My Devil Possessive

My Devil Possessive
Penjelasan


__ADS_3

Mereka pun masuk kedalam kamar Kenzo yang menjadi kamar mereka bersama juga. Rara menatap sekeliling kamar ini yang nampak masih sama seperti dulu. Ia berjalan menuju arah ranjang dan terduduk dipingiran sana.


Kenzo yang melihat itu pun mengikuti wanitanya dan duduk disamping Rara. Ia tak dapat menutupi wajah bahagianya karna wanitanya ini mau kembali padanya.


"Kau banyak berubah." ucap Kenzo mneatap lembut Maura.


Rara mengalihkan pandangannya pada pria disampingnya ini. "Aku masih sama seperti dulu Tuan." jawabnya dengan tersenyum.


Kenzo mendekat kearah Rara dan mengecup dahi sang wanita. "Terimakasih telah kembali padaku." tatapan sendu terpancar dari mata Kenzo yang sekarang menatapnya juga.


Seketika wajah Rara berubah ketika mengingat nama seseorang dipikirannya. "Ka Sisil bagaimana?" tanya Rara. Ia lupa pasti Kenzo sudah bahagia hidup bersama wanita itu bukan? kenapa ia bisa lupa soal itu.


Mendengal hal itu membuat Kenzo menghela nafas kasarnya. "Dia sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi kesini jadi kau jangan memikirkan wanita itu lagi."


"Pergi?" tanya kepo Rara. Bagaimana perempuan itu pergi begitu saja? bukannya Sisil mencintai pria dihadapannya ini sampai-sampai ingin menyelapkannya saat ia sudah pergi kenapa Sisil ikut pergi?


Kenzo mengangguk. "Jangan pikirkan wanita ular itu, dia sudah tidak akan mengganggu hubungan kita jadi kau akan aman disisiku." diam-diam ia tersenyum miring menatap Rara yang hanya mengangguk percaya kepadanya.


"Jika kau masih hidup kenapa kau pergi dariku?" lanjut Kenzo mencoba mengulik masa lalu yang membuatnya frustasi karna ditinggal wanita dihadapannya ini.


Rara menunduk. "Aku kira jika aku pergi, Tuan dan ka Sisil bisa bersatu kembali. Aku gak mau ngerusak hubungan masalalu Tuan dan ka Sisil." ia merasa jika dirinya hanya orang ketiga dihubungan ini, ia tak mau kehadirannya membuat Kenzo dan Sisil tak bisa bersatu.


"Ck! aku sudah mengatakan jika aku hanya mencintai-mu saja." Kenzo menaikkan wajah Rara agar wanita itu menatapnya.


Didalam hati Rara sebenarnya ia masih ragu dengan ucapan Kenzo. "Cinta tapi keliatan mesra sama perempuan lain dikantor." gumam Rara yang masih bisa didengar oleh Kenzo.


Kenzo terkekeh mendengar gumam-man kesal wanitanya. "Kau cemburu hm?" godanya yang membuat Rara kembali menunduk.


"Sekertaris sialan itu yang menyuruh ku dekat kembali dengan wanita ular itu." lanjut Kenzo masih dengan menatap Rara.


Rara menatap pria dihadapannya binggung. "Sekertaris Hans?" tanya Rara.


"Hm." Kenzo mengangguk. "Jika bukan karna rencananya aku juga tidak mau berdekatan dengan wanita itu" lanjutnya.


Rara masih menatap Kenzo binggung, ucapan pria dihadapannya ini membuat dirinya tambah pusing karna tak mengerti alur dari pembicaraan mereka.


Melihat wanitanya yang masih binggung membuat Kenzo mengelus puncuk kepala Rara. "Masalah tentang kematian ayahku, aku dan Hans mencurigai jika kematian itu disengaja oleh seseorang yang ingin menghancurkan bisnis ayahku dan terbukti jika wanita ular itu dan ayahnya yang melakukan semuanya." jelas Kenzo yang membuat Rara membulatkan matanya.


"Jadi mereka yang ngerencanain semuanya?" sahut Rara membuat Kenzo segera mengangguk meng-iyakan ucapan wanitanya.


"Jeck itu menyuruh anaknya untuk mendekati-ku agar rencana mereka berhasil untuk menghancurkan bisnis ayahku. Masalahnya hanya karna status dan kedudukan." ujar Kenzo.


Rara mengalihkan pandangannya pada hadapannya. Ya, hidup itu memang banyak sekali rintangannya. Ketika kita berada diatas pasti banyak sekali orang yang iri dan ingin menjatuhkan kita. "Mereka masuk penjara?" tanyanya kembali menatap Kenzo.


Kenzo hanya tersenyum. "Mereka harus mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan ayahku."


"Maksudnya?" Rara benar-benar binggung.


"Kau tidak usah memikirkan hal itu, tidak penting juga." ucap-nya menatap Rara yang akhirnya hanya mengangguk.


Kenzo mengenggam tangan Rara erat. "Aku bahagia melihat kau masih hidup sampai sekarang," lanjut Kenzo dengan menyelipkan kebelakang rambut Rara yang menutupi wajah cantiknya.


Rara tersenyum. "Hm, aku juga bersyukur karna kandungan-ku saat itu baik-baik saja."

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa selamat?" Kenzo masih binggung memikirkan bagaimana Rara selamat dari kecelakaan tragis itu.


Rara menaikkan kedua bahunya tidak tahu. "Aku tidak ingat Tuan, saat kecelakaan itu samar-samar ada orang yang nyelamatin aku terus tiba-tiba udah dirumah sakit aja." ucap Rara. Ia pun sebenarnya binggung siapa yang menyelamatkannya tapi ia bersyukur karna berkat orang itu dirinya masih hidup sampai sekarang.


Penjelasan wanitanya itu membuat Kenzo juga ikut binggung tapi ia tak terlalu memusingkan karna sekarang dirinya bisa kembali hidup bersama cintanya.


"Maafkan aku karna tidak bisa menjagamu, jika aku tau saat itu kau hamil anakku mungkin aku tidak akan mengizinkan mu pergi selangkah-pun dari kamar." sahut Kenzo lembut.


Aku saja baru tau jika aku hamil anak mu**!


"Pasti kau kelelahan ya mengurus mereka sendirian?" lanjut Kenzo membuat Rara menggeleng-kan kepalanya.


"Sudah tugas seorang ibu merawat dan menjaga anaknya, Tuan." Rara tersenyum manis.


Kenzo menarik genggamannya dan mencium tangan Rara. "Terimakasih telah menjaga anak kita dengan baik."


Ucapan manis itu membuat jantung Rara maraton seketika. Hatinya terasa hangat mendengar ucapan Kenzo.


Kenzo melepaskan genggamannya dan menatap serius Rara. "Siapa Iki-Iki yang mengaku pacar-mu itu? kau berselingkuh dariku?!"


Baru saja hatinya menghangat tiba-tiba saja Kenzo berbicara hal itu yang membuat hatinya kembali kesal. "Aku tidak selingkuh, dia hanya temanku."


"Kenapa pria itu berani-beraninya mengaku pacarmu didepan anakku?!" Kenzo menaikkan salah satu alisnya menatap Rara tajam.


"Dia mungkin hanya bercanda Tuan." Rara merasa kesal kenapa pria dihadapannya ini berbicara tapi seperti mengajak dirinya berantem?


"Cih, kau membelanya?" Kenzo menatap sinis Rara yang juga menatapnya kesal.


Ia menarik nafasnya dan menatap pria disampingnya. "Aku tidak membelanya Tuan! Mas Riki memang hanya teman-ku."


Mendengar nama lain disebutkan membuat Kenzo menatap tajam wanitanya. "Riki? siapa lagi itu?"


"Cowok yang dibilang Tuan tadi namanya Mas Riki tapi emang dipanggil om Iki sama anak-anak" jelas Rara yang langsung diangguki Kenzo.


"Ck kau memanggilnya apa tadi?"


"Mas Riki." Rara tidak tau saja jika panggilannya untuk Riki itu membuat Kenzo meradang.


"Kenapa harus pake Mas segala? memangnya dia siapa-mu?"


Rara mencoba untuk sabar menjawab setiap pertanyaan Kenzo. Pria ini cemburu kali ya? "Kan umurnya lebih tua dari-ku Tuan, jadi dia ingin aku panggil Mas."


"Umurku juga lebih tua dari-mu, kenapa kau masih memanggil dengan sebutan Tuan? lagian aku ini suamimu bukan majikan mu!"


Rara terkekeh membayangkan ia memanggil Kenzo dengan sebutan Mas atau kak? mungkin juga akang? ia merasa aneh saja mendengar panggilan itu untuk seorang Tuan Kenzo yang terhormat.


Melihat wanitanya yang hanya terkekeh membuat Kenzo menatapnya tajam. "Kau kenapa tertawa? ganti panggilan-mu untukku." jelas Kenzo membuat Rara tersadar dari pikirannya.


Rara tersenyum. "Tuan memangnya ingin aku panggil apa? Mas juga? atau akang?" didalam hatinya Rara tertawa mendengar panggilan yang ia ucapkan dihatinya.


"Hm, kau harus memanggilku dengan sebutan sayang saja bagaimana?"


Rara membulatkan matanya. Sayang? kenapa pria ini ingin disebut seperti itu? "Tapi-"

__ADS_1


"Ini perintah! tidak ada penolakan!" potong Kenzo membuat Rara mengkerucutkan bibirnya.


"Aku tidak mau Tuan, lagian aku sudah membayar hutang ayahku jadi Tuan tidak bisa memerintahku seenaknya." Rara menjulurkan lidahnya pertanda mengejek.


"Membayar? aku tidak pernah menerima uang dari-mu." Kenzo menatap Rara dengan angkuh. Ia memang tidak tau jika Rara sudah mengirim uang untuk pembayaran hutang.


Rara menatap Kenzo dengan pandangan yang sulit dimengerti. "Tapi aku sudah membayar hutang itu lewat rekening Aisyah." jelas Rara membuat Kenzo diam.


Kenzo berfikir mungkin uang itu ditranfer langsung kedalam rekening perusahaannya. Ia memang tidak memegang rekening itu karna semuanya dipegang oleh sang kakek disana jadi ia hanya dikirimkan data setiap pengeluaran dan pemasukan yang sama sekali tak dilihatnya. Ia langsung mengirimkan data tersebut ke sekertarisnya Hans jadi mungkin nanti ia akan mempertanyakan prihal ini pada pria itu.


"Kau masih berhutang padaku." ucapan itu membuat Rara menatap remeh Kenzo, ia tidak merasa jika masih memiliki hutang jadi Rara tak takut.


Kenzo yang melihat wajah tatapan remeh dari Rara langsung bangkit dan mengambil sesuatu dilaci meja kamar ini. Setelah menemukan benda tersebut Kenzo berjalan kembali menghampiri Rara.


"Ini." Kenzo mengangkat benda tersebut dan memperlihatkannya pada Rara.


Kalung, itu adalah kalung berwarna hitam karna gosong terbakar oleh api. Rara meneguk air liurnya kasar. Ia tak percaya Kenzo masih menyimpan benda itu.


"Kau tau harga kalung ini berapa?" tanya Kenzo tersenyum miring.


Rara mengangguk. Saat pria itu memberikannya dia berbicara prihal harga kalung tersebut.


"Jadi ini ku anggap hutang-mu selanjutnya." jelas Kenzo membuat wajah Rara kesal. Kalungnya terlepas ketika ia keluar dari mobil itu tapi karna tubuhnya lemas Rara membiarkan kalung itu jatuh didekat mobil yang terbakar.


Kenzo tersenyum miring menatap Rara yang hanya diam lalu tak lama ia terkekeh. "Aku hanya bercanda kau ini serius sekali."


Bercanda? wajah tuan saja serius bagaimana bisa kalo ini cuma bercanda!


Rara menatap kesal pria yang sudah kembali dudk disampingnya. Tiba-tiba saja Kenzo mendekat dan membisikkan sesuatu.


"Bagaimana kalo kita melepas rindu sekarang saja?"


Setelah membisikkan itu Kenzo menjauh dari Rara dan menaikkan kedua alisnya menatap wanita disampingnya yang hanya diam menatapnya.


"Aku tidak mengerti." jelas Rara, Kenzo ini sepertinya hobi sekali berbicara ambigu yang membuatnya binggung.


Kenzo tersenyum miring. "Kita langsung praktekan saja biar kau mengerti."


Disiang panas ini membuat kamar Kenzo bertambah panas dengan kegiatan mereka berdua yang saling melepas rindu bersama.



"Aaa!! Momy kok kak Kenzo jadi kecil begini!"


Hazel yang baru saja datang terkejut dengan sesosok anak kecil yang berdiri didepan pintu dengan menatap kearahnya dingin. Ia terkaget karna melihat wajah sang anak yang mirip sekali dengan kakaknya.


Lia yang baru datang itu juga kaget melihat anak kecil dihadapannya. Ia tak bodoh, anak ini mirip sekali dengan Kenzo saat dia masih kecil tapi mungkin hanya beda dibagian mata dan pipi saja.


"Loh ini anak siapa?!"


▫▫▫▫▫


Trimksih sudah mmbaca😍

__ADS_1


__ADS_2