My Devil Possessive

My Devil Possessive
Berkunjung (2)


__ADS_3

"Ka Lala" ucap seorang anak kecil yang berlarian kearah wanita yang baru saja masuk kedalam bangunan ini.


"Uchh Maryam, gimana kabar kamu sayang" jawab Rara sembari mundundukan badannya agar bisa memeluk anak perempuan yang di panggil Maryam.


Maryam memeluk Rara dengan kedua tangan kecilnya. "Malyam baik Ka, kaka sendili gimana?"


"Kaka baik ko sayang" ucap Rara dengan tersenyum.


Tak lupa juga Rara memperlihatkan tas yang ia beli kemarin pada anak ini. "Nihh buat Maryam"


Maryam dengan senang hati menerima tas itu dengan wajah bahagianya. "Wah Makaci kaLala, malyam cuka"


Rara mengangguk dan tesenyum. "Eh mbak siti kemana?"


Mendengar pertanyaan Rara, Maryam langsung menunjuk dengan tangan kecilnya ke arah dapur.


"Yaudah kaka kesana dulu ya"


Maryam hanya mengangguk dan menatap tas yang di diberikan Maura tadi, berniat untuk membuka tas itu.


Rara berjalan melangkah menuju dapur, dari kejauhan ia sudah melihat ada wanita yang ia cari. dengan segera Rara mendekati nya.


"Mbak Siti"


Siti yang sedang menyiapkan beberapa makanan bersama pengurus yang lain menatap Rara dengan pandangan terkejut.


"Kamu kapan kesini nya Ra?" tanya Siti, ia hanya kaget tiba-tiba maura berada disini tanpa memberi kabar jika ia akan berkunjung ke panti.


"Barusan, aku cuma mau ngasih sesuatu tadi sama Maryam hehe"


Siti menggelengkan kepalanya ketika mendengar alasan Maura kesini.


"Aku bantuin ya mbak" lanjut Rara ketika melihat Siti nampak sibuk dengan peralatan yang berada ditangannya.


"Boleh"


"Neng Rara kemana aja, ko sekarang jarang kesini" sahut salah satu ibu-ibu yang berada disana.


"Hehehe biasa ngurusin rumah tangga bi"


Semua yang disana menatap Rara dengan pandangan tak percaya, rumah tangga? memangnya Rara sudah menikah? jika sudah mengapa tidak mengundang mereka?


"Ra kamu udah?" sekarang Siti yang menatap kaget Rara.


Rara yang sadar akan ucapan nya tadi langsung menutup mulutnya, ia lupa jika tidak ada yang tau kalo Rara sudah menikah.


"Anu mbak"


Siti menggelengkan kepalanya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan Rara padanya.


"Bibi tolong lanjutin yah, aku mau ngobrol sebentar sama Rara"


"Iyah mbak"


Siti mengajak Rara ke belakang taman yang biasa dikumpuli oleh anak-anak panti, namun sepertinya sekarang taman ini sepi karna anak-anak sedang berada di ruangannya masing-masing.


Rara dan Siti duduk disalah satu bangku yang memang sudah disediakan di taman tersebut.


"Ra sekarang kamu cerita yang sebenarnya"


Rara menunduk, ia binggung akan menceritakannya dari mana.


"Mbak udah nganggep kamu kayak adik sendiri loh Ra, kamu ga mau cerita sama mbak?"


Rara menatap kedua mata Siti, apa ia berbicara saja pada Mbak nya?


"Hm sekarang mbak tanya ke kamu, kamu sudah menikah?"


Rara mengangguk "Iya mbak"


Siti menghela nafas kasar "Kenapa kamu gak cerita ke mbak?"


"Maaf mbak"


Rara merasa bersalah pada Siti yang sudah ia anggap sebagai kaka sendiri, padahal dulu Rara sering curhat pada Siti tentang semua yang ia alami selama ini.


"Maafin Rara mbak, bukannya Rara ga mau cerita ke mbak tapi Rara belum siap buat ceritain ini" ucap Rara sembari menunduk.


"Yaudah gapapa, mbak tau ko gak semua cerita yang kamu alami bisa ceritain ke mbak" Siti tau, Rara pasti juga memiliki kehidupan pribadi yang tidak ingin diketahui orang banyak.


"Kalo kamu sudah siap cerita, kamu boleh cerita ke mbak ya" lanjut Siti dengan tersenyum.


Rara mengangguk dan tersenyum " iya mbak"


Siti bangkit dari duduknya "Ra, aku kedapur dulu ya kasian bibi kalo harus nyiapin semuanya"


"Iyah mbak, aku disini dulu ya mbak"


Siti mengganguk dan mulai melangkah munuju kedalam rumahnya. Rara masih menatap kepergian dari Siti.

__ADS_1


Maaf ya mbak, aku ga mau mbak tau kalo aku menikah karna jaminan dari hutang-hutang papah



"Begitu pak" ucap Ridwan setelah memberikan penjelasan tentang siapa saja yang terlibat dalam masalah ini.


Kenzo menatap Ridwan dengan pandangan menyelidik "Kau tidak ikut terlibat kan?"


Ridwan yang mendengar itu tersentak "Tidak tuan, mana berani saya berbuat seperti itu"


Kenzo bangkit dari duduknya diikuti Ridwan "Yasudah, aku akan menyelesaikan ini semua"


Ridwan mengangguk "Aku akan mencoba untuk membantu tuan"


Kenzo mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan ini diikuti Ridwan yang mengantarkan tuan mudanya sampai kedepan pintu.


"Terimakasih tuan" ucap Ridwan berterima kasih karna tuannya ini mau membantunya menghadapi permasalahannya.


Kenzo hanya diam dan menyuruh Hans untuk mengikutinya. Ridwan hanya menatap kepergian tuannya dengan diam, ya dia tau memang Kenzo memiliki sifat seperti itu namun jauh didalam hatinya pasti tuan mudanya memiliki sifat yang baik.


"Des! kamu ngapain natap tuan muda kayak gitu" Ridwan menatap


Desi mengalihkan pandangannya ke arah bos nya yang kini berada di hadapannya.


"Eh bapak, abisnya tuan muda ganteng sih"


Ridwan menggelengkan kepala menatap prilaku dari sekertarisnya itu.


Hans dan Kenzo berjalan menuju keluar kantor ini, disana sudah terlihat mobil Kenzo yang sudah terparkir di lobi kantor ini. dengan segera Kenzo masuk kedalam mobil diikuti Hans yang duduk di bagian pengemudi.


Dengan perlahan Hans menyalakan mobil itu siap untuk melaju.


Didalam perjalanan, keduanya hanya diam dengan fokus pada pikiran masing-masing.


"Hans" ucap Kenzo.


Hans mengalihkan pandangannya ke arah tuan mudanya melalui kaca dihadapannya "Iya tuan"


"Kita ke apartemen,setelah itu tolong bawakan data-data karyawan beserta file tentang perusahaan dari tahun ke tahun.


Dengan segera Hans mengangguk menanggapi perintah dari bos nya " Baik tuan"


Drt..drt


Ponsel yang di pegang Kenzo bergetar menandakan ada yang menelponnya.


"Biarkan dia, pantau terus saja jangan sampai terjadi sesuatu pada wanita ku" ucap Kenzo pada orang yang menelponnya.


"Baik"


Kenzo mematikan sambungan telpon itu sepihak, yang menghubunginya tadi adalah Bodyguard yang ia tugaskan untuk memantau gerak-gerik Maura ketika ia tidak berada disana.


Hans menatap spion yang berada didalam mobil bosnya itu, Hans tidak salah dengarkan? tuan mudanya ini tidak ingin Maura kenapa-napa. apa tuan mudanya sudah ada Rasa pada nona mudanya itu?


Ingin sekali ia bertanya namun Hans masih ingin bekerja disini, walau mereka bisa dibilang cukup dekat karna tiap hari Hans berada disamping Kenzo tetap saja Hans tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi tuan mudanya.


Yang penting sekarang Hans hanya berharap tuan mudanya bisa mencintai nona mudanya sebelum wanita yang dulu pernah berada dihati Kenzo kembali datang. karna Hans tau wanita masa lalu Kenzo bukan perempuan baik.



"Mbak aku pulang dulu ya" ucap Rara pada Siti yang sedang berada di ruang tengah.


Setelah menjernihkan pikirannya di taman tadi, Rara memutuskan untuk pulang kerumah karna hari sudah mulai sore.


Siti yang sedang berdiri tak jauh dari Rara pun mengangguk.


Dengan segera Rara menyalami Siti yang sudah ia anggap sebagai kaka kandungnya sendiri.


"Hati-hati ya Ra"


Rara tersenyum menanggapi ucapan dari Siti.


Ia berjalan keluar dari rumah ini setelah pamitan kepada Mbak nya dan juga para ibu-ibu yang membantu panti ini.


Pulang nya aku naik ojek aja deh


Setelah sampai diluar, segera Rara mengambil hp nya yang ia simpan di tasnya.


"Loh ko mati" gumam Rara ketika mendapati hp nya yang tidak menyala, ia mencoba kembali menyalakan handpone tersebut namun nihil, hp nya tetap saja tidak mau menyala.


Rara menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat apa ada ojek pangkalan atau angkot yang bisa mengantarkannya pada komplek perumahan Kenzo.


Sudah cukup lama Rara berdiri disitu namun tak ada satupun angkot yang melintas, karna merasa hari mulai petang Rara berjalan menyusuri koridor. siapa tau didepan sana ada ojek yang bisa mengantarkannya.


Melihat ada orang yang melintas dihadapannya, Rara segera bertanya pada si pejalan itu. "Maaf pak mau nanya disini ada angkot atau ojek pangkalan gitu ga?"


Si pejalan itu menghentikan langkahnya ketika merasa ada yang bertanya padanya.


"Disini mah gaada angkot neng, paling disana tuh di pertigaan depan" ucap si pejalan dengan tangan menunjuk kearah depan.

__ADS_1


Rara menatap arah depannya dan mengangguk "Terima kasih ya pak"


"Iya" si pejalan itu pun melangkah melanjutkan perjalanannya yang terhenti.


Rara melanjutkan perjalannya menuju arah depan, namun ketika berjalan ia melihat wanita yang ia kenali sedang melangkah berjalan kearah dimana ia berdiri sekarang.


"Nindii" ucap Rara ketika melihat wanita itu sedang berada dihadapannya.


Namun Nindi tak sendirian disana juga terdapat dua orang temannya yang berada disamping kanan dan kiri adik tirinya.


"Kamu kenal sama wanita ini Nin?"


Nindi menatap kaka tirinya yang terlihat biasa-biasa saja darinya, ya memang Rara sekarang hanya memakai dress sederhana sampai bawah lutut dengan motif bunga-bunga, jauh dari Nindi yang sekarang memakai lepis dan baju yang terbilang terkesan modis dan tak lupa juga perhiasan yang menempel di lengan dan lehernya.


"Enggak tuh gak kenal, salah orang kali udah yu Guyss mending kita pergi" sahut Nindi.


Rara menatap adik iparnya dengan sedih, ya lagi-lagi adik iparnya ini tidak mengakui Rara sebagai kaka nya walau hanya tiri namun mereka sedari dulu tumbuh dan besar bersama-sama.


"Tapi tadi manggil kamu loh Nin"


"Iyah dia juga natap kamu kayak yang kenal gitu"


"Guyss gila aja gue punya kaka kayak gitu, dilihat dari penampilan aja beda jauh" jawab Nindi kepada teman-temannya.


Rara masih samar-samar mendengar ucapan itu, karna posisi mereka memang belum terlalu jauh.


Dia hanya bisa menghela nafas, Ya sudah biasa Rara diperlakukan seperti itu jadi ia hanya merasa biasa saja walau memang masih ada luka dihati kecilnya.


"Nona"


Rara tersentak kaget dan menatap orang yang berada dibelakangnya.


"Loh ko ada bapak disini"


Yang memanggilnya tadi adalah supir yang tadi pagi mengantarkannya ke butiq.


"Saya kesini untuk menjemput nona, mari nona" ucap supir itu dengan membukaan pintu mobil penumpang yang akan Rara duduki.


Rara masuk kedalam mobil itu dan diikuti supir yang masuk kedalam bangku pengemudi.


Ia masih binggung padahal Rara tidak menelpon untuk dijemput tapi bagaimana supir itu bisa menjemputnya? tau darimana juga ia berada disini?


Tau ahh yang penting aku bisa pulang


Rara tak ingin memusingkan hal itu. sekarang dia hanya diam menatap jendela yang memperlihatkan padatnya jalan raya di jakarta.


Tanpa diketahui dibelakang mobil yang Rara tumpangi diikuti oleh mobil lain yang tak lain adalah para bodyguard yang mengawasi nona mudanya sedari tadi.



Sampai dimesion Rara segera turun namun sebelumnya ia sudah berterimakasih pada supir itu karna sudah menjemputnya.


Rara masuk kedalam mesion suaminya.


"Enak banget nih! nona mudanya rumah ini baru pulang" ucap Agnes yang sedang berdiri bersender pada sofa diruang tamu sembari melipat kedua tangannya di dada.


Rara yang baru saja menginjakan kaki di pintu utama hanya diam sembari melanjutkan langkahnya.


Baru juga nyampe udah disambut yang beginian


"Ka Agnes nungguin aku ya?" jawab Rara dengan santai tanpa melihat mata Agnes yang sedari tadi menatapnya tajam.


"Cih! nungguin perempuan rendahan begini mah gak ada gunanya" sahut Agnes dengan mata yang menatap kepala sampai kaki bawah Rara.


"Terus ka Agnes ngapain disini?"


"Seterah gue lah, ini kan rumah ka Kenzo! lo ga berhak ngatur gue mau dimana kek" ucap Agnes.


"Aku ga ngatur ka Agnes ko, kan aku cuma nanya" jawab Rara dengan wajah yang masih tersenyum.


"Gue binggung deh ko ka Kenzo mau aja nikah sama cewek kayak lo"


Rara menghela nafas "Kan aku perempuan, tuan Kenzo juga laki-laki ga ada salahnya kan menikah?"


Sudah kesal Agnes dibuat kesal kembali oleh jawaban Rara "Kenapa banyaknya cewek di bumi ini Ka Kenzo bisa milih cewek rendahan kayak lo!"


"Mungkin jodoh" jawab Rara, walaupun hatinya menjawab lain.


"Jodoh? hahaha jangan mimpi deh, mungkin cepat atau lambat pasti Ka Kenzo bakal ngusir lu dari rumah ini!"


"Hanya takdir yang bisa menjawab" Rara melanjutkan langkahnya menuju kamar yang terletak di lantai dua tanpa menoleh kembali pada saudara iparnya.


Agnes masih menatap wanita itu dengan senyum miring yang terbit di bibirnya.


Awas aja tuh perempuan!


▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫


Terimakasih sudah menyempatkan membaca! jangan lupa suportnya juga😚

__ADS_1


__ADS_2