
Tak terasa sudah beberapa jam mereka berada dipesawat ini mereka pun sampai pada kota Jakarta, nampak banyak orang yang menyambut kedatangannya mulai dari para bawahan Kenzo maupun para wartawan.
Rara menatap kearah luar jendela dengan pandangan terkejut. Ia menatap Kenzo disampingnya yang masih terduduk dengan tenang.
"Diluar banyak banget loh orangnya, kok mereka tau sih kamu ada disini?" tanya Rara dengan khawatir. Ia hanya menghawatirkan kedua anaknya ini karna mereka memang tidak suka keramaian seperti ini.
Kenzo menatap Rara dengan wajah yang masih tenang. "Ck! kau lupa siapa aku? orang-orang itu pasti mempunyai banyak mata-mata untuk mengawasi gerak-gerikku."
Penjelasan itu membuat Rara menghembuskan nafasnya kasar, ia lupa jika pastinya banyak orang yang mengawasi mereka. Pantas saja tadi ketika sampai dibandara Jogyakarta banyak yang memandangi kearah mereka dan pastinya semua itu diposting lewat media sosial mereka bukan? pasti sekarang sudah tersebar dimana-mana.
Mereka masih belum turun karna masih menunggu keadaan diluar sana.
Drttt..Drttt..
Tiba-tiba saja Rara merasakan handpone ditasnya bergetar, ia segera mengambil tasnya dan membawa ponselnya pada genggamannya. Rara menatap layar ponselnya yang tertera nama seseorang disana.
Aisyah is calling..
Rara menatap binggung layarnya, ada apa sahabatnya ini menelpon?
"Siapa yang menelpon?" ucap Kenzo menatap Rara penuh tanya.
"Aisyah," pelan Rara dengan menekan tombol hijau dilayarnya untuk mengangkat sambungan telpon tersebut setelah itu ia segera menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Hallo Syah, kenapa?" ucap Rara menyapa seseorang diujung telpon sana.
"...."
"Siapin aja Syah, aku udah diJakarta kok."
"..."
"Oke."
Bip.
Setelah itu Rara pun mematikan sambungan telponnya sepihak lalu menaruh kembali ponselnya ditas.
Rara menatap Kenzo yang juga sekarang menatapnya, ia tersenyum melihat Kenzo yang menatapnya penuh arti.
"Kenapa?" tanya Kenzo kepo.
Didalam hati Rara ia sedikit kesal karna Kenzo akhir-akhir ini selalu ingin tau tentang dirinya mulai dari kegiatannya ataupun seseorang yang menelponnya. Antara khawatir apa memang posesif? "Biasa kerjaan Mas." singkat Rara membuat Kenzo akhirnya mengangguk.
"Tuan dan Nona, diluar sudah terkendali jadi kita bisa turun sekarang." ucap salah satu pramugari dengan sopan.
Kenzo dan Rara pun mengangguk singkat, mereka segera bangkit dari duduknya sedangkan Keyla dan Kevin sekarang sudah berada pada gendongan para bawahan Kenzo.
Mereka akhirnya turun dari pesawat tersebut dengan beberapa bodyguard yang berjaga-jaga dibelakangnya.
Ketika Kenzo dan Rara turun semuanya mendadak ricuh, banyak para wartawan yang menanyai hubungan keduanya tapi Rara dan Kenzo hanya diam tanpa niat menjawabnya. Mereka tergesa-gesa berjalan dibandara untuk menuju mobil yang sudah terparkir rapih dilobi bandara.
__ADS_1
Bisa dibilang sekarang keduanya menjadi topik pembicaraan dimedia maya maupun media nyata, makannya banyak wartawan yang ingin langsung menanyakan hubungan tentanf keduanya.
Sampai pada mobil Kenzo keduanya pun masuk kedalamnya untuk menghindari suasana ricuh diluar sana. Rara menatap Kenzo dengan panik.
"Keyla sama Kevin gimana Mas?" tanya Rara dengan khawatir.
Kenzo menatap Rara dan membelai pelan wajah wanitanya. "Kau tenang saja mereka sudah aman dimobil belakang bersama Hans jadi kau tidak perlu khawatir."
Mendengar penjelasan itu membuat Rara sedikit lega, ia pun merebahkan tubuhnya disenderan kursi.
"Huh! kenapa banyak banget wartawannya? biasanya gak serame ini." gumam Rara yang masih bisa didengar oleh Kenzo.
Kenzo sedikit terkekeh mendengar keluhan wanitanya. "Kau cek saja berita ponsel-mu itu." pelan Kenzo dengan menaikkan kedua alisnya.
Mendengar itu Rara pun segera membuka ponsel-nya penasaran, ia memang jarang melihat berita diponselnya ataupun membaca artikel yang sedang hangat akhir-akhir ini.
Mata Rara membulat ketika melihat banyak sekali berita tentang dirinya dan juga Kenzo, banyak juga yang mencari identitas aslinya membuat dirinya sedikit takut tentang kehidupan pribadinya.
"Banyak sekali."
"Kau lihat bukan? aku jadi tidak sabar memperkenalkan mu pada semua orang jika kau itu milikku dan hanya milikku." Kenzo tersenyum miring membuat Rara ikut tersenyum.
Mobil mereka melaju membelah padatnya jalanan ibu kota ini, keduanya memilih diam karna mungkin mereka sedikit lelah dengan kejadian tadi.
Ya, semuanya tidak bisa ditutupi lagi sekarang karna Rara tau pasti setelah kejadian dibandara tadi akan banyak yang mulai mencari tentang dirinya.
Beberapa menit kemudian mobil Kenzo sampai pada mesion milik Kenzo, setelah mobil diparkirkan dihalaman depan Rara dan Kenzo segera turun dari mobil tersebut.
"Selamat datang kembali Tuan, Nona."
Rara tersenyum dan mengangguk mendengar sapaan kepala maid lain dengan Kenzo yang hanya diam degan ekspresi biasa.
Rara menatap Kenzo disampingnya. "Mas duluan aja, nanti aku nyusul kekamar." pelan Rara membuat Kenzo mengangguk.
Kenzo pun melanjutkan langkahnya menuju lantai atas sedangkan Rara masih diam dipintu.
__
Rara yang melihat Kenzo sudah pergi menjauh darinya langsung menatap kepala maid itu.
Beberapa maid mulai berhamburan pergi untuk melanjutkan tugasnya setelah berpamitan pada Rara. Rara hanya tersenyum menjawab setiap ucapan pamit yang dilontarkan pekerja dirumah ini.
"Eh Bi, Hazel kemana ya?" tanya Rara pada BiSur.
Mendengar pertanyaan itu kepala maid tersebut tersenyum. "Nona Hazel tadi berada ditaman belakang Nona." jawabnya sopan.
"Kalo gitu aku ketemu Hazel dulu ya Bi," setelah berpamitan Rara segera berlari menuju taman belakang, ia sekarang ingin mengobrol dengan adik iparnya itu.
Sampai ditaman belakang Rara menatap sekitarnya, ketika matanya menangkap seorang gadis yang ia kenal dirinya pun segera mendekat kearah sana dengan wajah yang berseri-seri.
"Zel!" ucap Rara tiba-tiba membuat wanita dihadapannya terlihat terkejut.
__ADS_1
Wanita dihadapannya itu pun berbalik dan menatap Rara dengan pandangan kagetnya.
"Kakak ipar ngagetin aja sih! kalo aku jantungan gimana? kalo aku mati mendadak gimana? aku belum nikah kakak ipar jadi aku gamau mati duluan." wajah Hazel berubah menjadi kesal sekarang sembari menatap wanita yang ia sebut kakak ipar ini.
Rara hanya terkekeh, ia tidak bermaksud mengagetkan Hazel tapi mungkin panggilan mendadaknya yang membuat adik iparnya ini terkejut.
"Gak boleh ngomong gitu ah Zel, maaf aku gak sengaja tadi." ucap Rara dengan sedikit terkekeh.
Hazel memajukan bibirnya tapi tak lama ia melebarkan bibirnya tersenyum. "Gapapa kok kak, Kakak ipar udah pulang? eh kita duduk dulu," Hazel menarik tangan Rara pelan menyuruhnya duduk Hazel pun ikut duduk disamping kakak iparnya.
Setelah keduanya duduk, Rara pun menatap Hazel dihadapannya dengan tersenyum. Ia merindukan adik iparnya ini.
"Kalo aku belum pulang aku gak mungkin ada disini don Zel." ucap Rara membuat Hazel terkekeh.
"Oleh-olehnya mana Kak?"
Mata Rara membulat, ia lupa jika sudah berjanji akan membawakan oleh-oleh untuk adiknya ini. "Aduh Zel, maaf." Rara menatap Hazel dengan rasa bersalahnya. Entah kenapa dirinya tidak ingat membelikan oleh-oleh untuk Hazel.
"Yahh! tapi gapapa deh kak, aku lagi seneng sekarang." ucap Hazel dengan wajah berbinar.
Rara yang melihat itu menatap gadis didepannya dengan penasaran. "Seneng kenapa Zel?"
Hazel tersenyum manis dengan menunjukan ponselnya. "Liat deh kakak ipar, beberapa hari lagi Butiq kesukaan aku bakal ngadain acara sekaligus perayaan prihal kesuksesan beberapa tahun terakhir Butiqnya jadi aku bakal dateng karna pastinya bakal ada diskon besar-besaran disana jadi aku bisa belanja sepuasnya." gembira Hazel.
Rara melihat layar diponsel adik iparnya itu, ia ikut tersenyum menatapnya.
"Kakak ipar ikut ya? kita kesana bareng, temen-temen aku juga pada mau kesana soalnya bakal rame apalagi sekarang juga jadi tranding topik setelah berita kakak sama kakak ipar dibandara tadi. Nanti aku kenalin sama temen-temen aku."
Rara mengalihkan pandangannya dari ponsel dihadapannya dan menatap Hazel dengan penuh arti. "Iya Zel, aku juga mau kesana kok." pelan Rara membuat Hazel ikut tersenyum.
"Perempuan kayak kamu itu gak pantes berada disana."
Tiba-tiba saja suara itu muncul membuat Rara dan Hazel menatap ke-asal suara tersebut.
"Mommy kok ngomong gitu!" Hazel berdiri menatap wanita yang sekarang berada dihadapan mereka.
Ya, yang berbicara tadi adalah Lia yang tak lain adalah mertua dari Rara.
"Emang kenyataan-nya gitu kan? Perempuan rendahan kayak kamu gak pantes ada disana." cemooh Lia membuat Rara berdiri dan ikut menatapnya.
Hazel menatap kesal Lia. "Mommy!" tegas Hazel tapi tidak membuat Lia sadar dengan ucapannya tadi.
Rara menghela nafasnya pelan menatap Lia dihadapannya. "Kita liat saja nyonya, siapa yang lebih pantas berada disana nanti." Rara tersenyum manis menyimpan banyak arti dibibirnya.
▫▫▫
hayo-hayo kenapa tuh Rara ngomong begitu?
Penasaran? ikut terus cerita ini ya!
Terimakasih sudah membaca❤
__ADS_1