louncing minggu-minggu ini. Rara tersenyum karna mungkin hari ini akan menjadi awal kehidupan yang seharusnya sudah ia rasakan sedari dulu.
"Udah Ra, semua udah siap dari kemarin-kemarin." jawab Aisyah masih dengan pandangan terfokus pada kedua ponakannya.
Rara menatap wanita dibelakangnya yang hanya diam sedari tadi. "Eh iya Bi, kenalin ini Aisyah, sahabat aku." ucap Rara memperkenalkan Aisyah pada Uni.
Aisyah pun mengalihkan pandangannya pada wanita yang dikenalkan padanya. Ia tersenyum menatap wanita itu. "Aku Aisyah, panggil aja Isyah."
"Saya Uni Nona." jawab Maid itu sopan, ia harus sopan karna wanita itu adalah sahabat majikannya.
"Oke salam kenal," Aisyah mendekat pada Uni dan meraih tangan wanita itu sebagai tanda perkenalan. Uni seperti seusia dirinya jadi Aisyah tidak terlalu segan padanya.
Mereka pun masuk lebih dalam Butiq ini karna tadi mereka masih berdiri didepan pintu utama jadi menurut Rara mereka akan pindah mengobrolnya.
Saat Rara berjalan ia merasakan ponselnya bergetar menunjukan ada sambungan telpon masuk, dengan segera ia membawa ponselnya dan menatap layar tersebut melihat siapa yang menelpon.
Rara menghela nafasnya pelan menatap nama yang tertera disana. Ia pun segera mengangkat telponnya.
"Hallo?"
"Hey! mengapa kau lama sekali mengangkat-nya?"
"Aku sibuk Mas." singkat Rara, ya yang menelpon adalah Kenzo. Siapa lagi coba yang menelponnya selain pria itu dan sahabatnya? karna sahabatnya itu ada dihadapannya sekarang jadi pasti Aisyah tidak mungkin menelpon dirinya.
"Sibuk? memangnya kau sedang apa? sudah ku bilang kau jangan bekerja terlalu berat." sahut Kenzo.
Rara memang sibuk berjalan bukan? "Iya-iya, ada apa menelpon?" tanyanya.
"Aku sudah bilang padamu untuk mengabariku tapi kenapa kau tidak menelponku juga?!"
"Aku baru aja sampai Mas lagian juga baru beberapa menit yang lalu kita telponan."
Padahal mereka baru bertelponan beberapa menit yang lalu saat Rara berada dirumah lagian juga Rara takut mengganggu pekerjaan Kenzo karna ia tau pasti pria itu sibuk.
"Huh! tapi-kan kau bisa menelpon ku sebentar untuk memastikan keadaanmu."
"Mas sendiri nyuruh para Bodyguard itu menjagaku terus untuk apa aku memastikan diriku jika para bawahanmu itu memberi tahu setiap gerak-gerikku padamu?" Rara menatap beberapa Bodyguard yang setia berdiri didepan pintu Butiqnya, ia sedikit kesal pada pria diujung telponnya.
"Kan aku ingin mendengar langsung darimu jika kau baik-baik saja, kau jaga diri baik-baik disana aku akan segera menyusulmu nanti."
"Iya-iya."
Setelah berbicara itu sambungan Telpon pun terputus, senyuman dibibir Rara terbit mengingat apa yang akan mungkin terjadi nanti karna Rara pastikan semua orang termasuk orang yang didekatnya akan hadir diacara malam ini.
Les't begin
▫▫▫
__ADS_1
Terimkasih sudah membaca❤