My Devil Possessive

My Devil Possessive
Maura marah


__ADS_3

Rara membulatkan matanya, ia baru saja sampai dikamar tapi kenapa Kenzo sudah terlihat kesal seperti ini.


"Apa? ponsel-ku dibuang?!" ucap Rara dengan terkejut, apa-apaan pria ini? kenapa ponselnya dibuang begitu saja?!


Kenzo menatap Rara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Iya, handpone mu sudah ku-buang jadi kau tidak bisa lagi berhubungan dengan ciki itu."


Ciki? namanya itu Riki**!!


Rara menatap kesal suaminya ini, ada apa dengan Kenzo? apa hubungannya dengan ponsel miliknya dan Riki?


"Apa hubunganya Mas Riki sama ponsel milikku?!" kesal Rara.


"Ck! aku tau pasti kau sering berhubungan dengan cara menelpon laki-laki sialan itu bukan?! aku tidak mau kau menelponnya lagi ataupun dia yang menelpon mu makannya aku buang saja ponselmu itu." ucap Kenzo tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Mata Rara melotot, padahal diponselnya itu banyak sekali file-file penting butiq-nya dan hal-hal penting lainnya mengenai butiqnya tapi pria dihadapannya ini malah seenaknya membuang ponselnya?


"Mas!! diponsel itu banyak banget file-file penting!! aku tidak mau tau kembalikan ponselku itu!" bentak Rara, ia tak mau handpone kesayangannya itu sampai dibuang, hilang ataupun rusak karna diponsel itu memiliki banyak sekali hal penting didalamnya.


"Sudah ku lempar keluar jendela." singkat Kenzo membuat darah tinggi Rara naik seketika.


Rara segera melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya dan menatap arah bawah yang tak lain adalah sebuah taman yang persis dihadapan jendela kamarnya ini.


Mata Rara membulat, benar saja disana terlihat sebuah ponsel yang sudah terpecah belah.


Rara berbalik menatap Kenzo tajam tapi tak lama ia mengkerutkan wajahnya sedih. "Hiks dihandpone itu banyak banget file pentingnya Mas! hiks Mas jahat sekali!" setelah mengucapkan itu Rara menghentakkan kedua kakinya dan berjalan keluar dari kamar Kenzo.


Kenzo yang melihat itu hanya diam, apa dirinya membuat kesalahan sampai-sampai wanita-nya itu marah padanya?


__


Rara berjalan menuju taman tempat dimana ponsel miliknya dibuang. Samlai disana dirinya mengambil ponsel tersebut dan mencoba untuk menyalakannya walau dirinya tau handpone itu sudah terlihat cukup parah rusaknya.


"Beneran gak bisa nyala?" gumam Rara sedih. Padahal ini adalah handpone pertama miliknya ya walaupun dirinya memiliki ponsel cadangan tapi ketika ia melihat wujud ponsel pertamanya hancur begini tetap saja membuatnya sedih.


"Huh! cuma gara-gara telpon dari Mas Riki sampe-sampe handpone ini yang jadi korbannya hiks kasihan sekali." lanjut Rara dengan memajukan bibirnya. Sebenarnya file-file penting dihandponenya ini sudah terdata juga di komputer butiqnya jadi tidak terlalu bahaya juga jika ponsel pertamanya ini tak menyala lagi. Tapi bagaimana pun ini adalah benda kesayangan milik Rara jadi ia tetap merasa sedih barang kesayangannya dirusak oleh pria itu.


"MAMAHH!!!" teriak dua anak dari arah belakang Rara yang membuat wanita dewasa itu tersentak kaget.


Rara berbalik menatap Keyla dan Kevin yang tersenyum dengan berjalan kearahnya. "Hey? kalian sudah makannya?" ucap Rara dengan tersenyum.


Keyla dan Kevin mengangguk. "Udah dong!" ucap mereka serempak.


Rara mengelus kedua puncuk kepala anaknya secara bergantian. "Terus kalian sekarang mau apa?" tanya Rara melihat kedua anaknya ini memegang buku gambar dan pensil warna.


"Na gambal, Aunty Haz beliin buku gambal sama pencil walna tadi. Katana biar Keyla sama Kepin bisa ngegambal wajah aunty." polos Keyla dengan bahagia melihat pensil warna yang memiliki banyak warna didalamnya.


Kevin yang mendengar itu hanya ikut mengangguk mengikuti ucapan adiknya.


"Kepin mau gambal wajah Mamah, Mamah diem na disitu." ucap Kepin dengan memundurkan tubuh kecilnya dan duduk diatas rumput-rumput taman dengan pandangan terarah pada Rara.


Rara dengan cepat tersenyum dan bergaya. "Ayo gambar Mamah, yang bagus gambarnya nanti Mamah kasih hadiah." ucap Rara membuat Keyla dan Kevin tambah antusias menggambarnya.


Tak lama dari arah kejauhan Rara melihat seorang pria berjalan kearahnya dengan angkuh. Siapa lagi jika bukan pemilik rumah ini?


"Kalian sedang apa?" tanya Kenzo penasaran ketika melihat kedua anaknya dengan memegang kertas dan juga Rara yang sedang bergaya dihadapan kedua anaknya.


"Kepin mau gambal Mamah." ucap Kevin dengan tersenyum membuat Kenzo ikut tersenyum.


"Wah kalo gitu Papah boleh ikutan gak? kalian coba gambar Mamah sama Papah ya?" ucap Kenzo menatap Rara dengan tersenyum manis lain dengan Rara yang menatap kesal Kenzo.


"Ah sudah mau malem banget nih, kita mending masuk yuk? nanti lagi dilanjut gambarnya." ucap Rara dengan tersenyum kearah keduanya mengabaikan ucapan Kenzo tadi.


"Tapi Kepin belum selesai gambal na." ucap Kevin dengan sedih dilanjut dengan Keyla yang juga menatap kakaknya sedih.


"Dilanjut nanti ya sayang, yuk kita masuk," Rara menggandeng tangan Keyla dan Kevin masuk kedalam rumah meninggalkan Kenzo yang diam mematung.


Kenzo menatap Rara diam, sepertinya perempuan itu marah dengannya karna telah membuang handpone milik wanitanya.


"Huh! tak lama lagi juga pasti dia melupakan ini semua." gumam Kenzo dengan tersenyum miring.


__

__ADS_1


Rara berjalan masuk kedalam rumah dan melangkah pergi menuju ruang tamu sedangkan kedua anaknya itu sedang bersama Hazel karna tiba-tiba saja adik iparnya itu ingin bermain bersama dengan anak-anaknya.


Rara mendudukkan tubuhnya disofa dan menyalakan televisi dihadapannya.


"Berita panas hari ini, terja-"


Rara menatap fokus berita didepanya, sampai-sampai ia tidak menyadari jika ada seseorang disampingnya.


"Ck! kau fokus sekali menonton berita tak bermutu itu." ucap Kenzo menatap wanita disampingnya yang nampak fokus.


Rara hanya diam, ia menekan remot televisi ditangannya dengan asal. Kenzo yang merasa diabaikan itu menatap kesal wanitanya.


"Kau masih marah padaku heh?" tanya Kenzo membuat Rara hanya menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada televisi dihadapannya.


"Ck! aku tidak suka diabaikan!" tajam Kenzo menatap Rara tapi sayangnya wanita itu tetap diam tak bergeming.


"Huh! membosankan sekali siarannya, tidak ada yang bagus," ucap Rara dengan mematikan televisi dihadapannya dan bangkit dari duduknya.


Sebelum Rara pergi Kenzo terlebih dahulu mencekal tangan wanitanya. "Kau mau kemana?"


Rara menghentikan langkahnya dan menggoyangkan tangan yang dipegang Kenzo agar tangan Kenzo terlepas darinya. "Ke-kamar."


Setelah tangan Kenzo terlepas darinya, Rara kembali melangkah pergi menuju kamarnya. Dengan segera Kenzo ikut mengikuti wanitanya dari belakang.


"Kau masih marah padaku?" ucap Kenzo dibelakang Rara yang masih berjalan. Tapi Rara masih diam tak berniat menjawab.


"Ck! muka-mu itu tidak cocok jutek seperti itu padaku." lanjut Kenzo dengan menoel bahu belakang Rara. Tapi Rara masih diam.


"Kau jangan menyiksaku dengan diam-mu itu sayang."


Rara masih diam tak berkutik dengan ucapan yang dilontarkan Kenzo padanya tadi.


Ceklek


Ketika sampai dikamar Rara masuk kedalam kamarnya dengan masih diikuti Kenzo dibelakangnya. Rara duduk di samping dengan wajah yang masih menekuk.


"Ck! aku tidak suka diabaikan." dingin Kenzo yang membuat Rara sedikit bergeming.


"Sayang ayo jangan cemberut seperti itu, wajahmu itu bertambah jelek jika seperti itu."


Mendengar itu membuat Rara makin kesal dengan segera ia bangkit dan menatap Kenzo dihadapannya. "Jelek? yasudah sana kau tidak usah tidur disini! aku tidak ingin tidur dengan-mu malam ini!" Rara mendorong tubuh Kenzo keluar dari kamar.


"Hey! ini kamarku berani sekali kau mengusir-ku!" kesal Kenzo membuat Rara semakin mendorong pelan agar pria ini keluar dari kamar yang ditempati keduanya sekarang.


"Kau suamiku bukan? jadi kamar ini juga milikku karna milik suami adalah hak istri jadi sudah sana, aku sedang marah denganmu! jangan coba-coba masuk kedalam kamar ini sebelum aku selesai marah padamu." ucap Rara ketika Kenzo sudah berada diluar kamar.


Brak


Rara menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang, ia tidak sengaja menutup pintu itu jadi dirinya pun ikut kaget ketika menggebrak pintu ini.


Kenzo yang melihat itu menggerutkan dahinya, apa perempuan ini benar-benar marah? sepertinya ini juga salah Kenzo karna ia memecahkan barang milik wanitanya yang katanya memiliki file-file penting didalamnya.


Kenzo berjalan menuju kearah ruang kerjanya. Sampai diruangan itu dirinya terduduk dikursi kebanggaannya dengan memegang keningnya.


Tak lama Kenzo pun meraih ponsel miliknya dan menelpon seseorang. Saat sambungan itu tersambung Kenzo pun segera mengatakan sesuatu pada orang yang di telponnya.


"Kau mengerti?!" ucap Kenzo setelah menjelaskan semuanya.


"Baik tuan."


Bip.


Kenzo menghela nafasnya pelan dan tersenyum manis membayangkan bagaimana wajah wanitanya ketika nanti ia berikan sesuatu itu padanya.


Selang beberapa menit pintu ruangan Kenzo pun terbuka menampilkan sesosok pria yang berjalan kearahnya dengan membawa tas kecil dengan merek berbeda-beda.


"Ini tuan pesanannya." ucap pria itu dengan sopan.


Kenzo yang melihat itu mengangguk cepat. "Taruh sana dimeja dan kau silakan keluar." titah Kenzo yang langsung diangguki pria itu.


Kenzo menatap 5 tas kecil itu dan membawanya kedalam tangannya, segera ia melangkah keluar dari ruangannya dan berjalan menuju kamar tempat dimana dirinya diusir tadi.

__ADS_1


Toktoktok!


Kenzo mengetuk-ngetuk pintu dihadapannya sekarang, biasanya ia langsung masuk begitu saja tapi sayangnya tadi saat dirinya akan masuk ternyata pintu itu dikunci alhasil dirinya terpaksa mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Toktoktok


Kenzo kembali mengetuk-ngetuk saat ketukan pertama itu tak kunjung dibukakan.


Ceklek


Akhirnya pintu itu terbuka menampilkan Rara yang masih mengerutkan wajahnya. Kenzo yang melihat itu tersenyum manis menatap wajah wanitanya yang terlihat imut dimatanya.


"Untukmu." Kenzo menyerahkan 5 tas kecil itu dihadapan Rara. "Anggap sebagai gantinya." lanjutnya.


Rara menatap dan menerima tas itu, alangkah terkejutnya ketika melihat isi didalam 5 tas kecil itu.


"Ponsel?" tanya Rara binggung.


Kenzo mengangguk. "Sebagai ganti ponsel yang sudah ku lemparkan. File-file dihandpone milik mu sebelumnya sudah ku pindahkan juga kesalah satu ponsel itu jadi kau jangan khawatir tentang filenya."


Rara menengguk salivanya kasar, padahal dirinya tidak meminta handpone tapi kenapa malah dibelikan yang baru? 5 lagi? dengan merek berbeda-beda.


"Lima?"


"Ya, aku tidak tau ponsel mana yang kau sukai jadi aku belikan saja semuanya." singkat Kenzo membuat Rara membulatkan mulutnya.


Pria ini senang sekali sepertinya membuang-buang uangnya, ia tau jika harga ponsel ini tak sedikit jadi Rara cukup tau berapa nominal yang harus dikeluarkan oleh Kenzo.


"Jangan suka ngehamburin uang Mas, lagian juga aku tidak butuh ponsel ini. Jadi kau jual lagi saja." ucap Rara memberikan ke-5 tas tadi pada suaminya.


"Ck! aku sudah menurunkan harga diriku untuk meminta maaf padamu tapi kau malah menolaknya! sudah ambil saja ponsel itu, mau kau buang atau apakan ponselnya seterah kau saja."


Rara mengkerutkan dahinya heran, pria ini seenaknya menyuruhnya membuang handpone ini. Memangnya Rara setega itu membuang handpone yang harganya cukup fantastis? lebih baik dirinya memberi ponsel ini pada teman-temannya atau mungkin yang lainnya?


"Yasudah," setelah mengucapkan itu Rara kembali menutup pintunya tapi sayangnya dicegah terlebih dahulu oleh Kenzo.


"Hey kau masih marah padaku!? aku kan sudah mengganti dan meminta maaf tapi kenapa kau masih marah padaku?" ujar Kenzo meminta penjelasan.


"Lagian juga aku tidak ingin kau mengganti atau meminta maaf padaku." kesal Rara. Ya dirinya tetap masih kesal pada pria dihadapannya.


Kenzo pasrah, ia menatap Rara dengan lembut. "Yasudah agar kau tidak marah lagi kau ingin meminta apa padaku? aku akan menuruti semua yang kau mau." ucap Kenzo pelan.


Rara yang mendengar itu sedikit tersenyum miring. "Semuanya? beneran?"


Kenzo mengangguk dengan pandangan lembutnya.


"Yasudah, aku ingin kau izinkan aku pergi besok kembali ke jogyakarta karna aku masih ada beberapa masalah yang harus diselesaikan disana sebelum aku benar-benar memutuskan untuk pindah kekota ini." ucap Rara dengan pandangan tanya, ia ingin mendengar jawaban dari suaminya.


"Ck! kau ingin menemui laki-laki itu hah? tidak, aku tidak akan membiarkannya."


Rara semakin menekukkan wajahnya, ia tau pasti Kenzo tak mau menuruti permintaannya tadi. "Yasudah kalo gitu selamat malam," baru saja Rara akan menutup kembali pintunya tiba-tiba saja Kenzo mencegahnya kembali.


"Huh! baiklah aku akan mengizinkan-mu asal aku ikut dengan-mu, mungkin rencana bulan madu disana tidak terlalu buruk." pikir Kenzo membuat wajah tegang dari Rara.


"Aku akan mengurus masalah disana Mas! bukan berbulan madu."


Kenzo sedikit terkekeh. "Tidak masalah bukan? lagian kita bisa mencicil lima anak lagi ketika kita berada disana."


Lima anak lagi?!


"Yasudah oke." telak Rara, ia sudah tak mau berdebat kembali dengan Kenzo.


"Oke? wajah kau saja masih cemberut seperti itu bagaimana aku percaya jika kau mengatakan oke." ucap Kenzo menaikkan sebelah alisnya.


Rara menghela nafasnya kasar, dengan segera ia mengeluarkan senyuman ter-manisnya membuat Kenzo ingin tertawa melihatnya.


"Senyum-mu manis, aku ingin kau tetap tersenyum seperti ini padaku oke? jangan pernah menunjukkan senyuman ini pada laki-laki lain karna aku tak mau mereka tau jika di-dunia ini ada senyuman yang manisnya bisa melebihi gula."


▫▫▫▫


Terimksih sudah mmbaca❤

__ADS_1


Kenzo bucinn nieh ya😳😂


__ADS_2