My Devil Possessive

My Devil Possessive
Hadiah Hazel (1)


__ADS_3

"Ehh bu bos datang" ucap salah satu karyawan yang melihat Rara masuk kedalam butik.


Rara tersenyum manis dan menyapa teman-teman yang bekerja disini, dia baru saja sampai tadi diantar oleh supir suaminya itu untungnya tadi jalanan tidak terlalu macet jadi ia bisa cepat sampai kesini. "Kamu ini bisa aja, oh iya Aisyah dimana?"


"Dibelakang mbak, biasa lagi siap-siap sama yang lain"


Mendengar itu Rara pun mengangguk dan berjalan menuju tempat yang disebutkan karyawannya tadi.


"*Kayaknya banyak tikus yah disini"


"Iya kali ya, tiba-tiba berantakan kayak gini*"


Samar-samar Rara mendengar suara dari salah satu ruangan, ia memutuskan untuk menghampiri ruangan tersebut sebelum pergi kebelakang.


"Loh ini ada apa?" tanya Rara ketika melihat barang-barang di ruangan ini sedikit berantakan.


Kedua orang yang sedang membelakanginya itu pun membalikkan badannya menatap Rara yang sedang berdiri di depan pintu.


"Eh mbak Rara, ini mbak biasa tikus nge-berantakin" jawab salah satu wanita yang memakai seragam khas butiknya.


Rara memandangi ruangan yang sudah lama tak terpakai bisa disebut juga sekarang menjadi gudang. Ruangan persegi empat ini dulunya adalah tempat dimana bahan-bahan untuk membuat baju disimpan, Tapi karna beberapa faktor membuat ruangan ini dikosongkan dan dijadikan gudang.


"Yaudah tolong yah diberesin nanti masalah tikus biar aku beli penangkapnya" jelas Rara yang di angguki kedua perempuan itu.


"Kalo udah ditangkap mau diapain mbak?"


"Dijual laku ga ya?" jawab Rara yang menimbulkan kekehan dari bawahannya ini.


"Mana laku atuh mbak hehe"


Rara ikut terkekeh bersama kedua wanita disini. Ia pun segera pamit untuk melanjutkan langkahnya menuju belakang tempat dimana Aisyah berada.


Sampai dibelakang Rara melihat beberapa bawahannya sedang bersiap-siap karna butik akan segera di buka.


"Syah"


Wanita yang memakai pakaian seragam itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. "Eh Ra"


"Em kamu bisa ke ruangan aku ga nanti?" tanya Rara.


Aisyah langsung mengangguk. Mungkin sebelum keruangan Rara, ia akan terlebih dahulu merapihkan butik ini lalu baru ke ruangan Rara.


"Yaudah aku duluan ya Syah"


Aisyah kembali mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya. "Oke"


Rara pun berjalan kembali mengarah ke lantai atas untuk keruangannya.


Ceklek


Setelah sampai ia pun masuk dan menutup pintu itu kembali, Rara langsung merebahkan tubuhnya dikursi tempat ia bekerja. Rara sedikit memikirkan desain dari gaun yang akan ia buat apalagi ulang tahun adik iparnya itu tinggal menghitung hari jadi Rara harus segera menyelesaikan gaunnya.


"Kenapa Ra?"


Tak lama ada suara pintu terbuka dan pertanyaan yang mengarah padanya. Rara mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu. "Bantu aku bikin desain gaun ya Syah"


"Buat siapa?" tak biasanya Rara meminta bantuannya untuk membuat gaun, pasti ada sesuatu dibaliknya.


"Buat adik aku"


Aisyah membulatkan mulutnya. "Kamu bikin buat si Nindi? adik durhaka kayak gitu ngapain sih Ra" ucap Aisyah yang membuat Rara menatapnya dengan gugup.


"Buk..an buat Nindi"


"Terus buat siapa?"


Rara mungkin harus berbicara semua ini pada Aisyah, ia tidak boleh menutupi semuanya dari dia bagaimana pun mereka bersahabat dari SMA jadi sudah seharusnya jangan ada masalah yang ia tutupi dari sahabatnya.


"Ada yang pengin aku obrolin Syah"

__ADS_1


Aisyah duduk di hadapan meja Maura dengan pandangan menyelidik. "Serius banget kayaknya Ra"


Rara mengangguk. "Ini emang masalah serius"


Mungkin setelah ia mengatakan semuanya, Rara bisa mendapatkan saran apa yang harus ia lakukan kedepannya apalagi sekarang Kenzo sudah berbicara jika dia sudah mulai sayang pada dirinya jadi Rara harus bagaimana?


"Jadi gini" lanjut Rara dengan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Brak!


"Gilaa, ayah kamu tega ngelakuin itu sama kamu? anak kandungnya sendiri? ayah macam apa dia" ucap Aisyah dengan menggebrakan meja yang ada didepannya hingga berdiri. Sehingga menimbulkan suara kencang dari gebrakan meja tersebut.


Rara tersentak kaget ketika melohat Aisyah yang sudah terbakar emosi. "Sabar Syah sabar"


Ekspresi yang tidah di duga-duga oleh Rara, ternyata sahabatnya peduli degannya sampai memperlihatkan sisi amarahnya ketika mendengar perlakuan ayah kandungnya.


"Gabisa dibiarin Ra, kayak gini udah kelewatan emangnya kamu barang!" wajah Aisyah sudah memerah tapi ia mencoba untuk tetap sabar.


Padahal yang menjalankan ini semua adalah Rara tapi kenapa Aisyah yang marah? memang mungkin sahabatnya itu peduli padanya makannya ia begitu percaya butik miliknya dipegang oleh Aisyah.


"Udah terlanjut juga Syah" Rara mencoba untuk merendam amarah sahabatnya.


Aisyah kembali duduk dan menatap wanita dihadapannya. "Ko kamu ga bilang-bilang sih sama aku"


"Maaf Syah, aku cuma gamau kamu ikut khawatir sama kondisi aku" jawab Rara dengan menunduk, ia tau ia salah karna tidak memberitahu sahabatnya terlebih dahulu.


"Dengan kayak gini malah bikin aku tambah khawatir sama kamu Ra, tapi kamu ga di apa-apain kan sama tuan Kenzo itu" sebenarnya mendengar Rara terluka membuat hatinya sedkit sakit. Ternyata sosok laki-laki yang dia kagumi adalah suami dari sahabatnya.


"Aku gapapa ko Syah kamu tenang aja"


Aisyah menatap dalam sahabatnya. Rara pun ikut menatap Aisyah tanpa disadari air mata Aisyah menetes di pipinya.


"Maaf yah Ra aku ga bisa bantu kamu buat lewatin semua ini" Aisyah menunduk. Sahabat macam apa ia ketika tidak tahu jika sahabatnya sedang kesusahan?


Rara tersenyum dan bangkit dari duduknya, ia berdiri menghampiri Aisyah dan memeluknya dari samping. "Gapapa Syah lagian juga sekarang aku udah nyaman dengan kehidupan aku yang baru"


Rara melepaskan pelukannya dan menjauh dari Aisyah, ia berjalan menuju jendela yang memperlihatkan jalanan didepan butiknya. "Gatau Syah, aku binggung sama perasaan aku"


"Kalo perasaan tuan Kenzo ke kamu?" Aisyah mencoba berjalan menghampiri sahabatnya.


Rara menarik nafasnya. "Minggu lalu tuan Kenzo nyatain perasaannya"


Dia nyatain perasaannya kan? atau gimana?


Jelas ia binggung sebenernya, apa tuannya menyatakan perasaannya saat itu tapi terkesan kayak yang bicara biasa jadi Rara sedikit ragu dengan perasaan tuannya itu.


"Terus? kamunya gimana? jawab apa?" tanya Aisyah.


Setelah pulang dari pasar malam waktu itu Rara hanya diam, ia tidak menjawab apapun apalagi ketika Kenzo mencium bibirnya didepan umum awalnya ia kaget ingin marah juga tapi keadaan yang bikin Rara mati kutu seketika.


Rara menggeleng. "Aku sedikit ragu Syah"


Aisyah membawa tangan Rara untuk duduk di sofa ruangan ini. "Aku yakin tuan Kenzo beneran ada rasa sama kamu Ra, soalnya aku tau dia itu ga pernah nunjukin rasa sayangnya langsung sama perempuan yang bukan dia suka"


Rara menatap sahabatnya ini. "Kamu ko tau Syah?"


Sahabatnya itu memutarkan bola matanya malas. Jelas ia tau karna semua berita tentang laki-laki itu selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa contohnya Aisyah. "Kamu tau kan Ra dia itu selalu disorot sama orang banyak, jadi banyak cerita yang bermunculan tentang dia"


Rara mengangguk, benar juga perkataan sahabatnya. ia kembali kepikiran dengan tujuannya datang kesini.


"Syah aku butuh bantuan kamu"



"Terimakasih tuan Kenzo atas partisipasinya untuk bekerja sama dengan perusahaan saya" ucap laki-laki berusia tua yang duduk dihadapannya.


Kenzo mengangguk singkat sembari menatap kliennya.


Akhirnya setelah berbincang singkat pria tua itu pun berdiri diikuti Hans dan juga Kenzo.

__ADS_1


"Terimakasih sekali lagi tuan" ucap pria tua tersebut dengan tangan yang ia gantungkan.


Dengan masih pandangan dingin Kenzo menerima jabatan tangan pria dihadapannya yang tersenyum menatap kearahnya.


"Yaudah kalo begitu saya permisi" ketika pria tua itu pergi Kenzo pun duduk kembali. Sekarang ia dan juga Hans sedang berada di sebuah restaurant cepat saji yang terletak tak jauh dari kantornya.


"Hans kau tau apa yang wanita suka?" tanya Kenzo secara tiba-tiba yang membuat Hans disampingnya menatapnya dengan pandangan kaget.


Hans mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan tuannya, jujur ia tidak tau apa kesukaan wanita. Disukai wanita saja ia belum pernah bagaimana Hans tau kesukaan wanita diluar sana tapi ia tidak kehabisan akal dengan segera ia mencoba membuka handpone nya dan mencari jawaban dari sumber itu sendiri.


"Kau sedang apa?" tanya Kenzo ketika melihat sekertarisnya memainkan ponselnya.


"Saya sedang mencari apa yang wanita suka tuan"


Setelah mendapatkan jawaban ia pun mengatakan apa yang tertulis di handponenya. "Yang disukai wanita adalah uang bulanan, berbelanja, liburan keluar negri, makan-makanan mewah, kencan romantis bersama pa-"


"Kau kira adikku matre huh!" sahut Kenzo menatap tajam ketika Hans mengatakan fakta itu.


Hans menutup handponenya kembali. "Maaf tuan"


Bodoh nya Hans malah menanyakan hal itu pada adiknya yang jelas-jelas menyukai kehidupan mewah. Tapi ia benar bukan menanyakan itu pada sumbernya yang adalah adik wanitanya.


"Tuan ingin membelikan hadiah untuk nona Hazel?" ucap Hans ia tau pasti tuannya akan membelikan hadiah untuk nona Hazel yang akan ber-ulangtahun.


Kenzo mengangguk. "Ayo Hans" Kenzo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar restaurant ini untuk menaiki mobilnya.


Setelah menaiki mobil, Hans pun melajukan mobil itu kearah tujuan yang disebutkan tuannya.


Toko Emas permata


"Selamat datang tuan" ucap hormat salah satu pegawai toko perhiasan terkenal di pusat kota. Mereka sampai di toko ini, Entah kenapa Kenzo tertarik untuk membelikan adiknya perhiasan.


Kenzo masuk kedalam toko yang besar itu diikuti Hans dibelakangnya. Saat ia datang kesini dirinya sudah menjadi pusat perhatian banyak orang khusus nya kaum hawa, tapi Kenzo hanya acuh dengan mereka semua.


Kenzo berjalan menghampiri lemari dan meja berwarna keemasan yang didalamnya nampak bermacam-macam perhiasan yang berkilau.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" beberapa karyawan disini mencoba mendekati pria ini untuk menawarkan bantuannya.


Kenzo hanya diam dengan menatap beberapa kalung yang membuatnya cukup tertarik. "Ambilkan kalung yang itu"


Kenzo menunjuk arah kalung berwarna emas yang dilapisi permata didalamnya.


"Ini tuan"


Kenzo menggantungkan kalung itu di tangannya, ia mencoba meneliti kalung tersebut. Tatapannya kembali meneliti kalung yang berapa di meja dan lemari dihadapannya.


"Ambilkan aku yang paling bagus" ucap Kenzo yang lansung di angguki karyawan tersebut.


Di lihatnya 3 kalung berbeda model dihadapan Kenzo, ia sedikit binggung akan memilih yang mana karna Kenzo tidak tau wanita menyukai model bagaimana.


"Hanya ini?" tanya Kenzo.


"Iya tuan"


Kalung pertama memiliki cicin kecil berlapis emas ditengahnya yang memperlihatkan sisi kemewahan kalung tersebut.


Yang kedua berwarna perak dengan sedikit tambahan emas di pinggir kalungnya yang terlihat simple namun mewah.


Yang kedua berwarna emas yang ditengahnya ada bola permata kecil yang terlihat indah dan sederhana.


Kenzo sedikit berfikir akan memilih yang mana dan akhirnya ia memilih membeli diantara dua kalung tersebut. "Aku ingin kalung yang pertama dan kedua" ucapnya dengan menunjuk kalung tersebut.


Mungkin ia akan menghadiahi kalung satunya untuk seseorang yang ia pikirkan sejak tadi.


▫▫▫▫▫▫


Trimksih sudah mengikuti cerita ini!


Salam manis autor buat kalean😙

__ADS_1


__ADS_2