
Berminggu-minggu setelah kejadian di pasar malam waktu itu membuat Rara dan juga Kenzo semakin dekat. Tak ayal Kenzo selalu menunjukan rasa sayang dan juga cintanya secara terbuka di hadapan semua orang di mesionnya.
Awalnya banyak yang kaget ketika Kenzo berubah menjadi sosok yang manja dan juga sering tersenyum tapi pastinya hanya pada wanitanya. Apalagi sang mommy-Lia yang tak suka jika anaknya semakin dekat dengan wanita itu.
Tapi ada rasa senang sendiri di hati Hazel melihat perubahan kakanya. Ternyata pengorbanannya tidak ikut campur dalam kencan Kenzo dan juga kaka iparnya waktu itu membuahkan hasil, sekarang mereka sekarang jadi lebih dekat dan juga mesra.
"Tuan ini tas kerja mu" ucap Rara malu-malu ketika mengantarkan Kenzo sampai depan halaman rumah.
"Huh padahal aku ingin berdua bersamamu dikamar hari ini" ucap Kenzo dengan nada sedih.
Rara membalas kesedihan Kenzo dengan senyum manis diwajahnya. "Kan bisa nanti tuan, setelah tuan pulang dari kantor"
Kenzo menarik tengkuk Rara untuk memberikan kecupan pada kening wanitanya. "Yasudah kau tunggu dirumah, jangan kemana-mana tanpa seizinku"
Rara mengangguk menanggapi perintah tuannya. Setelah pamitan tuannya itu pun melangkah pergi menghampiri mobil yang sudah siap untuk berangkat itu, tak lupa Kenzo memberikan melambaikan tangannya dan tersneyum pada Rara yang masih setia berdiri disana.
Rara pun ikut melambaikan tangannya. Kenzo akhirnya masuk kedalam mobil itu dan melaju keluar dari perkarangan rumahnya.
Dirasa mobil Kenzo yang sudah pergi. Rara pun menurunkan tangannya dan bergerak berjalan masuk kedalam rumahnya. Sekarang ia binggung akan melakukan apa dirumah ini karna semua pekerjaan sudah dikerjakan para maid.
"Kaka iparr" panggil seseorang dari arah belakang Rara.
Rara pun membalikkan badannya sebelum ia akan menaiki tangga atas. Disana terlihat Hazel yang memakai seragam SMA nya.
"Kamu ga sekolah Zel?" tanya Rara ketika mendapati adik iparnya yang belum berangkat.
Hazel berjalan mendekat menghampiri Maura. "Sekolah" jawab Hazel ketika sampai didepan kaka iparnya.
Rara menatap binggung adik iparnya. Padahal jam sudah menunjukan pukul 7 lebih tapi kenapa adik iparnya belum berangkat? apa ia tidak takut terlambat. "Kenapa belum berangkat?"
Hazel tersenyum manis menatap Rara. "Bentar lagi ulang tahun aku loh kaka ipar, apa hadiahnya udah ada?" Hazel menggangkat kedua alisnya pertanda menggoda.
Hadiah? dia memangnya minta apa?
Rara mencoba memikirkan apa yang diinginkan Hazel, kalo tidak salah Hazel pernah mengatakan ingin ia hadiahin apa tapi Rara lupa apa yang diinginkan Hazel. "Hadiah? em kamu mau apa ya Zel aku lupa"
Hazel menekukkan wajahnya cemberut. "Kaka ipar beneran lupa apa dilupainn" jawab Hazel dengan nada sedih.
"Bener aku lupa" Rara masih mencoba untuk mengingat apa yang diinginkan adik iparnya ini.
Tiba-tiba Hazel menurunkan tatapannya pada perut Rara dan juga sedikit memberi kode dari matanya pada Rara.
Rara pun mengikuti arah pandangan Hazel. Sekarang Rara ingat apa yang di mau oleh gadis ini.
"Em anu" ia binggung akan menjawab apa pada Hazel. Pertanda hamil juga belum dirasakannya berarti dia belum bisa-kan memberikan kado itu Hazel.
"Belum ada yah kaka ipar" dari suara Hazel terdengar ia seperti memendam kecewanya.
"Em semoga aja deh ya Zel, kamu doain aja" Sekarang Rara sudah mulai dkeat dengan Kenzo, apa dia akan seperti ini terus? memulai kehidupan rumah tangga sebenarnya. Tapi ia sedikit ragu akan cinta Kenzo, Apa dia benar-benar cinta padanya?
"Padahalkan aku udah bilang ke bibi buat jangan masukin obat i-" Hazel yang sadar akan ucapannya langsung menutup rapat-rapat mulutnya.
__ADS_1
Rara menatap tanya pada adik iparnya, maksud nya apa? obat apa yang dimaksud. "Obat? obat apa Zel?"
Hazel langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa ka, yaudah aku berangkat sekolah dulu ya" setelah Hazel pamit, ia pun melangkah keluar menjauhi Rara.
Rara masih berdiri dengan tatapan tanya. Maksud adik iparnya apa? obat? memangnya bibi memasukan obat apa padanya? banyak pertanyaan yang timbul dikepalanya sekarang tapi ia tidak mau ambil pusing. Akhirnya Rara melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Ibu mertuanya itu sudah keluar tadi pagi jadi sepertinya rumah ini akan sepi mungkin hanya ada maid yang bekerja disini dan para pekerja lainnya.
Rara masuk kedalam kamar dan terduduk diujung kasur. Ia berfikir akan menghadiahkan apa untuk adik iparnya selain hadiah yang diinginkan Hazel.
"Mungkin gaun bagus kali ya?" gumam Rara berfikir.
Dirasa sudah tau apa yang akan dihadiahi Rara pun menelpon seseorang di ponselnya.
Aisyah
"Hallo syah?" sahut Rara ketika sambungan telponnya sudah menyambung.
"Kenapa Ra?" jawab orang dari balik sambungan telpon.
"Kamu dimana skrng? aku kebutik ya?"
"Dibutik, yaelah kalo mau kebutik, kebutik aja gausah pake izin lagian kan kamu yang punya butiknya" Terdengar kekehan dari ujung sana.
Rara pun ikut terkekeh. "Yaudah aku kesana"
Bip.
Sambungan telpon pun terputus. Dengan segara Rara bangkit dan merapihkan dirinya untuk pergi kesana tapi sebelum itu ia juga menelpon seseorang untuk meminta izin padanya.
"Kenapa? kau merindukanku ya? padahal belum 1 jam kita berpisah"
Ya! yang Rara telpon adalah tuannya, ia akan meminta izin untuk pergi ke butik hari ini.
"Bukan em aku meminta izin pergi ke butik hari ini" Rara berharap semoga saja tuannya ini mengizinkannya untuk pergi kesana.
Lama tak terdengar suara akhirnya suara itu pun muncul. "Yasudah tapi kau harus diantar supir"
"Iya tuan"
"Aku merindukan mu sayang, apa aku pulang saja sekarang?"
Mendengar ucapan dari tuannya Rara langsung menggelengkan kepalanya, akhir-akhir ini Kenzo selalu saja bersifat manja padanya. "Jangan tuan, tuan lebih baik fokus bekerja saja"
"Ck! bagaimana aku bisa fokus jika pikiranku dipenuhi kau!"
Wajah Rara memerah seketika karna mendengar ucapan tuannya ini. Padahal bisa dikatakan tidak ada romantis-romantisnya tapi kenapa hatinya terasa deg-degan?
"Tuan"
"Yasudah kau jaga diri baik-baik dan ingat aku tidak mau lihat kau malah pergi menaiki ojol selingkuhan mu itu"
__ADS_1
Sambungan telpon itu pun terputus sepihak, Rara menjauhkan telponnya dari telinga dan menaruh handpone tersebut dimeja.
"Selingkuh-selingkuh padahal kan dia bukan selingkuhanku! kenapa tuan tidak percaya sih!" Rara heran karna tuannya masih saja sensitif jika kang ojol yang biasa ia tumpangi adalah selingkuhannya padahal kan bukan, kenal saja tidak bagaimana bisa selingkuh.
Setelah selesai merapihkan diri, akhirnya Rara pun melangkah pergi keluar dari kamarnya. Ia berniat akan kebutik hari ini karna sudah lama ia tidak pergi kesana, Rara hanya mengawasi butik miliknya dari jauh.
Sampai di halaman rumah ia pun meminta supir untuk mengantarkannya ke tujuan. "Pak anter bisa anter saya?"
Supir berkepala pelontos itu pun tersenyum dan segera membukakan pintu mobil untuk nona mudanya. "Bisa nona, silakan masuk"
Rara mengangguk dan tersenyum, lantas ia segera masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh supir ini. Pintu mobil Rara ditutup lalu supir itu pun langsung masuk kedalam mobil pengemudi dan menyalakan mesinnya.
♣
Kenzo nampak tidak bisa fokus hari ini, Ia selalu saja memikirkan wanitanya, membuatnya susah sekali untuk fokus.
"Hans!" panggil Kenzo yang membuat pintu di ruangannya terbuka dengan cepat menampilkan sekertarisnya.
"Iya tuan" Hans mendekatkan dirinya pada tuannya.
"Ada jadwal apa saja hari ini?" tanya Kenzo yang membuat Hans langsung memeriksa kertas ditangannya.
"Ada pertemuan dengan beberapa klien tuan siang ini, dan juga metting dengan para direktur kantor"
Kenzo menyenderkan punggungnya pada pinggiran kursi dan memainkan pulpen yang berada dimejanya. "Huh padahal aku ingin sekali pulang cepat hari ini"
Hans yang mendengar itu memicingkan matanya pada tuannya ini, tumben sekali tuannya ingin pulang cepat? memangnya ada apa?
"Memangnya kenapa tuan?" tanya sopan Hans.
"Aku merindukan wanitaku huh rasanya ingin sekali berada disampingnya setiap hari" sahut Kenzo dengan pandangan kearah jendela luar.
Paham apa yang dikatakan tuannya, Hans mencoba mencari jalan keluar untuk tuannya. "Apa tuan tidak ingin liburan? maksudku agar tuan dan nona bisa menghabiskan waktu bersama beberapa hari"
Kenzo menatap tajam Hans. Yang ditatap pun langsung menundukkan kepalanya.
"Idemu bagus juga, seperti bulan madu begitu ya?"
Hans meneggakkan kembali wajahnya dan langsung mengangguk. "Iya tuan"
"Hem, Kira-kira tempat yang bagus untuk berbulan madu dimana ya?" tanya Kenzo.
Hans sedikit berfikir. "Lebih baik tuan menanyakan pada nona muda saja, siapa tau nona memiliki tempat favorit yang bisa dijadikan bulan madu untuk nona dan juga tuan muda"
Kenzo mengangguk men-iyakan saran dari sekertarisnya ini. "Yasudah kau carikan jadwal yang tepat untuk ku berbulan madu dalam waktu dekat ini"
"Baik tuan" Hans pun melangkah pergi keluar dari ruangan ini.
Kenzo masih memainkan pulpennya dimejanya itu dengan senyum miring andalannya. Sepertinya ia sedang memikirkan apa saja yang akan dilakukannya dengan Maura ketika berbulan madu.
"Ah! jadi tidak sabar untuk menghabiskan waktu dengan wanita ku itu, kau tunggu saja baby aku akan memberikan kejutan ketika pulang nanti untukmu"
__ADS_1
▫▫▫▫▫▫
Trimksih sudah membaca❤