
Rara membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Lia barusan. Didalam hatinya ia menyayangkan sikap Lia, apa Lia tega memisahkan ibu dari anaknya? kenapa Lia selalu bersikap seperti ini padanya?
"Maaf, sa-saya tidak mau uang itu Nyonya saya tidak mau pisah dengan anak saya apalagi cerai sama Ken-kenzo." ucap Rara dengan pelan ketika mengucapkan kata terakhir.
Lia berdecih dengan menatap mantu dihadapannya dengan remeh. "Kenapa? uang-nya kurang? sebutin aja mau kamu berapa nanti saya tinggal tranfer uangnya."
"Saya yang melahirkan mereka, seberapa besar uang yang nyonya berikan tidak akan membuat putusan saya berubah." sahut Rara mencoba untuk tetap tenang padahal didalam hatinya ia sudah emosi dengan sikap Lia yang terus meremehkannya.
"Saya tau kalo saya bukan dari kalangan atas, saya juga tau status saya jauh dengan Nyonya maupun Kenzo."
"Uang bukan segalanya Nyonya, memang hidup perlu uang tapi tak semuanya harus dibayar dengan uang termasuk kebahagiaan."
Rara menghela nafasnya pelan. "Apa Nyonya tega memisahkan ibu kandung dari kedua anaknya? Nyonya adalah perempuan pasti nyonya tau bagaimana rasanya."
"Status dan derajat bukan segalanya. Memang Nyonya memiliki itu semua sekarang tapi kita tidak tau kedepannya bukan? dunia ini berputar tak selamanya apa yang kita miliki itu abadi."
"Nyonya simpan saja uang itu, maaf saya tidak bisa mewujudkan permintaan Nyonya," setelah mengucapkan itu Rara pergi dari hadapan Lia yang terdiam mematung disana.
Rara menghapus airmatanya kasar. Apa ucapannya tadi sudah benar? Rara takut ucapannya tadi malah membuat Lia tambah tidak suka dengannya, tapi kau bagaimana lagi? dirinya sudah lelah ditindas seperti ini.
__
Kenzo yang sedang memakai pakaiannya itu langsung dikagetkan dengan suara yang timbul dari dalam tas milik wanitanya. Ya, tadi sebelum Kenzo kekamar istrinya itu menyuruhnya membawakan tas milik nya kedalam kamar dan Kenzo pun menuruti ucapan dari Rara.
Dengan cepat Kenzo berjalan menuju meja dan memegang tas milik wanitanya, ia mencari sesuatu disana dan menemukan ponsel milik Rara yang sudah berdering menunjukkan panggilan dari seorang.
Drtt..Drtt
Mas Riki is calling..
Melihat nama itu membuat Kenzo menaikkan kedua alisnya. Ia sepertinya pernah mendengar nama dari panggilan ini.
"Ck! apa ini pria sialan yang mencoba mendekati wanitaku?" gumam Kenzo dengan mempererat genggamannya pada ponsel milik Rara.
Drrtt..drrt
Handpone itu masih berdering nyaring membuat Kenzo kesal dibuatnya. Karna tak kunjung berhenti akhirnya Kenzo mematikan sambungan telepon tersebut sepihak.
"Huh! memangnya Riki-Riki itu seperti apa bentukannya? mengapa dia seperti mengejar-ngejar wanitaku?" kesal Kenzo dengan berjalan mendekati lemari kembali untuk memakai pakaiannya.
Drttt..Drtt
Ponsel milik Rara kembali berdering membuat Kenzo kembali mengambil ponsel milik wanitanya dan menatap sambungan telpon yang memunculkan nama yang sama seperti sambungan pertama tadi.
"Ck!" Kenzo mematikan sambungan itu sepihak dan melempar ponsel milik Rara keatas ranjang.
__ADS_1
Drrtt..Drtt..
Kesabaran Kenzo sudah habis, ia segera mengambil ponsel itu dan menggeser tombol warna hijau untuk mengangkat sambungan telponnya.
"Hallo Ra? kok kamu malah matiin sambungan telpon aku sih tadi? kamu baik-baik aja-kan disana?" ucap seseorang dari ujung sana.
Kenzo hanya diam mendengar suara berat dari sang penelpon.
"Ra? kamu gapapa-kan?"
Hati Kenzo terasa panas mendengar ucapan itu, sepertinya Riki-Riki ini memang menaruh hati pada wanitanya.
"Ekhem." Kenzo berdehem singkat.
"Loh kok suara cowok?! anda siapa ya? dimana Rara? kenapa telpon milik-nya ada di anda? jangan-jangan anda pencuri ya!?"
Mendengar itu Kenzo semakin dibuat kesal. Berani sekali pria ini mengatainya seorang pencuri.
"Ck! berani-beraninya kau mengatai-ku pencuri!" Kenzo menggenggam erat ponsel milik Rara. Coba saja ponsel itu bisa berbicara dipastikan handpone itu akan mengeluh kesakitan.
"Jika bukan pencuri lalu siapa? anda jangan macem-macem ya sama calon pacar saya!"
Kenzo terkekeh pelan, sepertinya ia harus memberi pelajaran pada pria ini karna beraninya mengakui wanitanya sebagai calon pacarnya.
"Wanita-mu? haha stop mempermainkan ku, Rara adalah calon kekasihku jadi anda jangan macam-macam dengannya!" jawab dari ujung telpon sana tak kalah kejamnya.
"Sekali lagi kau bilang seperti itu, aku berjanji akan merobek mulut sialan mu itu!" kejam Kenzo dengan penuh amarah, ya! pria diujung telpon ini selalu men-cap wanitanya sebagai calon pacar atau kekasihnya, Kenzo saja yang suami sah dari Rara hanya diam tak mengaku-ngaku status dirinya itu apa.
"Hey! balikan cepat ponsel milik Rara! aku ingin berbicara dengannya."
"Berani sekali kau menyuruhku! aku tidak akan membiarkan pria sepertimu mendekati wanita-ku!"
Bip.
Kenzo mematikan sambungan telponnya dan melempar ponsel milik Rara dengan asal.
Apa Riki-Riki itu sering menghubungi wanitanya setiap hari? jika iya Kenzo tak akan membiarkan itu terjadi. Wanitanya adalah miliknya jadi tak akan ada seorang pun yang boleh mendekati Rara.
__
Rara kembali kedalam rumah dengan menghapus airmatanya agar tidak ada yang tau jika dirinya habis menangis, ia mengembangkan senyumnya ketika sampai didapur.
"Em buburnya udah siap Bi?" tanya Rara kepada salah satu maid yang sempat ia suruh untuk melanjutkan memasak buburnya.
Maid itu tersenyum dan mengangguk. "Sudah Nona. Ini," Maid itu memberikan sebuah nampan berisikan dua buah mangkok yang isinya adalah bubur.
__ADS_1
Dengan segera Rara menerima bubur tersebut. "Makasih banyak ya Bi, kalo gitu aku ke meja makan dulu."
Setelah mendapat jawaban dari maid dihadapannya Rara pun segera pergi keluar dari dapur dan berjalan menuju meja makan.
Ketika sudah sampai diruang makan Rara pun menaruh nampan tersebut diatas meja dan menatap sekelilingnya.
Kedua anak itu dimana?
Rara berbalik meninggalkan buburnya diatas meja dan melangkah pergi mengelilingi rumah ini. Ia mencari kedua anaknya itu untuk memakan bubur yang sudah dibuatnya dengan bantuan maid juga pastinya.
"Keyla! Kevin!" panggil Rara dengan menengok kearah kanan dan kiri untuk mencari kedua anaknya. Rumah ini sangat besar jadi ia sedikit kewalahan mencari dimana letak bocil itu.
"Nona."
Tiba-tiba dari arah belakang Rara mendengar ada yang memanggil namanya, dengan segera Rara berbalik dan menatap orang yang memanggil-nya dengan sebutan Nona.
Rara menatap penuh tanya maid yang sekarang berdiri didepannya. "Kenapa Bi?"
"Tuan Kenzo memanggil Nona Maura, Tuan menyuruh Nona pergi menghampirinya ke-kamar." ucap maid itu dengan menunduk sopan.
Rara menghela nafasnya pelan, ia belum selesai mencari kedua anaknya tapi Ayah dari anak-anak nya itu malah memanggilnya. Tapi akhirnya ia pun mengangguk. "Iya Bi, makasih ya."
Maid itu mengangguk dan berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya tapi sebelum maid itu melangkah Rara terlebih dahulu menghentikan pergerakannya tersebut.
"Em boleh minta tolong juga gak Bi?" ucap Rara tak enak.
Mendengar itu Maid tersebut berbalik kembali menatap Rara dan mengangguk patuh. "Boleh Nona, ada yang perlu saya bantu?" sopannya.
"Tolong cariin Keyla sama Kevin, terus tolong juga suapin mereka ya. Aku udah siapin bubur diatas meja makan." ucap Rara dengan tersenyum memohon, sebenarnya dirinya tidak ingin menyuruh maid ini tapi mau bagaimana lagi? jika Kenzo sudah menyuruhnya pasti ia harus menurutinya.
Maid itu lantas mengangguk. "Siap Nona."
Rara pun segera berbalik dan berjalan menuju lantas atas untuk kearah kamar Kenzo yang juga adalah kamarnya, ia melangkahkan kakinya dan berhenti didepan sebuah pintu.
Ceklek
Rosa masuk kedalam kamarnya dan tak lupa menutup kembali pintu kamarnya. Setelah itu ia berbalik dan menatap Kenzo yang sekarang sedang berjalan kearahnya.
"Ck! Aku tidak suka lagi jika kau berhubungan dengan pria bernama Riki-Iki itu oh ya dan ponsel-mu juga sudah ku buang jadi aku harap kau tidak lagi berhubungan dengannya."
▫▫▫
Terimaksih sudah mmbaca❤
Tolong like vote and comentnya ya!💃
__ADS_1