
"Itu kan perempuan yang waktu itu ada dirumah kamu Jeung Lia, kalian-kalian masih pada inget gak?" ucap salah satu Ibu-Ibu pada Lia yang diam membatu.
"Oh iya yang waktu itu nganter minuman buat kita bukan?"
"Nah iya bener itu." lanjut salah satu Ibu-Ibu disana.
Salah satu teman Lia menatap intens kehadapannya, ia sepertinya mengenali wanita itu. "Tuh kan Jeung saya baru ingat, itu pemiliknya iya! saya pernah tau loh waktu itu tapi saya lupa." ucap Ibu-Ibu itu menatap salah satu temannya yang waktu itu ikut dengannya.
Kalian masih ingat bukan? kejadian disaat ada Ibu-Ibu rusuh yang berebut gaun yang dicancel pembelinya? ya, itulah mereka, teman dari Lia sendiri.
Lia masih diam membisu disana, antara tidak yakin dan tidak mungkin.
"Butiq ini saya bangun ketika usia saya masih remaja, mulai dari hobi menggambar menjadikan semua itu sebagai ladang pekerjaan saya. Walau awalnya memang banyak rintangan namun syukurnya sekarang halangan itu terbayarkan dengan kesuksesan yang diraih Butiq ini, itu juga berkat dukungan kalian semua." ucap Rara masih dengan nada bahagia.
Prok!Prok!Prok!
Semuanya kembali bertepuk tangan, mereka kagum pada Maura yang notabenya masih muda tapi sudah mencapai kesuksesan ini.
Rara tersenyum menatap orang-orang disana, hatinya sekarang merasa lega. "Saya selama ini memang menyembunyikan identitas saya karna saya ingin hidup seperti biasa dan tidak banyak dikenal orang-orang. Layaknya orang biasa, karna saat saya jadi orang biasa saya jadi tau mana yang benar-benar tulus pada saya dan juga mana yang tidak suka pada saya." ucap Rara dengan menatap seseorang disana.
Semua orang masih terdiam dengan mendengar ucapan gadis yang menjadi pembicaraan publik selama ini.
Termasuk Hazel, ia masih diam menatap kakak iparnya. Matanya sudah berkaca-kaca, ia sudah tidak tahan untuk tidak menangis sekarang. Walau usianya sudah dewasa namun sikapnya masih terbilang kanak-kanak karna ia masih mudah cengeng.
"Saya memberanikan diri untuk berbicara disini karna dukungan orang-orang terdekat saya." Rara menatap sahabatnya, karyawan-karyawannya dan juga Kenzo yang juga menatapnya. "Walau awalnya saya ragu untuk mengungkapkan semuanya namun saya harus mengungkapkan-nya karna rahasia sebesar apapun akan terbongkar dengan seiring jalannya waktu."
Lia terdiam, ia harus merasa bersalah atau merasa kesal sekarang? diantara bersalah karna telah memperlakukan menantunya dengan kasar atau kesal karna ternyata menantunya itu bukan orang sembarangan jadi dirinya sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak suka pada wanita itu.
Rara menatap para tamu dihadapannya yang nampak mulai berbisik satu sama lain, entah apa yang mereka bisikan tapi ia tau pasti banyak yang membicarakannya sekarang.
"Kami pernah melihat Nona sama Tuan Kenzo sering berjalan dan memperlihatkan kemesraan dihadapan publik, apa kalian ada hubungan khusus? mohon penjelasannya Nona, kami sangat penasaran dengan semua ini."
Salah satu wartawan menanyakan hal itu membuat semuanya mengangguk dan menatap Rara seakan meminta penjelasan.
Kenzo tersenyum miring, ia masih diam duduk dimejanya, ia serahkan jawaban semuanya pada Rara untuk menjelaskan semuanya.
Rara menatap Kenzo sebentar yang nampak mengangguk singkat lalu Rara kembali menatap tamu dihadapannya.
"Saya dan Tuan Kenzo-" Rara memberikan sedikit jeda, ia binggung bagaimana cara menjelaskan hubungan mereka. "Kami memang berhubungan."
"Pacaran?"
"Hubungan kinerja pasti hahah."
"Emang cocok sih, cantik sama tampan."
Suara-suara mulai muncul, Rara hanya tersenyum menanggapi mereka semua. "Ya, sekitar empat tahun lalu kami menikah."
Sepi, mereka terdiam ketika mendengar itu. Walau dari mereka sudah ada yang tau dan sudah ada yang mendeksripsikan sendiri tapi kali ini mereka benar-benar Mendengar langsung dari sumbernya.
"Emang keluarga Xander gak pernah salah pilih menantu."
"Iyah, saya jadi iri coba aja kalo saya tau pemiliknya masih muda sama cantik pasti sudah saya jodohin sama anak saya."
"Pantes aja Tuan Kenzo kesini, jelas istrinya yang punya acara ini."
Lia terdiam mendengar bisikan demi bisikan yang terdengar di sekitanya.
"Saya gak nyangka Jeung Lia ternyata menyembunyikan ini semua." ucap salah satu teman Lia bernama Windi.
__ADS_1
"Iya saya juga gak nyangka, kenapa Jeung Lia gak ngasih tau kita sih? menantunya cantik sama sukses loh pasti punya kebanggaan sendiri dihati mertua." semuanya terkekeh bahagia, mereka terkagum sekaligus iri dengan Lia yang bisa mendapatkan menantu seperti Maura.
"Saya jadi iri, pengin banget saya punya menantu sukses kayak Jeung Lia." lanjut salah satu Ibu-Ibu disana.
Disisi lain Hazel pun ikut tersenyum mendengar itu, ia ikut bahagia mendengar semuanya.
"Wih punya Kakak Ipar yang ternyata pemilik Butiq, keren lo Zel." ucap teman perempuan Hazel bernama Siska.
Hazel tersenyum, ia menunduk menatap dress yang ia kenakan sekarang. Ternyata yang membuat ini adalah Rara, kakak iparnya. Ia yakin karna karna merek gaunnya yang berasal dari AuraButiq.
"Gila abis, bisa dong ya kita minta diskon-diskon kalo beli hhe." kekeh teman-temanya.
"Itu punya Kakak ipar gue, bukan punya gue jadi kalo mau minta diskon minta aja sama Kakak ipar gue." sahut Hazel membalas ucapan teman-temannya.
Rara masih mencoba untuk tetap santai namun ia semakin gugup berada disini. "Untuk penutup, saya akan mengadakan diskon besar-besaran dalam seminggu ini sekalian merayakan kesuksesan beberapa tahun terakhir yang dicapai Butiq ini sebagai ucapan terimakasih saya pada pelanggan-pelanggan setia disini. Saya akan melouncing beberapa desain pakaian baru jadi selamat berbelanja, terimakasih atas perhatiannya dan selamat malam," setelah mengucapkan itu Rara turun dari panggung.
Semua orang masih diam namun tak lama mereka memberikan tepuk tangannya.
Prok!Prok!Prok!
Pembawa acara masuk kembali menaiki panggung, wanita itu mulai melanjutkan acara karna memang acara disini masih cukup panjang, setelah sambutan dari pemilik butiq ini selesai acara pun dilanjut kembali.
__
Rara turun dari panggung, ia melihat beberapa orang dihadapannya yang bertubuh sedikit buncit.
"Selamat atas kesuksesannya Nona Maura." ucap pria berkepala plontos mengarahkan tangannya untuk menjabat tangan milik Rara.
"Terimakasih Pak." jawab Rara tersenyum. Walau sebenarnya ia kurang akrab dengan pria dihadapannya.
"Selamat Nona Maura, saya tidak menyangka pemilik Butiq ini adalah anda." ucap pria lainnya yang memberi selamat atas kejayaan Butiq milik Rara.
Rara hanya tersenyum menanggapi tuturan itu. Banyak yang memberikannya ucapan selamat dan berkenalan dengannya ataupun meminta foto bersamanya. Ia merasa bahagia sekarang.
Kenzo tersenyum hangat menatap wanitanya. Ia mendekat kearah Rara dan berdiri disamping wanita itu.
"Eh Tuan Kenzo." beberapa pria disana tersenyum sopan menatap Kenzo yang notabenya juga adalah rekan bisnis mereka.
Kenzo menatap sekilas dan mengangguk singkat untuk menjawab sapaan pria-pria yang berumur diatasnya.
Salah satunya menatap Kenzo dengan tersenyum. "Selamat ya Tuan atas pernikahannya, semoga langgeng."
"Saya tau pasti pernikahan kalian sengaja disembunyikan bukan? saya turut bahagia ya Tuan Kenzo."
"Saya doakan juga semoga pernikahannya langgeng tanpa halangan, Tuan Kenzo ternyata hebat bisa mencari istri seperti Nona Maura."
Deretan ucapan selamat diberikan pada Kenzo dan Rara, kedua pasutri itu hanya tersenyum menanggapi ucapan itu bukan keduanya namun lebih tepatnya hanya Rara, sedangkan Kenzo hanya diam dengan wajah seperti biasa.
"Mamah!" Kevin merentangkan kedua tanganya pada Rara meminta untuk digendong olehnya.
Mendengar hal itu mata mereka semua menatap kearah anak kecil yang digendong oleh Tuan Kenzo, mereka baru sadar jika anak itu memiliki wajah yang persis dengan Kenzo.
"Loh ini anaknya ya?"
Rara menatap Kevin dan menggambil alih dari gendongan Kenzo. "Iya Pak."
"Aduh mirip banget sama Tuan Kenzo, hehe menatap Kevin yang digendong oleh Rara dan Keyla yang berada digendongan Maid disamping Rara." kekeh pria tua berperut buncit.
"Iya yah, tampan dan cantik." sahut lainnya membuat wajah Rara sedikit menekkuk. Ia masih tidak terima wajah anaknya sangat persis dengan pria dihadapannya.
__ADS_1
Kenzo tersenyum miring menatap wajah dari wanita, ia tau kenapa Rara mengubah wajahnya seperti itu.
Keadaan semakin rame, banyak orang-orang yang ingin bertemu dengan Rara dan tak segan mengajak wanita itu untuk ber-selfi bersama.
Saat keadaan sudah tidak cukup ramai Kenzo berdiri disamping Rara dengan menatapnya penuh cinta. Ia sedikit merapatkan tubuhnya untuk membisikan sesuatu pada wanita itu.
"Aku bangga padamu." bisik pelan Kenzo pada Rara.
Mendengar itu Rara menatap Kenzo disampingnya dengan tersenyum manis, "Ini juga berkatmu, acara berjalan dengan lancar sekarang."
"Aku mencintaimu." bisik kembali Kenzo dengan serius.
Rara terdiam namun ketika Kenzo sudah tidak menatapnya, ia mendekat kearah telinga pria itu dengan sedikit berjinjit dan membisikkan sesuatu padanya.
"Aku juga mencintaimu Tuan Kenzo AleXander." setelah mengucapkan itu Rara menurunkan tubuhnya dan menatap kearah depan.
Kalimat yang dilontarkan tadi membuat senyuman dibibir Kenzo terbit, ia menatap wanita dengan rasa bahagia. Akhirnya Rara mengatakan jika dia mencintai dirinya. "Aku lebih-lebih mencintaimu sayang."
Rara sedikit terkekeh melihat wajah Kenzo, ia bahagia sekarang. Dirinya merasakan kebahagian yang sempurna yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
__
Sekarang Rara sudah berada dimesion, setelah acara selesai ia, Kenzo dan kedua anaknya langsung pulang kerumah.
Rara melangkahkan kakinya menyusuri lorong tempat dimana silsilah album keluarga terpajang. Ia hanya sendiri sekarang.
Rara melihat-lihat foto-foto besar yang menempel di dinding lorong ini, beberapa tahun lalu ia pernah kesini dan sekarang kali kedua Rara kembali kesini.
Kakinya tetap melangkah pelan sampai pada dimana foto yang sebelumnya belum ada di-dinding ini sekarang sudah terlihat indah berada disini.
"Aku tidak pernah menyangka foto pernikahan-ku akan berada disini." gumam Rara pelan dengan meraba foto dihadapannya.
Foto yang dilihat Rara sekarang adalah foto pernikahan dirinya dengan Kenzo, saat tahun-tahun lalu foto ini belum ada karna memang saat itu dirinya menikah dengan Kenzo hanya karna hutang.
Rara tersenyum tipis. Dirinya tidak pernah membayangkan fotonya akan berada disini, yang tak lain sekarang Rara sudah sah menjadi bagian dari keluarga Xander.
Walau terlihat jelas foto itu hanya diambil lewat kamera ponsel dan saat itu memang Rara hanya terpaksa senyum menatap arah kamera. Tapi itu dulu, sekarang dirinya tidak akan terpaksa lagi untuk tersenyum karna sekarang ia merasa sudah bahagia.
Langkah Rara berlanjut pada foto disebelah foto pernikahannya, ia menatap foto kedua anak kembarnya yang terpajang disana. Seketika air matanya turun perlahan.
"Bu, aku sudah bahagia, Rara udah bahagia disini." Rara menghapus airmatanya kasar, ia mencoba untuk tidak menangis.
"Ibu bahagia juga-kan liat Rara bahagia? Rara sekarang senang Bu. Rara gak pernah menyangka hidup Rara akan sebahagia ini." gumam Rara masih dengan menatap foto kedua anaknya.
"Makasih Bu, makasih udah semangatin Rara saat Rara terpuruk waktu itu." Rara mengingat lagi saat-saat dimana ia merasakan hidup dan mati. "Ibu benar, Tuhan gak mungkin ngasih kita cobaan terus menerus dan sekarang cobaan itu sudah selesai dan Tuhan ngasih Rara waktu untuk bahagia."
"Tapi sekarang bukan akhir dari segalanya, sekarang adalah awal nyata dari semuanya, tapi bedanya sekarang Rara gak akan sendirian lagi buat ngadepin semua itu, sekarang Rara punya Mas Kenzo, Kevin dan Keyla Bu. Rara gak akan sendirian lagi buat ngadepin kehidupan ini." Rara menghela nafasnya pelan, airmatanya masih turun terus menerus jika mengingat sang Ibu.
"Aku belum tau keadaan Papah sama Mamah dan Nindi sekarang, tapi aku janji aku akan temuin mereka Bu, walau mereka jahat sama Rara tapi mereka yang ngebuat Rara bisa sebahagia ini. Mereka yang udah bikin Rara bisa merasakan arti keluarga disini." gumam pelan Rara dengan tersenyum, ia berjanji akan mencari kedua orang tua yang merawatnya selama ini, walau mereka tidak baik padanya namun mereka tetaplah orang tua Rara.
Makasih Tuhan, makasih Bu. Aku janji akan menjaga keluargaku dengan baik. Aku akan tetap menjadi Rara yang seperti ini. Sekarang Ibu bisa tenangkan disana? Ibu gak usah pikirin Rara lagi disini. Istirahat dengan tenang ya Bu, sampai jumpa dikehidupan selanjutnya, Ibu tunggu Rara disana ya.
TAMAT.
▫▫▫
Huwaaa udah tamat nih😭 Tapi ini belum selesai ya, aku bakal kasih ekstrapart/bonuspart sama info sequel, jadi jangan hapus cerita ini dulu ya dari favorit kalian!
Ceritanya masih ada yang menggantung tentang keluarga Rara jadi nanti aku akan sekalian bahas diekstra-part, kalian juga mau taukan gimana Kenzo ngeladenin Bumil? aku akan up itu untuk bonusnya jadi ttp stay ya!
__ADS_1
Aku akan usahain crazyup part selanjutnya jadi kalian tidak usah menunggu lagi, untuk upnya kapan kalian tunggu aja ya, gak akan lama ko hhe.
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA😙