
Rara terbangun ketika merasakan sinar matahari yang mengenai wajah cantiknya.
Ia membuka matanya perlahan untuk menstabilkan cahaya yang masuk kedalam ruangan ini, ketika matanya sudah terbuka lebar ia bangun dan duduk dikasur tersebut.
"Apa tuan masih marah?" gumam Rara karna tak melihat wujud laki-laki itu dikamar ini.
Segera ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju arah kamar mandi, penampilannya masih tidak karuan karna pristiwa kemarin itu.
Sampai dikamar mandi Rara melihat dirinya dicermin, wajahnya sembab dan matanya bengkak karna tangisan kemarin ia mencoba mencuci muka agar wajahnya kembali normal.
"Aw shh" Rara memegang perutnya karna tiba-tiba ia merasakan sakit yang mendalam.
"Ko sakit banget ya" gumam Rara dengan tangan yang masih memegang perutnya. Apa dirinya akan mengalami haid? tapi rasanya bukan seperti ini, rasa yang ia alami jauh lebih sakit sekarang.
Karna tak kuat mandi akhirnya Rara berjalan perlahan menuju kasur dan kembali duduk disana siapa tau sakitnya akan hilang, namun setelah beberapa menit duduk ditepi ranjang sakit perut yang dirasakan Rara tidak kunjung selesai.
Rara mencoba menahan sakit perutnya itu dan akhirnya perutnya kembali normal. Setelah merasa baik Rara pun kembali berjalan kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Tenaganya terkuras habis kemarin terlebih airmatanya yang tak henti-hentinya menetes diwajahnya, ia masih mencoba tegar menghadapi semua ini karna Rara tau pasti takdir bahagianya sebentar lagi akan tiba.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya Rara segera mengganti pakaiannya, sekarang ia akan pergi kerumah sakit untuk mengecek kondisi tubuhnya karna ia merasa makin hari makin lemas saja sekarang.
Ia mempoleskan sedikit bedak diwajahnya dan sedikit lipbam dibibirnya agar tidak terlalu pucat, setelahnya ia mengambil tas selempang dan menggantungnya dibahu tangannya.
Rara berjalan keluar dari kamarnya dan melangkah menuju lantai bawah, saat ia sampai ditangga terakhir dirinya menatap maid yang berdiri dekat dirinya dengan pandangan diam ke Rara.
"Bi?" sapa Rara pada maid yang menatapnya diam tapi tak lama maid itu tersadar.
"Eh iya non, ada apa?" tanya maid yang mungkin umurnya tak jauh juga darinya.
Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gapapa ko bi, bibi kenapa melamun kayak gitu?" tanya Rara kembali.
Maid itu nampak gugup. "Engga non tadi saya pangling aja ngeliat nona yang cantik banget hari ini, nona mau kemana?" ucap Maid tersebut dengan sedikit terkekeh.
"Em aku mau kedapur bi mau sarapan" jawab Rara, memang ia akan kedapur sekarang untuk sarapan karna perutnya perlu diisi sebelum ia pergi dari rumah ini.
Maid itu membulatkan mulutnya. "Oh, kalo gitu saya permisi dulu ya nona" setelah mengucapkan itu maid tersebut pergi dari hadapan Rara.
Rara merasa aneh dengan maid itu, tapi ia tak mau ambil pusing dengan segera Rara melangkah kearah meja makan.
__ADS_1
Maid yang tadi berbicara pada Rara sebenarnya masih memantau pergerakan Rara karna ia memang mendapatkan tugas itu oleh seorang wanita yang memasukannya kedalam rumah ini.
Sampai di meja makan Rara langsung duduk dan mengambil makanannya, meja makan nampak sepi mungkin orang-orang dirumah ini sudah mulai melakukan tugas hariannya karna sekarang waktu sudah hampir siang.
Ia teringat pada Kenzo, pria itu tidur dimana tadi malam? apa pria itu sudah berangkat kekantor? jam berapa ia pergi? apa dia sarapan tadi? banyak pikiran mengenai suaminya itu tapi Rara mencoba berfikir positif saja.
Salah satu maid mendekat kearah tempat duduk Rara. Tapi ketika sampai disamping meja tempat makan Rara maid itu nampak terdiam melihat makanan yang berada dipiring nona mudanya itu.
Rara yang hendak memakan makanannya langsung menatap orang disampingnya karna ia merasa jika disana ada orang. "Kenapa bi? aku ngambilnya kebanyakan ya?" tanya Rara.
Ya! porsi makanan Rara bisa dibilang cukup untuk 4 orang lebih, entahlah Rara sangat lapar sekarang jadi ia mengambil asal makanan itu.
"Eh bukan non ta..di saya niatnya mau nawarin makanan buat dipanasin soalnya makanannya pasti sudah dingin" jawab maid itu sopan.
Rara pun mengangguk paham. "Gausah bi masih enak ko dingin-dingin juga" sahut Rara dengan mulai memakan makanannya.
Melihat itu maid itu langsung pamit karna tak enak. "Yasudah kalo begitu saya permisi dulu nona"
Rara meng-iyakan dan melanjutkan makanya.
♣
"Lo gimana sih! tanyain dong dia mau kemana pokoknya gue gamau tau lo harus kasih kabar soal dia mau kemana sekarang!"
Sisil menahan amarahnya, nyatanya rencana untuk mengusir Rara dari rumah itu belum berhasil karna wanita itu sampai saat ini masih hidup tenang dirumah laki-lakinya, walau kemarin kata maid yang ia suruh memantau pergerakan Kenzo dan Rara sedang berantem hebat tapi Kenzo tetap tidak mengusir wanita itu dari sana.
"Gue harus apa sekarang" gumam Sisil memikirkan rencana kembali agar wanita kampung itu pergi dari kehidupan Kenzo atau perlu pergi dari dunia ini.
Tak lama handponenya kembali bergetar memunculkan nama seseorang disana.
"Iya hallo, gimana? lo tau dia mau kemana?"
"Nona Maura pergi kerumah sakit dipusat kota, nona"
Sisil terdiam disana, mau apa wanita itu pergi ke-rumah sakit?
"Kirim alamat rumah sakitnya ke gue sekarang!" Sisil mematikan ponselnya sepihak.
Tak lama ada notif diponselnya, ia sudah tau sekarang rumah sakit yang akan didatangi Rara. Dengan segera Sisil bangkit dan mengambil kunci mobilnya untuk mencari tau untuk apa wanita itu kesana.
__ADS_1
♣
Rara sekarang berada dimobil milik suaminya, ia duduk dengan pandangan kearah luar jendela yang menampilkan padatnya jalanan kota Jakarta.
Ia akan pergi kerumah sakit dipusat kota ini, Rara sudah memberi tahu agar supir yang mengantarkannya tidak memberitahu siapapun soal dia akan pergi kerumah sakit karna Rara tidak ingin ada yang khawatir tentang kondisi tubuhnya.
Sampai pada lobi rumah sakit, supir itu pun berhenti.
"Bapak pulang aja takutnya lama, kalo saya mau pulang nanti saya kabarin bapak" sahut Rara dengan tersenyum.
Supir itu pun mengangguk. "Baik nona"
Sebelum Rara membuka pintunya, ia kembali mengingakan supir itu. "Bapak jangan kasih tau siapa-siapa kalo saya kesini oke?"
Laki-laki berambut lebat itu hanya pasrah mengangguk. "Baik nona"
Setelah mendapatkan jawaban Rara pun turun dari mobil itu dan masuk kedalam rumah sakit yang cukup ramai.
♣
Sisil diam menatap rumah sakit didepannya. Ketika melihat wanita kampung itu sudah turun dari mobilnya, Sisil segera memarkirkan mobilnya dan mengikuti Rara dari belakang.
Ia sedikit menjaga jarak agar wanita itu tidak menyadari kehadirannya disini.
"Mau apa dia kesini?" Sisil masih melihat gerak gerik dari wanita didepannya yang mulai masuk kedalam sebuah ruangan, Sisil mendekat kearah pintu ruangan itu untuk mendengar ucapan dari dalam sana.
Suaranya nampak samar-samar tapi Sisil masih bisa mendengar dengan tajam.
Tiba-tiba Sisil membulatkan matanya ketika mendengar sesuatu dari dalam sana yang membuatnya tersentak kaget.
"Maaf nona sedang apa ya disini?" tanya salah satu orang dari belakang Sisil.
Sisil dengan cepat membalikkan badannya dan menatap seorang wanita yang sepertinya pegawai juga dirumah sakit ini. "Gak saya gak ngapa-ngapain ko" setelah mengucapkan itu Sisil segera pergi dari sana dengan wajah yang masih tak percaya apa yang didengarnya tadi.
"Sialan! gue gabakal biarin ini semua!" ketika Sisil sudah sampai dimobil-nya ia segera mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Gue punya tugas buat lo"
▫▫▫▫▫▫
__ADS_1
Trimksih sudah mmbaca❤
Suport terus cerita ini ya!