My Devil Possessive

My Devil Possessive
Amarah Kenzo


__ADS_3

Hans masuk kedalam perusahaan bosnya itu dengan map yang ia pegang disamping tangannya.


"Tuan Hans" sahut seseorang yang memanggilnya.


Hans langsung melihat siapa yang memanggilnya barusan, dia pun menghampiri meja resepsyonis karna tadi yang memanggilnya adalah salah satu orang disana.


"Ada apa?" tanya dingin Hans pada wanita yang duduk dikursi tersebut.


Wanita itu lantas bangkit dan menyerahkan tas yang berwarna hijau kepada Hans.


"Ini tuan ada makanan untuk tuan Kenzo" ucap resepsyonis tersebut dengan sopan.


Hans menatap binggung tas itu, ia menaikkan salah satu alisnya menatap pegawai perusahaan ini.


"Ini dari rumah tuan Kenzo, tadi ada salah satu maid yang mengantarkannya kesini" ucap kembali resepsyonis itu karna tau jika Hans meminta penjelasan lebih prihal tas ini.


Maid? untuk apa maid itu mengantarkan makanan? memangnya tuan Kenzo meminta dibawakan makan?


Hans heran karna tak biasanya ada maid yang mengantarkannya makanan kesini tapi akhirnya ia menerima tas tersebut dan melanjutkan langkahnya menuju lantai ruangan bosnya.


Ketika dilift Hans melihat isi dari tas tersebut tak sengaja ia menatap ada sebuah kertas note kecil disana. Karna penasaran Hans pun melihat isi dalam note itu. Setelah membaca Hans tersenyum menatap tas hijau yang dipegangnya dengan segera dia meletakan note itu kembali kedalam tas tersebut.


Sampai pada lantai tujuannya, Hans segera melangkah pergi menuju ruangan Kenzo untuk mengantarkan tas yang ia bawa.


Ceklek


Saat membuka pintu ruangan ini, Hans melihat Kenzo yang nampak sedang menatap kertas yang dia pegang mungkin tuannya itu masih bekerja.


"Permisi tuan" ucap Hans sopan ketika masuk kedalam ruangan ini.


Kenzo nampak masih berkutat dengan pekerjaannya. "Hm" jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya.


Hans pun masuk kedalam menghampiri tuannya. "Ini ada titipan makanan untuk tuan dari meja resepsyonis"


Mendengar itu Kenzo langsung mengalihkan tatapan pada Hans yang masih berdiri didepan meja kerjanya.


"Makanan?" tanya heran Kenzo, ya dia heran saja karna tak biasanya ada titipan makanan untuknya.


Hans mengangguk. "Iya tuan" Kenzo meletakan makanan tersebut dimeja kerja Kenzo. "Dari nona Maura" lanjutnya.


Mendengar nama wanitanya disebut dengan segera Kenzo membawa tas tersebut mendekat kearahnya dan melihat isinya.


"Kalo begitu saya pamit dulu" Hans pamit keluar dari ruangan ini karna ia juga masih ada beberapa pekerjaan yang harus selesai sekarang.


Kenzo hanya acuh dengan kepergian sekertarisnya itu dan lanjut membuka isi didalam tas yang diberikan wanitanya. Disana nampak ada sebuah kertas kecil diatas tempat makanan tersebut.


Lantas ia segera mengambil dan membuka isi didalam kertas tersebut.


Aku buatkan khusus makanan ini untuk tuan, jadi semoga tuan suka ya!


Maura.


Senyum diwajah Kenzo terbit membaca note dari istrinya. Setelah itu dirinya kembali membuka tempat makanan yang sudah ia keluarkan dari tas tersebut.


Nampak disana ada makanan kesukannya tapi sepertinya makanan itu sudah dingin.


Kenzo berfikir siapa yang mengantarkan makanan ini? kenapa tidak langsung memberikan ini padanya? kenapa menitipkan ini di meja resepsyonis?


Tapi Kenzo tak peduli tentang itu yang penting makanan ini dibuat oleh istrinya jadi Kenzo akan tetap makan makanan ini walau sudah dirasa dingin, Kenzo tetap lahap memakanya.


Kenzo berfikir seandainya Rara yang mengantarkan makanan ini untuknya pasti dirinya akan sangat senang hati menerimanya apalagi Kenzo akan ditemani makan oleh wanitanya pasti dia merasa bahagia.


Tiba-tiba dering di handpone-nya berbunyi dengan cepat Kenzo membuka dan melihat pesan yang tertera dilayarnya itu.


Seketika amarahnya memuncak melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenalinya.


"Sialan!"



Rara berlari menuju kearah rumah suaminya yang sudah tak jauh didepannya.


Kecewa, itu yang dirasakannya sekarang. Dari mulai melihat suaminya yang bermesra-mesraan dengan wanita lain dan dilecehkan oleh seseorang yang tak dikenalnya. Sampai kapan dia terus-menerus seperti ini?


Sampai didepan gerbang Rara mencoba menghapus air matanya agar tidak ada yang curiga jika ia habis menangis.

__ADS_1


"Pak tolong buka gerbangnya" ucap Rara kepada satpam yang berada didalamnya.


Tak lama gerbang yang berada dihadapannya terbuka, Rara segera masuk kedalamnya tanpa mengucapkan apapun lagi karna air matanya seakan ingin keluar kembali jadi daripada dirinya ditanya yang tidak-tidak akhirnya Rara memilih bergegas untuk pergi kekamarnya.


Satpam yang membukakan pintu gerbang itu menatap nona mudanya yang tidak seperti biasanya.


"Nona kenapa ya josh?" tanya satpam berkepala plontos itu kepada rekan kerjanya.


Temannya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya pertanda ia tidak tau.


Rara berlari pergi kekamarnya sebelum ada yang melihatnya disini, ia ingin sendiri saat ini untuk menenangkan hatinya.


Keadaan rumah cukup sepi sekarang, hanya ada beberapa maid yang berlalu lalang sedangkan keluarga pemilik rumah ini entah pergi kemana.


Ceklek


Sampai di kamarnya Rara langsung masuk dan mengunci pintu tersebut. Ia menyenderkan tubuhnya pada pintu dan duduk terlemas disana, air matanya tak henti-hentinya turun membasahi wajah cantiknya itu.


"Hiks hiks" Rara menekukkan kedua kakinya dan memeluk kakinya dengan kedua tangannya. Ia pikir setelah mereka saling mencintai kehidupan Rara akan bahagia tapi nyatanya tidak, masalah demi masalah mulai kembali hinggap ditakdirnya.


Setelah beberapa menit ia duduk dibelakang pintu akhirnya Rara bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, ia akan membersihkan tubuhnya dan wajahnya agar wajah sembab dimukanya hilang.


Rara mencoba menghapus jejak pria kurang ajar itu dibibirnya tapi mau bagaimana pun pasti jejak itu tidak akan hilang, ia merasa berdosa karna tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri.


Segera ia membersihkan tubuhnya dan wajahnya sebelum Kenzo pulang dari kantor, ia tak mau Kenzo menanyakan mengapa dirinya menangis.


Dirasa sudah selesai Rara pun keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju rumahan, Ia mencoba melupakan kejadian tadi walau sakit tapi Rara mencoba mempercayai Kenzo jika pria itu hanya mencintainya.


Tok!tok!tok!


Mendengar suara ketukan dari depan kamarnya Rara pun segera berjalan untuk membukakan pintu itu, sebelumnya juga Rara sudah memakai sedikit bedak untuk menutupi sembab diwajahnya.


Rara pun membuka pintu tersebut dan melihat siapa yang mengetuk pintunya.


"Non sebentar lagi tuan akan pulang" ucap seseorang dihadapan Rara.


Salah satu maid seperti biasa memberi informasi jika tuannya itu akan pulang. Rara pun mengangguk meng-iyakan ucapan maid tersebut.


"Kalo begitu saya kebawah dulu nona" ucap maid tersebut dengan menunduk sopan lalu bergegas pergi kebawah meninggalkan Rara yang masih diam didepan pintunya.


Rara menarik nafanya pelan dan menutup pintu kamarnya, lalu ia melangkah menuju tangga untuk turun kelantai bawah.



Saat sudah parkir didepan halaman Hans langsung keluar dari mobil bosnya dan membuka pintu mobil untuk Kenzo.


Kenzo lantas keluar dari mobil tersebut dan membuka kacamata hitamnya yang biasa ia kenakan jika berada di perjalanan.


Setelah Kenzo keluar Hans pun menutup pintu itu kembali dan berjalan mengikuti bosnya dari belakang.


Dilihat para maid sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan tuannya dan juga Rara tentunya yang berdiri dipaling depan dengan pandangan menatap Kenzo diam.


Kenzo bergegas menghampiri Rara dengan pandangan tajam diwajahnya.



Rara menunduk ketika mendapati mata tajam dari Kenzo. Ada apa dengan suaminya itu?


Sekarang Kenzo berada dihadapan Rara yang masih diam menunduk takut karna tatapan Kenzo. Tiba-tiba Rara merasakan tangannya digenggam dan ditarik oleh seseorang.


Ya, Kenzo menarik tangan Rara agar wanita itu mengikutinya.


"Sak..it tuan" keluh Rara mendapati tangannya yang digenggam erat oleh Kenzo yang masih berjalan didepannya.


Tapi keluhan dari Rara tidak berpengaruh karna Kenzo masih men-genggam tangan Rara erat.


Para maid yang masih setia berdiri diarah pintu masuk itu hanya diam melihat tuannya yang sepertinya sedang menahan amarah


Hans pun ikut diam menatap kedua bosnya itu, ada apa sebenarnya? kenapa tuannya itu seperti marah pada nona mudanya? didalam hatinya semoga saja Kenzo tak berbuat yang tidak-tidak pada Maura.


Sampai didepan kamar milik Kenzo, mereka langsung masuk kedalamnya dan Kenzo mengunci pintu itu rapat-rapat lalu menghempaskan genggamannya pada tangan Rara.


Rara mengeluarkan airmatanya ketika tangannya itu sudah terlepas dari pegangan erat Kenzo. Ia melihat tangannya memerah karna perbuatan suaminya.


Dengan memegang tangan kanannya Rara menatap Kenzo sendu. "Ada ap..a tuan?" mengapa tiba-tiba Kenzo datang dan menarik kasar tangannya? memangnya salah apa dia?

__ADS_1


Masih dengan menatap tajam Rara, Kenzo menarik kembali tangan wanitanya itu dan menghempaskan tubuh Rara dikasur.


Rara tergeletak dikasur tersebut dengan wajah yang sudah mulai sembab, Kenzo segera mengeluarkan handponenya dan menarik kepala Rara agar wanita itu melihat layar diponselnya.


"Maksud-mu ini apa hah!" sentak Kenzo memperlihatkan layar ponselnya.


Dengan airmata yang tidak berhenti di wajahnya Rara melihat sebuah foto yang ditunjukan Kenzo.


Disana terlihat potret dirinya yang sedang berciuman dengan seseorang yang tadi ia tolong dipinggir jalan. Rara dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Kau bermain-main dibelakang ku?!" ucap kembali Kenzo.


"Hiks itu bukan kejadian sebenarnya tuan" Rara mulai menangis disana, kepalanya sakit karna tangan Kenzo yang mencengkram kepalanya.


Kenzo menghempaskan tangannya dari kepala Rara dan beralih memegang dagu wanita itu kasar. Dengan cepat Kenzo mencium bibir wanitanya agar bekas pria brengsek itu hilang di bibir Rara.


Rara yang melihat itu mencoba menjauhkan tubuh Kenzo darinya. Beberapa menit ciuman itu berlangsung Rara masih mencoba mendorong tubuh Kenzo dari hadapannya karna nafasnya sudah mulai habis.


Tak lama Kenzo pun melepaskan bibirnya dan wajah Rara dan menatap wanitanya dari dekat. "Sepertinya kau menyalah artikan kebaikkan ku selama ini hm?" Kenzo menghempaskan wajah Rara dengan sedikit kasar.


Diri Kenzo sekarang sudah terlampau emosi dan marah karna melihat wanitanya berdekatan dengan laki-laki lain.


Segera Rara menghirup udara dengan selebar-lebarnya. Setelah itu Rara menatap Kenzo yang masih diam didepannya. "Tuan itu bukan seperti yang tuan pikirkan, itu cuma salah paham aku-"


Bagaimana bisa foto itu ada dihandpone Kenzo? apa bodyguard yang biasa mengikuti Rara yang memfotonya? tapi tidak mungkin.


"Salah paham? kau mencoba membela diri huh? bagian tubuh mana lagi yang disentuh laki-laki itu hah?!"


Rara berdiri dan menatap kearah tuannya dengan pandangan kecewa. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. "Aku bukan wanita yang seperti itu tuan!"


Kenzo berdecih. "Cih, Sudah berapa banyak laki-laki yang menyentuh dirimu?"


Plak!


Rara menatap tangannya yang menggantung disamping wajah Kenzo. Ia reflek menampar laki-laki yang ada dihadapannya.


Kenzo memegang wajah yang ditampar oleh wanita didepannya. Segera ia menatap Rara tajam dan menarik rambut wanitanya.


"Kau berani-beraninya menamparku!" Kenzo lagi-lagi menghempaskan tubuh Rara ke kasur.


Rara menangis, fisik dan batinnya sakit mendapatkan perlakuan kejam dari laki-laki yang ia cintai saat ini.


Dengan cepat Rara bangkit kembali dan menatap nyalang Kenzo yang masih diam didepannya.


"Kenapa memangnya? apa aku ga boleh bermesra-mesraan dengan laki-laki lain? tuan saja bebas bermain dengan wanita masa-lalu mu itu dikantor, tapi kenapa aku tidak boleh?" Rara menguatkan hatinya berbicara itu dengan senyum sinis diwajahnya, sekarang keadaan tubuhnya sudah tidak karuan lagi.


Mendengar wanitanya berbicara itu, wajah Kenzo mulai tak berekspresi. "Kau tau dari mana?" ucap Kenzo.


Rara menyunggingkan bibirnya. "Benarkan? aku saja tidak marah jika tuan dekat dengan wanita itu tapi kenapa tuan marah melihat aku bersama laki-laki lain?" airmata Rara masih berlinang diwajah cantiknya.


Kenzo menatap tajam wanitanya. "Kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi!"


"Tuan juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi difoto itu! hiks" bentak Rara yang langsung ditatap tajam oleh pria didepannya.


Kenzo diam tak bergeming tak beberapa lama Kenzo memilih pergi dari hadapan Rara dan berjalan keluar dari kamarnya.


Melihat Kenzo sudah tak ada dikamar ini Rara pun menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit merasakan prilaku kejam dari suaminya hanya karna foto itu.


"Bu, aku lelah hiks kapan aku pergi dari semua masalah ini bu hiks apa aku akan tetap hidup seperti ini hiks" Rara menunduk menatapi nasib malangnya.



Melihat tuan mudanya keluar dari kamarnya, dengan segera wanita yang berdiri tak jauh dari kamar Kenzo pun mengambil hanponenya dan menelpon seseorang.


"Tuan dan nona bertengkar hebat non" ucap maid tersebut dengan pelan.


"...."


"Saya mendengar sendiri dari kamar tuan Kenzo"


"...."


"Baik non Sisil"


Segera maid tersebut menutup sambungan telponnya dan bergegas pergi dari sana sebelum ada orang yang mencurigainya.

__ADS_1


▫▫▫▫▫▫▫


Trimksih buat yang sudah menunggu crta ini!❤


__ADS_2