
Akhirnya mereka berempat masuk kedalam rumah untuk makan malam, mereka berjalan menuju meja makan yang terletak di dekat dapur.
Disana nampak sepi tidak terlihat siapa-siapa selain maid. Rara menatap kelantai atas.
Dimana nyonya?
Bukannya apa-apa biasanya nyonya-Lia selalu hadir dimeja makan sebelum mereka semua turun tapi kenapa sekarang kosong?
Kenzo duduk dikursi depan, disamping kirinya ada Rara, disamping kanannya Hazel dan juga Malik yang akan ikut makan malam disini.
"Mommy kemana bi?" tanya Hazel kepada salah satu maid yang sedang menyiapkan makanan.
Rara ikut menatap maid itu untuk mendengar penjelasanya.
"Nyonya dikamar non katanya sedang tidak enak badan" ketika sudah berbicara tersebut, maid itu pamit untuk kembali kedapur.
Rara khawatir mendengar itu bagaimana pun Lia adalah mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri.
"Sakit? gabiasanya mommy sakit" ucap Hazel dengan sedikit khawatir.
Mereka ber-empat mulai memakan makanan malamnya dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba ada maid yang melintas dengan membawa nampan berisi makanan dan beberapa obat, Rara melihat itu langsung bertanya.
"Bi itu untuk siapa?"
Maid yang merasa dipanggil langsung berhenti dan menunduk disamping Rara. "Untuk nyonya, non"
Rara mengangguk. "Biar aku aja yang nganterin bi, bibi lanjutin aja didapurnya"
"Tapi non" maid itu nampak menatap Kenzo yang masih duduk disana.
Ia mengerti tatapan dari maidnya itu, Rara langsung mengalihkan pandangannya pada Kenzo. "Tuan?"
Kenzo mengangguk mengerti yang akan diucapkan wanitanya itu. Mendapat persetujuan dari suaminya Rara pun berdiri dan mengambil alih nampan tersebut.
"Makasih ya non" ucap maid itu karna Rara yang mau mengantarkan makanan tersebut, ia pun sebenarnya sedang banyak pekerjaan dibelakang.
Rara tersenyum dan men-iyakan ucapan bibinya itu. Ia melangkahkan kakinya pergi dari meja makan tersebut dan melangkah menuju tangga atas.
Ia berjalan menuju ke kamar nyonya nya itu yang terletak di samping kamar yang dulu ditempati Agnes.
Toktoktok!
__ADS_1
Ketika sampai dikamar Lia, ia pun mengetuk pintu kamar tersebut dan masuk kedalamnya. Dilihatnya kamar bernuansa putih keemasan nampak terlihat sunyi.
Rara mengarahkan pandangannya pada tempat tidur yang terletak ditengah ruangan, disana nampak ada seseorang yang menggulungkan dirinya dengan selimut tebal.
Dengan perlahan Rara masuk kedalam kamar tersebut dan melangkah menuju kasur.
"Mau ngapain kamu kesini" suara itu mengkaget-kan Rara, tapi ia mencoba tetap tenang mendekati Lia yang masih tertidur dikasur.
"Saya bawa makanan sama obat buat nyonya" jawab Rara sampai di dekat kasur ruangan ini.
Lia mencoba untuk bangkit dan duduk dipinggiran kasur. Rara yang melihat itu langsung menaruh nampan tersebut dimeja samping kasur dan membantu Lia untuk bangkit.
"Jangan sok baik sama saya" sinis Lia menatap Rara.
Rara hanya diam tapi ia tetap membantu Lia untuk duduk.
Setelah Lia duduk Rara pun mengambil nampan tersebut dan duduk disamping kasur berhadapan dengan nyonya nya.
"Maaf, nyonya harus makan dulu nanti baru minum obatnya biar nyonya cepat sembuh"
Lia nampak menatap Rara dan nampan yang diletakkan didepan pangkuan menantunya itu. "Kamu ga ngeracunin saya kan?"
Astagfirullah suuzon terus
"Biar Rara suapi ya" Rara mencoba menawarkan diri untuk membantu Lia memakan makanannya.
"Gausah saya bisa sendiri" Lia mengambil alih nampan tersebut namun ditahan oleh wanita dihadapanya.
"Nyonya sedang sakit biar Rara yang suapi ya" Rara mencoba untuk menyuapi nyonyanya itu karna ia tau Lia sedang sakit.
Lia yang memang sedang tidak enak badan lebih memilih diam, tenaganya tidak kuat jika harus meladeni Rara.
Akhirnya Lia hanya pasrah disuapi oleh menantu yang tidak ia harapkan itu, satu suapan demi suapan diberikan Rara untuk nyonyanya hingga bubur itu kandas tak tersisa.
"Jangan pikir perbuatan kamu ini akan membuat saya restuin kamu dengan Kenzo, jawaban saya tetap tidak" ucap lemah Lia.
Rara tetap tersenyum manis dibibirnya. "Nyonya minum obat dulu ya terus nanti baru tidur" Rara mengambil obat tersebut dan memberikannya pada Lia.
Lia menerima obat tersebut dan meminumnya. Rara masih dengan waja tersenyumnya menatap Lia, jujur ia merindukan ibunya yang sudah berada diatas saja maupun mamanya yang sekarang entah kabar nya bagaimana karna ia sudah tidak berhubungan lagi mungkin nanti Rara akan berkunjung kesana.
"Sudahkan? yasudah keluar kamu sana saya mau istirahat" ucap Lia dengan merebahkan dirinya kembali di kasur.
Rara mengangguk. "Iya cepat sembuh ya nyonya" setelah pamitan Rara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju keluar kamar dengan tangan yang membawa nampan itu kembali.
__ADS_1
Ia menutup pintu ruangan ini dengan perlahan karna tidak ingin menganggu istirahan nyonyanya itu.
Ketika Rara sudah keluar Lia menatap pintu tersebut yang sudah tertutup rapat. Ia tersenyum ternyata Rara tahan dengan sikapnya itu yang bisa dibilang tidak tau terimakasih tapi sepertinya dia orang yang sabar tapi tetap saja Lia tidak merestukan anaknya dengan wanita itu.
♣
Rara kembali ke dapur untuk menaruh bekas nampan tersebut, ia melewati meja makan yang nampak sudah kosong.
Ia tau karna tadi Rara lama berada di kamar nyonya nya itu jadi memungkinkan jika mereka bertiga sudah selesai makan malam.
Mungkin tuan udah ke kamar kali ya
Sesudah menaruh nampan tersebut Rara kembali menaiki tangga dan menuju kamar Kenzo, laki-kaki itu menyuruhnya tidur dikamarnya mulai sekarang jadi mau tak mau ia menuruti tuannya itu.
Ceklek
Rara masuk kedalam kamar dengan perlahan, ia takut jika Kenzo sudah tertidur. Tapi ketika sudah berada dikamar ia nampak melihat tuannya sedang tertidur dengan memainkan ponselnya.
Rara segera pergi kekamar mandi untuk mengganti celananya. Selesai itu ia menghampiri tuannya dan ikut duduk disamping kanan tuannya.
"Sudah?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya pada ponselnya.
"Sudah tuan" Rara mengangguk.
Kenzo menaruh ponsel tersebut dan meletakkannya pada samping meja. "Aku merindukanmu"
Mendengar ucapan itu membuat Rara paham. "Tuan aku kan sedang-"
"Ck! memangnya berapa lama selesainya?"
Rara sedikit berpikir kayaknya mengerjai tuannya ini sedikit menyenangkan. "1 bulan tuan"
Kenzo membulatkan matanya, ia menghadapkan dirinya menatap Rara disampingnya. "Kau mengerjaiku ya?"
"Tidak siapa juga yang mengerjai tuan" masih dengan wajah yang diseriuskan.
Pletak
Kenzo menjitak kening Rara yang membuat wanitanya itu sakit kegaduhan. "Kau kira aku bodoh? datang bulan itu 1 bulan sekali jika berhentinya selama itu tidak akan mungkin"
Kalo tau ngapain nanya!!!!!
▫▫▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
Trimksih sudah membaca❤