My Devil Possessive

My Devil Possessive
Beruntung


__ADS_3

Eh ini kan bukannya ibu-ibu yang waktu itu berantem dibutik ya


Rara mengingat kejadian beberapa minggu lalu yang di alaminya dibutik, benar ia tak salah lagi jika kedua orang yang ribut di butik nya minggu lalu berada disini. Yang tak lain adalah teman dari mertuanya-Lia.


"S..aya permisi dulu, silakan dinikmati" ucap Rara dengan langsung membalikkan badannya menjauh dari sana.


Ia tidak mau jika sampai kedua wanita itu menyadarinya, Rara menarik kata-kata saat itu. Ini belum saat nya semua orang tau bahwa dirinya adalah pemilik Butiq apalagi dengan kondisinya yang sekarang adalah istri dari seorang Kenzo.


"Eh tunggu dulu"


Jantung Rara seolah berdetak dengan cepat sekarang. Ia takut jika wanita itu mengingatnya apalagi disini ada mertuanya yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan yang ia tidak ketahui apa artinya.


Rara membalikkan badannya menatap asal suara tersebut.


"Farida, ini bukannya perempuan yang dibutik itu ya?" ucap ibu-ibu yang memakai dress hitam-putih. Ia menanyai wanita yang duduk disampingnya.


Wanita yang dipanggil Farida itu menatap Rara dari atas sampai bawah yang membuat Rara tak nyaman.


"Kamu salah liat kali, udah Ra sana kamu balik ke dapur" ucap Lia memutuskan tatapan Farida ke wanita yang masih berdiri.


Rara mengangguk dan membalikkan tubuhnya menuju arah dapur, sekarang ia bisa bernafas lega karna Lia menyuruhnya kembali ke dapur sebelum ibu-ibu itu mengenalnya.


"Kayaknya itu yang dibutik bukan sih Lin" ucap perempuan bernama Farida itu kepada yang menanyai-nya tadi.


Lia menatap binggung temannya ini, Butik? sekarang ia tau jika wanita itu menghabiskan uang Kenzo untuk membeli pakaian dibutik yang di bicarakan temannya tadi. Tapi kenapa setelah Maura kembali ia tidak nampak menantunya itu membawa apa-apa?


"Salah liat kali Fa" ucap Lia memotong pembicaraan temannya ini.


Perempuan bernama Merlin langsung menggelengkan kepalanya menjawab ucapan Lia. "Bener Li kita liat ko perempuan itu dibutik apalagi di AuraButiq kita lihatnya iya kan Fa"


Farida mengangguk men-iyakan jawaban temannya. "Emang dia siapa Li?" tanya Farida pada Lia.


"Dia bukan siapa-siapa ko, ga penting juga kita omongin mending dimakan cemilannya, silakan" ucap Lia menawarkan makanan yang sudah tersedia di meja ruang tamunya.


Akhirnya teman-temannya mengangguk dan mulai pada pembicaraan yang tak jauh dari ibu-ibu sosialita.

__ADS_1



Rara kembali kedapur dan meletakkan nampan kosong itu di meja. Disepanjang jalan menuju dapur Ia berdoa semoga saja ibu-ibu itu tidak mengatakan yang sebenarnya, Rara bedoa semoga saja ibu itu lupa akan pertemuannya kemarin denganya.


"Non" ucap salah satu bibi yang menghampiri Rara yang nampak masoh menormalkan detak jantungnya.


"Iya bi" jawab Rara dengan menetralkan pikiran dan juga jantungnya.


Rara melihat jika bibi yang memanggilnya itu membawa nampan berisikan kue buatannya, mungkin kue itu baru saja diangkat dari oven.


"Ini sisa kue nya mau ditaruh dimana non, untuk tuan Kenzo sudah saya letakan di tempat kue disana" sahut bibi tersebut sembari menunjukan letak tempat kue yang disimpan di atas nakas dekat kulkas untuk tuannya.


Rara sedikit berfikir. Untuk nyonya nya sudah, untuk tuan Kenzo juga sudah ada. "Untuk bibi aja deh, makasih loh ya bi udah bantuin aku bikin kue" ucap Rara berjalan mengambil kue yang disediakan untuk tuannya itu. Ia berniat membawanya ke kamar Kenzo.


Bibi itu langsung berterimakasih pada Rara. "Makasih non kuenya" ucap Bibi itu tersenyum. "Kalo bantuin nona mah sudah tugas para bibi non" lanjut sang bibi.


Rara tersenyum dan mengangguk, ia membawa kue tersebut dan berjalan menuju lantai atas. Dari jauh ia nampak ibu-ibu tersebut sedang menikmati makanannya, dirasa tidak ada yang melihatnya Rara langsung berlari menuju lantai atas. Jangan sampai salah satu ibu-ibu itu memanggilnya kembali.


Ceklek


Rara membuka pintu kamar Kenzo dan masuk kedalamnya, ia menaruh kue tersebut dimeja dekat sofa kamar ini.


Andai saja ia bisa mengajak para anak panti kesini mungkin Rara akan senang karna pasti rumah ini akan ramai dengan anak-anak, dia senang sekali dengan anak kecil entah karna imutnya atau karna sikap polos anak kecil yang membuatnya gemas.


Rara mengelus pelan perut ratanya. "Apa nanti disini bakal tumbuh anak?" gumam Rara ketika merasakan angin berhembus kencang ke arahnya. Sampai membuat rambut hitam panjangnya berhambur kebelakang.


Ia langsung menggelengkan kepalanya ketika menyadari perkataannya tadi, tidak boleh sampai ada janin diperutnya. Apalagi janin dari seorang Kenzo, bisa-bisa ia tidak bisa lepas dari pria itu jika sampai ada anaknya di dalam perutnya.


Tapi ia tidak akan tau kedepannya bagaimana, bukannya takdir dapat mengubah segalanya? ia hanya berdoa semoga takdir kebahagiaan cepat menghampirinya.



"Hans" ucap Kenzo dengan tangan yang memainkan pulpen diatas meja kerjanya.


Hans yang merasa terpanggil langsung masuk kedalam ruangan tuannya nya ini. "Iya tuan"

__ADS_1


Kenzo menatap jendela besar dibelakangnya. "Sore ini kosongkan jadwal ku, aku akan pergi cepat hari ini" ucap dingin Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya pada Hans.


"Tapi tuan sore ini kita ada pertemuan dengan klien" jawab Hans. Apa tuannya lupa? padahal ia sudah mengingatkannya jauh-jauh hari.


"Batalkan semuanya, aku akan berkencan dengan wanitaku malam ini" tanpa sadar Kenzo tersenyum tulus dalam kursinya.


Hans tersentak ketika mendengar jawaban dari tuannya. Apa berkencan? apa tuannya mengajak nona mudanya berkencan? atau malah nona nya yang mengajak Kenzo berkencan? apa diantara mereka sudah timbul cinta?


Jika benar Hans akan senang sekali karna Kenzo dapat menyukai perempuan baik seperti nona mudanya dan melupakan wanita siluman ular itu.


"Tapi tuan ini pertemuan sangat penting karna klien kita susah sekali diajak bertemu" sahut Hans, kliennya yang satu ini memang sulit sekali untuk ditemui karna dia mengatakan jika dia adalah orang super sibuk.


"Kau tidak mendengar ucapan ku ya Hans!" Kenzo membalikkan kursinya dan menatap sekertaris itu dengan tajam.


Hans langsung mengangguk kepalanya. "Baik tuan, saya akan memundurkan jadwal pertemuan hari ini" ia masih sayang dengan pekerjaannya.


Kenzo diam menatap Hans dalam. Ia berfikir akan mengajak sekertarisnya ini untuk menemani Hazel yang pastinya akan selalu menempel pada wanitanya. "Nanti sore kau ikut bersama ku"


Mendengar ucapan tuannya, Hans langsung terdiam. Apa tuannya mengajaknya ikut berkencan? tidak, ia tidak mau menjadi kambing yang hanya mengikuti kedua orang yang sedang dimabuk asmara. Bisa-bisa ia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa disana.


"Tapi tuan-"


"Kau ikut bersamaku tapi kau pergi bersama Hazel, aku tidak mau gadis kecil itu menganggu kencan pertamaku"



Tak terasa hari mulai sore, Rara sudah membersihkan dirinya dan berpakaian rapih sekarang. Ia tak sabar pergi bersama adik iparnya untuk melihat pasar malam.


Rara berjalan menuju balkon kamarnya, Setelah menaruh kue buatannya di kamar Kenzo ia langsung bergegas pergi kekamarnya untuk menyiapkan kepergiannya nanti.


"Kira-kira disana mau ngapain ya" gumam Rara memikirkan apa saja yang akan mereka lakukan ketika sampai di pasar malam itu.


"Kau sudah siap sayang?" Tiba-tiba suara itu mengagetkan Rara, apalagi ketika merasa ada tangan yang melingkar di perutnya.


▫▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca^^


Jangan lupa suportnya Like vote dan sarannya, salam manis semuanyaaa><


__ADS_2