
TokTokTok!
Ketukan dipintu Kenzo membuat pria didalamnya langsung membuyarkan tatapannya pada figura dihadapannya.
Tak lama pintu ruangan Kenzo terbuka dan menampilkan Hans yang masuk menhampiri Kenzo dengan sebuah undangan ditangannya.
"Ini tuan ada undangan dari tuan Aldan," ucap Hans sopan dengan menaruh undangan tersebut dimeja Kenzo.
Kenzo nampak menatap undangan tersebut dengan tatapan tak minat. "Apa isinya?" tanya Kenzo.
"Pembukaan hotel barunya dipusat kota. Tuan Aldan mengundang tuan untuk hadir disana sebagai tamu kehormatannya," ujar Hans mencoba menjelaskan apa isi dari undangan tersebut.
Kenzo nampak berfikir. "Kau saja yang datang, jika dia menanyai-ku bilang saja aku sibuk," jawab Kenzo dengan kembali memfokuskan tatapannya pada kertas-kertas dimejanya.
"Tapi tuan Aldan ingin sekali tuan datang diperesmiannya sekaligus ada yang ingin dibicarakan pada tuan."
"Bicarakan?" tanya Kenzo dengan nada sedikit penasaran.
Hans mengangguk. "Iya tuan, mungkin tentang kontrak kerjasama," jawab Hans menyimpulkan sendiri.
Kenzo kembali berfikir. Sebenarnya ia malas datang ketempat seperti itu pasti akan sangat ramai disana, Kenzo hanya tak ingin menjadi pusat perhatian dengan keberadaannya disana. "Menurutmu aku harus datang?" Kenzo meminta pendapat pada sekertarisnya itu.
Hans dengan cepat mengangguk.
"Kau saja yang datang mewakilkan-ku, aku sedang tak selera pergi ketempat umum seperti itu," jawab kembali Kenzo yang langsung mendapatkan tatapan tak terbaca dari Hans.
"Tapi tuan-," Hans masih mencoba agar tuannya mau pergi kesana.
"Tidak ada tapi-tapian!" mendengar hal itu membuat Hans langsung mengangguk dan pamit keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Kenzo hanya diam dengan tatapan menatap undangan bermotif kotak-kotak itu dengan wajah malasnya.
♣
Hari sudah mulai gelap, Rara dan kedua anak kembarnya itu sekarang berada diruang makan untuk makan malam.
"Kevin sama Keyla Mamah suapin aja ya?" ucap Rara ketika melihat kedua anaknya yang sedang makan sendiri disebelahnya.
Ruang makan Rara hanya di-desain dengan sebuah meja kecil dan karpet untuk tempat duduk mereka, Rara memang sengaja agar memudahkan untuk anak-anaknya makan sendiri.
"Kepin udah gede masa na disuapin telus," sahut Kevin dengan tangan yang masih menyuapi diri sendiri.
Lain halnya dengan Keyla yang nampak malah memainkan piring didepanya bukannya memakannya. "Keyla juga na makan sendili Mah," jawab ceria sang anak.
Rara hanya mengangguk pasrah, pasti setelah makan semuanya akan berantakan tapi tidak apa-apa jika itu keinginan sang anak.
"Kepin aja yang awain," sahut Kepin dengan merebut gelas plastik yang dipegang adiknya-Keyla.
"Keyla yang awain!" jawab Keyla dengan merebut paksa kembali gelasnya.
Rara yang baru merasakan tenang itu langsung dibuat pusing kembali, Ia menghampiri sang anak yang masih berada dimeja makan. "Eh ko kalian rebutan gelas sih?" ucap Rara melerai keduanya.
"Kepin na mau awain gelas Keyla tapi keyla na mau bawa sendili Mah," adu Keyla yang membuat Rara menggelengkan kepalanya.
"Kak kevin sayang, kan dia kaka kamu," Rara mensejajarkan tubuhnya dengan kedua anak tersebut, ia membenarkan ucapan anak perempuannya ini.
"Tapikan lahirna balengan," ucap kembali Keyla tak mau memanggil Kevin dengan sebutan kaka.
Rara mengelus puncuk Keyla dengan lembut. "Iyah barengan tapi kan ka Kevin duluan yang lahir." Rara menekan hidung sang anak. "Baru kamu, jadi harus panggil kaka oke?" lanjut Rara.
__ADS_1
Mau tak mau Keyla pun mengangguk. Ia menatap sang kaka dengan pandangan tajamnya dengan segera Keyla mengangkat tangannya dihadapan Kevin dan merebut kembali gelas yang dipegang kakanya itu. "Ini gelas na Keyla kalo ka Kepin mau gelas ambil aja didapul," setelah mengucapkan itu Keyla berlarian pergi dari dapur dan menuju kamar dengan gelas yang masih dipegangnya.
Perkiraan Rara anaknya itu akan meminta-maaf pada kakanya tapi ternyata malah mengambil gelas itu kembali. Ia pun menatap anak pertamanya ini dengan lembut. "Kevin, susul sana adik kamu nanti mamah nyusul kekamarnya."
Kevin pun mengangguk dan melangkahkan kaki kecilnya menyusul sang adik. Rara tersenyum bahagia menatap kedua anaknya yang semakin hari semakin membuatnya gemas.
Rara pun segera membereskan meja makan dan merapihkan dapur. Setelahnya Rara melangkah berjalan menuju kamar kedua anaknya.
"Kevin sama Keyla mau Mamah bacain dogeng atau mau langsung tidur?" tanya Rara ketika sampai dikamar kedua anaknya.
Rara memang menyatukan kamar sang anak hanya saja mereka berbeda tempat tidur.
"Kepin mau langsung tidul."
"Keyla juga."
Rara pun tersenyum dan mengangguk. "Yaudah kalian tidur ya sekarang," sebenarnya Rara ingin menyampaikan prihal besok sore kepada anak-anaknya tapi kayaknya kedua anak itu sudah mengantuk alhasil Rara akan memberitahu mereka besok pagi saja.
Setelah memastikan kedua anaknya tertidur Rara pun bangkit dan berjalan keluar dari kamar ini. Ia melangkahkan kakinya berjalan menuju kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Kevin dan Keyla.
Ceklek
Kamar bernuansa putih ini adalah kamar milik Rara, memang tak terlalu luas tapi cukup nyaman karna Rara hanya tidur dikamar ini sendirian. Rara masuk dan berjalan mendekat kearah ranjangnya.
"Huh" Rara merebahkan tubuhnya dikasur, hari ini cukup melelahkan baginya apalagi besok dia harus terbang ke Jakarta untuk menghadiri peresmian hotel pelanggannya, semoga saja kedua anaknya itu tidak rewel saat diperjalanan dan semoga saja keberadaannya tidak diketahui oleh anak buah pria itu.
▫▫▫▫▫▫▫
Trmksih sudh mmbaca❤
__ADS_1