
Nindi dan Ratna melangkahkan kakinya masuk menuju rumah David, mereka tertawa sembari membawa tas-tas berisi barang belanjaan mereka.
"Lain kali beliin aku baju dibutiq itu lagi yah mah"
Ratna tersenyum memang mereka tadi sempat belanja di butiq yang terkenal akan bagusnya walau mereka harus mengocek harga yang lumayan namun terbayarkan karna memang model dan bahan dari bajunya bagus.
"Iya sayang"
Nindi dan Ratna berdua duduk di sofa yang berada di ruang tamu, hari ini mereka habiskan waktunya untuk berbelanja.
"Hah cape banget muter-muter" keluh Nindi.
"Tapi dari hasil muter-muter kita dapet baju bagus kan? Coba buka Nin"
Nindi yang mendengar ucapan mamanya itu pun membuka tas-tas belanjaannya.
Sambil membuka Nindi tak lupa juga memfoto barang-barangnya dan meng-upload foto itu di akun sosial miliknya.
"Aku paling suka deh Mah sama gaun ini, kata pelayannya cuma satu gaunnya lemited edision"
Ratna tersenyum, semenjak anak sialan itu sudah tidak ada dia bebas berbelanja atau pun membeli yang dia mau karna pastinya semua harta ini milik dirinya dan anak kesayangannya ini.
"Dari mana aja kalian" David muncul dari arah atas, Ratna yang mendengar suara suaminya pun menghampiri dan menyuruh David untuk duduk.
"Liat deh pah, aku beli gaun sama sepatu baguskan?" ucap Nindi tanpa melihat tatapan dari ayahnya.
David sudah memperingati mereka agar jangan membuang-buang uang hanya untuk barang yang tak penting.
"Kamu gaun udah banyak sepatu juga, masih aja beli mending uang nya kamu tabung buat kuliah kamu" ucap David, ibu dan anak ini sama saja suka menghabiskan uang yang ia berikan, pikirnya.
"Mamah ko yang beliin ya kan mah" Ratna yang mendengar anaknya menganggil nya pun mengangguk.
"Gapapa kali pah, sekali-kali belanja" jawab Ratna.
"Tiap hari kamu belanja dibilang sekali-kali" David menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari istri keduanya.
DrtttDrtt
Hp yang dipegang Ratna berdering, dengan cepat sang empu mengangkatnya dan pergi menjauh dari David dan Ratna.
Kedua orang ini hanya menatap sekilas Nindi dan melanjutkan obrolannya tadi.
"Sayang mulai sekarang kamu harus hemat ya" ucap David.
Ratna mengangkat sebelah alisnya "Kenapa? harta kamu ga abis kan mas?"
"Ck aku itu masih harus nyicil uang kuliah yang Nindi pake buat belanja barang kayak gini, gaji aku juga tiap bulan dikasih kekamu, tapi belum juga seminggu uang yang kamu pengang habis kan?"
"Kamu tinggal minjem uang perusahaan ribet banget sih, lagian uang yang kamu kasih ga cukup buat sebulan!" Ratna bangun dari duduk nya dan pergi menjauhi David dengan membawa tas belanjaannya.
David menghela nafas kasar, istrinya selalu seperti ini jika ditegur olehnya.
♣
Kenzo duduk dikursi kebanggannya dengan masih menatap dan mengerjakan kertas-kertas yang berada di atas mejanya. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Rara namun karna kertas sialan ini Kenzo tidak bisa menemui nya sekarang.
Toktoktok!
Ceklek
Hans masuk kedalam ruangan bosnya ini.
"Tuan ada tuan Malik yang ingin bertemu"
Kenzo yang masih menatap layar leptop didepannya melirik sekilas Hans dan melanjutkan tatapannya kearah depan.
"Saya sibuk"
"Tapi tuan katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan"
"Ck! Dasar penggangu, suruh masuk"
Sekertaris nya itu pun mengangguk dan melangkah
Dan tak lama setelah Hans keluar, pintu itu pun terbuka kembali dan menampilkan laki-laki berbadan tegap dan juga tampan.
"Wey bro! Apa kabar?" sapa laki-laki itu pada Kenzo tapi hanya dibalas tatapan tajam Kenzo.
"Lu masih sama aja sih Zo, ini temen lu baru pulang dari luar negri malah ditatap kayak gitu, gue sempetin dateng loh ke perusahaan lu katanya lu kangen sama gue"
Kenzo memutar bola matanya malas "Gue sibuk lagian gaada faedahnya gue kangen sama lu"
__ADS_1
Dia adalah Malik andriana alatas, teman semasa perkuliahan Kenzo, walau Malik ini melanjutkan S2 nya di luar negri tapi hubungan mereka sampai sekarang masih terjalin baik.
"Tega banget sih lu, eh sisil gimana kabarnya?"
Kenzo yang mendengar nama orang dimasa lalunya disebutkan oleh Malik hanya menatap tajam laki-laki ini.
"Selow Bro santaii sensitif banget sih pms ya lu?"
"Mending lu keluar deh, gue sibuk! buang-buang waktu aja!"
Malik cemberut mendengar usiran keras dari temannya ini, mereka sudah lama tak bertemu apa temannya ini tak merindukannya?
"Huh yasudah tuan Kenzo yang terhormat saya permisi pulang dulu karna saya juga sibuk memangnya situ doang yang sibuk!"
Kenzo pun hanya berdehem dan melanjutkan pekerjaannya namun sekian lama ia mengerjakan kerjaannya ini, tidak ada langkah atau suara pintu yang terbuka. Kenzo pun menatap kedepan dan ternyata orang yang tadi mengucapkan pamit masih setia duduk dihadapannya.
"Ck! Ngapain masih disini?" Kenzo menatap tajam temannya ini, namun yang ditatap hanya menunjukan ekspresi tersenyum lebar.
"Adek lu apa kabar? Kangen gue, pasti udah gede ya sekarang"
"Hansss!"
Tak lama pintu ruangan ini terbuka, Hans yang berada diluar segera masuk kedalam ketika mendengar panggilan dari bosnya ini.
"Iya tuan"
"Usir laki-laki ini jangan sampai batang idung nya muncul lagi" titah Kenzo pada Hans, Malik yang mendengar itu pun membulatkan matanya.
"Gue keluar iya gue keluar" ucap Malik, ia pun segera bangkit dari duduknya dan melangka menuju pintu diikut Hans dibelakangnya namun sebelum sampai di depan pintu, Malik berbalik ke arah Kenzo.
"Gue sayang sama adek lu Ken gue izin nikahin dia ya tahun depan"
Amarah Kenzo memuncak, ia melemparkan pulpen yang ia pegang pada orang yang berbicara tadi, Malik terkekeh dan langsung keluar dari ruangan ini sebelum sang empu ruangan melemparinya dengan laptop.
Kenzo tak habis pikir, temannya itu masih menaruh rasa pada Hazel padahal saat Malik bertemu dengan Hazel adiknya itu masih duduk dibangku SD.
Sialan!
♣
Hari sudah mulai sore Rara yang sudah selesai dari ritual mandinya itu duduk di pinggiran kasur, sebentar lagi tuan mudanya pulang ia harus apa? Jujur saja melihat tuan nya sekarang membuat ia takut.
pura-pura sakit?
pura-pura tidur?
pura-pura amesia?
Rara pusing memikirkan bagaimana caranya untuk tidak bertemu dengan tuan mudanya.
"Huh tidur aja deh, pura-pura" Rara kembali merebahkan tubuhnya jujur saja sebenarnya badannya masih sakit karna tadi malam tapi ia tahan, Rara tidak mau ada yang tau jika ia sakit.
Terdengar suara riuh dari bawah sepertinya tuan mudanya sebentar lagi akan sampai di mesion ini, seperti biasanya ada yang mengetuk pintu kamar Rara untuk memberitahu jika tuan muda sudah sampai.
Rara mulai ber-akting, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sebisa mungkin ia berakting seperti orang tertidur agar pelayannya ini percaya. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan langkahan kaki, Rara memejamkan matanya dibalik selimut ia mengatur nafas nya, detakan dijantungnya membuat ia merasa takut.
Ko gaada suara lagi? udah keluar kali ya?
Tanya Rara pada diri sendiri setelah suara pintu terbuka dan langkahan kaki, ia tak mendengar suara apa-apa lagi, jika maidnya sudah keluar mengapa tidak terdengar suara orang menutup pintu?
Rara membuka sedikit matanya, karna posisi ia sekarang membelakangi pintu jadi Rara tidak bisa melihat apa-apa di depannya.
Namun sebelum ia berbalik, Rara merasa kasur yang ia tiduri bergoyang seperti ada yang menduduki.
"Sudah pura-pura tidurnya hm?"
♣
Kenzo turun dari mobilnya ketika sudah sampai dihalaman mesion. dia melangkahkan kakinya masuk menuju rumah ini.
Banyak yang menunduk hormat padanya tapi Kenzo tidak melihat keberadaan Rara, dimana dia?
"Tuan, maaf nona Rara sepertinya ketiduran karna tadi saya lihat dikamarnya nona sedang tertidur" ucap salah satu maid yang tadi mengetuk pintu kamar Rara.
Kenzo pun melangkahkan kakinya menuju kamar atas, ia ingin melihat wanitanya sekarang.
Ceklek
Sampai didepan kamar Kenzo segera masuk kedalam kamar itu, ia melihat Rara tertidur dengan memunggunginya. Kenzo pun berjalan menuju arah Kasur dan duduk disamping Rara yang sedang tertidur.
♣
__ADS_1
Deg!
suara itu
Jantung yang tadi sudah mulai tenang sekarang berdetak kencang kembali, berarti yang membuka pintunya tuan muda? bukan maid? darimana Kenzo tau jika ia hanya pura-pura?
Duh aku harus gimana
Rara merasa ada tangan yang mengelus kepalanya, Suara nya saja sudah membuat ia jantungan apalagi sekarang tangannya bergerak mengelus kepalanya?
Dengan sigap Rara merentangkan kedua tangannya keatas dan tak lupa mulut nya yang memperagakan seperti orang menguap, ya Rara harus melanjutkan aktingnya ini, jika tuannya tadi hanya asal bicara terus Rara mengakuinya bisa-bisa Kenzo menghukumnya karna berbohong.
Rara berbalik dengan wajah yang dibuat-buat seperti orang yang baru bangun.
"Eh tuann, tuan kapan tiba?"
Kenzo menaikkan alisnya ketika mendengar ucapan dari Rara.
"Ck! akting mu ini kurang meyakinkan, mau ku ajari ber akting?"
Rara yang mendengar itu diam, ia bangkit dari tidurnya dan duduk disamping Kenzo.
"Mengapa kau diam?"
"M..aaf tuan" Rara menunduk.
Mengapa aku meminta maaf padanya, seharusnya kan dia yang meminta maaf padaku**!
"Maaf karna tidak menyambutmu pulang" lanjut Rara ketika mendapat tatapan tanya dari Kenzo.
"Hm baiklah kali ini aku memaafkan mu"
Dimaafin? tumben
"Nah karna aku sudah memaafkan mu, sekarang kau harus berterimakasih padaku"
"Terimakasih tuan" ucap Rara singkat. padahal tadinya ia tak ingin berbicara atau pun bertemu dengan tuan mudanya, ia masih sakit hati karna ulah Kenzo kemarin.
"Ucapan aja ga cukup"
"Maksud tuan?"
"Aku mau meminta hak ku lagi bby" ucap Kenzo berbisik.
Apa?
Malam ini menjadi malam kedua bagi mereka, lebih tepatnya malam bagi Kenzo.
♣
Malam sudah menunjukan pukul 19:00, Lia, Agnes dan juga Hazel sekarang berada di meja makan, mereka akan makan malam bersama.
"Ka Kenzo ga ikut makan malam tante?"
Lia yang mendengar ucapan dari keponakannya itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Agnes.
"Gatau deh"
"Aku coba panggil ke kamarnya aja ya tante?" Agnes bangkit dari duduk nya dan mulai melangkahkan kakinya menuju atas, namun lahkahnya terhenti ketika mendengar suara.
"Gausah disamperin juga kali, Ka kenzo udah gede nanti juga turun kalo laper" timpal Hazel dengan tangan yang sudah mulai mencari makanan kesukaannya.
"Emangnya gapapa kita makan duluan?" Entah mengapa Agnes tidak tenang, apalagi Kenzo dan wanita itu tidak ada disini, memangnya mereka sedang ngapain dikamar?
"Gapapa, biasa nya juga gitu udah biarin sih" sahut Hazel.
"Tapi kalo dia ga makan terus sakit gimana?"
"Yaelah ada kaka ipar ini yang ngurus, ka Agnes gausah khwatir juga kali"
Agnes yang mendengar itu cemberut, sepertinya Hazel ini mendukung kaka iparnya, memangnya istimewa wanita itu apa sih?
"Udah makan dulu aja Nes nanti malah kamu yang sakit" ucap Lia dengan tenang.
"Yaudah" Agnes kembali duduk dan mulai memakan makanan nya, tapi pikirannya masih tertuju pada kamar pasangan suami istri itu, mereka sedang apa dikamar? Agnes benar-benar kepo.
▫▫▫▫▫▫▫
Suportnya jangan lupa!🙌
selamat membaca❤
__ADS_1