
Rara menutup pelan pintu ruangan Kenzo dan mengambil tas yang sempat terjatuh dari genggamannya. Hatinya sakit melihat pemandangan seperti itu apalagi ini jelas sekali dimatanya.
Dengan segera Rara pergi menjauh dari ruangan Kenzo dan berlari untuk turun dari lantai ini.
Air mata Rara sudah tidak bisa dibendung lagi, dirinya tidak kuasa menahan air matanya. Laki-laki yang sekarang ia cinta sedang bermesra-mesraan dengan wanita lain apalagi sampai berciuman dan wanita lain itu yang tak lain adalah wanita masa lalu dari Kenzo, hati mana yang tidak sakit melihat itu?
Ketika sampai di lantai bawah dirinya langsung berlari menuju meja resepsyonis yang tadi. Ia masih mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.
"Mbak maaf saya titip makanan ini buat tuan Kenzo ya" Rara memberikan tas yang ia bawa tadi dan langsung pergi dari sana. Dia tidak ingin mereka tau jika dirinya menangis.
Lain ekspresi kedua wanita yang masih diam duduk dimeja resepsyonis. "Dia kenapa?" tanya salah satu wanita.
Wanita ber-tag Mira seketika menaikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan dari teman sekerjanya.
Rara dengan cepat berlari keluar menjauh dari kantor ini. Matanya tak sanggup berlama-lama melihat pemandangan itu, hatinya sakit.
Dengan kaki yang berjalan entah kemana Rara meneteskan semua air matanya karna sudah tak tahan.
"Kenapa semua ini terjadi padaku?" baru saja Rara merasakan jatuh cinta pada pria yang tak lain suaminya, tapi kenapa sekarang hatinya kembali lagi sakit?
Kapan ada seseorang yang bisa membuat dia bahagia hidup didunia ini? kenapa tuhan mempermainkannya kembali? banyak wanita dimuka bumi ini tapi kenapa Rara yang dipilih menjalani hidup seperti ini?
"Hiks ibu" Rara menunduk membiarkan air matanya mengalir, kakinya berjalan tak tentu arah.
Perasaan cinta ini salah, seharusnya Rara membentengi perasaan ini seharusnya ia tidak boleh cinta pada Kenzo karna ia tau akhirnya pasti akan seperti apa.
Dia tau jika pasti Kenzo masih cinta dengan Sisil karna bagaimana pun dia adalah wanita yang pernah hadir dikehidupan tuannya.
"Hiks aku harus apa sekarang?" Rara binggung, apa ia pergi saja menjauh dari sini? melepaskan semua yang ia miliki? hatinya tak ingin sakit kembali merasakan takdir yang rumit ini.
Jika ia marah pada Kenzo apa laki-laki itu mengerti? padahal Kenzo sendiri yang mengatakan bahwa dia cinta pada Rara tapi kenapa dia melakukan ini semua?
Apa Perasaan Kenzo semuanya hanya kepalsuan? apa semuanya tidak seperti yang ia bayangkan? sebenarnya Rara salah apa sampai ditakdirkan hidup seperti ini?
Apa dikucilkan keluarganya tidak cukup membuatnya sakit hati? kapan tuhan memberinya kebahagiaan? sudah cukup hatinya kembali retak sekarang.
__ADS_1
"Hiks hiks" Rara diam duduk disebuah kursi halte dipinggir jalan, entah kenapa jalan yang ia lewati sekarang cukup sepi. Tapi dia senang karna dirinya pun ingin sendiri sekarang ia ingin menatapi nasib buruk yang tak kunjung usai dihidupnya.
♣
Kenzo mendorong wanita ini dengan sedikit kencang. "Kau!"
Sisil tersenyum manis menatap bibir dari Kenzo. Dia puas karna saat mencium bibir laki-laki dihadapannya ini pria itu hanya diam.
Kenzo bangkit menatap marah wanita kurang ajar ini, tadi tiba-tiba saja Sisil mencium bibirnya karna ia kaget dirinya diam tidak bergeming tapi ketika Kenzo tersadar dirinya pun langsung mendorong agar wanita itu pergi menjauh darinya. "Sialan kau! berani-beraninya menciumku!" Kenzo menghapus warna merah dibibirnya bekas lipstik wanita itu. Dia mungkin akan meminta kecupan nanti dari Rara agar noda bibir wanita dihadapannya ini bisa hilang.
Sisil tersenyum manis menatap Kenzo. "Kamu ga kangen sama bibir aku Zo? gak rindu juga sama sentuhan yang aku kasih dulu?" ucap Sisil dengan menatap sendu Kenzo ya walaupun sekarang yang ia lakukan hanya akting.
Kenzo menatap tajam wanita didepannya, ia merasa marah karna Sisil menciumnya tiba-tiba dan sialnya dia sempat terdiam yang membuat wanita itu makin kurang ajar.
"KAU KELUAR SEKARANG!" bentak Kenzo dengan dingin.
Ia tidak mungkin bukan membunuh wanita ini sekarang? jadi daripada dirinya melakukan sesuatu pada wanita itu lebih baik Sisil keluar dari ruangannya.
"Kamu ngusir aku Zo?" sedih Sisil karna mendengar bentakan dari pacarnya ini.
Dengan mata yang masih berkilat marah Kenzo menatap wanita itu. "Keluar atau kau tidak akan selamat!"
"Yaudah iya aku keluar sekarang, tapi inget ya Zo aku cinta banget sama kamu jadi aku gaakan biarin seseorang pun suka sama kamu" setelah mengucapkan itu Sisil keluar dari ruangan ini dengan senyum miring diwajahnya.
Berhasil!
♣
Rara kembali melanjutkan jalannya pulang kerumah, air matanya sudah kering sejak tadi jadi sekarang waktunya ia pulang. Rara berjalan kaki sekarang karna tadi ia mengucapkan jika akan pulang bersama Kenzo jadi supir itu tidak menjemputnya, Rara ingin berjalan kaki juga sekarang agar lama sampai ke rumah laki-laki itu.
Dari arah belakang tiba-tiba ada yang memeluknya, Rara tersentak kaget dan reflek langsung mendorong orang dibelakangnya dengan kakinya.
Rara berbalik menatap orang kurang ajar tadi. Nampak disana ada pria yang terduduk dijalan.
"Gadis cantik kenapa kamu dorong gue sih? sakit tau" ucap pria itu.
__ADS_1
Rara mendekat menatap pria itu dilihatnya sepertinya laki-laki itu mabuk, karna penampilannya yang terlihat seperti habis minum-minum. Ia menatap keadaan sekitar jalan ini, disini masih nampak sepi jadi ia harus berlari atau menolong pria ini?
"Sshh, sakit pinggang gue" mendengar rintihan dari laki-laki tersebut membuat Rara tak tega, akhirnya Rara mendekat dan menolong agar pria itu bangun.
"Maaf pak tadi sa..ya ga sengaja dorong" Rara minta maaf karna perbuatannya tadi, entah pria ini sadar atau tidak yang penting ia sudah meminta maaf.
Setelah pria dihadapannya ini berdiri Rara segera membantu pria itu untuk duduk disalah satu halte dijalan ini. Karna Rara yakin pria ini sedang linglung. Dari cara jalannya saja benar jika pria ini mabuk.
Saat sedang berjalan pria disamping ini tidak bisa diam, sesekali dia mencolek bahu Rara ataupun memainkan rambut yang Rara biarkan tergerai.
Tiba dihalte Rara mendudukkan pria itu disana, sekarang ia harus pulang karna hari sudah mau gelap.
"Pak saya tinggal disini ya, bapak hati-hati" saat hendak pergi tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria tersebut.
Cup!
Mata Rara membulat karna kecupan dibibirnya. Dengan segera Rara menjauh dari wajah pria itu dan menamparnya.
Plak!
"Kurang ajar!" dengan air mata yang kembali terjatuh Rara berlari pergi dari sana meninggalkan pria yang nampak tersenyum.
Pria yang duduk tadi menaikkan jempolnya kearah orang yang sedang berdiri dibalik pohon yang jauh dari keberadaannya.
Pria dibalik pohon tersebut dengan cepat mengirim foto yang sudah ia foto tadi dan menelpon seseorang.
"Semua sudah beres" sahut orang dibalik pohon tersebut kepada telpon yang ia letakkan ditelinganya.
"...." jawab orang dari ujung telpon sana.
"Baik nona, jangan lupa bayaran yang sudah kita sepakati dikirim hari ini"
"..."
"Bagus, senang bekerja sama dengan anda nona Sisil"
__ADS_1
▫▫▫▫▫
Terimakasih sudah membaca❤