
Rara berputar-putar mencari anaknya tapi ia masih belum menemukan mereka.
"Keyla! Kevin!" Rara sudah menanyakan anaknya lewat karyawan-karyawan disini tapi mereka bilang tidak melihatnya yang membuat Rara tambah khawatir.
Karna sibuk mencari kedua anaknya Rara pun tidak tahu jika didepannya ada seseorang yang berdiri menatapnya dalam
Bruk!
"Eh maaf tuan sa-" sebelum Rara melanjutkan ucapannya ia menatap orang yang ditabraknya tadi yang membuatnya diam seribu bahasa.
Mati aku!
"Kau disini?" tanya pria dihadapannya membuat Rara gugup.
"I..ya" jawab Rara dengan menatap Kenzo yang berdiri didepannya. Jantungnya mulai berdetak cepat takut suaminya ini menanyakan kedua anaknya.
"Sendiri? kedua anak-ku dimana?"
Baru saja Rara berucap, Kenzo sudah menayakan itu terlebih dahulu. Dengan cepat Rara menggelengkan kepalanya menatap takut Kenzo.
"Mereka-mereka." gugup Rara, ia sungguh takut mengucapkan ini.
"Ck! mereka kemana?" tanya Kenzo membuat Hans dibelakangnya ikut menatap nona mudanya.
Rara memejamkankan matanya. "Mereka ilang lagi Mas." setelah mengucapkan itu Rara membuka matanya menatap Kenzo yang diam saja dengan tatapan tajamnya.
"Huh! kau ini bagaimana? mengapa mereka bisa lepas lagi dari pandangan mu?!"
Rara menekkukan wajahnya. Jika ia tidak berdebat dengan resepsyonis didepan tadi mungkin Keyla dan Kevin masih berada dalam pengawasannya.
Melihat waja takut dari istrinya membuat Kenzo menghela nafasnya pelan. "Yasudah kita cari mereka sekarang," Kenzo menarik pelan tangan Rara untuk mengikiti langkanya.
Rara bersyukur Kenzo tidak marah padanya, jika pria itu marah mungkin Rara akan berfikir ulang untuk pergi lagi dari suaminya.
Mereka pun berkeliling perusahaan dengan tangan yang saling bergandengan membuat para karyawan disini menatap keduanya dengan pandangan binggung.
"Itu siapa? kok tuan Kenzo pegang-pegang tangannya?"
__ADS_1
"Jangan-jangan pacarnya?!"
"Yahh kalo pacarnya berarti gue gak bisa dong jadi nyonya Xander?"
Banyak pasang mata dan suara-suara kecil yang membicarakan Rara dan juga Kenzo. Tapi keduanya hanya acuh karna mereka mem-fokuskan untuk mencari Keyla dan Kevin.
♣
Keyla berlari dengan Kevin yang mengejarnya.
"Kak Kepin ayo kejal aku, cepetan." teriak Keyla dengan berlari membuat Kevin mau tak mau mengejar anak perempuan itu.
"Keyla jangan lali-lali telus!! Kepin cape!" teriak Kevin tak kalah keras.
Karna keasikan berlari Keyla tak tau jika didepannya ada seseorang yang membawa nampan.
Bruk!
Prang!
"Aaa! dasar anak kecil! Kalo mau lari-larian jangan disini! diluar sana biar ketabrak sekalian!" teriak wanita berumur yang memakai pakaian office Grils.
Kevin membantu adiknya berdiri dan menatap wanita itu dengan tajam. "Ante kok jahat sih ngomong na!"
Office Gils bertag-Kiki itu tak kalah menajamkan tatapannya kepada kedua anak didepannya ini yang sepertinya mirip seseorang yang dikenalnya. "Heh! gara-gara kalian tuh minuman yang gue bikin jadi jatuh, mana saya lagi buru-buru lagi! kalo jalan itu matanya dipakek! baru jadi anak kecil aja bandelnya udah minta ampun, kalian mau jadi apa nanti kalo gede?!"
Keyla menunduk menatap wanita itu. "Maapin Keyla Ante, Keyla ndak sengaja."
"Minta maaf? emangnya kalo minta maaf gelas sama minuman yang kalian jatuhin ini bakal bener lagi hah?" sinis Kiki membuat tangan Kevin terkepal keras.
Walau keduanya sering bertengkar Kevin tak akan tinggal diam jika ada seseorang yang menyakiti adiknya-Keyla.
"Keyla dah minta maap! tapi kok Ante na malah gitu ama Keyla!" tajam Kevin dingin menatap wanita didepannya.
"Mau jadi sok jago kamu disini? baru anak kecil aja songgongnya minta ampun."
Keyla mendekat kearah Kevin takut, ia memang sedikit penakut jika ada orang yang memarahinya.
__ADS_1
"Beresin tuh pecahan! saya gak mau ngelihat ada sedikit kaca pun yang tersisa." kejam wanita itu, ia menyuruh kedua anak kecil ini membersihkan pecahan kaca yang cukup tajam.
"Emangna Ante siapa nyuluh-nyuluh Kepin sama Keyla?" sedari tadi hanya Kevin lah yang berbicara karna Keyla tidak berani untuk menjawab ucapan Kiki.
Para pekerja mulai berkumpul meyaksikan keduanya tanpa ada yang membantu kedua anak yang sedang dimarahi oleh pekerja disini.
"Cih kalian juga emangnya siapa yang berani-beraninya lari-lari diperusahaan ini? ibu sama bapak kamu kerja apa disini? kok punya anak songongnya kayak gini! emangnya kamu gak diajarin sopan santun ya?"
"Anda sendiri tidak punya sopan santun menyuruh anak itu membersihkan pecahan kaca yang kau jatuhkan sendiri." ucap dingin seseorang dari belakang yang membuat semuanya berdiri ketakutan.
Mendengar suara itu membuat wanita berumur bernama Kiki berbalik menatap pria yang cukup ia kenal. Dia menunduk takut.
"Papah!" Keyla berlari menuju keasal suara yang berbicara tadi, ia langsung memeluk kaki pria yang dibilang Papahnya dan menangis.
Dengan cepat Kenzo menggendong sang anak dan menghapus air mata Keyla. Ia segera menatap wanita berumur itu dengan tajam. "Kau? berani-beraninya membuat anakku menangis, memangnya kau siapa disini?" tenang Kenzo mencoba untuk menahan emosinya karna masih ada kedua anaknya disini.
Para pekerja yang melihat itu langsung bergetar, mereka terkejut ketika mendengar jika kedua anak yang tadi dimarahi adalah anak dari pemilik perusahaan ini.
Kiki langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Kenzo yang berdiri tak jauh darinya. "Ma-maaf tuan, maafkan saya, saya tidak tau ji-"
"Kalian juga bukannya melerai malah menonton adegan seperti ini!" sela Kenzo menatap tajam karyawan yang hanya diam menunduk. Tangan Kenzo sudah mengepal emosi tapi ia masih mencoba menahannya.
Rara yang melihat itu langsung mendekat kearah Kenzo dan mengelus tangan pria itu mencoba untuk sabar. Hans berjalan mendekat kearah Kevin yang juga mengepalkan tangannya diam sedari tadi menatap wanita berumur didepannya.
"Maafkan saya tuan maafkan saya." mohon wanita berumur itu tapi Kenzo hanya men-tulikan pendengarannya, ia cukup marah anaknya dibentak seperti tadi.
Ia dan Rara melihat ada keributan disini makanya keduanya-pun mendekat ke tempat ini dan melihat anaknya dimarah-marahi oleh bawahannya dan lebih parahnya lagi bawahannya itu hanya sebagai OG disini yang tidak memiliki kekuasaan apapun diperusahaan miliknya.
"Kau!" Kenzo menatap OG itu Lalu mengalihkan pandangannya pada karyawan yang menunduk. "Dan kalian semua saya pecat! dan jangan harap kalian bisa hidup tenang." setelah mengucapkan itu Kenzo pergi dengan menggendong Keyla dan menarik tangan Rara sedangkan Kevin dibawa oleh Hans.
Puluhan karyawan disini langsung menegang. Mereka tau ancaman bosnya itu bukan hanya sekedar ucapan, apalagi ketika keluar dari perusahaan ini pastinya mereka tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dimana pun karna Kenzo akan menyuruh para perusahaan lainnya untuk menutup akses bagi mereka.
Kenzo tetap lah Kenzo, Mereka hanya pasrah menerima takdir dari kesalahan mereka.
▫▫▫
Trimksih sudh mmbaca❤
__ADS_1