My Devil Possessive

My Devil Possessive
Penculikan


__ADS_3

Rara keluar dari ruangan dokter yang sempat memeriksanya tadi, Senyum diwajah Rara terbit ketika mendengar ucapan dari sang dokter yang mampu membuatnya sangat bahagia.


"Terimakasih ya tuhan" Rara menunduk dan mengelus perut ratanya yang sedikit mulai menbuncit itu.


Sekarang Rara akan pulang dan nanti saat suaminya sudah datang mungkin ia akan memberitahu laki-laki itu, kira-kira ekspresi Kenzo akan bagaimana ya?


Rara pun mengambil handponenya ditas dan mencari nomor seseorang disana.


"Hallo pak? bisa jemput sekarang ga dirumah sakit yang tadi" ucap Rara pada orang yang berada diujung telpon tersebut.


Dia menelpon supir yang tadi mengantarkannya untuk menjemput dirinya dirumah sakit.


"Baik non saya meluncur sekarang" jawab supir tersebut.


Setelah itu Rara pun mematikan sambungan telponnya dan menunggu jemputannya dilobi rumah sakit.


Sembari menunggu, Rara memainkan handpone yang digenggamnya. Dia mencoba mencari artikel tentang kehamilan.


Ya! Rara dinyatakan positif hamil diusianya yang sekarang berumur 20 tahun, masih tergolong muda memang untuk mengandung tapi Rara selalu memanjatkan doa agar kehamilan pertamanya ini berjalan dengan baik.


Ia tersenyum ketika mendengar ucapan sang dokter diruangan rawat tadi.


Flsbck on


"Jadi saya sakit apa dok? ga berbahaya kan?" tanya Rara pada dokter perempuan yang duduk dihadapannya.


Dokter ber-tag Lisna itu tersenyum menatap Rara yang nampak khawatir dengan kondisi tubuhnya.


"Nona tenang saja, yang harus dibutuhkan nona sekarang adalah beristirahat dan jangan stres agar kandungannya sehat selalu" ucap sang dokter yang mampu membuat Rara diam seketika.


"Kan..dungan? s..aya-?"


Dokter cantik itu mengangguk. "Selamat ya non, sebentar lagi nona akan menjadi seorang ibu" lanjutnya dengan tersenyum.


Rara seketika menutup mulutnya karna tak percaya dengan ucapan sang dokter. "Tap..i saya ga ngerasa hamil dok" sahut Rara.


"Apa nona sering merasakan mual?" tanya dokter itu.


Rara mengangguk, memang akhir-akhir ini ia sering mengalami mual.


"Itu adalah salah satu dari tanda kehamilan, sebenarnya kehamilan juga banyak sekali tanda-tandanya hanya saja mungkin nona belum menyadarinya"


Rara tersenyum dengan tangan yang mengelus perutnya. "Tapi tadi saya sempat sakit perut dok, gapapa kan sama kandungan saya?" tanya Rara karna takut terjadi apa-apa pada kehamilan pertamanya.


"Syukurnya tidak apa-apa nona, tapi saya harap nona jangan terlalu banyak pikiran agar tidak ber-imbas pada calon bayinya"


Dengan cepat Rara mengangguk, mulai sekarang ia akan mencoba hidup sehat dengan rajin berolahraga atau berfikiran positif agar bayinya tumbuh sehat nanti.


"Berapa usianya dok?"


"Masuk 10 minggu nona"


Flsbck of


Mobil jemputan pun sampai didepan lobi ruma sakit, Rara yang melihat itu langsung bergegas masuk kedalam mobil suaminya. Tak lama mobil itu pun melaju pergi menjauh dari rumah sakit untuk kembali kekediaman Kenzo.


Masih dengan wajah tersenyum Rara mengalihkan wajahnya ke luar jendela, apa dia perlu memberitahu terlebih dahulu adik iparnya-Hazel? kira-kira bagaimana ekspresinya ya ketika Rara memberitahunya jika kado yang ia inginkan sudah hadir diperutnya? pasti Hazel akan senang sekali.

__ADS_1


Tapi mungkin ia akan memberitahu suaminya dulu terlebih dahulu baru ia akan memberitahu yang lain.


"Loh pak kenapa berhenti?" sahut Rara ketika mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti dipinggir jalan.


Supir itu nampak gelisah. "Kayaknya mogok deh non, sebentar ya saya periksa mobilnya dulu" ucap supir itu bergerak membuka pintunya dan keluar untuk mengecek mesin mobil ini.


Rara yang melihat itu hanya diam didalam mobil dengan pandangan fokus ke handponenya. Tak berselang lama Rara mendengar seperti ada keributan di depan mobil yang tertutup oleh besi yang menutupi mesin bagian depan.


Dengan segera Rara turun dan melihat apa yang terjadi disana.


"Pak!" teriak Rara ketika melihat supir yang menjemputnya tergeletak lemas di-aspal jalan dan ada seorang laki-laki berbadan tegap yang berdiri disamping pak supir yang sudah jatuh dijalan itu.


"Tolong!!! tolong!" teriak Rara mencoba mencari pertolongan, namun naasnya jalanan disini nampak sepi dan tidak ada satupun orang yang melintas.


Rara mencoba membalikkan badannya untuk lari ketika melihat pria berbadan tegap itu mulai mendekat ke-arahnya.


Ketika membalikan badannya ternyata ada 2 orang lagi yang berdiri dihadapannya sekarang.


"Kalian mau apa hah!" tanya Rara ketakutan karna mereka membawa senjata tajam yang terbilang cukup menakutkan.


Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menutup mulutnya dengan kain, Rara mencoba menjauhkan tangan itu dari wajahnya tapi tak berselang lama Rara pun tak sadarkan diri karna menghirup aroma kain tersebut yang entah apa itu.



"Baguss, sekarang kalian bawa ke gudang dekat jalan. Saya sekarang kesana"


Bip.


Sisil tersenyum manis, rencananya berjalan dengan mulus tanpa adanya pengganggu. Sekarang ia melajukan mobilnya kearah gudang yang akan ia jadikan tempat sekkapan bagi wanita kampung itu.


Beberapa menit kemudian dia sampai digudang tersebut dan keluar dari mobilnya untuk masuk kedalam bangunan yang nampak tak terawat.


"Mana dia?" tanya Sisil pada laki-laki berbadan tegap yang berdiri di depan pintu bangunan tua ini.


"Ada didalam nona" jawab pria tersebut.


Sisil segera masuk untuk menemui wanita itu.



Rara tersadar dan terbangun dari pingsannya ketika merasakan badannya diikat kencang oleh tali.


Ia menatap tubuhnya yang sudah diikat disebuah kursi yang ia duduki sekarang.


Ini dimana?


Rara mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Akhirnya Rara mengingat jika tadi ia sempat ditutupi kain dan tiba-tiba saja ia berada disini.


Dari arah kejauhan Rara mendengar suara ketukan hak sepatu mendekat kearahnya, ia mencoba melihat siapa yang mendatanginya.


"Ka Sisil?" gumam Rara terkejut melihat Sisil sekarang berdiri tak jauh darinya dengan senyum miring tercetak diwajah cantiknya itu.


"Udah sadar lo? gimana? kaget ga liat gue disini" sahut Sisil dengan tersenyum.


"Ka Sisil ngapain disini?" tanya Rara dengan wajah binggung.


Sisil terkekeh dengan melipatkan tangannya didepan dada. "Suka-suka gue dong gue mau ada dimana aja bukan urusan lo!"

__ADS_1


Rara mencoba melepaskan ikatan ditubuhnya tapi hasilnya nihil karna kondisi tubuhnya masih lumayan lemas sekarang.


"Gabisa ya ngelepasinnya? kasian" sahut Sisil dengan ekspresi sedih yang dibuat-buatnya. Tapi tak berselang lama Sisil pun kembali terkekeh. "Gue bisa aja lepasin lo tapi lo harus pergi jauh dari kehidupan Kenzo!" lanjutnya.


Rara diam dengan tatapan yang menatap Sisil penuh kebencian. "Seharusnya ka Sisil yang pergi jauh dari rumah tangga aku sama Kenzo" jawab Rara dengan penuh penekanan disetiap katanya.


"Yang harusnya pergi itu lo! lo yang tiba-tiba aja masuk kedalam hubungan gue sama Kenzo, asal lo tau gue itu sama dia belum ada kata putus" ucap Sisil membuat Rara membulatkan mulutnya.


"Tapi itu udah masa lalu kan? ka Sisil gagal moveon ya? sampe ngejar-ngejar Kenzo segininya. Lagian kaka tuh cewe ga-malu apa ngejar-ngejar laki-kaki yang udah punya istri?"


Mendengar itu mata Sisil memerah marah, dengan cepat ia mendekat kearah Rara dan mengangkat tangannya.


Plak!


"Berani-beraninya ya lo!"


Rara diam dengan wajah yang menyamping, perih itu yang dirasakanya sekarang.


"Lo itu paling cuma dijadiin pelampiasan sama Kenzo, lo mau tau cerita sebenarnya?" ucal Sisil masih dengan berdiri dihadapan Rara.


Rara hanya diam tak ingin menjawab ucapan dari wanita ular itu.


"Dulu gue pergi setelah 1 hari Kenzo ngelamar gue"


"Dan gue terima lamaran itu, cincin ini sampai sekarang masih gue pake karna ini adalah ungkapan cinta dari Kenzo buat gue" lanjut Sisil dengan menggantungkan tanganya menunjuk jari manisnya.


Rara masih diam dengan menatap Sisil dalam.


"Tapi sayangnya gue waktu itu berambisi banget jadi model terkenal, kebetulan juga ada orang yang nawarin kerja sama saat itu dan alhasil gue tinggalin Kenzo demi ngejar ambisi gue itu"


"Kenapa pergi gitu aja?" akhirnya Rara membuka mulutnya menjawab pernyataan yang diucapkan Sisil.


Sisil memalingkan wajahnya. "Kenzo gak mau gue jadi model terkenal, dia overprotektif banget sama gue itu yang gue gasuka dari seorang Kenzo" ucap Sisil kembali menatap Rara.


"Gue pulang kesini karna mau ngelanjutin hubungan gue sama Kenzo. Tapi sekarang dia dingin banget sama gue, dan itu karna lo! lo pasti udah ngehasut Kenzo biar gak suka lagi sama gue kan!"


Rara menggeleng. "Aku gapernah ngehasut orang, lagian itu kesalahan kaka sendiri yang pergi gitu aja jadi jangan salahin aku ataupun Kenzo!"


Sisil terkekeh. "Mana ada maling ngaku coba? ini tuh pokoknya salah lo! kalo Kenzo emang udah gabisa gue milikin semua orang termasuk lo juga gaboleh milikin!"


Rara mencoba melepaskan ikatan dibadannya, sepertinya wanita didepannya ini sudah kehilangan akal sehatnya.


"Lo gabakal bisa lepas gitu aja Rara" Sisil menyinggungkan senyumannya. "Gue bakal lenyapin lo dan calon bayi lo terlebih dahulu, baru gue lepasin lo nanti" ucap Sisil dengan tersenyum mengerikan dimata Rara.


"Kaka tau d..ari mana? kalo aku-" tanya Rara, bagaimana wanita ini tau? bukannya dia belum bicara pada siapa-siapa?


"Gak penting gue tau dari mana, yang penting sekarang gue bakal lenyapin lo. Ada yang mau disampaikan? sebagai kata-kata terakhir lo hidup" Sisil melipat kedua tangannya dan memutari kursi yang mengikat tubuh Rara.


Rara masih mencoba melepaskan ikatan ditubuhnya, ia gak boleh pasrah gitu aja.


Tuann tolong aku


▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫


Termksh sudah membaca❤


Minal aidzin walfaizin bagi yang menjalanknnya🙏

__ADS_1


__ADS_2