My Devil Possessive

My Devil Possessive
Mengingat masa lalu


__ADS_3

Sudah beberapa hari Rara dan Kenzo serta kedua anaknya berada di kota Jogyakarta ini, selama itu juga Kenzo memberikan perhatian lebihnya pada Rara membuat mereka seperti kekasih yang sedang dimabuk asmara.


"Kita besok pulang Mas?" tanya Rara pada Kenzo yang berada disampingnya.


Sekarang mereka berdua berada ditaman belakang rumah milik Rara, disini nampak tenang karna kedua anaknya itu sedang asik bermain didepan bersama teman-temannya.


"Hm." jawab Kenzo dengan menatap kearah atas.


Rara hanya mengangguk singkat lalu ikut mengalihkan pandangannya kearah atas melihat indahnya langit yang mulai gelap.


Saat Rara sedang asik menatap keatas tiba-tiba saja Rara merasakan ada sesuatu dipahanya. Ia menatap kearah kakinya dan melihat Kenzo yang menidurkan kepalanya diatas paha kaki Rara.


"Izinkan aku tidur dipangkuan-mu sebentar." ucap Kenzo dengan memejamkan matanya.


Melihat wajah polos dari Kenzo membuat tangan Rara mengelus wajah dihadapannya dengan tersenyum lalu tak lama tanganya ia gerakan pada kepala Kenzo untuk mengelus pelan rambut milik pria itu.


Kenzo nampak tersenyum mendapat perlakuan itu. "Kau tau? aku tidak pernah menyangka bisa memikili keluarga kecil seperti ini denganmu." sahut Kenzo masih dengan memejamkan matanya.


Rara yang mendengar itu hanya diam. Ia lebih memilih mendengarkan ucapan dari Kenzo tak berniat menganggu ucapannya.


"Setelah Ayahku meninggal aku difokuskan untuk melanjutkan perusahaan Ayahku karna aku adalah anak tunggal dikeluarga itu jadi mau tak mau aku harus melanjutkan perusahaan keluarga." ucap kembali Kenzo membuat Rara mengangguk.


"Sampai disaat aku bertemu dengan Sisil, wanita kedua yang membuatku sedikit tertarik. Sisil dulu adalah salah satu model yang bekerja sama dengan perusahaanku makanya kami sering bertemu pada waktu itu."


Rara menekukkan dahinya binggung tapi ia masih mencoba untuk tetap diam.


"Sisil memberikan perhatian lebihnya padaku, saat itu aku masih acuh dengannya tapi lambat laun hatiku mulai mencair padanya dan kami akhirnya memutuskan untuk berpacaran dan mulai berhubungan lebih serius, hidup gelapku menjadi sedikit lebih berwarna karna kehadirannya." ucap Kenzo dengan sedikit tersenyum masih dengan memejamkan matanya.


Jangan tanyakan lagi hati Rara bagaimana ketika mendengar tuturan kata dari Kenzo tapi wanita itu masih mencoba untuk diam.


"Tapi dia meninggalkan-ku sehari setelah aku melamarnya, aku tau dia ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi model terkenal jadi aku membiarkannya dan menunggu dia kembali."


Mendengar itu membuat elusan ditangan Rara berhenti membuat Kenzo berdecak. "Jangan menghentikan elusan tanganmu itu."


"Iya-iya." Rara memajukan bibirnya dan mengelus puncuk kepala Kenzo kembali.


"Saat dimana Davi-"


"Ayah! bagaimana pun dia Ayahku dan mertua mu jadi Mas harus sopan memanggilnya." kesal Rara, Bagaimana pun David Ayah kandungnya bukan? seharusnya Kenzo tidak boleh memanggil nama Ayahnya saja karna itu tidak sopan.


Kenzo membuka matanya namun sesaat kemudian ia kembali memejamkan matanya. "Iya Ayah mertua." Kenzo sedikit menarik nafasnya pelan. "Saat Ayahmu itu datang untuk meminta maaf karna membawa kabur semua uang yang telah aku berikan untuk perusahaan cabang yang dipegangnya seketika membuatku murka saat itu, ketika aku akan memberi hukuman kepada pria tua itu tiba-tiba saja dia menawarkan anaknya untuk dijadikan jaminan hutangnya."

__ADS_1


Rara memejamkan matanya erat, entah kenapa kenangan dimana Ayahnya menjadikannya jaminan masih terasa sakit dihatinya.


"Dia memberikan-ku dua foto yang berbeda, awalnya aku tidak tertarik sedikit pun dengan foto yang pertama tapi saat Ayahmu menunjukan foto kedua aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang membuatku sedikit tertarik padanya. Kau tau bukan siapa yang ku maksud?"


"Iya pasti aku kan?" pelan Rara membuat Kenzo terkekeh.


"Hm iya dan saat itu aku mulai mencari-cari detail tentang mu." lanjut Kenzo membuat Rara menatapnya kesal, pantas saja Kenzo tau semua yang ada dikehidupan maupun diri Rara.


"Aku tidak menyangka ternyata gadis sepertimu adalah pemilik butiq yang cukup terkenal dinegara ini." Kenzo membuka matanya dan menatap Rara yang terlihat menekkukan wajahnya.


"Ya aku tau wanita sepertiku itu tidak terlihat seperti pemilik butiq." Rara meng-iyakan saja ucapan pria dihadapannya.


Kenzo kembali memejamkan matanya. "Saat itu aku sedikit kaget dengan pernyataan itu dan karna hal itu juga yang membuatku sedikit tertarik denganmu dan memilih menikahimu walau saat itu hatiku masih milik Sisil."


Entah kenapa Rara sedikit meradang ketika mendengar nama perempuan itu.


"Tapi lambat laun hatiku mulai teralihkan pada kau sampai dimana aku mulai menyukai gadis sepertimu tapi sayangnya saat itu Sisil kembali kedalam kehidupanku yang membuat aku sedikit bimbang memilihmu atau wanita ular itu."


Rara terkekeh ketika mendengar nama Sisil yang diubah menjadi wanita ular.


"Hans menyuruhku untuk sandiwara karna dia curiga jika wanita ular itu terlibat dalam kecelakaan Papahku, sampai dimana semuanya mulai terungkap dan Sisil serta Ayahnya-Jack terbukti bersalah karna mereka dalang dibalik kecelakaan Ayahku." Kenzo nampak menghela nafasnya pelan. "Aku merasa sedih karna baru mengetahui ini setelah sekian tahun lamanya, wanita yang ku cintai dulu adalah penyebab kematian orang yang sangat kucintai dan parahnya lagi kejadian itu terulang kembali pada wanita yang kucintai." Kenzo membuka matanya dan menatap Rara sendu. "Kau, kau meninggalkan ku dalam kecelakaan akibat ulah wanita ular itu."


"Hidupku rasanya sudah tak berarti lagi karna kau pergi meninggalkan-ku serta anakku yang kau kandung, saat itu aku menyalahkan diriku karna tidak becus dalam menjagamu." airmata Rara mulai mengalir mendengar ucapan Kenzo itu.


"Fakta yang dikatakan dokter itu jika hanya ada tiga jasad yang berhasil diotopsi sedangkan saat itu anak buahku melihat jika saat mobil itu belum terbakar didalamnya ada empat orang termasuk kau."


Rara mengangguk pelan, ya memang saat penculikan itu terjadi ada 3 orang pria berbadan besar serta dirinya didalam mobil sana.


"Kemungkinannya kecil ketika aku mengira kau masih hidup karna aku sudah menyuruh orang untuk mencarimu dipenjuru dunia ini tapi hasilnya nihil."


"Dan pada saat peresmian hotel klien-ku, takdir ternyata berpihak padaku. Aku akhirnya bisa menemukanmu serta kedua anak yang kau kandung sendirian selama ini. Aku sangat bersyukur karna akhirnya kau kembali padaku." lanjut Kenzo dengan membangunkan tubuhnya dan duduk saling berhadapan dengan Rara.


"Maafkan aku karna tak bisa menjagamu saat itu dan terimakasih banyak karna mau kembali padaku." tatapan hangat terlihat diwajah Kenzo.


Rara yang melihat itu tersenyum, ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi sekarang.


"Aku mencintaimu." pelan Kenzo dengan tersenyum manis. "Aku harap kau tetap disampingku." lanjutnya dengan memeluk Rara.


Rara hanya mengangguk tapi beberapa menit kemudian ia melepaskan pelukan Kenzo. "Tapi aku binggung sama ucapan yang pertama tadi. Kalo Kak Sisil wanita kedua yang membuatmu tertarik terus wanita pertamanya siapa?" ya! Rara penasaran dengan siapa wanita pertama yang membuat pria dihadapannya ini tertarik.


Senyum miring diwajah Kenzo nampak terlihat. Sepertinya wanita dihadapannya ini lupa dengan kisah semasa kecilnya. "Gadis kecil yang pernah memberikan payung saat aku kehujanan dirumah sakit." pelannya.

__ADS_1


"Gadis kecil?" Rara mengkerutkan dahinya binggung, sepertinya ia tak asing dengan cerita itu.


Dengan segera Kenzo mengangguk singkat. "Iya, saat umurku masih terbilang remaja aku bertemu dengannya dirumah sakit dan saat itu adalah awal dimana aku mulai tertarik dengan seorang perempuan." Kenzo tersenyum miring menatap Rara yang masih binggung.


"Apa Mas udah ketemu lagi sama gadis kecil itu?" tanya Rara dengan sedikit sinis, hatinya merasakan sedikit aneh sekarang.


"Sudah, dia juga terlihat semakin cantik ketika dewasa." ucap Kenzo masih dengan senyuman andalannya.


Ucapan itu mampu membuat hati Rara panas. "Kenapa Mas gak nikahin aja sekalian kalo udah ketemu?" kesal Rara yang langsung membuat Kenzo terkekeh keras.


"Kau tenang saja, sudah aku nikahi gadis itu." lanjut Kenzo.


Wajah Rara semakin memerah, entah marah atau kesal yang dirasakannya sekarang. Jika Kenzo sudah menikah dengan gadis itu berarti dirinya?


Melihat wajah menggemaskan dari Rara membuat tawa Kenzo menggelegar. "Haha kau lupa kejadian dirumah sakit itu?!"


"Kejadian dirumah sakit?" tanya Rara masih dengan pandangan binggung.


"Kau ini lupa atau bagaimana? kau pernah bukan memberikan payung rumah sakit pada seorang pria yang kehujanan ditaman rumah sakit?" tanya Kenzo membuat Rara berfikir.


Tak lama Rara membulatkan matanya, samar-samar ia ingat jika dirinya pernah memberikan payung pada seorang pria remaja yang terduduk ditaman rumah sakit. Saat itu usianya masih kecil jadi ingatan itu masih samar-samar dipikirannya.


"Jadi pria itu-?" Rara menatap Kenzo dengan kedua alis yang terangkat.


Masih dengan senyuman diwajahnya Rara mengangguk pelan. "Hm dan sekarang aku sudah menikahi gadis yang pertama kali membuatku tertarik pada seorang wanita," Kenzo menyelipkan rambut yang menutupi wajah Rara kebelakang telinga wanita itu. "Dan itu kau." lanjutnya.


Tanpa sadar Rara ikut tersenyum mendengar itu, ternyata pikirannya salah tadi. Ia teringat saat dirinya meminjam payung seorang suster untuk ia berikan pada pria yang terduduk di taman rumah sakit.


Rara menatap sekarang menatap serius pria dihadapannya. "Apa payungnya dibalikin lagi Mas?" tanyanya. Saat itu ia memberikan payungnya pada Kenzo dan meminta pria itu untuk mengembalikannya jika sudah selesai duduk disana karna Rara saat itu tidak bisa berlama-lama dirumah sakit.


Kenzo menurunkan tangannya dari wajah Rara. "Aku membuang payung itu."


"Dibuang?!" mata Rara memplototi Kenzo. Padahal dirinya sudah berjanji akan mengembalikan payung itu pada rumah sakit karna itu milik rumah sakit.


"Iya dibuang, aku tidak tau harus mengembalikannya pada siapa jadi aku membuang nya saja." jawab santai Kenzo tanpa rasa salah sedikit pun.


Rara yang melihat itu memajukan bibirnya kedepan pertanda kesal.


Huh, dasar pria tidak bertanggung jawab! pantas saja hidupku selama ini merasa tidak tenang karna aku punya hutang untuk mengembalikan payung rumah sakit itu! kira-kira susternya masih inget gak ya? ah aku harus membeli payung baru dan mengembalikannya agar hidupku tenang


▫▫

__ADS_1


Payung nya kakak? hehe😆


Terimaksih sudah membaca❤


__ADS_2