
Kenzo mengambil handpone yang diberikan bodyguardnya. dan ia langsung pergi begitu saja keluar ruangan diikuti bodyguard yang tadi masuk kedalam.
Maura menatap pintu yang sudah tertutup rapat tersebut. ia menghembuskan nafas kasarnya sambil mencoba untuk bangkit.
"Aws" sungguh kepalanya seperti terkena pistol saja, sakit itu yang Rara rasakan.
Ia terduduk sembari merapkan dirinya di bantal kasur ini. lalu menatap luar jendela yang terdapat di sampingnya.
"Huh mengapa hidupku selalu seperti ini?"
"Mengapa tuhan tidak mengambil nyawa ku saja" gumam lirih Maura.
Rara mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya sampai bisa seperti ini.
Agnes. ya! nama itu yang terlintas dibenak Maura saat ini, ia tak menyangka jika sepupu iparnya bisa melakukan itu padanya padahal Maura tidak melakukan kesalahan apapun tapi mengapa Agnes membencinya sampai berbuat seperti ini.
Sebentar lagi, sebentar lagi Maura akan terbebas dari Kenzo. hanya tinggal menunggu beberapa bulan saja uang yang ia simpan untuk membayar hutang-hutang ayahnya akan terkumpul. semoga saja perasaan yang tidak seharusnya ia miliki muncul sebelum Maura membayar hutang-hutangnya. ia tidak boleh memiliki perasaan lebih pada tuan mudanya, Rara harus sadar mana mungkin wanita biasa sepertinya bisa dicintai oleh seorang Kenzo.
Buu aku akan pergi dari hidup sedih ku ini setelah ini aku pasti akan hidup bahagia
Rara tersenyum mengingat hal itu, hanya tinggal menunggu waktu semuanya akan selesai, ia akan hidup bahagia dengan fokus menjalani bisnisnya dan tidak ada seorang pun yang akan menggangu hidupnya kembali. ia kembali ke posisi tidurnya, matanya mulai berat sekarang jadi ia memutuskan untuk kembali tidur.
♣
"Halo Hans ada apa!?" ucap Kenzo pada sambungan telpon disana.
"Tuan maaf menganggu, saya sudah menemukan bukti jika uang perusahaan diambil alihkan oleh pihak manajemen ke dalam atm pribadinya" jelas Hans yang sudah mengetahui penyebab masalah di perusahaan cabang Xander.
"Baiklah, kau urus saja para penghianat itu yang sudah membuat perusahaan ku hampir runtuh!"
"Tuan mau aku apakan para penghianat itu?"
Kenzo sedikit berpikir. "Seterah kau saja"
Hans disana bingungg, biasanya tuannya ini akan marah jika sudah berhadapan dengan orang yang menghianatinya namun kenapa tuannya ini terdengar biasa saja?
"Tapi jangan biarkan mereka hidup nyaman Hans" lanjut Kenzo.
"Baik tuan"
Bip.
sambungan telpon itu pun diputus sepihak oleh Kenzo. sekarang ia tidak semangat memarahi orang karna pikirannya yang tertuju pada Maura.
Mengapa aku jadi khawatir pada Maura?
Kenzo heran dengan perasaannya sendiri, apa hatinya sudah berpindah tempat? jujur semenjak wanita masalalunya pergi meninggalkannya dengan harapan ia akan kembali nanti, hatinya sudah dibekukan oleh yang namanya cinta karna Kenzo hanya mau wanita itu kembali padanya suatu saat nanti masih dengan perasaan yang sama. tapi entah kapan perempuan itu datang padanya.
Dokter Ridho datang bersama para suster dibelakangnya menuju tempat Kenzo berdiri sekarang.
"Kau berjaga disini aku akan kembali nanti" ucap Kenzo pada dua bodyguard yang setia berjaga di depan kamar rawat Maura.
Ia akan pergi sekarang ada beberapa hal yang harus diurusnya. setelah mendapat jawaban dari para bawahannya Kenzo pun melangkah menjauh dari sini.
♣
Matahari mulai terbit diujung sana, Maura membuka matanya perlahan ketika merasa hari sudah terang.
"Nona sudah bangun?"
Rara membulatkan matanya mendengar ada suara perempuan disini.
Disana terlihat ada beberapa suster yang membawa nampan dan juga yang akan memeriksa tubuhnya.
"Maaf nona saya akan memeriksa nona sebentar"
Maura mengangguk dan membiarkan suster ini bekerja.
"Apa nona masih merasa sakit dikepala?" tanya suster yang memeriksa Maura.
Maura mengangguk pelan. "Iya sus suka sakit"
"Saya harap nona tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berat itu yang bisa memicu sakit di kepala nona" suster itu memberi penjalasan pada Maura agar ia tidak memikirkan hal-hal yang berat.
Sekali lagi Rara mengangguk. "Baik sus"
Suster yang membawa nampan tadi langsung meletakan nampannya di meja sebelah kasur Maura. suster yang memeriksa Rara pun membereskan peralatannya.
"Nona silakan di nikmati makanannya kami permisi dulu"
"Terimakasih ya suster"
"Sama-sama nona" suster itu berjalan keluar dari kamar rawat ini meninggalkan Maura sendiri.
__ADS_1
Maura berusaha duduk dan menyenderkan dirinya di bantal.
Dimana laki-laki itu?
Rara melihat sekelilingnya yang nampak sepi, tidak ada siapapun disini hanya ada dirinya sendiri. entah kemana laki-laki itu berada.
"Huh ngapain juga aku mikirin dia" gumam Rara sembari melihat nampan yang diatasnya berisi semangkok bubur dan air putih.
Karna Rara yang merasa kelaparan akhirnya ia membawa nampan itu ke pangkuannya dan memakan makanannya dengan lahap.
Ceklek
Pintu kamar kembali terbuka, perempuan cantik itu masuk kedalam kamar Maura dengan tatapan sedihnya.
"Kaka ipar" Hazel berjalan masuk kedalam ruangan ini dan menghampiri kaka iparnya.
Maura yang mendengar namanya dipanggil langsung mengalihkan pandangannya.
"Eh Zel" ucap Maura ketika remaja itu sudah berada sisampingnya.
Hazel menatap kaka iparnya dengan tersenyum senang karna kaka iparnya yang sudah sadar sekaligus sedih juga karna kaka iparnya bisa sakit seperti ini.
"Kaka ipar udah sadar?"
Entah mengapa pertanyaan ini diulang kembali ditelinga Maura, dia sudah membuka matanya berarti dia sudah sadar bukan?
Namun Rara tetap menjawab senyum pertanyaan adik iparnya "Udah Zel" ia tersenyum karna Hazel menyempatkan dirinya untuk mengunjunginya disini.
"Syukur deh, kaka ipar kapan boleh pulang?"
Rara menggeleng, ia tidak tahu kapan akan pulang. "Gatau Zel aku baru aja sadar pasti masih lama pulangnya"
Baru beberapa jam saja disini Maura sudah bosan, ia ingin cepat-cepat pulang.
Hazel diam sembari melihat sekelilingnya yang nampak sepi, dimana kakanya itu? semalam kakanya itu tidak pulang ia kira Kenzo menginap disini tapi melihat keadaan ruangan ini sepertinya Kenzo tidak berada disini.
"Ka Kenzo dimana ka?"
"Gatau Zel pas aku bangun pagi tadi tuan Kenzo udah gaada" ucapnya sambil menikmati bubur yang terasa hambar dibibirnya.
"Kamu mau bubur Zel?" tawar Rara yang dibalas gelengan oleh adik iparnya.
"Buat kaka ipar aja, aku udah sarapan tadi dirumah"
"Iya makan aja ka"
Cukup lama mereka diam, akhirnya Hazel berbicara kembali memecahkan keheningan di ruangan ini.
"Kaka ipar tau ga kalo ka Agnes ilang"
Dengan sendok yang masih berada dimulut Rara menganga mendengar ucapan Hazel. ilang? ilang bagaimana maksudnya.
"Ka Agnes ilang?"
"Iyah pas kemarin aku pulang sama mommy ka Agnes tiba-tiba aja ilang udah aku cari ke sekeliling mesion sama tanyain ke bibi pada gak ada yang tau katanya" jelas Hazel. entah kemana wanita itu pergi sudah seperti ditelan bumi saja, jika pergi pasti Agnes berpamitan padanya atau mommynya tapi tadi pagi Hazel menanyai ini pada mommynya, Lia hanya diam tidak menjawab.
Rara tau pasti wanita itu pergi jauh dari sini, tapi kenapa ia pergi? lagian juga Maura tidak akan memberitahu Kenzo jika Agnes yang menyebabkan ia jadi seperti ini.
"Kaka ipar kayaknya ka Kenzo udah cinta deh sama kaka" Lanjut Hazel.
Rara menatap mata adik iparnya ini, cinta? anak remaja kayak begini udah tau emangnya arti cinta itu apa? ada-ada saja Hazel ini. "Kamu tau apa Zel soal cinta hehe"
Hazel memajukan bibirnya kedepan, walau dia masih terbilang cukup muda untuk membahas apa itu cinta tapi ia sudah hafal bagaimana merasakan atau mengungkapkan jatuh cinta itu apa ya karna dia sering mengalaminya dengan oppa-oppa koreanya itu.
"Ish kaka ipar aku beneran loh"
Rara memasukan kembali buburnya kedalam mulutnya. "Kamu udah tau kan Zel, jadi mana mungkin tuan menyukai ku"
Mengapa kaka iparnya tidak percaya padanya? jelas-jelas kemarin saja bodyguard itu dipukuli habis-habis karna tidak menjaga kaka ipar jika tidak sayang apa coba?
"Tapi kan cinta tumbuh seiring waktu kebersamaann siapa tau aja ka Kenzo benar suka sama kaka tapi ka Kenzo gengsi bilangnya"
Rara sedikit berpikir, gengsi? hahaha tapi ada benarnya juga, ah! sudahlah Rara pusing memikirkan hal-hal seperti itu jika memang benar tuan mudanya mencintainya kenapa dia tidak bisa bersikap lebih santai padanya? tiap hari kayaknya tuan muda ngegas terus.
"Kaka ipar ga percaya sama aku?" tanya Hazel kembali.
Dengan mulut yang masih menelan bubur itu, Rara menatap Hazel. "Percaya sama manusia mah musyrik Zel"
Lama-lama Hazel jengkel dengan sikap kaka iparnya, susah sekali dibilanginnya tapi Hazel tetap yakin jika kaka nya mencintai ka Maura ia yakin itu.
"Kaka ipar mah malah becanda"
"Lagian kamu serius banget" karna perutnya sudah tidak kuat untuk memakan bubur itu lagi, akhirnya mangkuk yang berada dipangkuannya ditaruh kembali di meja samping kasur.
__ADS_1
"Siapa juga yang serius" Hazel masih memasang wajah cemberutnya, itu yang membuat Maura merasa tidak enak.
"Bercanda Zel kamu jelek loh kalo cemberut kayak gitu nanti cowok yang waktu itu malah ellfel sama kamu" ucap Rara dengan sedikit terkekeh.
Hazel merapatkan dahinya pertanda ia binggung, cowo? siapa maksud dari cowo itu?
"Cowo waktu itu?" tanya Hazel.
Rara mencoba memikirkan nama laki-laki tersebut, ia lupa siapa namanya tapi wajah dan rupanya masih samar-samar ingatannya di kepala Maura.
"Aw" Rara memegang kembali kepalanya ketika merasa kesakitan menyerangnya.
Hazel seketika panik. "Kaka ipar kenapa? bentar ka aku panggil dokter dulu" Hazel bangkit dari duduknya dan keluar mencoba mencari dokter yang berada disekitar sini.
Tak lama Hazel masuk bersama dokter perempuan yang wajahnya menurut Rara pasti orang blasteran. "Dok periksa kaka ipar saya dok"
Dokter itu langsung segera memeriksa dengan peralatan seadanya yang berada ditangannya. tadi tiba-tiba ada seorang remaja yang mendatanginya dan menyuruhnya untuk pergi ke kamar VIP yang entah siapa pasiennya karna tadi ia berniat memeriksa pasien anak tapi keduluan tangannya ditarik oleh remaja cantik itu.
"Saya cek dulu ya nona" dari mulai kepala hingga jarum yang berada ditanggan Maura diperiksa, sekarang Rara sudah sedikit tidak merasakan sakit lagi dikepalanya.
"Semua baik, tidak ada masalah. nona harus banyak-banyak istirahat agar pikiran nona tidak terganggu" Hazel yang mendengar itu mengangguk. padahal dokter ini berbicara dengan Rara tapi Hazel pura-pura saja paham.
"Saya permisi dulu ya nona, mari" dokter itu pun pergi setelah berpamitan dengan kedua wanita yang berada disini.
Hazel menatap kaka iparnya dengan pandangan bersalah. "Maafin aku ya kaka ipar, gara-gara aku kaka ipar sakit lagi kepalanya" ucap Hazel menunduk.
Punggung Rara sakit karna kelamaan duduk jadi ia memutuskan untuk berbaring kembali. "Kamu ga salah ko Zel emang kepala aku suka gini" jawab Rara untuk menenangkan Hazel agar tidak menyalahkan diri sendiri.
Hazel mengangkat kepalanya menatap Rara. "Yaudah kaka ipar istirahat aja ya"
Rara mengangguk tapi kelamaan disini juga membuatnya bosan, ia berpikir butiknya bagaimana sekarang? Rara menjadi tak enak karna Aisyah pasti mengurus butiknya seorang diri.
"Kaka ipar bentar lagi aku sweeth seventeen loh" ucap Hazel membuyarkan lamunan Rara.
Pasti anak ini ada maunya, maklum usia menuju dewasa.
"Kapan Zel? kamu mau kado apa dari aku?"
Hazel meletakan jari telunjuk di dagunya pertanda ia sedang berpikir. "3 minggu lagi hm aku mau apa ya"
Rara nampak menunggu jawaban dari Hazel, kira-kira anak ini mau ia belikan apa? semoga adik iparnya tidak meminta aneh-aneh karna sekarang Rara sedang mengirit uangnya.
♣
Kenzo sekarang berada diapartemennya, ya sebenarnya ia memiliki apartemen namun tidak ada seorang pun yang tau terkecuali Hans karna laki-laki itu selalu mengikutinya.
Apartemen itu ia gunakan jika sedang ingin menyendiri, memang ia lebih sering pulang kerumahnya namun terkadang ia juga pulang dan menginap jika tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Kenzo menatap handpone yang baru saja dibelikan oleh bawahannya yang ia suruh untuk membelikannya. kemarin saat di kalimantan ponselnya rusak karna bantingan Kenzo yang mendengar jika Maura jatuh dari tangga.
Walau ia mengganti hanponenya tetap saja data-data di ponsel lamanya sudah ia alihkan ke ponsel barunya.
Drtdrt!
"Halo tuan, saya sudah melaksanakan tugas tuan"
Kenzo berdehem. "Baik pastikan dia tidak diterima kerja dimana pun" ucapnya dingin.
"Baik tuan"
Sambungan diputus sepihak oleh Kenzo.
Yang menelponnya adalah bawahannya lebih tepatnya oleh yang bekerja diperusahaannya. ia menyuruh orang itu untuk memecat David yang tak lain adalah ayah kandung istrinya.
Kalian tau bukan? Ayah Maura yang kejam itu tidak mau memberikan tranfusi darahnya pada Maura yang tak lain anak kandungnya, padahal hidup Maura saat itu diambang kematian. tapi David tidak mau memberikannya.
Ia hanya ingin membalas semua perbuatan David pada wanita cantik yang sekarang menjadi istrinya, walau semua itu mungkin dirasa Kenzo tidak cukup atas pembayaran penderitaan Maura.
Tadi saat pergi dari rumah sakit, ia bergegas ke kantornya untuk mengurusi itu dan setelahnya baru ia pergi ke apartemennya untuk istirahat. ia tau sekarang Hazel sedang berada disana menjaga Maura jadi lebih baik Kenzo menenangkan dirinya di apartemennya.
Mungkin ketika hari mulai siang, ia akan kembali kerumah sakit untuk menjenguk wanitanya.
Jika kau kembali suatu saat nanti, aku yakin hati ini sudah berpihak pada yang lain
♣
"Ponakan kaka ipar!!!"
Rara membulatkan matanya mendengar apa yang Hazel inginkan.
▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
Trimksih sudah membaca^^
__ADS_1