My Devil Possessive

My Devil Possessive
Berkunjung


__ADS_3

David menatap anak tirinya yang baru saja pulang dari kuliahnya itu dengan membawa tas-tas banyak ditangannya.


"Siang papah muah" ucap Nindi dengan mencium kedua pipi ayahnya. setelah itu ia duduk di sofa untuk membuka barang-barang yang baru saja ia beli.


"Kamu belanja lagi?"


"Iya pah kenapa?" Nindi masih fokus dengan barang-barangnya, ia tersenyum melihat tas branded yang dibelinya sepulang kuliah tadi bersama teman-temannya.


"Kamu bisa beli ginian uang dari mana?"


"Uang aku lah papah gaperlu tau!"


David yang mendengar ucapan Nindi itu menatapnya dengan sedikit kecewa, anak tirinya ini telah membohonginya.


Flsbck on


"Halo? kenapa pak?"


david mendapatkan telepon dari pihak kampus anak kesayangannya itu, tak biasanya pihak kampus menelpon nya.


"Begini pak, putri bapa Nindi sudah nunggak membayar kuliah selama 5 bulan terakhir"


David yang mendengar itu terkejut, bagaimana belum membayar? ia setiap bulan mengirimkan uang ke rekening anaknya untuk membayar kuliah dan juga uang saku yang lumayan untuk sebulan menurutnya, tapi kenapa pihak kampus malah berbicara bahwa anaknya belum membayar?


"Saya setiap bulan selalu mengirimkan uang ke Nindi untuk membayar kuliahnya pak, jadi putri saya tidak mungkin tidak membayarnya"


"begini pak, saya hanya menyampaikan pemberitahuan ini dari pihak administrasi bahwa putri bapa belum membayar, bapa bisa tanyakan kepada putri bapa kenapa belum menyerahkan uang kiriman bapa kepada universitas, kalo gitu terimakasih ya pak, maaf sudah menganggu"


Sambungan telepon itu terputus, David yang sedang duduk di ruang kerja dirumahnya segera menelpon putrinya itu, apa benar uang yang selalu ia kirimkan kepada putrinya tidak dibayarkan? untuk apa uangnya kalo begitu.


Namun nomor yang ia telpon tidak aktiv jadi David hanya menunggu putri kesayangnya itu pulang untuk memintai penjelasan.


Flsbck off


"Papah baru dapet telpon dari kuliah kamu, kenapa uang yang papah kirim ga kamu kasih ke sekolah kamu hah!?" bentak David, ia benar-benar tak percaya jika anak nya ini telah membohonginya.


Nindi tersentak kaget mendengar bentakan papahnya itu.


Aku harus kasih alesan apa?


"Em gi..ni pah"


"Papah ga percaya sama kamu Nin, udah 5 bulan terakhir kamu ga bayar kuliah! uang itu kemanain? mana uangnya sini biar papah yang kirim langsung ke pihak sekolah kamu"


"Uang nya udah abis p..ah" ucap Nindi sembari menunduk karna papahnya ini benar-benar seram dimata Nindi.


David menatap tajam anaknya itu, Uang yang hampir setengah miliyar itu habis gitu aja? padahal David bekerja keras untuk membiayai kuliah anaknya ini sampai harus membawa uang dari tuan mudanya, namun anaknya malah memakai uang itu untung hal yang ga berguna.


"Dasar ya kamu!!" David ingin sekali menampar anak ini namun tangannya terlebih dahulu dipegang oleh istrinya.


"Pah! papah jangan main tangan dong, kasian kan Nindi" Ratna menghempaskan tangan David dan melangkah menuju Nindi yang duduk di sofa yang berada disamping suaminya.


"Kamu gapapa kan sayang?" ucap Ratna memeluk Nindi, sepertinya anaknya itu sedang menangis karna dilihat dari badannya yang naik turun.


"Anak kayak gini kamu belain! Aku udah cape-cape kerja buat kuliah dia tapi uang nya malah dipake buat tas-tas ga guna ini!" David membanting belanjaan Nindi.


Nindi yang melihat barang-barangnya dibanting oleh sang ayah menatap marah "Papah yang salah! aku juga hiks pengin kaya temen-temen punya tas-tas mewah! hiks hiks punya barang-barang branded!"


"Nindi!! papah kan kasih uang saku juga tiap bulan ke kamu, ga cukup hah!?" David benar-benar kesal kepada anak tirinya ini.


"Pah udah sih, namanya juga anak muda" bela Ratna.


"Udah? kamu bilang udah?! Ck! anak kamu itu Nindi harusnya udah bantu aku ngehasilin uang! bukannya ngabisin!"

__ADS_1


David tidak habis pikir anaknya ini berani mengecewakannya, Ia mengingat anak kandungnya Maura, anak itu dulu ingin sekali kuliah apalagi ia mendapatkan beasiswa di universitas negri yang ada dipusat kota, tapi David malah menolak karna sudah merasa cukup Rara ia sekolah kan sampai SMA.


Nindi melepaskan pelukan dari ibunya itu dan melangkah pergi menuju kamarnya sembari membawa belanjaan yang ia bawa tadi tanpa menghiraukan David.


David yang melihat itu hanya terduduk sembari memegang kepalanya, ia pusing dengan kelakuan anak tirinya itu.


"Liat tuh anak kamu"


Ratna hanya diam, ia juga tidak tau jika anaknya itu membelanjakan uang yang diberi David karna memang Nindi jarang sekali bercerita tentang masalah pribadi atau lainnya kepada ibunya kandungnya.


"Pah udah ya kasian Nindi, aku juga gatau kalo Nindi begitu mungkin dia pengin kaya temen-temen nya jadi Nindi terpaksa pake uang kuliahnya"


"Belain aja tuh anak kamu, dasar gatau diuntung!"


"Dia juga anak kamu pah!"


"Dia itu cuma anak tiri aku! bukan darah daging aku!"


Ratna kesal mendengar kalimat itu, apa David tidak bisa menganggap anaknya sebagai anak kandungnya?.


"Seharusnya mamah jangan terlalu manjain itu anak sekarang malah ngelunjak kan!" David pergi meninggalkan Ratna sendirian di ruang tamu.


Ratna melihat David melangkah kearah luar rumah. "Pah! mau kemanaa?" teriak Ratna namun tidak ada jawaban dari David.



Rara melihat jam yang melingkar manis di tangannya, sudah waktunya makan siang, ia pun membereskan gambaran desain yang ada di meja dan pergi sembari membawa tas selempangnya.


Ia pun berjalan menuju lantai bawah.


"Mbak Rara mau kemana?" ucap Nazwa yang notabenya pegawai juga disini.


"em aku mau keluar dulu mungkin ga balik lagi juga kesini, Aisyah mana?"


"Lagi pesen makanan Mbak diluar"


"Siap Mbak"


Rara pun berjalan keluar, seperti biasa ia akan memesan ojol untuk mengantarkannya ke tujuan yang akan ia datangi sekarang.


Setelah memesan ia pun menatap sekeliling jalan ini, matanya menangkap Laki-laki yang tadi juga Rara liat saat diruangannya.


Tu cowo masih disini?


ia mengalihkan pandangannya ke arah motor yang berhenti didepannya.


"Mbak maura?"


"Iya pak ayo cepet"


"iya mbak sabar toh" jawab pak ojol itu dengan logat jawa kental nya.


Ketika Rara melihat tempat dimana Laki-laki tadi berada, pria itu sudah tidak ada ditempat.


Ko ilang? jangan-jangan hihhh


"Mbak ayo toh katanya tadi cepetan"


"Eh iya pak"


Rara naik ke jok belakang motor itu ketika sudah siap akhirnya bapak-bapak ojol itu melajukan motornya.


Laki-laki yang sedari tadi menatap Rara pun segera menaiki mobilnya dan melaju mengikuti motor yang ditumpangi nona mudanya.

__ADS_1


"Pakk bisa cepetan gaa" Rara melihat ada mobil yang mencurigakan dibelakangnya yang sepertinya mengikuti motor yang ia naiki.


"Apa neng?" karna suara berisik dari pengendara lainnya membuat pak ojol itu tidak mendengar ucapan penumpangnya.


"Bapak nya bisa ngebut gaa"


"Wah saya gasuka ribut neng, mending hidup aman damai daripada nyari keributan"


"Ngebut pak ngebut, cepetan jalannya"


"Kita naik motor neng bukan jalan"


Entah Rara ingin ketawa atau kesal mendengar ucapan bapak ojol ini, ia hanya merapalkan doa agar ini hanya kecurigaannya jika mobil dibelakangnya sekedar jalan bukan mengikutinya.


"Pak kalo ada tukang buah berenti dulu ya"


"Siap neng"


Ya karna jalanan disini tidak begitu ramai mereka pun bisa nyambung ketika berbicara tidak seperti tadi yang memang suara anginnya lebih kencang dari suara mereka.


Pak ojol itu pun berhenti ketika melihat tukang buah yang berjualan dipinggir jalan, Rara turun dari motor tersebut dan membeli buah yang lumayan banyak. Ketika selesai membeli Rara pun menaiki motor itu lagi dan menyuruh ojolnya jalan melanjutkan tujuannya.


"Neng sudah sampai"


Rara menatap bangunan yang dulu sering ia kunjungi, Ia turun dari motor tersebut dan membawa 3 kantong kresek berisi buah-buahan.


"Ini pak uangnya" Rara menyerahkan uang kepada ojol tersebut. "Eh ini juga buat bapak" Lanjutnya memberikan 1 kantong kresek kepada ojek online itu.


"Gausah neng" Tolak halus pak ojol.


"Gapapa anggep aja tip oke" Akhirnya mau tak mau ojol itu menerima buah yang dibeli penumpangnya.


"Wahh makasih banyak ya neng, semoga amal ibadah neng diterima yang maha kuasa ya"


Ini bapaknya ko kayak doain orang meninggal atau gimana?


Rara hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pak ojol itu, setelahnya ia berjalan masuk kedalam bangunan yang tertera nama PANTI ASUHAN KASIH.


"Ka Lala!!!" Tiba-tiba ada anak kecil bermata bulat yang berlari mendekat ke arah Rara yang baru saja masuk kedalam bangunan ini.


"Maryamm, kaka kangen banget sama kamu" sahut Rara sembari membalas pelukan dari anak usia 7 tahunan.


"Malyam juga angen ama ka Lala" jawab cadel anak itu.


"Ehh ada kamu Ra, Kemana aja ko baru muncul" Tanya seorang wanita berjilbab yang menghampiri Rara dan juga anak kecil asuhannya.


"Hehe maaf ya Mbak, baru dateng lagi" Dulu Rara memang sering kesini sepulang sekolah saat SMA, namun setelah lulus ia hanya fokus terhadap perintah ibu tirinya dan merintis usahanya, jadi ia melupakan panti tempat kesenangannya dulu.


"Gapapa ko, duduk dulu sini"


Wanita berjilbab itu bernama Siti Fatimah yang tak lain anak dari pemilik Panti ini dan juga pengasuh anak-anak asuhan ayahnya. dulu Rara juga sering membantunya menjaga anak-anak panti namun setelah kelulusan sekolah Rara ia tak pernah melihat Rara bermain ke rumah ini lagi.


Rara pun duduk dengan memangku anak kecil manis yang menjadi kegemarannya, entah mengapa jika melihat anak ini ia melihat sisi lain dari kehidupannya yang sama seperti dirinya. ditinggalkan ibunya dan dicampakan oleh ayah kandungnya.


"Mbak ini ada buah sama sedikit uang ya buat kebutuhan anak-anak panti, semoga bermanfaat ya mbak" ucap Rara sembari memberikan buah dan amplop yang berada di tasnya.


"Wah ngerepotin, makasih banyak ya Ra"


"Gapapa Mbak ga ngerepotin ko" Rara tersenyum kepada Siti yang sudah ia anggap seperti kakaknya ini.


Umur mereka memang tidak terlalu jauh, karna Siti ini anak dari mendiang Mbah Yayat karna beliau itu sudah meninggal ketika Rara menginjak kelas 2 SMA, Siti pun melanjutkan wasiat ayahnya untuk menjaga anak dan juga Panti ini. dan ibunya pun sudah tutup usia jauh sebelum Mbah Yayat meninggal. Rara juga menganggap Mbah Yayat adalah Ayah kedua baginya.


▫▫▫▫▫▫▫▫

__ADS_1


Tolong suportnya yah!


ikutin terusss ceritanya❤


__ADS_2