
Agnes berjalan kedalam dapur yang terletak tak jauh dari tangga bawah, ia mengedap-ngedap dengan perlahan agar tidak ada orang yang tau jika sekarang Agnes berada di dapur.
Dia melihat ada gelas yang sudah tercampur minuman berasa berdiri di atas meja, dengan segera ia membuka kertas yang ia taro di saku celana dan memasukan serbuk-serbuk dari kertas itu kedalam minuman ini.
Tak lupa Agnes juga mengaduk-gaduk minumannya, hingga tercampur rata ketika dirasa sudah cukup tercampur dengan cepat ia berjalan perlahan dan membuang kertas itu di tempat sampah dapur.
Rasain lo Ra haha!
Agnes bersembunyi di balik lemari besar tak jauh dari pintu dapur, ia melihat ada maid yang sedang berjalan sembari membawa nampan berisi minuman yang sudah dicampurinya tadi. ia pun tersenyum miring.
♣
Toktoktok!
Rara yang sedang berada di balkon kamarnya pun dengan segera membuka pintunya ketika mendengar suara ketukan dari luar pintu.
"Eh bibi" Rara sekarang menatap maid yang sedang berada dihadapannya dengan nampan yang dipengang kedua tangannya.
"Nona ini minumannya" ucap maid itu dengan tersenyum.
"Terimakasih ya bi" jawab Rara, ya tadi sebelum ia ke kamar Rara meminta tolong kepada salah satu maid yang melintas di depannya tadi untuk membawakannya minuman karna tadi dibawah ia tak sempat mengambilnya.
"Sama-sama nona" jawab maid itu ketika gelas yang berada di atas nampan yang ia pegang sudah nona mudanya ambil.
Rara mengangguk dan menutup pintu kamarnya, ia menaruh minuman itu di atas meja.
"Aku mandi dulu apa ya?" gumam Rara ketika merasa badannya sangat lengket.
Tapi sebelum itu ia menatap hpnya yang sedang di-cas itu, ya tadi handpone nya mati karna kehabisan baterai Rara lupa mengecasnya di butiq tadi.
Dengan segera ia mengaktifkan ponsel tersebut. beberapa menit kemudian ponsel Rara menyala dan menampilkan beberapa notifikasi entah dari siapa karna Rara belum memeriksanya.
Tuan muda? Mati aku!
Rara melihat dan membaca beberapa pesan yang tak sempat ia baca tadi. disana terlihat bagaimana tuan mudanya menanyakan keberadaannya dan sebagainya.
To: tuan kejam
Maaf tuan, ponsel ku habis baterai tadi maafkan aku tidak membalas pesan mu.
Send.
Dengan segala keberanian akhirnya Rara membalas pesan itu, sebenarnya ja takut jika tuan mudanya marah karna terlambat membalas pesannya namun Rara lebih takut lagi jika tidak membalasnya.
Rara menatap layar itu dengan gelisah, kira-kira jawaban dari tuannya ini apa ya? namun setelah ditunggu puluhan menit sepertinya belum ada tanda-tanda balasan dari Kenzo.
"Loh aku ngapain nungguin balesan dari dia ya? mending lebih baik aku mandi aja" gumam Rara.
Dengan segera Rara mengambil handuk yang berada dilaci dan berjalan menuju arah kamar mandi.
Cukup lama Rara berada dikamar mandi karna ia berendam air panas sebentar tadi, setelah selesai membersihkan tubuhnya Rara segara memakai pakaian rumah sekarang.
Ia duduk di pinggir kasur dan menatap layar ponselnya, disana belum ada balasan dari tuan muda.
Mungkin sibuk kali ya
Masih dengan memandang handpone nya Rara mengambil gelas yang berada di meja tempat tidurnya.
Karna tidak melihat ke arah gelas yang akan ia ambil, dengan tanpa sengaja Rara menjatuhkan gelas yang akan ia minum.
Prang!
"Astagfirullah"
Gelas kaca itu pecah berhamburan di lantai dekat meja, Rara menatap minuman yang tumpah di bawah sana dengan pandangan kaget.
"Yah tumpah" Rara berjongkok untuk merapihkan serpihan kaca gelasnya menjadi satu agar mudah jika dibereskan.
Drt..Drt..
Tuan kejam is calling..
Rara menatap hp nya yang bergetar di kasur dengan segera ia menjawab sambungan telpon itu tanpa melihat siapa yang menelponnya. karna pandangannya masih terarah kepada serpihan kaca.
"Hallo? siapa ya?" sapa Rara dengan tangan kiri yang masih merapihkan gelas kaca itu.
"Hey! memangnya kau tidak menyimpan nomor ku di ponsel mu hah!?"
Rara diam mendengar suara yang ia kenali, lalu sebentar menjauhkan handpone itu di telinganya menatap nama dari si penelpon.
"Maaf tuan aku tidak melihatnya tadi, aku simpan ko nomor tuan"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu pada tuannya, Rara tidak lagi mendengar jawaban dari Kenzo. namun sambungan telponnya itu masih menyambung ke ponsel tuannya.
Karna tidak ada suara apapun yang Rara dengar, ia pun ikut diam tidak bersuara.
Namun karna kecerobohannya tanpa sengaja sepihan tajam gelas mengenai tangan telunjuknya sehingga menimbulkan goresan.
"Aw"
"Kau kenapa?! apa yang terjadi? kau sedang apa? ada apa dengan mu!"
Rara diam mendengar deretan pertanyaan dari suaminya kirain tuan mudanya itu sedang pergi ke kamar mandi atau sedang makan makannya tidak ada suara di ponsel itu namun sekarang Kenzo menanyakan pertanyaan yang membuat hatinya sedikit bergetar.
"Ah tidak ada apa-apa tuan" Rara menatap ada sedikit tetesan merah yang keluar dari telunjuknya itu. perih tapi memang tidak begitu skait karna hanya sedikit yang tergores.
"Aku tidak suka dibohongi Ra!"
Rara menghela nafas, ya! memang semua orang tidak suka jika dibohongi bukan tuan mudanya saja! "Tangan ku hanya luka sedikit tuan, tergores kaca tapi tidak apa-apa"
"Apa! dimana para maid itu, mengapa mereka tidak becus menjaga mu!"
"Aku sedang dikamar tuan, mengapa kau bahas maid? memangnya dia menja- Halo? haloo? ko dimatiin sih" Sambungan itu terputus sebelum Rara menyelesaikan ucapannya itu.
"Seenaknya aja dasar!" Rara melempar hanponenya ke kasur dan mulai menyapu kaca-kaca itu untuk ia masukkan kedalam tempat sampah.
♣
Para maid berjalan keluar dari arah dapur, mereka berjalan dengan tergesa-gesa untuk ke lantai dua.
Hazel yang baru saja pulang dari sekolahnya langsung bertanya pada salah satu maid yang nampak gelisah.
"Bi ada apa? ko keliatan gelisah"
Maid yang merasa di tanya itu menundukan kepalanya di depan Hazel "Nona Maura non"
Hazel yang mendengar nama kaka iparnya disebut langsung ikut gelisah "Kaka ipar kenapa bi?"
"Saya juga gatau nona ini saya mau ke kamar nona muda" jawab maid itu.
Hazel mengikuti maid itu yang mulai berjalan menuju ke arah kamar Rara yang terletak dilantai dua.
Agnes yang sedari tadi berdiri di ruang tamu itu tersenyum sinis, rencananya pasti berhasil karna beberapa pelayan terlihat gelisah menuju kamar Maura.
Dari arah pintu utama terlihat dokter perempuan yang terburu-buru masuk kedalam rumah ini, dia adalah dokter Farhan yang tak lain adalah dokter pribadi keluarga ini.
Perempuan itu lantas menunjuk arah atas. "Di lantai atas, dua pintu sebelum kamar ka Kenzo"
Farhan menatap binggung Agnes sekarang, ia masih tidak mengerti jalan yang ditunjukan Agnes.
Dengan segera Agnes bangkit dari duduknya "Huh! ayo aku antar"
Farhan tersenyum lalu mengikuti Agnes dari belakang.
Agnes berjalan sembari tersenyum miring.
Kira-kira itu perempuan sekarang lagi pingsan apa kejang-kejang ya? haha
♣
Toktoktok!
Ceklek
Pintu kamar Rara di buka dan memperlihatkan beberapa maid yang masuk kedalam ruangan itu.
Rara langsung berdiri melihat beberapa orang dihadapannya. kenapa mereka berada disini?
Kepala maid langsung berjalan dan memeriksa nona mudanya itu. Rara diam menatap binggung mereka semua.
"Bibi ini ada apa?" tanya Rara.
Maid itu masih meneliti setiap inci tubuh Rara. "Non gapapa kan? mana yang terluka?
" Aku gapapa bi, siapa juga yang bilang aku luka" Rara menatap heran para maid yang ada diruangannya. semua sedang menatapnya dengan pandangan khwatir dan juga gelisah.
Maid menatap serpihan-serpihan kaca yang terletak di hadapan nona mudanya, dengan segera mereka membersihkannya. Rara diam masih binggung dengan semua ini.
Farhan masuk kedalam kamar ini diikuti Agnes yang hanya diam berdiri di depan pintu.
Perempuan itu ko ga keliatan kenapa-napa sihh
Agnes menatap Rara yang nampak sehat-sehat saja.
__ADS_1
"Nona muda duduk dulu" ucap kepala maid itu menyuruh Rara agar duduk dipinggir kasur.
"Ini ada apa sih bi sebenarnya" Rara menatap seseorang yang baru saja datang kedalam kamarnya dan berjalan menuju ke tempat yang ia duduki.
"Perkenalkan saya dokter Farhan nona, dokter pribadi keluarga ini"
Rara mengangguk tapi dengan pandangan yang masih binggung.
"Saya Maura dok, ini ada apa ya?" tanya Rara pada dokter ini. mengapa seorang dokter tiba-tiba datang kedalam ruangannya? memangnya siapa yang sedang sakit?
"Tuan menyuruh saya untuk memeriksa nona muda, sebentar saya akan periksa" Farhan mulai memeriksa tubuh Rara dari lengan, detakan jantung, sampai nadi.
Ini pada kenapa sih?
Rara hanya diam mempersilakan dokter ini memeriksanya.
"Nona ada yang terluka?" tanya Dokter itu.
"Ga ada dok, tangan saya cuma ke gores kaca udah ga terlalu sakit juga" jawab Rara dengan menunjukan atas jari terunjuknya yang sudah tidak mengeluarkan cairan merah lagi.
Dokter dan para maid disana menghela nafas lega, Syukurlah jika nona mudanya tidak mengalami luka serius jika itu terjadi bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan mereka.
Hazel yang sedari tadi diam di dekat lemari itu pun melangkah menuju Rara dan duduk disamping kaka iparnya.
"Syukur deh kaka ipar gapapa" ucap Hazel dengan terkekeh.
Maura menatap Hazel binggung, mengapa adik iparnya terkekeh? memangnya ada yang lucu?
Dengan cepat Farhan mengobati luka itu dengan kapas dan juga obat merah, dirasa luka itu sudah bersih, Farhan pun pamit "Sudah dibersihkan nona lukanya, kalo begitu saya pamit dulu"
Dokter itu pamit untuk melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda dirumah sakit, Di dalam hatinya Farhan kesal dia sudah terburu-buru datang kesini karna tuan mudanya menelpon jika wanitanya terluka parah. dia sudah was-was takut terjadi apa-apa pada istri dari bosnya itu namun ketika sampai disini ia hanya mendapatkan luka yang tebilang bisa diatasi dengan tangan sendiri. Sialan!
♣
"Hahaha kaka ipar luka segitu doang ko panggil dokter sih" ucap Hazel dnegan terkekeh, ada-ada saja kaka iparnya.
Dengan cepat Rara menggelengkan kepalanya, ia tidak menelpon dokter atau memanggil para maid kesini.
"Bukan nona muda yang memanggil kami non Hazel"
Hazel mengalihkan pandangannya ke arah maid itu "Kalo bukan bibi terus siapa?
" Tuan muda nona, ia mengatakan jika nona Maura terluka parah jadi kami buru-buru menghampiri nona muda"
Hazel kembali tertawa "Hahaha, ka Kenzo sepertinya takut jika kaka ipar kenapa-napa, ciee kaka ipar"
Ucapan Hazel membuat wajah Rara memerah malu, Maura menunduk untuk menutupi wajahnya yang sudah seperti tomat itu.
Apa tuan muda khwatir padaku?
Hatinya menghangat mendengar perkataan itu, jika tuan mudanya mulai khwatir padanya hingga memanggil dokter segala apa Kenzo sudah ada rasa padanya?
"Kalo begitu kami permisi dulu nona, mari" Para maid mulai pergi meninggalkan ruangan ini.
Agnes masih berdiri di depan pintu dengan pandangan kesal kearah Rara, rencananya gagal untuk membuat Rara menderita!
"Non Agnes, saya peringatkan pada nona untuk tidak melakukan hal itu lagi pada nona muda. jika nona tidak ingin tuan Kenzo marah pada nona Agnes" Kepala maid itu melanjutkan langkahnya setelah mengucapkan itu pada Agnes, walau ucapannya seperti berbisik namun Agnes masih mendengarnya dengan jelas.
Agnes terpaku, apa maid itu tau jika Agnes menumpahkan racun pada minuman Rara? dengan segera Agnes menyusuli BiSur dan berdiri tepat didepanya.
"Bibi tadi bicara apa?" ucap Agnes.
Maid itu diam memandangi sepupu dari tuan mudanya "Saya tau nona Agnes mengerti ucapan saya barusan"
Agnes berdecak, perkiraannya salah jika tidak ada yang tau ia memasukan serbuk itu kedalam minuman Rara. "Awas aja kalo bibi ngadu pada ka Kenzo!"
"Sekarang saya tidak akan mengatakannya pada tuan, tapi kalo nona Agnes ingin menyelakakan nona muda lagi saya tidak akan diam" maid itu dengan cepat melanjutkan langkahnya, bukan tidak sopan ia hanya memberikan peringatan pada Agnes agar tidak melakukan hal seperti itu lagi.
BiSur memang melihat Agnes berada didapur dan memasukan serbuk yang ia tidak tau itu apa.
Setelah melihat Agnes keluar dari dapur, dengan cepat BiSur mendekati minuman itu dan membuangnya. lalu ia membuat minuman baru kembali.
Ia tau itu pasti adalah rencana Agnes pada Maura.
Agnes diam dengan pandangan yang melihat kearah pintu ruangan Maura.
Sialan!
"Ini ada apa ko tadi tante liat dokter sih Nes" ucap Lia menghampiri Agnes yang masih terdiam berdiri di tempatnya tadi.
"Rencana aku gagal tante, kira-kira tante punya ide bagus lagi ga?"
__ADS_1
▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
Trimksih sudah mampir membaca!