
Beberapa hari kemudian...
"Ck! bagaimana ini," kesal Kenzo dengan membenarkan dasinya.
Rara yang baru memasuki kamar langsung mendekat kearah Kenzo, ia tersenyum ketika melihat Kenzo yang sepertinya kesusahan untuk memasang dasinya.
"Sini sama aku," Rara memindahkan posisi berdirinya dihadapan Kenzo lalu membenarkan dasi yang dipakai suaminya ini.
Tangan Rara terlihat telaten memasangkan dasi pria dihadapannya ink. Kenzo hanya tersenyum memandangi wajah wanitanya yang menurutnya semakin hari semakin cantik.
"Udah." Rara tersenyum ketika sudah merapihkan dasi yang dipakai Kenzo, ia menatap wajah pria dihadapannya dengan tersenyum.
"Kau semakin cantik." pelan Kenzo yang mampu membuat serambut merah dipipi Rara.
Rara menunduk, ia malu sekarang. Pasti wajahnya memerah karna punjian Kenzo tadi.
Melihat wajah malu dari wanitanya Kenzo pun terkekeh, padahal ia sudah sering mengucapkan itu namun Rara masih terlihat malu-malu.
"Mas lebih baik berangkat kerja sekarang." ucap Rara masih dengan pandangan menunduk.
"Aku berada dihadapanmu bukan dibawah kakimu itu jadi jangan menunduk." jawab Kenzo.
Dengan cepat Rara mendongakkan wajahnya menatap Kenzo. Senyum-nya masih terbit dibibir manis nya itu.
"Kau sudah siap?" lanjut Kenzo dengan menatap serius Rara.
Seakan mengerti Rara pun mengangguk. Ia tau apa yang dimaksud dengan Kenzo jadi dirinya megagguk saja. "Iya, nah lebih baik sekarang Mas berangkat kerja biar malemnya bisa kebutik."
"Maafkan aku tidak bisa menemanimu siang ini." Kenzo merasa bersalah karna tak bisa menemani persiapan wanitanya.
"Gapapa, lagian juga aku tau pasti kamu sibuk sama kerjaan." Ya, Rara tau Kenzo pasti sibuk dengan pekerjaannya jadi Rara tidak memaksa Kenzo menemaninya untuk persiapan jadi Kenzo akan datang kebutiknya malam nanti.
"Terimakasih sudah mengerti."
Cup!
Kenzo mencium kening Rara lembut, setelahnya ia menatap Rara dengan senyuman yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Yaudah ayo." Rara membawa tas kerja Kenzo dan berjalan keluar dari kamarnya diikuti Kenzo pastinya.
Keduanya pun berjalan keluar dari kamar dan turun menuruni tangga. Rara akan mengantar Kenzo sampai depan pintu rumah seperti biasa.
Kedua anaknya masih tertidur dikamar mereka jadi Rara dan Kenzo masih bisa berjalan berdua dengan tenang.
Sampai didepan pintu Rara pun menyerahkan tas yang digenggamnya pada Kenzo.
"Kau yakin akan membawa anak-anak? bawa saja beberapa maid biar nanti dia yang menjaga Keyla dan Kevin disana. aku hanya tak mau kau kerepotan nanti." sahut Kenzo dengan menatap wanitanya.
Rara sudah meminta izin pada Kenzo akan berangkat pagi ini untuk menyiapkan segala sesuatunya dibutik, ia juga akan membawa kedua anaknya karna Kevin dan Keyla tidak mungkin ditinggalkan dirumah ini berdua, jadi Kenzo hanya khawatir Rara akan kerepotan nantinya.
"Mereka gak ngerepotin kok Mas, lagian disana banyak temen-temen aku yang jagain mereka juga nanti jadi aku gaperlu bawa Bibi." jawab Rara menolak ucapan Kenzo tadi yang menyuruhnya membawa beberapa maid untuk menjaga kedua anaknya.
"Kau membantahku? bawa saja beberapa maid nanti ku suruh mereka mengikutimu." dingin Kenzo, pria itu tetap pada pendiriannya tidak ingin Rara kerepotan.
__ADS_1
Wajah Rara berubah menjadi sedikit kesal, pria ini sepertinya tidak ingin mendengarkan orang lain. Padahal dirinya bisa menjaga kedua anaknya, disana juga banyak teman-temannya bukan? jadi dirinya tidak akan menjaga Keyla dan Kevin sendirian. Tapi Kenzo tetaplah Kenzo, Rara tidak bisa merubah pendirian pria itu.
"Iya iya nanti aku minta Bibi buat ikut," Rara menyalami suaminya itu lalu menatap Kenzo diam.
"Yasudah kalo begitu aku berangkat dulu, jangan lupa menelponku nanti," pelan Kenzo dengan mengusap kepala wanitanya lembut.
"Hm."
Setelah itu Kenzo pun pergi dari hadapan Rara, hari ini dirinya cukup sibuk jadi Kenzo harus segera menyelesaikan urusannya dikantor agar nanti bisa berkunjung ke butik wanitanya.
Setelah memberi dadahan selamat tinggal mobil Kenzo pun melaju pergi keluar dari perkarang rumah ini, Rara masih terdiam dengan tersenyum menatap mobil itu.
Rara pun segera masuk kedalam rumahnya ketika mobil Kenzo sudah tidak terlihat lagi dihadapannya. Ia berjalan menuju lantai atas untuk menuju kekamar lamanya yang sekarang menjadi kamar kedua anaknya sekarang.
"*Selamat pagi Non."
"Pagi Non*."
Sepanjang jalan menuju kamar Kevin dan Keyla banyak Maid yang menyapa Rara dengan sopan, Rara hanya membalas mereka dengan senyuman dan sedikit mengangguk.
Sampai didepan kamar kedua anaknya Rara pun segera membuka pintu dihadapannya.
Ceklek!
Ia melangkah masuk kedalam ruangan bernuansa biru pink tersebut dan mendekat kearah ranjang yang berada ditengah-tengah ruangan ini.
Rara tersenyum menatap kedua anaknya yang masih tertidur nyaman dikasur mereka. Walau mereka sekamar namun Kenzo meletakan dua kasur disini jadi Keyla dan Kevin tidur terpisah diranjang mereka masing-masing.
"Hm." Kevin membalikkan badannya memunggungi Rara dengan memejamkan matanya kembali.
"Keyla yuk bangun." ucap Rara membangunkan anak perempuannya namun sayangnya Keyla nampak nyaman dengan tidurnya, tidak terusik dengan guncangan pelan Rara.
"Mamah mau pergi loh kalo kalian gak bangun juga Mamah tinggal nih." lanjut Rara dengan berdiri ditengah-tengah kasur kedua anaknya.
Mendengar itu membuat Keyla dan Kevin langsung membuka kedua matanya dan bangun, Rara yang melihat itu hanya terkekeh ketika melihat wajah bangun tidur kedua anaknya.
"Mamah mau kemana?" Keyla mengucek-ngucekkan matanya dengan bersandar dipunggung kasur.
Kevin hanya duduk dengan mata yang masih terpejam. Sepertinya anak itu masih mengantuk.
"Mau kemana ya, kita ke butik Mamah yuk? nanti ketemu Aunty Aisyah."
Mendengar nama Aisyah membuat Keyla melebarkan matanya, mungkin Keyla rindu dengan Aisyah karna mereka memang tidak bertemu beberapa hari ini.
"Ayukkk," gembira Keyla dengan berdiri dan turun dari ranjangnya. Ia mendekati Mamahnya-Rara dan memeluk kaki wanita dewasa itu.
Rara menatap Kevin yang masih anteng terduduk dengan memejamkan matanya, ia sedikit terkekeh melihat anak itu. "Kevin gak mau ikut nih?"
"Kak Kepin ndak mau ikut katana, bial Keyla aja yang ikut Mamah." ucap Keyla menatap kembarannya itu.
"Ikut! Kepin ndak ngomong ndak mau ikut tuh ama Keyla!" jawab Kevin seketika dengan melebarkan matanya walau sepertinya masih mengantuk.
Rara hanya tersenyum tipis menatap kedua anaknya. "Udah-udah kita mandi sekarang ya."
__ADS_1
"Iya," Kevin turun ranjangnya dan mendekat kearah Rara dengan jalan yang sedikit lunglai.
"Mari Nona saya bantu."
Suara tiba-tiba itu membuat Rara terkejut, ia berbalik dan menatap asal suara yang berada di belakangnya tadi.
"Bibi sejak kapan disini?" tanya Rara dengan terkejut, ia kaget karna tiba-tiba ada Maid dikamar ini.
"Sejak tadi Nona." jawab Maid tersebut dengan tersenyum sopan. "Biar saya bantu memandikan Nona Keyla dan Tuan Kevin, Non." lanjutnya.
Rara tau pasti Maid ini utusan dari Kenzo makannya pagi-pagi Maid tersebut sudah berada dikamar anaknya, ia hanya menghela nafasnya pelan. Mau tak mau Rara harus menerima bantuan Maid itu walau dia sebenarnya bisa memandikan kedua anaknya sendiri.
"Makasih ya Bi." ucap Rara berterimakasih terlebih dahulu karna Maid itu mau membantunya.
Maid tersebut mengangguk singkat. "Sudah tugas saya Nona."
Rara pun menuntun Keyla dan Kevin masuk kedalam kamar mandi, ia akan memandikan kedua anaknya pastinya dengan bantuan Maid.
__
Kenzo memegang ponselnya dikedua tangannya dengan raut wajah kesal.
Hans yang sedang menyetir itu menatap sekilas Tuannya lewat spion mobil milik Bosnya ini. "Ada apa Tuan?" tanya Hans mencoba mencari tau yang membuat Kenzo kesal pagi-pagi seperti ini.
"Wanitaku tidak mengangkat telpon-ku, apa dia sedang bertelponan dengan laki-laki lain?! ck! awas saja jika dia berselingkuh dariku," kesal Kenzo dengan menatap layar ponselnya.
Hans membulatkan matanya, jadi Tuannya kesal hanya karna Nona mudanya tidak mengangkat telponnya? padahal Tuan dan Nonanya baru berpisah sekitar 20 menitan tapi Tuannya sudah menelpon Nona mudanya.
"Mungkin Nona sibuk Tuan." jawab Hans dengan pandangan yang menatap jalan raya dihadapannya.
Setelah Hans mengucapkan itu Kenzo hanya diam tak berniat menjawab ucapan sekertarisnya, pria tampan itu masih nampak sibuk memegang handponenya.
Kenzo masih mencoba untuk menghubungi Rara namun sayangnya panggilannya tak kunjung terangkat. "Huh! untuk apa dia memegang ponsel jika telponku saja tidak diangkat!" kesal kembali Kenzo.
"Sabar Tuan, Nona mungkin sedang sibuk membangunkan Tuan Kevin dan Nona Keyla." jawab Hans mencoba memendam rasa kesal Tuannya.
Kenzo menatap Hans dengan tajam. "Aku membayarmu bukan untuk berbicara jadi kau fokus saja menyetir!"
Hans sedikit kesal sekarang, padahal dirinya memberitahu Tuannya itu tapi dirinya malah dimarahi. Dirinya berniat baik bukan? memberitahu jika Nona-nya pasti sibuk dengan kedua anaknya.
"Hans!" kesal Kenzo menatap pria dihadapannya.
Hans yang mendengar namanya dipanggil itu pun menatap Kenzo kembali melewati spion mobil. "Iya Tuan."
"Aku tadi berbicara tapi kenapa kau diam saja?! kau sudah bosan bekerja denganku hah?!"
Helaan nafas terdengar dibibir Hans, ia cukup sabar menghadapi sikap Bosnya itu.
Tadi Tuan sendiri yang berbicara menyuruh ku diam tapi ketika aku diam Tuan malah memarahiku, jadi aku sekarang harus apa?
▫▫▫▫
Termkasih sudah mmbaca❤
__ADS_1