My Devil Possessive

My Devil Possessive
Cemburunya Kenzo


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, matahari sudah mulai terbenam dan langit pun sudah mulai gelap sekarang.


Hazel tersenyum menatap dirinya sendiri lewat kaca dihadapannya. "Duh tambah cantik banget ya kamu Zel." Hazel tersenyum. Ia sekarang sudah siap untuk pergi ke acara Butik kesukaannya, Hazel memakai pakaian yang diberikan kakak iparnya dulu karna memang pakaian itu ia simpan rapih untuk jikala dirinya pergi kepesta maupun hal penting lainnya.


Dengan senang Hazel berjalan keluar dari kamarnya untuk menuju kelantai bawah, ia tersenyum manis dengan berjalan layaknya putri kerajaan. Sebelum ia turun Hazel mampir sebentar ke kamar kakaknya untuk pergi bersama.


"Kakak iparrrrr." teriak Hazel ketika sampai didepan kamar kakanya. "Kakak ipar ayo berangkat." panggilnya kembali tapi sayangnya belum ada tanda-tanda pintu dihadapannya akan terbuka.


Salah satu Maid melintas dan menatap adik majikannya itu. "Maaf Nona, Nona cari siapa?" tanya nya sopan.


Hazel menatap wanita berumur disampingnya. "Bibi tau dimana kakak ipar?"


Bibi itu mengangguk sopan dengan tersenyum. "Nona muda sudah pergi sejak pagi tadi Nona, bersama Tuan Kevin dan juga Nona Keyla." Ia mengingat tadi pagi jika istri Tuannya itu sudah berangkat dengan kedua anaknya.


Hazel melebarkan pandangan menatap sang Bibi. "Hah? mereka pergi kemana Bi?" tanyanya penasaran, mau kemana kakak iparnya pergi pagi-pagi?


"Kalo itu saya kurang tau Nona, tapi mereka cukup rapih tadi." sahut Maid itu dengan mengingat-ngingat yang dilihatnya tadi pagi.


"Yaudah deh makasih Bi" Hazel melanjutkan jalannya turun kelantai bawah dengan raut wajah cemberut.


Hazel menghentakkan kakinya berjalan menuju arah ruang tamu. Dari arah kejauhan dirinya sudah melihat beberapa orang yang terduduk diruang tamu.


"Loh kalian disini?" ucap Hazel ketika melihat teman-temannya yang sudah duduk nyaman disofa.


"Yaiya, lo kan minta disamper tadi gimana sih."


"Tau lo Zel bukannya makasih udah dijemput sama kita."


Mendengar ucapan tema-temannya membuat Hazel terkekeh, ia lupa jika tadi meminta agar teman-temannya menjemput dirinya dirumah untuk pergi kebutik bersama.


"Hehe, iya-iya yaudah kita berangkat sekarang yuk? keburu rame nanti."


__


"Udah siap semuanya?" tanya Rara pada beberapa karyawan.


Para bawahannya itu mengangguk singkat menatap atasannya yang terlihat begitu cantik sekarang.


Rara tersenyum, ia sudah mengganti pakaiannya tadi dan sedikit mempoleskan bedak diwajahnya untuk terlihat lebih rapih. "Oke, kalo gitu kalian istirahat aja pasti capek kan?"


"Baik Mbak."


Yang membantu menyiapkan ini semua bukan hanya para bawahan Rara namun juga ada beberapa bantuan dari bawahan Kenzo, pria itu menyuruh orang-orangnya untuk membantu Rara agar ia tidak kecapean katanya.


Rara menatap aula yang nampak sudah cukup ramai, ia sedikit takjub ketika melihat deretan mobil mewah ada diparkiran Butiqnya. Mungkin banyak kalangan atas yang berkunjung kesini membuat Rara sedikit gugup.


Kok aku grogi ya


Rara tidak biasa berbicara didepan banyak orang apalagi orang-orang nantinya akan memperhatikannya jadi Rara sedikit gugup.


Rara menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu bisa Ra, kamu harus bisa." gumamnya pelan.


Sekarang dirinya berada diruangan pribadi miliknya, ia sendiri disini karna kedua anaknya tadi pergi bersama sang Maid entah kemana. Kedua anaknya itu memang tidak bisa diam.


Brak!


Rara menatap terkejut kearah pintu yang sekarang sudah terbuka lebar dengan menampilkan sesosok laki-laki tampan yang sangat familiar dimatanya.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekat kearah Rara yang masih diam membatu.


"Kau sudah siap? apa perlu ku temani?" ucap pria tersebut dengan terkekeh.


"Gak usah Mas, lagian juga ini acara aku jadi kamu nonton aja nanti." jawab Rara dengan malas.


Kenzo mendekat dan merapatkan tubuhnya pada wanitanya itu. Diruangan tersebut bukan hanya ada mereka berdua karna ada sesosok laki-laki lagi yang berdiri didepan pintu.


Sudah biasa


Hans menatap kedua majikannya dnegan pandangan diam, ia hanya mencoba untuk tidak melihat mereka berdua, entah lah ia sedikit merasa iri karna sampai sekarang dirinya masih saja sendiri.


"Aku yakin kau bisa," pelan Kenzo dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Rara. Ia menatap wanitanya yang nampak cantik dan anggun sekarang.


"Iya Mas," ucap Rara dengan mengangguk singkat dan tersenyum menatap suaminya. Sekarang dirinya cukup percaya diri karna dukungan Kenzo.


Cup!


Kenzo mengecup kening wanita dihadapannya. "Semangat untukmu."


"Makasih." Rara melebarkan senyumannya, jika Kenzo yakin dirinya bisa pasti Rara lebih yakin akan dirinya.


Sebelumnya Rara memang tidak biasa mengobrol atau berbicara didepan banyak orang, saat-saat SMA pun dia begitu, jika ada presentasi atau tugas yang dijelaskan didepan pasti dirinya akan merasakan gugup yang menghebat. Tapi jika presentasi pastinya akan ditemani seseorang bukan? seperti teman kelompok atau guru yang mendampingi tapi sekarang dirinya akan sendirian berada diatas panggung.


"Kau berdandan?" sahut Kenzo dengan menyipitkan matanya menatap Rara dengan pandangan selidik.


Rara segera meraba wajahnya dengan kedua tangannya. "Iya, kenapa? ketebalan ya?" padahal Rara hanya mempoleskan sedikit make-up agar dirinya tampil lebih fresh.


"Iya! jika kau dandan seperti itu pasti akan banyak pria yang menatapmu, aku tidak suka ada yang menatapmu selain aku." kesal Kenzo.


Mulut Rara menganga, ia kira memang ketebalan tapi sepertinya pria dihadapannya ini cemburu makannya dia mengatakan hal itu.


"Ck! aku hanya tidak mau kau ditatap pria-pria hidung belang diluar sana." Kenzo menatap ke wajah Rara. "Hanya aku yang boleh menatapmu dan tubuhmu."


Rara kembali menjadi gugup, posisi mereka sekarang cukup intim membuat Rara sedikit tak nyaman.


Kenzo menjauhkan kepalanya dan menatap Rara dengan tajam. "Kau juga memakai pakaian terbuka seperti ini, kau tau jika kau berpakaian seperti ini kau malah mengundang perhatian mereka," lanjut Kenzo dengan menatap pakaian wanitanya dari atas sampai bawah.


Sekarang Rara memakai sebuah dress yang ia jahit dan desain sendiri, dress nya cukup simple dan membuatnya terlihat anggun. "Terbuka darimana-nya?" ujar Rara dengan nada kesal.


"Lengan mu terbuka, rok mu juga kenapa hanya sampai lutut?" Kenzo menatap Rara intens. "Lihat, kau jadi nampak seksi dimata ku, lebih baik kau ganti atau kita pulang sekarang." Kenzo melepaskan tangannya dari pinggang Rara. "Jika kau berpakaian seperti itu lebih baik aku mengurungmu dikamar daripada kau berada disini." lanjutnya.


Seketika mata Rara membulat mendengar ucapan yang dilontarkan pria dihadapannya.


Apa katanya?! pulang?! aku sudah mempersiapkan semuanya matang-matang lalu pria dihadapan ku ini malah menyuruh ku pulang?


"Aku tidak mau pulang! jika Mas ingin pulang, pulang saja," kesal Rara dengan menjauh dari tempat dimana Kenzo berdiri.


"Hey! aku belum selesai berbicara," Kenzo berjalan menyusul wanitanya itu yang nampak terlihat marah.


Hans menatap kedua majikannya itu, ia lantas memilih keluar dari ruangan Rara dan menutup pintu tersebut. Hans tidak mau terlibat dan tidak ingin melihat kedua majikannya yang sebentar lagi akan berdebat jadi lebih baik ia berjaga-jaga saja didepan pintu ruangan Nona mudanya ini.


_


Aisyah menatap jam yang melingkar di pergelangannya, ia sedikit resah karna Rara tidak muncul-muncul juga.


Aisyah sekarang berada dilantai bawah sedangkan Aula butik berada disamping gedung butik ini. Banguna-nya memang berdekatan dan hampir menyatu namun hanya berbeda akses dari pintu saja.

__ADS_1


"Rara kok belum turun juga sih." gumam pelan Aisyah dengan menatap tangga yang berada tak jauh darinya. "Acara udah mau dimulai lagi."


Keadaan di butiq ini tidak terlalu ramai karna semua orang berada di Aula, mungkin disini hanya ada beberapa orang yang sedang berbelanja untuk menunggu acara itu dimulai.


Karna tak mau menunggu lama akhirnya Aisyah berjalan menuju tangga dan melangkah pergi ke ruangan sahabatnya itu. Entah apa yang dilakukan Rara sehingga sampai sekarang belum turun juga.


Ketika sudah berada diatas, mata Aisyah menatap sesosok pria yang ia kenal sedang berdiri didepan pintu ruangan yang menjadi tujuannya.


"Loh kok Om ada disini?" tanya Aisyah ketika sampai dihadapan pintu ruangan Maura.


Hans menatap jenggah wanita dihadapannya, kenapa banyak yang memanggilnya Om? padahal menurutnya umur mereka itu tidak terlalu jauh. "Saya belum setua itu untuk dipanggil Om." pelan Hans.


Jika Keyla memanggilnya Om mungkin dirinya tidak akan masalah karna Hans tau Keyla masih kecil jadi ia memberikan kebebasan untuk anak majikannya akan memanggil dirinya apa.


Aisyah menatap intens pria yang cukup tampan menurutnya. "Iya sih, eh kok nunggu disini? pasti ada Tuan Kenzo ya? dimana dia? pintu Rara juga kok ditutup, memangnya didalam ada apa?" deretan pertanyaan itu keluar dari bibir manis Aisyah yang nampak cantik dengan dress sederhana buatan tangannya.


"Kau bertanya?"


"Iyalah!" lama-lama Aisyah juga kesal dengan sikap pria dihadapannya ini.


"Kau tidak perlu tau didalam ada apa, kau mau apa kesini? ada hal penting?" lanjut Hans balik bertanya.


Aisyah memutar bola matanya malas, ia bertanya tapi malah dijawab tanya kembali oleh sekertaris ini. "Acara udah mau dimulai."


"Yasudah, kau panggil saja Nona muda." Hans menyingkir dan mempersilahkan Aisyah mengetuk-ngetuk pintu ruangan itu.


"Kenapa gak Om aja?" heran Aisyah. Kenapa harus dirinya yang memanggil? kenapa bukan sekertaris ini?


Hans menghela nafasnya pelan lalu mengetuk-ngetuk pintu dihadapannya mencoba memanggil orang yang berada didalamnya.


Toktoktok!


"*Sudah akan dimulai Mas!"


"Ck, suruh saja hentikan sebentar acara itu, aku masih betah berada disini*."


Aisyah membulatkan matanya ketika mendengar suara dari arah dalam pintu dihadapannya, ia menatap Hans dengan pandangan horor.


"Me-mereka ngapain?" gugup Aisyah dengan pandangan tak menyangka, pikirannya mulai negatif sekarang.


Hans menaikkan kedua bahunya acuh.


Tapi tak lama setelah itu pintu pun terbuka menampilkan dua orang yang tadi berbicara dari dalam.


Ceklek!


"Eh Syah, udah mulai ya acaranya?" Rara menatap Aisyah dengan tersenyum manis sembari merapihkan rambutnya.


"Ud-udah." jawab Aisyah masih dengan pandangan tak tertebak. "Kamu abis ngapain didalam Ra?" kepo Aisyah.


Rara menatap pria disampingnya yang tak lain adalah Kenzo, ia menatap penuh kesal pria itu yang malah menatapnya dengan senyuman.


"Sudah mau mulai lebih baik kau bersiap sayang, sedikit bermain-main tadi akan mengurangi gugupmu bukan?" ucap Kenzo.


Aisyah menatap kedua orang dihadapannya dengan horor. Hans yang mendengar itu hanya diam karna ia tau apa maksud bermain-main versi Tuannya.


Keadaan sibuk seperti ini saja Tuan dan Nona masih sempat-sempatnya bermesraan, hah mungkin sebentar lagi Tuan Kenzo junior akan segera lahir kembali.

__ADS_1


▫▫


Termkasih sudah membaca❤


__ADS_2