My Devil Possessive

My Devil Possessive
Khwatir?


__ADS_3

Seorang wanita berparas cantik itu terbangun dari tidurnya ketika merasa terusik dengan suara ribut dari luar kamar.


Rara membuka kedua matanya dan terduduk dari tidurnya, ia merenggangkan kedua tangannya keatas karna semalam Rara bergerak kesana kemari untuk mencari posisi tidur yang nyenyak.


"Huh" Rara bangkit dan berjalan menuju arah kamar mandi, sembari berjalan ia melihat arah jarum jam dinding yang terletak di atas lacinya.


Masih jam 6 pagi


Setelah masuk kedalam kamar mandi, ia menatap cermin yang berada dihadapannya sekarang.


"Gara-gara tidur malem nih" Rara meraba bawah matanya yang sangat terlihat berwarna hitam, ia kemarin malam susah sekali untuk memejamkan mata. entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai tidak bisa tidur.


Dengan segera Rara mandi dan memakai pakaian untuk hari ini, ia hanya mempoleskan sedikit bedak diwajahnya agar kantong matanya tidak terlihat hitam dan sedikit lipbam untuk menutupi bibir keringnya.


Merasa semuanya sudah rapih, Rara pun keluar dari kamar ini dan melangkah menuju bawah.


Ketika ia sudah keluar Rara sama sekali tidak mendengar suara ribut, padahal tadi ia mendengar ada suara ribut dari luar kamarnya.


Sampai dibawah, ia sama sekali tak melihat siapa pun. hanya ada para pelayan yang berlalu lalang disini.


Dimana mereka?


Rara berjalan menuju arah dapur, rencana nya ia akan membantu para pelayan disini untuk menyiapkan sarapn pagi.


"Nona" sebagian para pelayan yang berada disitu menunduk ketika melihat kedatangan nona mudanya.


Rara menatap mereka semua, kenapa para pelayan selalu menunduk? memang nya akan dimarahi apa? Rara melangkah berjalan menuju patry.


"Bibi masak apa?"


"Eh nona, saya masak seperti biasanya"


Rara mengganguk sembari melihat-lihat peralatan dan beberapa sayuran didepannya.


"Saya bantu ya bi"


Pelayan yang sedang mengaduk-ngaduk panci yang didepannya langsung menghadap Rara. "Tidak usah nona"


"Gapapa bii, jadi aku harus ngapain?"


"Nona duduk saja dimeja, biar nanti saya dan maid yang lain yang mengerjakan ini semua"


Rara mengerucutkan bibir depanya. "Kan aku mau bantuin"


"Gausah nona, kami masih sanggup mengerjakan ini semua" tolak halus salah satu maid, ia tidak mau jika nona nya ini melakukan pekerjaan yang seharusnya maid lakukan apalagi jika tuan nya tau.


Rera menghela nafas gusar. "Yaudah deh"


Rara keluar dari dapur, sekarang ia binggung akan pergi kemana seketika Rara mengingat adik ipar nya. ia celingak-celinguk mencari gadis itu namun sepertinya dja disini tidak ada.


"Bi maaf liat Hazel ga?" tanya Rara pada maid yang melintas didepannya.


Maid yang merasa terpanggil itu mengarahkan pandanganya pada Rara. "Maaf nona, saya tidak melihat nona Hazel mungkin belum keluar dari kamarnya nona"


Rara mengangguk. "Kamarnya dimana ya bi?"


"Di lantai dua sebelah kiri yang menghadap ke arah taman samping nona, dipintu nya juga ada nama nona Hazel" ucap maid itu dengan tersenyum.


Mendengar itu Rara mengkerutkan dahinya, ia binggung letak nya dimana tapi akhirnya Rara menjawab dengan anggukan.


"Yaudah bi makasih ya"


"Sama-sama nona"


Maid itu langsung melanjutkan langkahnya untuk menyelesaikan tugasnya.


Rara berjalan menuju lantai dua mesion ini, ia mencoba mencari letak kamar yang di tunjukan maid tadi. tapi saat dia berjalan mencoba mencari pintu bernama adik iparnya namun ketika melewati beberapa pintu, ia mendengar ada suara-suara dari dalam karna takut ada apa-apa jadi ia mencoba menuju pintu asal suara itu.


"Kamu ada-ada aja sih Nes, nanti kalo itu perempuan sakit gimana?"


"Ih tante kan mumpung gaada ka Kenzo, jadi Maura gaada yang ngawasin!"


mendengar namanya disebut dalam suara itu, Rara mendekatkan telinga nya di pintu yang terbuka sedikit.


"Tante gamau ikut-ikutan ahk Nes"


"Yaudah kalo tante gamau ikutan biar Agnes aja sendiri"


Rara mendengar ada suara langkahan kaki menuju pintu, dengan segera ia pergi untuk menjauh dari pintu itu.


Karna lari sambil menghadap kebelakang, Rara tak melihat jika dihadapannya ada orang yang melintas.

__ADS_1


"Aw!"


Rara merasa badannya terbentur sesuatu yang membuat ia mengaduh.


"Kaka ipar ngapain lari-lari gitu, dikejar setan ya?"


Rara mengalihkan pandangannya kearah depan sambil memegang tangannya yang terbentur tadi.


"Eh e..nggak ko" ucap Rara gugup.


Hazel menaikan sebelah alisnya pertanda ia curiga. "Terus kenapa?"


"A..ku tadi eh iya Zel aku dari tadi nyari kamar kamu ga ketemu-temu" sahut Rara mengalihkan pembicaraan.


"Kaka tumben nyari aku"


"Mau ngajak sarapan bareng iya sarapan hehe"


Hazel mengangguk. "Ayo ka, nanti abis makan kita ke kamar aku, biar kaka hafal dimana letak nya" Hazel dengan segera menggandeng tangan kaka iparnya menuju lantai bawah.


Mereka langsung duduk di meja makan yang sudah banyak tersedia makanan yang mengunggah selera Rara.


Tak lama Lia dan Agnes turun dari lantai atas menuju kearah meja yang sudah ditempati Rara dan juga Hazel.


Mereka tadi ngomongin apa ya?


Bukan maksud Rara menguping atau ingin tau tapi tadi ia mendengar nama nya di percakapan mereka berdua, sebenarnya ada apa?


Rara menatap kedua orang yang sudah duduk dihadapannya. nampak kedua orang itu hanya acuh melihat kehadiran Rara.


Semua nampak tenang disana, tak ada suara apapun dimeja itu hanya ada suara sendok dan garpu yang menyentuh piring.



"Hans kemarikan hp ku" ucap Kenzo.


Kenzo dan Hans sekarang berada di mobil. mereka baru sampai tadi pagi, sekarang mobil itu melaju kearah hotel tempat dimana mereka akan beristirahat sebelum mengerjakan tugasnya.


Hans yang berada disamling tuan mudanya mendengar perintah itu langsung memberikan hp yang berada di tas kerja Kenzo.


"Ini tuan"


Kenzo segera mengaktifkan ponsel nya karna tadi ia sempat mematikan hp tersebut karna sedang berada di pesawat pribadinya.


Apa wanita itu tidak merindukan ku?


Kenzo mematikan hp itu kembali dan memberikan ke sekertaris disampingnya tanpa bersuara apapun.


Kenzo menatap luar jendela, sebenarnya ia tidak mau meninggalkan wanita itu tapi kepergiannya juga adalah perintah dari kakek nya sendiri. ia tidak mungkin menolak jika sudah berurusan dengan Tuan besar.


Ia sengaja tidak menghubungi wanita itu duluan karna Kenzo ingin jika Maura yang terlebih dahulu memberikannya pesan atau telpon, apa perempuan itu juga merasakan hal yang sama pada Kenzo?



Setelah selesai makan, mereka langsung meninggalkan meja itu untuk melakukan kegiatan masing-masing.


Hazel yang sudah berjanji untuk mengajak kaka iparnya pergi ke kamarnya itu langsung menarik tangan Maura dan mekangkah menuju kamar yang ternyata berlawanan arah dari jalan yang tadi Rara lewati.


Sampai didepan pintu, Hazel langsng membuka pintu yang bernamakan dirinya dan mengajak kaka iparnya untuk masuk.


Disana terlihat jelas foto-foto oppa korea yang sering di lihat Hazel di ruang Tv.


"Banyak banget Zel fotonya"


Hazel tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya. "Hehe namanya juga idola kak"


Rara mengangguk dan berjalan menuju balkon yang berada tak jauh dari tempat tidur.


"Wah bagus yah pemandangannya dari sini" Rara menatap taman yang memang tak seluas taman belakang namun disana terletak ayunan gantung yang menempel di batang pohon.


Hazel ikut berdiri di samping Maura dengan pandangan yang sama menghadap kearah taman yang didepannya.


"Disini tempat paling aku suka ka. tenang banget, soalnya disini jarang ada maid yang lewat sini"


Rara mengangguk. "iya tenang"


Rara menghirup aroma udara segar yang berada disini, ia mencoba mentenang kan tubuhnya.


"Eh kaka ipar, ka Kenzo udah sampe belum?"


Rara menatap Hazel, apa ia menghubungi duluan si pria kejam? tapi kalo tuan mudanya mengatainya rindu bagaimana?

__ADS_1


"Aku gak tau"


Hazel heran, mengapa kaka iparnya tidak tau? "Loh emangnya Ka Kenzo fga ngehubungin kaka ipar?"


Rara menggeleng. "Engga"


"Apa jangan-jangan ka Kenzo nunggu dihubungin kaka ipar lagi"


Dengan cepat Rara mengidikkan kedua bahunya tanda dia tidak tau, apa benar Kenzo menunggu Rara terlebih dahulu menghubunginya? enak saja masa perempuan yang memberi kabar terlebih dahulu? tukang koran saja yang mengantar surat kabar setiap pagi banyaknya laki-laki, jadi mengapa harus Rara yang duluan? biar saja mahkluk itu yang menghubunginya terlebih dahulu.


"Kaka ipar ga mau ngehubungin ka Kenzo?" tanya Hazel.


"Biar aja dia yang duluan ngehubungin aku Zel"


"Gengsi ya ka hahaha" lanjut Hazel dengan tangan yang menyenggol lengan kaka iparnya itu pertanda menggodanya.


"En..ggak" Rara langsung melangkahkan kakinya menuju sofa, ia cape jika harus berdiri terus menerus.


Jujur ia nyaman jika berada di samping Hazel yang tak lain adalah adik iparnya. sama nyamannya dengan ketika ia berada di samping Aisyah sahabatnya.


Eh iya Butiq gimana ya? aku kesana aja deh kasian Aisyah kalo harus ngehandle semuanya


Baru saja ia menduduki sofa itu, Rara langsung bangkit dan berjalan menuju luar kamar ini.


"Zel aku pamit dulu ya"


Hazel yang masih berdiri dibalkon itu dengan sigap mengalihkan badannya menghadap Rara dan mengacungkan jempolnya.


"Oke ka"


Rara mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan ini, ia berjalan menuju kamar dirinya untuk mengambil ponsel dan tas selempangnya yang ia simpan di meja.


Ketika tas dan ponsel sudah berada ditangannya, ia menatap ponsel itu disana belum ada pertanda notif dari pria itu. apa benar kata adik iparnya jika Kenzo ingin Rara terlebih dahulu mengirimnya pesan atau telpon? dipikiran Rara hanya ada gengsi jika harus menghubungi pria itu, jika sudah menelponnya apa yang akan ia ucapkan?


Rara keluar dari kamarnya dan melanjutkan niatannya untuk pergi ke butiq.


Eh iya lupa


Rara berbalik menuju kamarnya dan mengambil tas belanja berisi gaun yang ia beli kemarin, rencananya setelah ke butiq Rara akan mengunjungi Panti karna sudah beberapa hari ini ia tidak kesana.


Dengan segera Rara melanjutkan langkahnya. ia berpikir sekarang akan menaiki apa, jika Rara memesan ojol ia takut jika Kenzo tau dan menuduhnya lagi berselingkuh tapi jika diantar supir pasti supir itu akan menunggunya sampai selesai.


"Eh ada Maura si cewe murahan, mau kemana kamu?" ucap Agnes entah muncul dari mana, sekarang ia berada disamping Rara.


"Aku mau pergi sebentar ada urusan ka" jawab Rara, sebisa mungkin tetap sopan pada wanita yang ada dihadapannya.


"Cih mentang-mentang gak ada Kak Kenzo bisa seenaknya pergi aja gitu, mau ngabisin uang Kak kenzo lagi? dasar gatau diri"


Sabar Ra sabar masih pagi


Rara menatap Agnes dengan tersenyum. "Kaka jangan nuduh aku kayak gitu, lagian kak Agnes gak tau kan aku mau kemana? jadi jangan asal ngomong"


Agnes menatap tajam wanita yang ada dihadapannya. "Gue gak asal ngomong tapi emang bener kan"


"Maaf ka aku buru-buru" Rara melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar tanpa menjawab ucapan Agnes lagi.


Agnes hanya diam dengan kesal, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum sinis. Agnes akan memberikan pelajaran untuk Rara nanti.



Rara keluar dari mesion dengan diantar supir. ya, tadi pa satpam yang biasa jaga di gerbang mengatakan jika Rara tidak boleh keluar dari mesion kecuali diantar oleh supir rumah ini karna ini perintah.


Ya siapa lagi kalo bukan perintah dari pemilik mesion ini, mobil itu melaju dengan sedang untuk mengantarkan Rara ketempat tujuannya yaitu Butiq.


Ia hanya diam saat dimobil, pandangannya menatap jalanan yang berada diluar. sesekali Rara menatap handpone yang ia pegang, entah apa yang ada dipikirannya sehingga menatap ponsel itu dengan harapan tuan kejam itu memberinya kabar walau hanya singkat.


Kenapa aku jadi khwatir begini!


"Nona sudah sampai" ucap supir membuyarkan pikiran Rara tentang tuan mudanya.


Dengan segera Rara membuka pintu mobilnya. "Makasih ya pak, bapak pulang aja nanti saya telpon kalo mau pulang"


Supir itu mengangguk patuh. "Baik nona"


Setelah keluar Rara menutup pintu itu dan berjalan masuk kedalam Butiq yang terlihat sedikit ramai.


Dengan segera Rara masuk kedalam butiq itu.


"Kamu mau kan menerima pinangan ku My beby Aisyah"


▫▫▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Supornya ya! like comen and saran🙌


Mungkin aku bakal sistemin update seminggu sekalii tapi ini baru rencana sih jadi mohon dukungannya ya!😚


__ADS_2