
Rara masih terdiam di taman dengan pandangan menetap kearah hadapannya. Pikirannya masih dipenuhi dengan ucapan Sisil yang membuatnya merasa ada sesuatu yang menjalar di hatinya ketika mendengar jika Sisil pernah hamil anak Kenzo, apa itu benar? berarti Sisil dan Kenzo pernah berhubungan layaknya suami-istri? hatinya sakit mendengar itu tapi ucapan itu belum tentu benar juga, dia harus menanyakan prihal ini pada Kenzo tapi jika laki-laki itu tidak mau mengakuinya? atau Kenzo tidak tau jika Sisil pernah mengandung anaknya? apa jika Kenzo tau, mereka berdua akan balikan? terus bagaimana dengannya?
"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Rara dengan menunduk. Ia lelah dengan semua ini, kapan takdir bahagianya tiba? mengapa ketika ia ingin bahagia banyak sekali cobaan yang menghampirinya? Rara ingin semua ini cepat berakhir, ia hanya ingin bahagia.
"Kaka ipar!" dari arah kejauhan Rara melihat seorang gadis yang ia kenal sedang mendekat kearahnya.
Rara mencoba bersikap biasa saja dan mengeluarkan senyum manisnya ketika Hazel sudah duduk disampingnya.
"Kaka ipar ngapain disini?" tanya Hazel dengan tersenyum manis dirinya masih mengenakan pakaian SMA nya mungkin gadis ini baru saja pulang.
"Lagi duduk Zel" ucap Rara dengan menatap Hazel.
Hazel mengerucutkan bibirnya kedepan. "Ih maksud aku tuh kaka ipar ngapain disini gitu, kenapa ga didalem aja duduknya panas kalo disini" sahut Hazel dengan menatap keatasnya.
Hari mulai siang jadi matahari sudah berada dilangit paling atas.
"Berjemur Zel biar sehat" jawab Rara tenang dengan sesekali meminum minumannya. "Kamu mau teh?" tawar Rara yang dibalas gelengan oleh adik iparnya.
"Gak ka aku lagi diet gula"
Rara terkekeh dan menggeleng kepalanya mendengar alasan Hazel yang tidak mau meminum teh.
"Kaka tau tadi mommy sama ka Sisil bertengkar diluar"
Rara yang tadinya sedang menatap taman didepannya seketika mengalihkan pandangannya kearah Hazel. "Berantem?"
Hazel menganggukkan kepalanya. "Iyah berantem soalnya ka Sisil nyapa mommy tapi kayak yang ngajak ribut"
"Terus mommy sama ka Sisilnya dimana?" tanya Rara. Berarti wanita itu belum pergi dari rumah ini tadi, saat Sisil pergi perkiraannya pasti wanita itu sudah pergi dari rumah ini tapi ternyata belum.
__ADS_1
"Tadi sih didepan rumah tapi kayaknya udah bubar deh ka"
"Kita coba liat kesana Zel takutnya nanti mommy kenapa-napa"
Akhirnya keduanya bangkit dari bangku taman dan melangkah pergi menuju pintu depan rumah. Rara hanya takut kedua orang itu melakukan hal yang tidak terduga apalagi sepertinya Lia sangat tidak menyukai perempuan itu.
Tapi ternyata ucapan Hazel benar karna mereka tidak menemukan seseorang pun di luar rumah.
"Tuh kan ka udah bubar" ucap Hazel menatap Rara yang berdiri disampingnya.
Dari arah kejauhan Rara melihat Lia yang sedang berbicara pada satpam yang berjaga di bagian gerbang depan.
Tak lama Lia berjalan menuju kearah Hazel dan juga Rara.
"Mommy kenapa?" tanya Hazel ketika melihat Lia yang nampak seperti orang marah.
Rara hanya diam melihat ucapan dari keduanya.
Lia tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada Rara yang masih diam menatapnya. "Oh iya kamu harus lebih deket lagi sama anak saya Kenzo, sering-sering pergi ke kantornya nganterin apa kek biar wanita ular itu gaada waktu berduaan sama Kenzo" sahut Lia dengan menatap Rara. Dimata Rara ia melihat jika mertuanya ini tidak lagi menatapnya sinis ataupun sejenisnya.
Hazel yang mendengar itu tersenyum. "Mommy udah restuin kaka sama kaka ipar?" ucapnya dengan mata berbinar.
Wajah Lia kembali sinis seperti biasa. "Siapa bilang mommy restuin kaka ipar kamu itu, mommy cuma gamau cewe itu deket lagi sama Kenzo" Lia akhirnya melangkah pergi dari hadapan mereka berdua.
Lia barusan baru saja sampai di rumah tapi ketika dia akan masuk, dirinya melihat wanita ular itu ada diruang tamu dengan menatapnya dengan senyuman yang membuat Lia ingin melempar wanita itu jauh dari bumi ini.
Rara masih diam disana dengan pikiran yang sudah kemana-mana.
"Kayaknya bentar lagi mommy bakal restuin kaka ipar deh" ucap Hazel dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
Mendengar ucapan adik iparnya itu membuat Rara merasakan hatinya sedikit bahagia karna mertuanya menyuruhnya lebih dekat lagi pada Kenzo.
♣
"Sialan! memangnya dia siapa ngusir-ngusir gue tadi, apalagi mommy kayak yang ngedukung wanita itu sama Kenzo. Padahal kan yang lebih pantes jadi istri Kenzo itu kan gue!" Sisil menatap kearah depannya dengan pandangan dendam. Sekarang ia sedang berjalan pulang kerumah-nya dengan menggunakan mobil kesayangannya itu.
Sisil mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan maksimal. "Pokoknya gue harus bikin rencana biar itu perempuan pergi dari kehidupan Kenzo. Gue gaakan biarin perempuan itu gantiin posisi gue jadi nyonya di rumah itu, gaakan gue biarin!"
Sebenarnya ucapannya tentang dirinya hamil itu tidak benar. Dirinya saja belum pernah melakukan hubungan itu bersama Kenzo jadi tidak mungkin dirinya hamil anak Kenzo.
Drttt...Drtt
Ponsel miliknya bergetar memperlihatkan sambungan panggilan dari seseorang. Sisil dengan cepat menepikan mobilnya dan mengangkat telpon tersebut.
"Hallo?"
"Gimana sayang? kamu udah deket lagi sama Kenzo?"
Sisil memutarkan bola matanya malas. "Belum pahh, Kenzo ternyata udah nikah sama cewe kampung itu, jadi susah buat aku deket lagi sama Kenzo"
"Ck! sudah papah bilang seharusnya kamu jangan pergi waktu itu! bikin perusahaan Kenzo bangkut dulu baru kamu tinggalin pria itu!" ucap laki-laki bersuara berat dari ujung telpon.
"Tapi pah kan waktu itu aku dapat tawaran jadi model, kesempatan gak mungkin dateng dua kali kan? jadi aku terima tawaran itu"
"Kamu bisa papah jadiin model terkenal Sil tapi kamu malah pengin terima tawaran itu! sekarang rencana kita jadi ancur kan?!"
"Papah tenang aja, Sisil bakal cari cara biar misahin mereka berdua biar rencana kita bisa berhasil dengan lancar"
▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
Trimksih sudah membaca❤