My Devil Possessive

My Devil Possessive
Kenzo berubah


__ADS_3

Rara sekarang sendiri berada dikamar ini. tadi Hazel pamitan karna ada beberapa pekerjaan sekolah yang harus segera ia selesaikan jadi perempuan itu pergi kembali kerumahnya setelah berbicara apa keinginannya.


Rara sudah bilang jika ia tidak mungkin memberikan ponakan atau pewaris keluarga Xander karna ia tidak mau jika anaknya kelak malah diperlakukan sepertinya, sudah cukup Rara yang merasakan ini semua sendirian.


"Huh ada-ada aja anak itu" Karna Hazel yang tetap bersikukuh agar memberikannya ponakan, akhirnya Rara menyerah ia hanya menjawab "anak itu pemberian dari tuhan jadi kita lihat saja nanti ya Zel, aku ga janji"


Rara dibuat tidak percaya karna Hazel malah menjawab "Kalo gitu aku bakal berdoa semoga kaka ipar bisa hadiahin aku ponakan"


Itu yang Rara jawaban Hazel yang ia ingat beberapa jam lalu. Rara hanya berdoa agar doa Hazel tidak dikabulkan, jujur ia belum siap menjadi seorang ibu diusia muda apalagi jika anak yang ia lahirkan dari pria kejam seperti itu. bukan apa-apa sih tapi Rara tidak mau jika nanti ia mengandung anak Kenzo Rara malah lebih sulit untuk melepaskan diri dari pria itu.


"Hey! kau sedang melamunkan apa?"


Astagfirullah


Suara itu membuyarkan lamunan Rara dari pikirannya. Ia menatap pria yang baru saja dipikirkannya sudah berada dihadapannya sekarang.


"Ah! tuan kapan sampai?" ucapnya dengan tenang walau sebenarnya jantungnya sudah hampir copot karna ulah Kenzo barusan.


Kenzo menaikan sebelah alisnya. "Baru saja sampai" ia langsung duduk di kursi samping tempat tidur Rara.


"Bagaimana keadaanmu" tanya Kenzo dengan tatapan terarah pada Rara.


Rara yang ditatap seperti itu bertambah gugup. "Aku baik-baik saja tuan, apa aku sudah boleh pulang?" jujur Rara bosan berada disini apalagi dikamarnya berasa sepi.


Kenzo menggeleng. "Kau baru saja sadar"


Rara memajukan bibirnya cemberut, Kenzo yang menatap perubahan diwajah Maura merasa gemas. ingin sekali ia mencubit pipi wanita ini tapi ia urungkan.


"Tapi aku bosan tuan"


"Kau ingin pulang?" tanya Kenzo membuat wajah Rara gembira.


"Mau tuan" Rara menatap binar tuannya ini.


Tapi wajah berbinarnya tak lama karna ketika mendengar jawaban dari Kenzo membuatnya ia kembali murung.


"Baiklah akan aku pindahkan rumah sakit ini ke mesion" ucap Kenzo.


Rara heran dengan jawaban Kenzo, pindahkan? memangnya dia siapa? main seenaknya saja memindahkan rumah sakit. "Ehh tidak usah tuan"


"Kenapa?" tanya Kenzo. padahal katanya perempuannya ingin pulang tapi kenapa sekarang berubah pikiran?


Rara mencoba menahan segala umpatanya didalam hati kecilnya agar tidak terdengar pria dihadapannya. "Tidak apa-apa" Rara binggung akan menjawab apa jadi ia hanya menjawab seadanya.


"Kau ini tadi kau bilang bosan"


"Tidak jadi bosannya"


Ceklek


Pintu ruangan kembali terbuka menampakan seorang wanita berbaju putih masuk sembari membawa nampan ditangannya.


"Permisi tuan saya mengantarkan makanan untuk nona" ucap Suster itu masuk kedalam kamar ini dan meletakan nampan berisi bubur di meja samping tempat tidur Maura.


Setelah menaruh makanan itu, wanita itu pamit dan meninggalkan kedua orang yang nampak sibuk dengan obrolannya sedari tadi.


Bubur lagi


Rara menatap mangkuk berisi bubur itu dengan tak minat, karna bubur itu terasa hambar sekali di tenggorokannya sekarang.


Kenzo menatap Rara yang hanya diam dengan pandangan kearah bubur itu.


"Kenapa tidak dimakan? kau mau aku suapi?" pede Kenzo.


Rara mengalihakan pandangannya kearah Kenzo yang menyimpulkan jika ia ingin tuan mudanya suapi, pede sekali sepertinya. "Tidak tuan"


"Lalu kenapa kau tidak mau makan?"


Rara menekukkan wajahnya. "Hambar" gumam Rara yang masih bisa di dengar oleh Kenzo.


Kenzo menatap Maura dengan pandangan yang sulit dimengerti. "Jika kau ingin sembuh kau harus memakannya" Kenzo mengambil mangkok berisi bubur itu ditangannya.


Rara yang melihat itu menatap binggung tuan mudanya, Kenzo akan melakukan apa?


"Tuan kau mau apa?"


Kenzo hanya diam dan mengambil sesuap bubur itu disendok tangannya dan mendekati sendok yang ia pegang kehadapan Maura.


Rara ikut terdiam melihat tuan mudanya yang akan menyuapinya, padahal ia bisa makan sendiri tapi ketika tangan tuan mudanya mendekat ia merasa ada getaran aneh dijantungnya.


Ia langsung membuka mulutnya dan menerima suapan bubur itu. Ketika sudah masuk kedalam mulut Rara, Kenzo menarik tangannya dan meletakan sendok itu kembali kedalam bubur.

__ADS_1


"Ck aku tau jika kau mau ku suapi"


Dengan mulut yang masih mengunyah bubur itu Rara membalas ucapan tuan mudanya. "Aku bisa makan sendiri"


"Sudah biarkan aku saja yang menyuapi mu" Kenzo kembali menyuapi Rara dengan memasukan bubur itu kembali kemulutnya.


Rara diam dengan menerima suap demi suapan dari suaminya yang tak lain adalah Kenzo.


Ada apa dengannya? biasanya jika berbicara dia selalu mengegas tapi kenapa sekarang berbicara lembut seperti ini padanya? apa di luar kota ia dirasuki dedemit? apa kepalanya pernah terbentur? entahlah yang penting Rara bersyukur tuan mudanya masih bisa kalem.


Bubur itu mulai habis, Rara sudah merasa kenyang sekarang. ia menghentikan tangan Kenzo yang akan menyuapi nya kembali.


"Sudah tuan, aku sudah kenyang"


"Habiskan sedikit lagi"


Rara menutup bibirnya dan akhirnya Kenzo tidak lagi memaksanya untuk memakan bubur itu. pria itu meletakan kembali buburnya pada meja di samping tempat tidur Maura.


Ada apa dengan pria ini?


Rara menatap Kenzo dengan penuh selidik, sebenarnya ada apa dengan pria ini? mengapa seperti berbeda dimatanya.


Kenzo yang merasa ditatap, menatap kembali Rara yang tengah menatapnya. "Kau mengapa melihat ku seperti itu?"


Rara yang tertangkap basah sedang memperhatikannya langsung mengalihkan pandangannya. sekarang ia malu karna ketahuan menatap Kenzo. "Tidak apa-apa"


"Aku merindukanmu" ucap tiba-tiba Kenzo dengan pandangan memohon.


Rara kembali menatap Kenzo, apa katanya? rindu? bukannya mereka sudah bertemu sekarang kenapa pria ini masih mengatakan rindu padanya?.


"Ri..ndu? kan kita sudah bertemu tuan"


Kenzo mendekatkan wajahnya ke telinga Rara, ia membisikan sesuatu yang mampu membuat wanita ini menengang seketika.


"Tuan kita kan dirumah sak..it" Pantas saja tuannya ini berprilaku baik padanya, karna dia memang memiliki maksud dari sikapnya itu.


"Persetanan dengan rumah sakit" Kenzo naik ketempat tidur Rara sekarang, sedari tadi ia mencoba menahannya tapi melihat sendok yang ia pengang mengenai bibir wanita ini rasanya ia sudah tidak bisa lagi untuk menahannya.


Dan terjadilah kerinduan yang Kenzo ucapkan tadi. kalian tau bukan maksudnya? ya seperti itu lah Kenzo mendeksripsikan kata Rindu



Aisyah sekarang sedang berjalan untuk pulang, ya tadi ia sempat menelpon sahabatnya yang tak lain adalah bosnya di butiq, tapi karna telponnya tidak diangkat-angkat akhirnya ia menitipkan butiq pada salah satu karyawannya.


Sekarang ia sedang berjalan kedepan lampu merah untuk menaiki angkot menuju arah rumahnya, ia memang tidak membawa motor hari ini karna motornya sedang berada dibengkel.


Bruk!


Aisyah sedari tadi fokus dengan hanponenya sehingga tidak melihat kearah depannya. alhasil ia menabrak seseorang.


"Maaf tuan aku tidak sengaja" ucapnya dengan pandangan menunduk.


Aisyah dapat melihat jika didepanya adalah seorang pria walau ia tidak dapat melihat wajahnya. karna mungkin fostur tubuhnya yang seperti laki-laki.


"Hey kau meminta maaf tapi pandangan mu kebawah, kau meminta maaf pada tanah?" suara itu, ya Aisyah seperti sar-samar mengenal suara itu.


Dengan segera Aisyah mengalihkan pandangannya pada pria dihadapannya, ia mendongak karna tinggi pria ini melebihi tingginya.


Deg!


Gak mungkin!


Aisyah diam memandangi wajah dihadapannya, luka hatinya kembali terbuka ketika melihat wajah laki-laki ini, mengapa dia datang kembali dikehidupannya? padahal ia sudah hampir bisa melupakan malam yang terburuk itu malam yang membuat dirinya merasa pendosa.


"Kau terpesona padaku ya hm?" ucap suara bariton itu.


Plak!


Aisyah membulatkan matanya ketika tangannya menampar pria dihadapannya, jujur ia reflek menampak pria ini sungguh.


Nampak pria dihadapannya memegang pipi yang ditampar wanita yang ia tidak kenali.


"Kau mengapa menamparku, memang nya aku punya salah apa padamu?" ucap Malik pada perempuan yang baru ia jumpai hari ini seingatnya.


Aisyah diam, pikirannya sudah berkecamuk, hatinya sakit menatap pria ini. mungkin saja pria ini lupa perbuatannya saat itu, tapi tidak untuk Aisyah karna menurutnya peristiwa saat itu tidak mungkin bisa ia lupakan seumur hidup.


Pria jahat!


Aisyah pergi meninggalkan pria yang masih berdiri diam disana tanpa menjawab pertanyaan pria itu tadi. Aisyah tidak kuat untuk menahan airmatanya agar tidak turun daripada pria itu melihatnya menangis akhirnya Aisyah memutuskan untuk pergi dari sana.


Sakit. Itu yang Aisyah rasakan, peristiwa beberapa tahun silam membuatnya menjadi depresi tapi berkat Rara ia kembali bangkit menjalani hidupnya walau luka lama dihatinya tidak bisa terhapuskan oleh apapun. Tidak ada yang tau peristiwa itu, sahabatnya pun tidak pernah ia ceritakan tentang masalah ini. dulu memang Aisyah ingin menceritakan ini semua pada Rara tapi mungkin waktunya belum tepat karna saat itu Aisyah sudah tidak pernah bertemu dengan laki-laki jahat itu jadi menurutnya masalahnya ini cukup ia saja yang merasakannya.

__ADS_1


Tapi hari ini ia bertemu kembali dengan pria itu, pria yang sudah merenggut kesuciannya.



Matahari sudah hampir tenggelam, akhirnya Kenzo sudah menuntaskan kerinduannya pada Maura.


Sekarang wajah Rara sudah memerah, ia tidak sanggup lagi menatap tuan mudanya. padahal ia sedang sakit loh tapi pria kejam ini malah membuat badannya merasa remuk karna perbuatan Kenzo tapi juga ada sensasi berbeda sih.


Sekarang mereka sudah rapi dengan pakaiannya yang lengkap seperti awal mereka bertemu tadi siang.


Kenzo menatap Maura dengan sedikit tersenyum nyaris tidak terlihat. Kenzo tau pasti wanita nya malu buktinya Rara menunduk seperti ini enggan menatapnya. "Mengapa kau menunduk seperti itu"


Rara sekarang dalam posisi duduk yang disenderkan pada bantal dibelakangnya. "Tidak tuan"


Sempat Rara bingung biasanya setiap 2 jam sekali ada seorang suster yang memeriksanya tapi tadi mereka melakukan sekitar 4 jam-an namun tidak ada yang masuk kedalam ruangan ini?


"Kau ini! aku sedang berbicara padamu mengapa kau menunduk seperti itu"


Didalam hati Rara kesal, pria ini ternyata sudah kembali kedalam bentuk normalnya. jika tadi Rara tidak memenuhi permintaan pria ini mungkin Kenzo masih dengan sikap yang dirasa Rara lebih kalem.


Mengapa tadi aku menurutinya sih! seharusnya aku tolak saja biar pria ini bersikap baik padaku jadi kan aku bisa meminta keringanan untuk membayar hutang-hutang ayahku!


Rara menatap Kenzo dengan tersenyum pura-pura andalanya. "Aku tidak apa-apa tuan" Lanjut Rara menjawab pertanyaan Kenzo yang tadi ia jawab menunduk.


"Ck! yasudah" ucap Kenzo sembari memberi handpone kearah Maura.


Maura membulatkan matanya, itu ponselnya pantas saja ia tidak melihatnya ternyata ponselnya dibawa oleh pria ini, eh tunggu untuk apa pria ini membawa handponenya?


"Mengapa ponsel ku bisa ada di tuan" tanya Rara.


"Kau bukannya berterima kasih padaku! aku membawakannya dari rumah karna aku tau pasti kau bosan disini" ucap Kenzo dengan nada santai namun terdengar nge-ngas di telinga Rara.


Kenapa ga dari tadi aja sih!


Rara menerima handponenya itu, dan meletakannya di samping tempat tidurnya. "Terimakasih tuan"


"Hm, aku akan keluar sebentar kau ingin menitip apa?"


Tumben sekali tuannya ini menawarkannya ingin menitip apa.


Rara sedikit berpikir. "Aku mau es krim aja tuan hehe"


Kenzo mengangguk. "Kau ingin eskrim rasa apa?"


Mata Rara berbinar, tuannya benar-benar akan membelikannya eskrim perkiraannya tadi mungkin tuannya akan menolaknya karna permintaannya eskrim yang sudah tau tidak boleh dimakan orang sakit.


"Coklat!" ucap Rara menyebutkan varian yang ia sukai.


Kenzo sekali lagi mengangguk kecil dan berjalan keluar dari kamar ini. Ia memiliki urusan sebentar diluar jadi Kenzo terpaksa meninggalkan Rara.


"Kalian tetap disini" ucap Kenzo kepada kedua orang yang masih setia berdiri didepan kamar rumah sakit ini.


"Baik tuan"


Kenzo berjalan menjauh dari kamar Maura untuk menaiki mobil yang sudah terparkir rapih di parkiran sana.



Rara tersenyum gembira, kira-kira Kenzo berbaik hati seperti ini ada maunya tidak ya? tadi saja tuan mudanya menyuapinya karna ada maunya, sekarang? Rara tidak mau ambil pusing yang penting sekarang ia bisa menikmati eskrim yang aka dibelikan suaminya.


Entah mengapa ia ingin sekali eskrim padahal dia sudah kenyang dengan memakan bubur tadi.


Ting!


Rara menatap layar ponselnya yang memberikan notifikasi pesan dari seseorang.


Dengan segera Rara membuka pesan itu di handponenya.


From: My husband❤


Kau pikir aku akan membelikanmu eskrim itu? kau sedang sakit jangan memakan yang dingin-dingin! aku akan membelikan yang lain nanti.


Rara membulatkan matanya melihat nama yang tertera dipesan itu. apa? husband? siapa itu? Rara kembali membaca pesan dibawahnya.


Setelah membaca pesan itu ia langsung tau siapa yang mengirimkannya pesan. siapa lagi coba kalo bukan tuan mudanya itu. apa-apaan juga lagi nama kontak pria ini dihanponenya.


"Kalo diganti, berarti tuan muda melihat nama kontaknya sebelum diganti dong?" gumam Rara.


Kalian tau bukan nama kontak Kenzo sebelumnya, tapi sekarang sudah diganti berarti tuan mudanya yang menggantinya kenapa pria itu tidak marah karna aku simpan kontaknya dengan nama Tuan kejam? Mungkin ia merasa kejam kali ya jadi tidak marah.


Aa!! padahal aku ingin sekali eskrim coklat!

__ADS_1


▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫


Trimksih sudah membaca^^


__ADS_2