
"Untuk tuann" ucap Rara tanpa rasa bersalah, tak lupa ditangan satunya juga membawa topi berwarna abu.
"Ck! kau sedang mengerjaiku hah?"
Rara diam-diam tersenyum bahagia, kapan lagi ia mengerjai tuannya ini apalagi sepertinya Kenzo menuruti setiap perintahnya. Tapi ia juga seperti ini ada alasannya.
"Aku tidak mengerjai tuan" sahut Rara.
Kenzo berdecih dan menatap kumis serta topi palsu itu, ia tidak mau memakainya. Lebih baik ia berkencan saja di kamar. "Sudahlah lebih baik kita berkencan saja dikamar!"
Mendengar itu Rara langsung membulatkan matanya, kencan dikamar? bukan kencan tapi pasti Kenzo merencanakan hal lain.
"Tuan, aku memberikan ini karna aku tidak mau jika disana menjadi pusat perhatiann" jika tuannya ini datang kesana dalam keadaan biasa pasti Kenzo dan Rara akan menjadi perhatian besar, ia tidak ingin saja jika semua orang bertanya-tanya mereka ada hubungan apa. Pasti nanti Rara akan menjadi pembicaraan hangat disosial media, Bukannya sombong atau bagaimana dari dulu di sosmed memang banyak sekali deretan orang yang pernah dekat dengan tuannya. Ia tidak mau saja menjadi target buly-an dari semua fans suaminya ini.
"Aku tidak akan biarkan ada seorang pun yang melirikmu, sudah aku tidak mau memakai itu!" Kenzo memberikan kembali benda yang sudah dipegangnya.
"Bukan aku tuan, tapi tuan yang akan menjadi pusat perhatian disana" memangnya siapa coba yang akan melihatnya? adanya juga pasti tuannya yang banyak dilirik kaum hawa.
Kenzo menaikan sebelah alisnya. "Kau cemburu?" tanyanya dengan pandangan menyelidik.
"Tid..ak tuan, aku hanya ingin menjaga ketentraman dan keamanan kencan pertama kita"
Eh? gimana? aku benerkan bicaranya? semoga aja tuan mau memakai ini, aku tidak mau kalo di pasar malam nanti malah timbul keributan karna tuan datang
Kenzo nampak enggan memakainya tapi ada benarnya juga wanita ini, mungkin ia juga tidak akan membawa bodyguarnya karna ia ingin berjalan berdua saja bersama wanitanya. "Yasudah"
Kenzo memakai kumis palsu tersebut dan juga topi berwarna abu yang membuatnya mirip seperti orang-orang yang berjualan di pinggir jalan.
Rara yang melihat Kenzo menurut padanya langsung tersenyum kembali, sepertinya penampilan tuannya ini tidak buruk. Walau wajahnya masih sama tapi dengan berpenampilan seperti ini mungkin saja orang-orang diluar sana tidak ada yang akan mengira jika dia adalah seorang Kenzo. "Yasudah ayo tuan kita turun, pasti Hazel sudah menunggu dibawah"
♣
"Om Hans ngapain disini" Hazel menatap pria yang selalu berada di samping kakanya ini, mau apa dia kemari? barusan ia melihat jika kakanya sudah pulang lebih cepat dan seharusnya sekertarisnya ini pun ikut pulang, tapi kenapa sekarang balik lagi kerumah ini?.
Hans yang merasa terpanggil langsung menatap nonanya ini. "Saya akan menemani nona Hazel untuk pergi ke pasar malam nona"
Hazel membulatkan matanya ketika mendengar jawaban dari sekertaris kakanya ini, apa menemani? bukannya ia akan pergi bersama kaka iparnya? atau Kenzo yang memerintahkannya untuk ikut agar mengawasi mereka berdua?.
"Loh, kan aku mau pergi sama kaka ipar" jawab Hazel pada Hans. Hazel sekarang sudah memakai pakaian dress hijau muda dan rambut yang ia kuncir dua. Penampilannya sekarang terkesan imut seperti anak kecil padahal umurnya sebentar lagi akan memasuki Seventeen.
"Begini nona, tuan memerintahkan saya untuk menemani nona Hazel, karna tuan dan nona Maura akan berkencan berdua malam ini" jelas Hans yang membuat Hazel menganga.
"Apa? berkencan? ihh padahalkan aku duluan yang ngajak kaka ipar jalan ko malah ka Kenzo yang mau ngajak kaka ipar jalan sekarang" Hazel menampakan wajah cemberut dan kesal karna Kenzo mengajak kaka ipar nya pergi bersama.
Kata kaka iparnya, ka Kenzo ngizinin mereka pergi berdua malam ini tapi kenapa sekarang malah ka Kenzo yag ngajak kaka iparnya jalan. "Ck! pasti ka Kenzo gamau aku jalan sama kakaipar jadi ka Kenzo malah milih ikut" Hazel memajukan bibir depannya pertanda kesal.
Lain dengan Hans yang sudah pasrah dengan takdir nantinya, lagian jika bukan tuannya yang memerintahkannya ia juga tidak akan ikut. Apalagi menemani adik bosnya ini.
"Om Hans kenapa malah pake stelan kerja begini? kan kita mau ke pasar malam bukan mau kerjaa gimana sih om" sekarang pakaian yang dikenakan Hans, sama persis dengan yang biasa ia pakai saat pergi bekerja dengan tuannya.
"Memangnya salah nona?" tanya sopan Hans.
__ADS_1
"Salah lah, kan kita mau kepasar malam terus kalo om Hans pake baju item-item begini nanti malah ga keliatan wujudnyaa"
Hans diam menanggapi ucapan nonanya ini, seterah yang akan dilakukan Hazel nantinya. Ia hanya berdoa semoga kencan tuannya itu berjalan dengan lancar.
"Nona, saya harap nona mengerti dengan tujuan tuan Kenzo mengajak nona muda berkencan"
Hazel malah menatap binggung Hans, maksudnya apa? tujuan apa memangnya.
"Tujuan? tujuan apa?"
Hans sedikit membisikan suaranya pada nonanya, memang ia tidak tau apa niatan Kenzo mengajak berkencan Rara. Tapi menurutnya mungkin ini waktunya untuk Rara dan juga Kenzo berjalan berdua bersama.
Sampai tiba saatnya Hans dan Hazel melihat ada sepasang orang yang sedang berjalan kearah mereka yang masih berdiri di ruang tamu.
Hazel dan Hans menatap kedua orang ini yang sudah berada didepannya. Mereka diam karna sepertinya ada yang aneh dari kedua pasangan ini.
"Ayo Zel" ucap Rara membuyarkan lamunan Hazel dan juga Hans.
"Buahahaha ini ka Kenzo? hahaha ka Kenzo ko berubah sihh kayak guru olahraga aku mirip bangett kumisnya haha" Hazel tak henti-hentinya tertawa, ia sampai memegang perutnya karna tertawanya yang tidak kunjung usai.
Hans malah menunduk mencoba untuk menyembunyikan tertawanya. Ia takut jika tuannya ini malah memarahinya karna menertawakan penampilannya.
"Hey anak kecil! kau menertawaiku? apa yang lucu memangnya" ucap dingin Kenzo. Ia sudah menurunkan harga dirinya sekarang karna perintah dari wanitanya.
Mendengar suara dingin dari kakanya, Hazel langsung diam mencoba untuk menghentikan tertawanya. Hazel langsung mengalihkan pandangannya pada kaka iparnya yang terlihat cantik sore ini. "Kaka ipar cantik bangettt" puji Hazel yang membuat Rara memerah.
"Kamu bisa aja Zel, ayo kita jalan" baru saja Rara akan menggenggam tangan Hazel, Hazel langsung menjauhkan tangannya dari Rara.
Rara merasa aneh dengan jawaban adik iparnya, apa maksudnya? bukannya dia yang mengajaknya pergi malam ini? atau dia marah karna Rara mengajak tuannya ini? padahalkan dia tidak mengajak, tuannya saja yang ingin ikut.
"Loh kan katanya kita mau jalan kesana bareng Zel"
Hazel sekilas melirik wajah kakanya yang nampak tenang dibelakang Rara. "Aku sama om Hans aja kak. kata ka Kenzo, aku gaboleh ganggu acar-"
"Nona Hazel sepertinya mobil sudah siap, mari nona Maura mari tuan muda" Hans langsung menarik tangan Hazel sebelum gadis ini memberitahukan semuanya. Bisa gawat dia dimarahi tuannya.
"Ihh om Hans, dadah kaka ipar kita ketemu disana aja yaaa" teriak Hazel dengan melangkahkan kakinya mengikuti sekertaris tuannya ini yang masih setia menggenggam tangannya.
"Hazel kenapa ya?" gumam Rara yang membuat pria di belakang maju mendekatinya.
"Sudah ayo kita berangkat" tiba-tiba Kenzo memegang pergelangan tangan Rara dan melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah disiapkan.
Rara yang diperlakukan mendadak seperti itu langsung mengikuti arah langkahan tuannya ini.
Sampai di mobil, Kenzo dan Rara masuk kedalamnya. Mereka duduk dibagian penumpang karna mereka memakai supir yang akan mengantarkannya.
Mobil Kenzo melaju diikuti mobil yang di kemudikan Hans dan Hazel dibelakangnya.
♣
"Om Hans ngapain sih pegang-pegang tadi, naksir ya sama aku?" sahut Hazel menghadap ke sampingnya yang disana ada Hans yang mengemudi.
__ADS_1
Hans melirik sekilas nonanya ini. "Maaf nona tadi saya tidak bermaksud memegang tangan nona" jelas Hans. Tadi ketika Hazel berbicara itu, tuannya malah meliriknya dengan tajam seperti memberi kode untuknya membawa Hazel pergi dari sana. Dan akhirnya ia pun memilih menarik tangan Hazel daripada ia terus dipelototi oleh tuannya.
"Bilang aja om Hans suka kan sama aku? dasar cari kesempatan" pede Hazel.
Ucapan Hazel terdengar sedikit aneh ditelinganya. "Nona saya masih muda, panggil saja saya sekertaris Hans" ia baru saja teringat jika nonanya ini memang sering memanggil dengan nama-nama berbeda. Yang membuatnya binggung.
"Yaudah oppa Hans ehh tapi ga pantes, ka Hans juga ga pantes ahk, om Hans yang pantes" Hazel sedikit berfikir nama apa yang cocok untuk sekertaris kakanya ini. Umurnya memang dilihat lebih muda dari kakanya tapi lebih tua darinya.
"Sesuka hati nona saja" ia tidak ingin debat mereka berkepanjangan jadi ia pasrah saja akan dipanggil apa.
♣
Rara sudah duduk di kursi penumpang, mobil mereka sudah melaju membelah jalanan kota yang lumayan cukup padat.
Sedikit ia tersenyum menatap jendela luar mobilnya. Rara masih teringat bagaimana tuannya ini menuruti segala perintahnya tadi.
Dosa ga ya ngerjain suami? haha
Tapi ia juga tidak mau jika sampai disana langsung timbul keributan karna tuannya ini, jadi ia memilih jalan alternatif untuk tuannya agar dia tidak dikenali banyak orang.
Rara melihat kearah sampingnya. Disana ada Kenzo yang sedari tadi menatapnya, membuat dirinya sedikit gugup dipandang seperti itu. "Tuan mengapa kau melihat ku seperti itu?"
Dengan tatapan yang masih pada wanitanya, Kenzo menjawab pertanyaan Maura. "Kau cantik, masih sama seperti dulu"
Rara diam mendengar jawaban tuannya, masih sama seperti dulu? memangnya tuannya pernah melihatnya dulu? kapan? kenapa ia lupa. "Maksud tuan?"
Kenzo langsung mengidikkan kedua bahunya dan mengalihkan pandangannya pada jalanan luar, mungkin Rara lupa karna usia dia saat itu masih terbilang anak-anak.
Mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing. Sampai tiba saatnya mobil Kenzo sampai di parkiran tujuan mereka.
"Sudah sampai tuan" ucap supir itu, yang membuat Kenzo menganggukkan kepalanya.
Kenzo dan Rara langsung keluar dari mobil itu, mereka masih diam di belakang mobil. sebelum masuk Rara memandangi arah depannya, sepertinya malam ini akan seru. Setelah membeli tiket Rara dan Kenzo pun masuk kedalamnya.
Mereka berdua berjalan memasuki pasar malam ini. Disini terlihat banyak sekali orang-orang yang berkunjung kesini dari yang masih anak-anak sampai yang dewasa.
"Ck! ramai sekalii, apa perlu aku beli pasar ini agar tidak ada orang yang masuk kedalam sini" ucap Kenzo dengan tangan yang memegang erat wanitanya.
Rara tersentak kaget ketika tangan Kenzo memegang tangannya. "Pasar malam memang seperti ini tuan, ramai" ucap Rara tersenyum. Walau ia belum pernah kesini tapi ia sudah banyak mendengar cerita teman-temannya yang sering berkunjung kesini.
"Kau tetap berada disamping ku, aku tidak mau kau sampai hilang" ucap Kenzo dengan menarik tangan Rara untuk lebih masuk kedalam pasar malam ini, siapa tau didalam tidak terlalu berdesakan.
Memangnya aku anak kecil apa!
Tetapi Rara tetap mengikuti tuannya ini yang entah akan berjalan kemana.
▫▫▫▫▫▫▫▫
Trimksih sudah membaca💃
Tolong suportnya ya!
__ADS_1