
"Bagaimana Hans? kau sudah mengumpulkan bukti-buktinya?" ucap Kenzo dengan menyenderkan punggungnya dikursi kebanggannya.
Sekarang Kenzo masih berada dikantornya dengan Hans yang berdiri dihadapannya sekarang.
"Bukti-bukti tentang kejanggalan meninggalnya tuan Georgi sudah saya kumpulkan tuan, tapi bukti tentang pelakunya masih belum lengkap" jawab Hans.
Kenzo memutar kursinya menghadap kearah jendela besar dibelakangnya. "Siapa saja yang kau curigai sebagai pelaku penyebab kematian ayahku?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya pada jendela besar tersebut.
"Bukti-bukti mengarah pada tuan Jeck, tuan. Tapi bukti tersebut masih belum cukup kuat untuk menuduh jika tuan Jeck lah penyebab kematian tuan Georgi"
Kenzo mengetuk-ngetuk mejanya dengan telunjuknya. Dia tak mengira jika mencari pelaku penyebab kematian ayahnya sesulit ini. Hans mengatakan jika pelaku cukup handal dalam melakukan ini semua sampai para polisi mengira jika tabrakan mobil yang dikendarai ayahnya adalah hanya sebuah kecelakaan dan bukan sebab pembunuhan.
Kenzo masih mengulik lebih dalam semua ini sampai pada titik dia menemukan kejanggalan tentang kematian sang ayah dan dia menafsirkan jika kecelakaan tersebut adalah faktor kesengajaan. Ada yang ingin mencelakakan ayahnya.
"Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk berbaik hati pada perempuan itu! kau tau Hans aku ingin cepat-cepat hidup berdua saja dengan wanita-ku tanpa ada pengganggu!" sahut dingin Kenzo berbalik menatap Hans.
"Saya masih mencoba mencari bukti lewat nona Sisil tuan jadi saya harap tuan bersabar" Hans menunduk.
"Huh! yasudah kau kembali bekerja sana" titah Kenzo yang dibalas anggukan oleh Hans.
__ADS_1
Hans segera pergi dari ruangan ini dan meninggalkan Kenzo sendiri diruangannya.
♣
"Kita butuh pasukan Zel buat jauhin wanita itu dari sini" ucap Lia mengalihkan pandangannya pada Hazel yang berada disampingnya.
"Pasukan?"
Mereka berdua sekarang berada di sofa ruang tamu sedangkan Rara tadi permisi untuk pergi ke kamarnya, entah apa yang akan dilakukannya.
Lia mengangguk meng-iyakan ucapan anak keduanya itu. "Iya kalo kaka ipar kamu itu kurang bisa di-andalkan jadi kita butuh tambahan pasukan buat nyingkirin wanita ular itu"
Lia nampak berfikir, ia mencoba mengingat-ngingat siapa yang dekat dengan keluarganya. "Siapa ya Zel"
"Mana Hazel tau kan kita gapunya keluarga pasukan polisi mom" jawab Hazel dengan memakan cemilan yang sedang ia pegang.
"Bukan pasukan kayak polisi Zel! tapi tambahan orang biar si Sisil Sisil itu takut ke-rumah ini lagi"
Keduanya nampak berfikir. Tiba-tiba Lia ter-fikirkan oleh nama seseorang. "Mommy tau Zel tambahan pasukan keluarga kita"
__ADS_1
Hazel mengalihkan pandangannya menatap Lia penasaran. "Siapa mom?"
Lia tersenyum miring dengan apa nama yang berada dipikirannya. Lalu ia menatap Hazel. "Kamu telpon sepupu kamu itu, suruh dia balik lagi kerumah ini"
"Ka Agnes mom?"
♣
Rara diam duduk dipinggir kasurnya, makin hari tubuhnya makin sering lelah jadi tadi ia memutuskan pergi ke kamarnya untuk merebahkan dirinya sebentar.
Tapi pikiran tentang ucapan wanita itu masih teringat dikepalanya. Sudah ia coba untuk berfikir positif tapi tetap saja pikirannya mengarah kearah sana.
Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan nama kontak dari suaminya. Rara ingin menelpon pria tersebut tapi ia takut mengganggu Kenzo siapa tau Kenzo sedang sibuk? lebih baik ia menanyakan semuanya nanti ketika Kenzo sudah berada dirumah.
Bu, kapan aku bisa merasakan hangatnya keluarga yang utuh? dicintai sama orang yang kita cinta? kapan tuhan mengizinkan aku merasakan itu semua?
▫▫▫▫▫▫▫▫
Tirmksih sudah mmbaca❤
__ADS_1
Slam manis dari aku untuk kalian yang masih pantengin cerita ini!😚