
"Siap non" Pa supir itu langsung membukakan pintu penumpang untuk dimasuki nona mudanya.
Maura yang diperlakukan baik seperti itu tersenyum, ternyata disekelilingnya masih banyak orang-orang baik.
"Makasih ya pak" Ia segera masuk kedalam pintu mobil yang sudah dibukakan.
"Sama-sama nona" Melihat nona mudanya sudah masuk dan duduk, pa supir itu menutup rapat pintu mobil dan langsung bergegas masuk kedalam pintu pengemudi.
"Nona mau saya antar kemana?" Tanya ramah pak satpam.
Rara nampak berpikir, karna sudah lama ia tidak kesana membuatnya lupa nama jalan menuju arah cafe.
"Bapak tau CafeBiru gak?" nama cafe nya ia ingat namun jalannya yang ia lupa.
Pak supir itu nampak ikutan berfikir. "CafeBiru teh daerah mana ya non"
Rara yang mendengar jawaban dari pak supir ini langsung merebahkan punggung di senderan kursi yang ia duduki. padahal harapannya siapa tau saja pak supir ini tau atau pernah lihat Cafe itu kan pak supir pasti sering berkeliling kota untuk mengantarkan orang rumah ini bukan?
"Saya aja nanya ke bapak, malah bapak nanya saya balik" ucap Rara dengan tangan yang mencoba mengotak-ngatik layar handponenya, ia mencoba mencari di situs web.
"Hehehe maaf non, saya ga tau atuh kalo Cafe-Cafe begitu. kalo non tanya pasar baru saja tau" jawab supir itu dengan sedikit terkekeh namun kemudian ia diam karna Rara tidak tertawa, mungkin lawakkan nya garing?
Rara masih dengan menatap layar ponselnya, ketika dirasa sudah ingat nama jalan menuju tempat Cafe tujuannya ia menyuruh pak supirnya untuk melajukan mobil.
Disepanjang jalan Rara mengarahkan jalannya menuju CafeBiru tersebut, ternyata pak supir ini belum pernah melawati jalan ini makannya Rara menunjukan arah jalan menuju tujuannya.
Akhirnya beberapa menit perjalanan mereka sampai juga di parkiran CafeBiru ini.
Rara melepaskan pengamannya. "Bapak emang belum pernah lewat jalan sini?" tanya Rara sebelum pergi.
Supir itu langsung menggeleng. "Ga non, saya biasanya cuma ditugasin nganter para maid belanja ke pasar"
Cuma? jadi selama bekerja supir ini hanya ditugasin nganter ke pasar? ga pernah ditugasin nganter yang lain gitu?
"Para supir biasanya udah punya tugasnya masing-masing, kayak saya nih tugasnya nganter maid terus ada lagi non yang ditugasin cuma buat nganter nona Hazel atau nganter nyonya" lanjut Supir itu yang membuat kepala Rara kembali pusing.
"Khusus gitu?"
"Nah iya non, makannya saya tadi sempet kaget nona mau saya yang anter"
Rara hanya melihat supir ini tadi jadi ia meminta bapak berkumis tebal ini untuo mengantarkannya ke Cafe.
"Yaudah pak, kalo bapak mau pulang, pulang aja nanti saya kalo udah mau pulang saya telpon orang rumah" Rara tidak mau jika supir ini menunggunya takutnya ia kelamaan.
"Yaudah non, tapi kalo pulang saya lewat mana ya?" tanya binggung supir itu.
Rara melupakan itu, tadi saja ketika berangkat supir ini ia arahkan jika Rara tidak ada siapa yang mengarahkan pak supir yang malang ini?
"Bapa punya Gps?" tanya Rara masih dengan duduk di jok belakang.
"Gps itu apa non?"
Rara yang mendengar itu tersenyum sabar, ternyata pak supir kurang ngerti teknologi jaman sekarang. "Kalo hp bapak punya?"
Pak supir itu langsung mengeluarkan handponenya di dalam saku. "Punya non tapi hp jadul" ucap pak supir sambil menunjukan ponsel miliknya.
Aduh gimana ya?
"Em kalo bapak nungguin saya aja gimana? saya takut kalo bapak pulang malah nyasar"
Dengan segera supir itu mengangguk. "Baik non"
"Baik apa pa?"
"Saya nunggu nona saja" ucap pak supir itu.
Rara mengangguk paham. "Yasudah saya masuk ke Cafe dulu ya pak" ucap Rara dengan membuka pintu mobil dan langsung berjalan menuju pintu masuk Cafe.
__ADS_1
Dirasa Rara sudah masuk kedalam Cafe, dengan cepat pak supir berkumis tebal itu menekan nomor telpon untuk menelpon seseorang.
"Saya sudah melaksanakan perintah tuan untuk menunggu nona muda"
"........."
"Baik tuan"
♣
Ting!
Loceng dipintu masuk Cafe ini berbunyi ketika Rara masuk. Disana terlihat banyak sekali orang-orang dari kalangan muda ataupun berumur sedang menikmati makanan dari Cafe ini.
Rara mencoba mengarahkan pandangannya mencari seseorang yang sudah berjanjian bertemu dengannya sekarang.
Saat ada tangan yang melambai keatas, Rara segera menghampiri meja tempat orang yang melambaikan tangannya.
"Maaf ya Syah aku lama" ucap Rara ketika sampai di meja tempat sahabatnya.
Aisyah tersenyum melihat Rara namun ada sedikit kejanggalan melihat perban kecil di atas kepala sahabatnya.
"Jidat kamu kenapa Ra" tanya Aisyah ketika Rara sudah menduduki kursi didepannya.
Rara dengan segera memegang kepalanya. "Ah! gapapa ko Syah cuma jatuh doang"
Jika Rara berbicara jujur ia jatuh dari tangga dan menyebabkannya harus dioprasi kemarin pasti Aisyah akan menanyakan banyak hal padanya dan juga Rara tidak ingin sahabatnya khawatir berlebihan padanya.
Aisyah dengan lugunya percaya saja jawaban yang Rara lontarkan.
"Kamu mau ngomongin apa Ra?" tanya Aisyah.
Rara menghela nafasnya kasar. baru saja sampai sudah ditanyai pertanyaan oleh Aisyah padahal ia haus sekali karna mengobrol dengan pak supir tadi.
"Bentar Syah, aku haus nih baru juga nyampe"
"Hehehe maaf Ra, yaudah sok kamu mau pesen apa biar aku yang bayarin"
Rara ikut terkekeh mendengar traktiran dari sahabatnya. "Wih dapet uang banyak ya Syah sampe traktir aku kayak gini" ucapnya dengan tangan mencoba membuka buku menu yang sudah tersedia disetiap meja.
"Hehehe iyalah kan bu bos kan kasih tip gaji bulan kemarin" ucap Aisyah menaikkan kedua alisnya yang membuat Rara menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sahabatnya.
"Kamu ini, em aku mau cremy latte aja deh mba" ucap Rara ketika ada pelayan yang membawa kertas dan pulpen ditangannya.
Aisyah menganga mendengar permintaan Rara, apa-apaan sahabatnya ini? masa hanya memesan kopi saja di Cafe sebesar ini.
"Itu doang Ra? ga makanannya sekalian?" tanya Aisyah sebelum pelayan yang menawarkan makanan.
Rara menatap Aisyah. "Gak deh Syah, kamu mau mesen apa?" tanya Rara dengan memberikan menu ditangannya kepada sahabatnya.
Aisyah mengambil buku menu itu dan mencoba mencari-cari menu favoritnya. "Em aku mau green tea 1, spagetti saus tiram 1, puncake rasa vanillanya ukuran jumbo 2 sama air putihnya deh" ucap Aisyah dengan menutup buku menu itu.
"Saya ulang yah ka, creamy latte 1, green teanya 1, air putih, spagetti nya 1 sama puncake rasa vanilla ukuran jumbo nya 2"
"Iyah mbak" ucap Aisyah dengan tersenyum.
Setelah tidak ada lagi yang dipesan, pelayan itu pamit untuk menyiapkan pesanan dari kedua orang ini.
"Kan aku udah bilang aku ga mau makan Syah" sahut Rara ketika mendengar temannya ini memesankan makanan untuknya.
Aisyah menatap Rara dengan menggelengkan kepalanya. "Aku ga pesenin kamu ko Ra"
Lalu jika tidak memesankan makanan untuknya, jadi itu semua untuk dirinya sendiri? ada-ada saja tingkah laku sahabatnya. "Jadi itu semua kamu makan sendiri Syah?" ucap Rara.
Aisyah mengangguk. "Iyalah siapa lagi coba"
Rara memutar bola matanya malas menatap Aisyah, dia badan saja kecil tapi makannya berlipat ganda.
__ADS_1
Eh iyah!
Rara baru ingat jika ia tidak diperbolehkan keluar tanpa seiizin tuannya itu, tapi dia sudah berada disini tanggung jika harus kembali pulang.
Dengan mata yang menatap sekelilingnya, Rara mencoba mencari seseorang. Biasanya jika Rara keluar pasti ada bawahan Kenzo yang mengikutinya atau sekarang tidak ada? apa Kenzo tau ia keluar sekarang?
"Em Syah, aku ke toilet sebentar gapapa?" ucap Rara dengan menatap Aisyah yang fokus menatap arah belakang Rara.
"Hey Syah!" panggil sekali lagi Rara yang langsung membuat Aisyah sadar.
"Eh kenapa Ra?" tanya Aisyah yang sepertinya tadi tidak mendengar ucapannya.
Rara bangkit dari duduknya. "Aku ketoilet sebentar ya, kebelet" setela mngucapkan itu Rara langsung pergi meninggalkan Aisyah sendiri.
Aisyah masih diam menatap seseorang berbaju hitam yang berdiri diluar Cafe ini, entah matanya atau perasaannya yang mengatakan jika pria itu sedari tadi menatap meja tempat ia dan sahabatnya duduki.
♣
Sampai di toilet Rara membuka handpone nya dan mencari nomor seseorang.
My Husband❤
Ia ingin sekali mengganti nama kontak tuannya itu tapi nyalinya kurang kuat alias terlalu takut jika tuan mudanya tiba-tiba memeriksa ponselnya kembali.
Rara langsung menekan panggilan dipinggir kontak itu dan menunggu sambungan telponnya tersambung.
"Halo tuan"
"Kenapa menelpon? kau merindukan ku ya?" sahut dari orang yang Rara telpon.
Rara mengidik ngeri mendengar kata rindu versi orang ini. "Em aku meminta izin keluar hari ini tuan"
"Ckckck kau ini sudah ku bilang jangan keluar kenapa kau tetap keluar!"
Rara tergolak kaget mendengar nada keras dari sambungan telpon. "Maaf tuan aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku"
"Yasudah"
Rara bingung dengan jawaban dari tuannya, yasudah apa? pulang? atau bagaimana?
"Yasu..dah bagaimana tuan?"
Terdengar helaan nafas dari ujung telpon sana. "Yasudah jika kau ingin bertemu sahabatmu, tapi ingat sebelum aku pulang kau sudah berada dirumah"
Bip.
Sambungan telponnya terputus, Rara sedikit heran tumben sekali tuannya ini mengizinkannya pergi. Tapi ia tidak ambil pusing akhirnya Rara kembali ketempat duduk sahabatnya dengan melupakan jika ia sempat kebelet tadi.
"Eh, Ra udah ke kamar mandinya?" tanya Aisyah ketika Rara sudah kembali duduk dihadapannya.
Rara mengangguk. "Udah"
Ia menatap didepannya yang sudah tersedia berbagai makanan pesanan Aisyah dan juga pesanan Rara.
"Ra kamu mau ngomong apa?" Tanya Aisyah sembari mulut yang mengunyah makanannya.
Rara sedikit meminum minumannnya sebelum ia berbicara. "Em, gini Syah menurut kamu jatuh cinta itu gimana sih?"
Mendengar pertanyaan lugu dari sahabatnya, Aisyah terbatuk dengan makanan yang penuh dimulutnya.
UhukUhuk!
▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
Mohon dukungannya ya, Vote like and sarannya jangan lupa😚
Salam manis dari autor untuk kalean yang membaca cerita iniii🙌❤
__ADS_1