
Setelah sudah tidak merasakan sakit, Rara pun bangkit dan berjalan menuju kelantai atas dengan Maid yang menemani. Padahal dirinya sudah menolak bantuan para pekerjanya namun Maid itu memaksa alhasil Rara tidak bisa menolak.
Sampai saat berjalan disamping pintu kamar Kevin dan Keyla, ia mendengar suara ricuh dari dalam. Rara pun segera membuka pintu itu lalu menatap kearah dalamnya.
"Keyla, Kevin!" tegas Rara, ia menggelengkan kepalanya menatap kedua anaknya yang tidak kenal lelah berlarian membuat para pekerja cape dibuatnya.
Keyla dan Kevin berhenti, mereka masih memakai handuk ditubuh kecilnya dan Rara percaya mungkin mereka baru selesai mandi.
"Aduh kalian ini kenapa gak bisa diem? pake baju dulu kalo udah mandi. Jangan bikin Bibi pusing dengan tingkah kalian." kesal Rara.
Keyla dan Kevin yang mendengar itu diam. Mereka mendekat kearah Rara dan memeluk kaki Mamahnya.
"Abis na Mamah semenjak ada dedek bayi, Mamah jarang main ama Kepin! Mamah ndak selu lagi! Kepin ndak mau punya dedek bayi!" ucap Kevin masih dengan memeluk kaki Rara.
"Keyla mau kok punya dedek bayi, yang antik ya Mah dedek bayi na." lanjut Keyla.
Mendengar adiknya tidak mengikuti ucapannya membuat Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Keyla dengan tajam. "Keyla kok ndak dukung Kepin!"
"Pelmen dulu, balu Keyla dukung Kepin nanti." jawab Keyla dengan menjulurkan telapak tangannya kearah kakaknya.
"Pelmen mulu! pantes ompong gigi na haha." Kevin seketika tertawa membuat yang lain gemas melihanya.
Kevin memang tipikal anak jarang tertawa, entah mengikuti Bapaknya atau kenapa ia memang jarang tertawa lepas ataupun tersenyum tapi tidak untuk orang terdekatnya, anak itu selalu tersenyum hangat dengan orang yang dikenalnya walaupun jarang-jarang.
"Udah-udah kalian pake baju sana nanti masuk angin lagi, Mamah mau kerumah sakit nanti jadi kalian dirumah jangan nakal ya?" lanjut Rara dengan mengelus puncuk anaknya.
"Mau ikutttt." keduanya menjawab dengan serentak.
"Jangan sayang, udah ya kalian disini aja? sama Bibi oke?" bujuk Rara, ia tidak mungkin membawa Keyla dan Kevin karna Rara tau pasti keduanya tidak akan diam.
Kedua anak itu terlihat memajukan bibirnya manyun, sepertinya Keyla dan Kevin tetap mau ikut bersamanya.
Salah satu babysister mendekat kearah Kevin dan Keyla untuk membantu membujuk mereka berdua.
"Nona sama Tuan kecil, ikut Bibi aja yuk nanti? kita muter-muter komplek rumah ini, mau?" ucap babysister itu dengan mensejajarkan tubuhnya pada Keyla dan Kevin.
"Ndak mau!"
"Mau na ikut Mamah!"
Tapi Babysister itu nampak tidak menyerah membujuk kedua anak itu dan akhirnya mereka mau mengikutinya.
Rara sedikit terkekeh. Babysister itu membujuk Keyla terlebih dahulu dengan embel-embel melihat cowok ganteng diluar sana. Sedangkan Kevin, Babysister itu mengajaknya untuk menemui pemain bola yang sering bermain dilapangan dekat komplek rumah ini. Rara bersyukur kedua anaknya itu luluh dengan bujukan itu.
"Makasih ya Bi." ucap Rara menatap Babysister itu.
"Sudah menjadi kewajiban saya membantu Nona." jawab wanita itu.
Rara tersenyum dan berbalik berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian agar ia segera menuju kerumah sakit.
___
__ADS_1
"Hans!" teriak Kenzo membuat Hans masuk kedalam ruangannya.
Sekarang mereka sudah berada dikantor milik Kenzo setelah beberapa menit perjalanan dari rumah menuju kantor ini.
Kenzo nampak tidak bisa diam, setibanya dikantor Kenzo sama sekali belum mengerjakan kertas-kertas dihadapannya, ia merasa tidak memiliki semangat untuk kerja dan sekarang ia merasakan ingin memakan sesuatu.
"Iya Tuan." ucap Hans menatap Kenzo yang duduk dihadapannya.
"Aku ingin sesuatu." pelan Kenzo.
"Tuan ingin apa?" Hans berdoa didalam hati semoga Tuannya tidak ingin sesuatu yang aneh seperti kemarin-kemarin.
Hans hanya tidak habis fikir dengan Tuannya. Kenzo itu sebenarnya sedang mengerjainya atau memang benar-benar mengidam? kemarin saja Kenzo memintanya untuk mencari tukang baso bakar yang dia beli saat dirinya masih kecil. Hans tak habis pikir namun karna itu perintah mau tak mau Hans menjalankannya. Dan kalian tahu? setelah Hans mengumpulkan informasi tentang penjual bakso bakar itu Hans langsung berkunjung kerumahnya untuk meminta dibuatkan baso bakar tapi naasnya ternyata sang penjualan sudah meninggal dunia. Perjuangannya mati-matian mencari dimana tukang bakso bakar yang memiliki sama rasa dengan sang penjualan bakso bakar yang sudah meninggal tapi setelah mendapatkanya Kenzo malah menyuruh dirinya memakan itu sendiri dan Tuannya malah memilih memakan bakso kuah yang dijual didepan perusahaan. Kesal? ya! Hans merasa kesal tapi apalah daya seorang sekertaris yang tidak memiliki kewenangan menyalahkan atasannya.
"Aku ingin telor gulung buatan mu Hans."
Hans membulatkan matanya, apa katanya? telur gulung? ceplok telur saja dia gosong apalagi telur gulung.
"Ta-tapi saya tidak bisa memasak Tuan, lebih baik Tuan meminta yang lain saja nanti biar saya yang belikan." ucap Hans mencoba merubah permintaan Kenzo.
"Aku ingin telur gulung buatan mu, cepat kau pergi kedapur kantor dan memasak disana. Aku ingin memakan itu sekarang jadi ayo lakukan, ini perintah!" Kenzo menatap tajam Hans membuat sekertaris itu mengumpat dalam hati.
Sebenarnya disini siapa sih yang hamil? kenapa jadi aku yang harus direpotkan?
___
Rara sekarang sudah siap untuk pergi kerumah sakit, ia sudah rapi memakai gaun yang ia rancang sendiri.
Setelah selesai berdandan, Rara langsung berjalan keluar dari kamarnya dan turun dari tangga.
Rara berjalan dengan perlahan menuju kearah luar, ia sudah bilang terlebih dahulu pada Kenzo tadi dan Kenzo pun mengerti. Pria itu tadinya menawarkan ingin mengantarnya check-up tapi Rara menolak karna Kenzo sedang bekerja lagipula ada supir yang menjaganya nanti dan dipastikan Kenzo akan menyuruh para bodyguard mengawasinya dari jauh karna Rara sudah sering memergoki bodyguard itu.
"Kamu mau kemana?" tanya seseorang dari arah belakang Rara.
Dengan segera Rara berbalik menatap seseorag itu, ia tersenyum tipis menatap Lia yang menatapnya juga dengan penuh tanya.
"Aku mau pergi kerumah sakit Mom." jawab Rara.
Semenjak kejadian dibutik, Lia menjadi berubah. Wanita itu sudah mulai menerimanya untuk tinggal disini dan menjadi menantu dari keluarga ini walau ia tau Lia belum sepenuhnya menerima dirinya disini tapi Rara bersyukur karna Lia sudah tidak melakukan atau berbicara yang tidak-tidak padanya.
"Oh, mau check-up ya? mau Mommy antar?" tawar Lia tanpa senyuman.
Dengan cepat Rara mengeleng, bukan ia menolak tapi Rara belum kuat untuk berada disamping Lia sepanjang perjalanan. Takutnya wanita itu menanyakan hal yang tidak-tidak padanya yang membuatnya tidak nyaman.
"Gak usah Mom, aku bisa sendiri" ucap Rara tersenyum.
Lia pun mengangguk singkat dan berbalik menuju kearah dapur, Rara yang melihat itu hanya diam dan sedikit menggelengkan kepalanya.
Rara segera melanjutkan langkahnya menuju kearah luar untuk menaiki mobil Kenzo yang akan mengantarkannya ke rumah sakit.
Sampai didepan Rara sudah melihat mobilnya siap, dengan segera ia masuk kedalamnya dan menyuruh untuk supir itu cepat kerumah sakit.
__ADS_1
Disepanjang jalan Rara hanya diam dengan memandangi jalan, kehidupannya sudah berubah total sekarang. Ia jadi sulit untuk membedakan mana yang sayang tulus padanya atau yang hanya pencitraan. Soal butik, Butiknya itu masih mengembang pesat sampai sekarang dan soal kedua orang tuanya Rara masih belum tau. Katanya anak-ana buah Kenzo kesulitan untuk mencari keluarganya jadi mau tak mau Rara menunggu informasi bawahan suaminya itu.
"Kita sudah sampai Nona."
Mobil berhenti disebuah lobi rumah sakit, Rara pun tersenyum. Ia tidak kira jika akan sampai secepat ini.
"Makasih ya Pak," setelah mengucapkan itu Rara turun segera turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumah sakit.
Pengunjung disini nampak tidak terlalu ramai jadi Rara bisa bebas berjalan dengan tenang, dibelakang Rara terdapat beberapa bodyguard yang mengikutinya namun ia hanya acuh.
Sampai diruang bertulisan dokter kandungan, Rara segera masuk kedalamnya. Ia terlebih dahulu sudah memiliki janji dengan dokter itu alhasil sekarang dirinya hanya tinggal menemui dokter itu.
Ceklek
"Permisi." sapa Rara dengan berjalan masuk kedalamnya.
"Eh Nona Maura, silakan non duduk terlebih dahulu." ucap seseorang yang mendekatinya.
Dia adalah dokter Zeva, dokter spesialis kandungan dirumah sakit ini sekaligus dokter pribadi kedua dikeluarga Xander.
"Iya," Rara pun duduk dikursi yang telah disediakan disana.
Dokter itu pun ikut duduk dihadapan Rara yang artinya sekarang posisi mereka saling berhadapan.
"Sekarang jadwalnya kita check-up kandungannya ya." Dokter itu tersenyum menatap Ibu yang akan memiliki 3 orang anak ini.
Rara mengangguk, sebenarnya ia ingin tau jenis kelamin dari anaknya ini tapi dia dan Kenzo memutuskan untuk menunggunya sampai lahir. Jadi selama ini mereka hanya menebak-nebak jenis kelamin sang anak, seperti kejutan begitu.
Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan menuju brankar, Rara merebahkan tubuhnya dikasur itu agar Dokter Zeva bisa memeriksa dengan mudah.
"Kita mulai ya?" sahut Dokter itu dengan membuka sedikit perut Rara lalu meletakan sedikit jell diperutnya.
Seketika Rara merasakan geli diperutnya dan hawa dingin. Mata Rara lalu menatap monitor yang berada dihadapannya, bibir Rara tak henti-hentinya tersenyum menatap calon bayinya yang sebentar lagi akan lahir.
Rara merekam monitor itu lewat ponselnya dan ia kirimkan pada Kenzo karna pria tadi memintanya bukti jika ia pergi kerumah sakit.
Setelah berbicara singkat prihal kondisi bayinya, dokter itu pun selesai memeriksa Rara dan menyuruh wanita hamil itu untuk duduk kembali dikursi yang tadi.
"Kondisi bayi dan Nona cukup baik, saya harap Nona jangan terlalu banyak pikiran dan sering-sering untuk berjalan-jalan agar persalinannya nanti lancar," ucap Dokter itu tersenyum dengan duduk dikursinya yang berhadapan dengan Rara.
"Baik Dok," Rara mengangguk.
Mereka nampak berbicara singkat dan setelahnya mereka bangkit dari duduknya masing-masing.
"Makasih ya Dok," Rara menjabat tangan Zeva untuk bersalaman.
"Sama-sama Nona."
Rara pun keluar dari ruangan dokter kandungan ini setelah berpamitan, ia sudah selesai mengecek kandungannya jadi sekarang waktunya ia pulang.
Saat melintasi lorong rumah sakit ia menatap taman yang berada disamping lorong tersebut, ia menghirup dalam-dalam udara segar disini. Seketika mata Rara menatap seseorang ditaman sana, ia menajamkan tatapannya untuk melihat jelas siapa seseorang itu.
__ADS_1
Rara membulatkan matanya, ia kenal dengan seseorang itu. Wajah seseorang itu sangat familiar dipikirannya.
Papah?