
Rara berjalan mengikuti Kenzo dan kedua anaknya yang berjalan menuju ruang makan.
Hari sudah mulai gelap yang artinya sekarang sudah waktunya untuk makan malam.
"Mau makan sendili." sahut Kevin dengan duduk diatas karpet berwarna merah muda, dirinya nampak memegang sendok dengan tangan kecilnya.
"Keyla juga." ucap Keyla mengikuti sang kakak.
Kenzo nampak menatap ruang makan ini, disini tidak ada meja makan ataupun kursi yang ada hanya karpet polos yang berada diatas lantai.
Rara terkekeh menatap kedua anaknya tak lama setelah itu dirinya menatap Kenzo yang sekarang berdiri disampingnya.
"Mas kenapa?" tanya Rara dengan binggung. Ada apa dengan pria ini?
"Ck, kau tidak punya kursi atau meja untuk makan begitu?" tanya Kenzo dengan menatap Rara.
Rara tau pasti Kenzo tak biasa duduk diatas lantai seperti itu, ya dirinya memaklumi karna Kenzo pasti sedari dulu hidup dengan kemewahan.
"Tidak ada, aku lebih nyaman lesehan kayak gini Mas," Rara melangkahkan kakinya untuk duduk diatas karpet.
Kenzo masih diam tapi tak lama ia ikut duduk disamping Rara, walau tidak biasa namun ia mencoba untuk membiasakan diri agar tidak terlihat kaku.
Rara tersenyum didalam hatinya, ia yakin Kenzo pasti tidak terbiasa duduk seperti ini karna terlihat dari ekspresi dan gelagat pria itu.
Makanan sudah siap dihadapan mereka, keluarga itu nampak duduk melingkar dan membiarkan makanan-makanan berada ditengah-tengah mereka.
"Jika bukan karna kau aku tidak mau duduk seperti ini." ucap Kenzo menatap Rara dingin membuat yang ditatap terkekeh.
Tubuh Kenzo bisa dibilang tinggi. Rara menatap Kenzo yang menekukan kakinya duduk menyilang dengan badan yang dibiarkan tegap sudah seperti orang bertapa dimata Rara.
Dengan masih wajah terkekeh Rara mengambilkan nasi untuk suaminya dan memberikannya langsung pada Kenzo. "Dimakan ya Mas."
Kenzo menerima piring itu dan segera memakannya dengan tangan kiri yang memegang piring sedangkan tangan kanan menyuapi dirinya sendiri.
Seandainya Rara membawa ponsel ia pasti akan mengabadikan moment ini karna posisi Kenzo dan ekspresi pria itu membuatnya gemas.
Akhirnya mereka pun memakan makanannya dengan tenang, sesekali mereka tertawa bahagia ketika melihat tingkah laku kedua anaknya yang belepotan karna memakan makanannya sendiri.
__
Riki melajukan mobilnya menjauh dari rumah Rara, dirinya merasakan sakit hati sekarang.
Plak!!
Riki memukul setirnya keras, dirinya sangat kecewa dengan kenyataan pahit ini. Kenapa Rara malah memilih suaminya itu? kenapa Rara tidak bisa menerimanya?
__ADS_1
"Sialan." umpat Riki dengan melajukan mobilnya cepat menuju ke-sesuatu tempat yang dulu sering ia kunjungi untuk menenangkan pikirannya.
"Apa kamu gak bisa nerima aku Ra? setelah empat tahun aku nemenin kamu kenapa kamu malah milih balikan lagi sama pria itu?!" kesal Riki, dirinya masih tidak rela Rara dimiliki orang lain selain dirinya.
Mobil Riki melaju menuju sebuah tempat yang bisa dikatakan haram, Ya! sebuah tempat hiburan malam atau yang biasa disebut dengan sebutan club malam. Riki sering menghabiskan waktunya ketika kecewa disana, karna dengan sedikit minum-minuman dan bermain membuatnya merasa sedikit lega dan melupakan kekecewaan yang dia alami.
Dirinya akan meluapkan dan melampiaskan semuanya disana dan mungkin Riki akan sedikit bermain dengan wanita-wanita yang berada disana.
__
"Kapan masalah mu itu selesai?" tanya Kenzo ketika mereka sudah berada dikamar setelah makan malam tadi.
Rara menghela nafasnya pelan, baru saja mereka masuk kedalam kamar tapi Kenzo sudah bertanya-tanya. "Tidak akan lama."
Ya, tujuan pertama mereka kesini juga karna beberapa masalah yang harus Rara selesaikan disini sebelum dirinya benar-benar ikut Kenzo tinggal di Jakarta.
"Apa aku suruh orang saja untuk menyelesaikan masalah mu itu?"
Rara memutar bola matanya malas, suaminya itu seperti-nya gampang sekali menyuruh orang untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Daripada menyuruh orang bukannya lebih baik menyelesaikan sendiri? lagian juga pastinya gratis tidak dipungut biaya jika dikerjakan sendiri.
"Tidak usah, aku bisa mengerjakannya sendiri," Rara berjalan dan duduk disamping ranjangnya.
Kenzo yang melihat itu ikut duduk disamping Rara. "Kau kenapa?" tanya Kenzo ketika melihat wajah tak enak dari wanitanya.
Mendengar pertanyaan itu Rara membuat menunduk.
"Bukan begitu Mas, gimana pun juga Mas Riki itu udah aku anggap sebagai kakak aku sendiri. Dia yang nemenin aku lahiran Keyla dan Kevin dia juga yang nemenin aku besarin mereka Mas, aku jadi gak enak aja sama dia." Rara menunduk kembali, dirinya takut jika Riki marah dan tak mau menemuinya.
Kenzo menghela nafasnya pelan, sepertinya jasa Riki terlalu berarti dalam hari-hari wanitanya selama tidak ada dirinya disisi Rara. "Dia hanya butuh waktu, kau tenang saja." pelan Kenzo.
Rara mengangguk singkat mendengar ucapan suaminya tadi, ya pasti Riki butuh waktu untuk menerima kenyataan ini semua jadi dirinya tidak usah khawatir terlalu berlebihan.
"Sudah malam kau lebih baik tidur atau kau mau kita melanjutkan program kehamilan-mu itu?" sahut Kenzo membuat Rara langsung memplototinya.
"Modus." gumam pelan Rara dengan memalingkan wajahnya dari Kenzo membuat pria itu sedikit terkekeh karna melihat serabut merah diwajah wanitanya.
"Yasudah kita tidur saja aku tau kau lelah hari ini."
Rara tersenyum mendengar itu, tumben sekali Kenzo tidak memaksanya? apa pria itu sudah tobat? "Yasudah."
Baru saja Rara akan menidurkan tubuhnya tiba-tiba saja Kenzo menarik pelan tangannya terlebih dahulu untuk duduk seperti posisi tadi. Rara memandangi tangan yang digenggam pria itu dan menatapnya binggung.
"Kenapa?" tanya Rara dengan menaikkan kedua alisnya.
Kenzo mengeluarkan senyuman manis menatap Rara. "Night kiss." pelan Kenzo membuat wanita didepannya meremang seketika.
__ADS_1
"A-apa?" gugup Rara, sebenarnya dirinya merasa kesal karna masih saja gugup ketika Kenzo mengatakan hal tadi. Padahal pria ini sudah sering mengucapkan itu tapi kenapa dirinya masih grogi?
"Apa aku harus mengulanginya lagi?"
Mendapat tatapan dingin dari Kenzo membuat Rara menggeleng pelan. Sebelum itu Rara menetralkan jantungnya terlebih dahulu untuk menenangkan jantungnya sekarang.
Cup!
"Selamat malam Mas!" Rara mencium pipi kanan Kenzo dan langsung merebahkan dirinya dikasur dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut membelakangi Kenzo.
Kenzo terkekeh melihat wanitanya yang pastinya merasa malu sekarang. Dengan cepat dirinya mendekat kearah Rara dan ikut merebahkan tubuhnya dibelakang wanita itu. Ia sedikit mencodongkan wajahnya ketelinga Rara.
"Selamat malam juga sayang."
Keduanya pun menutup mata mereka masing-masing untuk memasuki alam mimpi keduanya.
__
Hari sudah semakin malam, telihat kedua pasangan suami-istri ini masih nyenyak memejamkan matanya.
Tiba-tiba saja Rara terbangun ketika mendengar ketukan dari pintu utama rumahnya. Ia mengucek-ngucek matanya melihat jam yang berada diatas lemari depan kasurnya, nampak arah jarum jam menunjuk pukul 12 malam.
"Siapa yang ngetuk-ngetuk tengah malam begini?" gumam Rara dengan heran.
Karna mendengar ketukan yang bertambah keras Rara pun turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Bibi?" panggil Rara ketika berada diruang tamu, namun sayangnya rumah sudah sepi jadi Rara memastikan Bibinya itu sudah pulang kerumahnya.
Toktoktok!
"Iya bentar," teriak Rara dengan melangkah menuju pintu.
Sebenarnya didalam hati Rara dirinya merasa kesal sekaligus takut dengan suara ketukan pintu ini, kira-kira siapa yang datang kesini? apa hantu? tapi mana mungkin hantu bisa mengetuk pintu.
Toktoktok!
Ceklek!
Rara segera membuka pintunya karna ketukan dipintunya tak kunjung berhenti. Ketika pintunya dibuka alangkah terkejutnya ketika melihat seorang pria yang sangat dikenalinya sedang menatapnya dengan tersenyum sendu.
"Mas Riki?!"
▫▫▫
Terimakasih sudah membaca❤
__ADS_1
Jangn lupa tinggalkan jejak dibawah ini ya🙆